
Ketika sudah berada di dalam mobil, Metha menolak untuk dibawa ke klinik. Dia beralasan luka di tubuhnya tidak seberapa. Dia juga berujar bahwa lebih membutuhkan pendengar dibanding penawar luka akibat guratan kuku-kuku Dita.
Aku pun membawa Dita untuk menikmati santai sembari mengisi perut di White Horse. Kemudian, dia memulai kata untuk mengurai kronologi kejadian yang dialami.
Metha bercerita jika Dita dan teman-temannya mendatangi dia secara tiba-tiba. Dita menanyakan perihal adegan pelukan antara aku dan Metha. Namun belum sepatah kata pun dijelaskan oleh Metha, Dita melancarkan serangan. Metha mengaku tidak menduga dan tidak siap dengan serangan tersebut. Ia pun tersungkur hingga telapak tangannya terluka akibat bergesekan dengan aspal.
Mengetahui Metha hanya diam, Dita secara membabi buta menghajar melayangkan pukulan, jambakan, dan cakaran. Merasa keselamatannya terancam, Metha lantas melawan. Jika dia tidak mengambil keputusan untuk membela diri, mungkin saja tubunya dipenuhi lebam.
Dalam perkelahian, Metha berkali-kali menegaskan foto yang Dita tunjukkan hanyalah sekadar pelukan biasa. Namun, Dita menyangkal narasi tersebut. Dita pun menyerang sisi personal dari Metha. Dia mengatakan sahabat Mutia tersebut cewek murahan dan tidak tahu diri.
Mendengar penuturan Metha, aku benar-benar geram terhadap Dita. Jika Andy tidak menahanku, aku sudah menemui Dita untuk memberinya peringatan yang lebih keras.
Aku benci penindasan dengan dasar apa apun. Ditambah masalah yang diributkan tidak berdasar sama sekali. Pantaskah Dita cemburu secara biadab, sedangkan aku tidak menautkan komitmen apa pun dengannya? Perempuan sepertinya mungkin akan sulit mendapat pasangan.
Lepas mengantar Metha dan Andy pulang, aku pun kembali ke peraduan. Rebahkan diri sejenak di atas kasur sebelum membersihkan badan. Hari yang membuat saraf di kepalaku menjadi kencang. Angan melayang, mengantarkan pada sebuah renungan.
Memiliki banyak pengagum memang merupakan salah satu impianku. Akan tetapi, tidak terbersit dalam benak bahwa akan menghadapi situasi yang dilematis seperti ini. Ada cinta yang mudat didapat, dan ada cinta yang berharap merapat.
Aku pikir akan mudah untuk mengatakan “tidak” tanpa melibatkan perasaan. Menolak Metha secara tegas, lalu biarkan dia mengobati diri sendiri jika terselip sakit hati atas ucapanku. Untuk apa aku peduli terlalu banyak kepadanya? Pernyataan cinta dia ditujukan untuk Bagas. Ya, Bagas dalam bentuk paras rupa.
Namun, nurani menasehatiku untuk bijak dalam bersikap. Mengumpulkan sakit hati menjadi dendam hanya akan menyiksa diri sendiri. Ia juga meminta untuk membayangkan semua kesakitan yang kurasa. Jika aku putarkan roda pembalasan kepada mereka (termasuk Metha), apa bedanya aku dengan mereka?
Sejatinya, aku tidak ingin menjadi jahat. Akan tetapi, aku juga tidak bisa menjadi protagonis yang diam seolah memiliki kesabaran seluas tumpukan es di Antartika. Aku pun bukan karang di tepi pantai yang pasrah diterjang ombak tiada henti.
Akkhhh!!! Aku lepaskan pakaian satu persatu. Kumasuki tempat perenungan yang lebih tenang. Kuputar keran untuk mengalirkan air dari atas. Setelah itu, kutempelkan kening ke dinding. Hitam dan Putih sisi kehidupanku seakan tengah bergelut untuk memperebutkan posisi pengendali pikiran.
***
Pagi ini, aku seharusnya pergi ke kantor. Sekretaris Papa mengatakan ada rapat penting untuk membicarakan kerja sama bisnis dengan perusahaan teman lama Papa. Namun, aku merasa menemui Dita lebih penting. Mengenai urusan kantor, masih ada jajaran direksi yang bisa mewakili.
Lagi pula, ketika aku tanya urgensi kehadiranku kepada sekretaris Papa, dia mengatakan tendensinya lebih pada memperkenalkan diri. Jika hanya perkenalan, lain waktu masih mampu dilakukan. Tadinya, aku pikir istilah “penting” merujuk pada kapasitas dalam membuat keputusan.
Aku tidak ingin berlarut-larut dalam kemelut. Perilaku Dita harus segera dihentikan. Dia berpotensi besar untuk menghadang upayaku bersanding dengan Mutia.
Sewaktu di café beberapa hari yang lalu, Mutia mengungkapkan tidak mau berurusan dengan Dita. Aku yakin hal yang mendasari ucapan Mutia tersebut yaitu tingkah Dita yang barbar. Dita menggunakan segala cara untuk mengintimidasi siapa pun yang “dekat” denganku.
Baiklah! Aku masih berpegang teguh dengan caraku untuk menghancurkannya. Namun kali ini, aku akan berikan dia bonus berupa sebuah pertemuan.
Dari mana aku harus mencari Dita? Aku tidak tahu tempat tinggalnya. Aku juga tidak bisa memastikan keberadaannya saat ini – dia ada jadwal kelas atau tidak.
Kutelepon Andy untuk mencari keberadaan Dita. Hanya Andy yang bisa kupercaya. Aku tidak mau melakukan pencarian tanpa dasar – membuang waktu.
Selang beberapa menit, Andy meneleponku balik. Dia mengatakan Dita ada di kampus. Entah dari mana Andy bisa mendapatkan informasi tersebut. Namun, aku sedang tidak berhasrat untuk menlisiknya. Lebih baik aku segera pergi ke kampus.
Turun dari mobil, aku bergegas mencari letak ruang kelas jurusan Dita. Para mahasiswi yang melihat menyerukan namaku berulang. Kemudian, seperti efek domino, setiap langkahku diiringi nyaring namaku di udara – menggema penuh pesona.
Agar tetap terkesan cool, aku balas dengan lesung senyuman. Dalam kondisi seperti ini, aku tak bisa menikmati gemerlap kekaguman dan ketenaran. Dadaku sedang bergejolak. Otakku mulai mendidih.
Kemudian, seorang mahasiswi menghampiriku. Dia bertanya tujuanku berkunjung ke jurusan Akuntasi. Setelah kujelaskan untuk menemui Dita, dia pun mengantarku sembari terus menampakkan wajah yang sumringah.
__ADS_1
Tiba di ruang kelas tempat Dita berada, seisi kelas langsung bergemuruh. Terlebih ketika perempuan yang mengantarku berkata jika aku mencari Dita. Ini seperti reality show “Katakan Cinta”. Padahal, aku datang untuk membawa pesan peringatan.
Si Pembuat Rusuh itu pun bangkit dari kursi, lalu berdiri dengan penuh percaya diri di depanku.
“Bagas! Kamu sengaja nyariin aku ke sini? Kamu khawatir ya sama kondisiku aku? Aku baik-baik aja kok, Gas. Apa kamu mau minta maaf karena kemarin bentak aku? Aku juga udah maafin kamu kok, Gas. Aku mengerti bahwa dalam rumah tangga pasti ada aja kan yang nama percekcokan sedikit-sedikit,” paparnya genit.
Aku hanya bisa menahan sabar. Ingin mengklarifikasi pernyataannya, tetapi hanya akan memperpanjang kosakata. Aku muak berbasa-basi kepadanya.
“Dit, aku mau ngomong serius sama kamu. Tapi, nggak di sini,” tukasku.
“Di mana, Gas? Di depan penghulu? Kamu mau ijab kabul sekarang?” Dia malah makin sengaja mengundang riuh.
“Aku serius. Aku tunggu kamu di bawah.”
Aku tak meminta dia menyetujui. Jika dia mengikuti langkahku, tujuanku akan tersampaikan. Jika tidak, aku mungkin akan mempercepat rencana “kekejamanku”.
“Gengs, akikah (aku) pergi dulu ya! Mau kencan sama suami.” Urat malu Dita sepertinya sudah putus.
Hah! Tanganku sudah mengepal gregetan untuk menyumpal mulutnya dengan kaus kaki Shinchan.
Aku cari spot yang sepi. Aku pun menepi di sisi aula fakultas, di dekat mobilku terparkir.
“Gas, ini kampus loh. Kamu ngajak aku ke sini karena mau ngapa-ngapain aku kah?” Dia bertanya bak perempuan nakal. Mencoba menggodaku dengan ekspresi manja.
“Dit, tolong biasa aja!”
“Oke. Tapi, kamu yakin mau ngobrol sama aku di sini? Bukan di kantin atau di café gitu. Walaupun sebenarnya aku ada kelas sih 10 menit lagi, namun demi kamu, aku rela bolos.”
“Dit, apa yang kamu lakuin ke Metha kemarin itu keterlaluan.”
Dita merapikan posisinya. Dia tidak lagi berpose seperti cacing kepanasan.
“Aku udah feeling sih kamu datang ke sini mau ngomongin hal tersebut.”
“Terus kenapa kamu bertingkah seolah-olah tidak mengerti maksudku?”
“Emangnya aku salah mencoba merayakan hari ini?”
Dita melihat-lihat kukunya. Sebuah gesture meremehkan atau menganggap perkara yang aku sampaikan tidak penting baginya. Tidak ada penyesalan yang tampak dari caranya berucap.
“Apa yang dirayakan? Di kalender tidak perayaan apa pun untuk hari ini.”
“Di kalender memang tidak ada. Tetapi, di hidupku ada. Ini hari spesial karena kamu berbalik menemuiku.”
Astaga! Mengapa aku justru membahas hal tersebut? Bagas, fokus pada tujuan!
“Dit, kamu ini perempuan yang cantik, penampilan fancy, dan dikelilingi banyak teman.” Aku angkat dia ke langit terlebih dahulu. Ketika dia menikmati masa bercengkrama dengan awan, aku akan jatuhkan dia ke bumi tanpa pemberitahuan.
“Kamu sungguh-sungguh kan mengatakan hal tersebut?”
__ADS_1
“Iya. Tapi, kenapa kamu harus melakukan tindakan brutal seperti kemarin?”
“Brutal?” Dia memasang mimik tidak terima atas istilah yang aku lontarkan.
“Kenapa kamu menyerang Metha hanya karena sebuah foto? Tidak bisakah ditanyakan secara baik-baik? Aku sudah pernah mengingatkan kelakuanmu supaya tidak seperti itu. Aku bilang juga tidak akan mentolerir jika kamu melakukannya lagi. Masih ingat, kan?”
“Gas, aku nggak nyerang dia. Dia duluan yang nyerang aku. Apa aku salah membela diri?”
Aku tidak percaya dengan pembelaan yang ia lambungkan.
“Atas dasar apa Metha menyerang kamu lebih dulu? Sementara, kamu yang melabrak dia?”
“Memang, aku yang melabrak. Namun, aku tidak menggunakan fisik lebih dulu. Aku bahkan tanya dia baik-baik. Dia malah nyolot. Dia ngatain aku cewek ganjen, tidak tahu diri, stres, gila.”
Penjelasan yang sangat bertolak belakang dengan uraian Metha. Aku yakin Metha tidak mungkin memulai seteru lebih dulu.
Dita piawai bermain drama. Dengan kata-kata disertai pengaturan guratan wajah, dia mencoba melemparkan label tersangka kepada Metha.
“Serius Metha yang memulai dulu?” Aku mengangkatkan alis memberikan sindiran, seolah aku percaya penjelasannya.
“Gas, aku cuma tanya soal foto kalian. Dia yang nyerang aku duluan ketika aku minta jawaban. Aku berani sumpah. Kamu bisa tanya teman-teman aku. Aku panggil mereka sekarang ya.”
Orang lain yang mengenal Dita dari satu sisi pasti akan terpedaya dengan caranya bersikap. Namun, aku tidak mudah ditipu. Aku sudah tahu dua rupa dirinya.
Atau aku pura-pura saja terjerat sebagian oleh sandiwaranya? Betul. Hal tersebut tampaknya seru juga untuk meladeni permainannya.
“Sudahlah, Dit. Aku harap kamu bisa belajar lebih dewasa lagi. Soal foto tersebut, itu hanya foto biasa tanpa rasa. Aku menjelaskan ini hanya agar kamu tidak salah sangka,” tegasku.
“Aku paham, Gas. Tapi soal kemarin, sumpah, itu bukan aku yang memancing terjadinya perkelahian.”
Dita terus berdalih bukan dia pemicu perkelahian. Dalam hukum, dia boleh menyangkal tuduhan. Akan tetapi, dia tidak bisa menghindar dari bukti dan kesaksian. Maaf, Metha lebih bisa dipercaya dalam hal ini.
Aku memutar badan, melangkah pergi. Semakin banyak aku mendengar kata-kata darinya, semakin jijik aku mencernanya.
Dita mengatakan bukan dia yang memancing pertengkaran, sedangkan dia yang melabrak Metha lebih dulu. Dia yang menyundut api, dia yang berkelit di balik gubuk orang lain. Sungguh pernyataan yang tidak rasional.
Usai menemui Dita, aku mengajak Andy makan siang. Aku butuh teman untuk memuaikan kekesalan. Aku perlu juga sudut pandang dia dalam mengurai masalah ini.
Hah! Aku pikir tidak ada kerikil dalam langkahku. Ternyata, kerikil tersebut masuk dalam sepatuku tanpa kusadari.
Kami pun bertemu di café langganan. Tak lain dan tak bukan yaitu White Horse. Aku langsung menodong Andy dengan cerita. Hal pertama yang aku dongengkan yaitu keterangan Dita yang mengaku Metha pemicu masalah.
Setelah aku paparkan, Andy memberikan respon yang sangat di luar dugaan. Dia mengatakan Dita sepertinya tidak berbohong. Walaupun Dita bergajulan dan rusuh, namun dia selalu berbicara apa adanya. Begitulah menurut Andy.
Aku tanyakan landasan yang Andy pakai dalam menilai Dita. Bukankah dia baru beberapa kali berhadapan dengan Dita? Bagaimana dia bisa yakin Dita jujur? Andy menerangkan pernyataannya berdasarkan hasil pengamatannya saja.
Jika Dita jujur, artinya Metha yang berbohong. Kutanyakan hipotesa tersebut kepada Andy. Dia menjawab dengan diplomatis. Katanya, kebenaran masih harus dibuktikan dengan keterangan saksi. Andy benar-benar absurd. Dia, kemudian, meminta izin untuk pulang dengan alasan ada temannya yang menunggu.
Haruskah sampai memasukkan masalah ini ke pengadilan? Ah, hanya menguras energiku saja. Mengapa jadi aku yang pusing dna ribet sendiri?
__ADS_1
Setidaknya, aku sudah memberikan teguran kepada Dita. Selanjutnya, tinggal menunggu itikad baiknya saja untuk berubah.