Inikah Rasanya?

Inikah Rasanya?
Chapter 24: Pelajaran


__ADS_3

Dia memberikanku kehidupan yang baru. Dia merelakan kenyamanan ditukar dengan kesuraman. Dia menyodorkanku air surga, tetapi kemudian melempariku bara neraka.


Apa maksud dan tujuan dia dengan semua ini? Keganjilan tentang sikap dan perilakunya terus menguat. Namun, aku justru semakin sulit mengidentifikasi. Semakin aku melihat sisi lain yang dia tampilkan, semakin terasa kusut nalarku dalam mengenali motif di balik setiap perbuatannya.


Jika dia tidak bisa dimintai keterangan secara terbuka, maka aku akan mulai agresif memberinya tekanan. Hanya itu yang bisa aku lakukan. Menunggunya berkisah ibarat mengharapkan bintang bisa dipetik.


Aku tidak menduga dia memiliki sifat yang licik dan picik. Dia memengaruhi pikiran Metha agar mendapatkan hatiku dengan segala cara. Apakah dia tidak berpikir seandainya hari itu Metha benar-benar meloncat dari jembatan?


Perempuan mudah terbawa emosi. Satu kata yang ditanamkan ke dalam emosinya bisa berubah satu paragraf atau lebih.


Dia telah membuat Metha keluar jalur. Dia hampir menjadi pembunuh dengan menyalurkan semangat palsu kepada orang yang sedang menghadapi kemelut hati.


Apakah tujuan dia menjadikan Metha sebagai boneka hanya untuk menjegal langkahku dekat dengan Mutia? Selalu saja aku dihadapkan dengan pertanyaan tersebut, tetapi akalku buntu dalam menganalisa. Berbagai indikasi bisa ditelaah. Namun, ketika hendak dianalisis segalanya seakan terpisah – membentuk hipotesis tersendiri.


Kemarin, aku menahan rasa kesal. Pagi ini, permainan dimulai.


Aku lihat Ardi mengendarai motor ke kampus. Lantas, aku menyetir secara pelan di belakangnya. Ini persis seperti yang aku rancang semalam. Dia harus parkir di dekat mobilku.


Aku hubungi Tommy, Revan, dan Leo agar bertemu di parkiran. Andy tak perlu turut dalam hal ini, karena aku yakin scene ini akan terlalu dramatis baginya. Andy bisa mengacaukan rencanaku.


Pas sekali. Motor Ardi dan mobilku berdampingan. Trio pengeretan pun tiba tepat waktu.


Ardi masih duduk di motor sembari menurunkan helm dari kepalanya. Aku lekas keluar memutar ke depan mobil sambil pura-pura memainkan ponsel.


Buuuggggh! Aku menabrakkan badanku sedikit ke stang motor Ardi. Ponselku pun sengaja dijatuhkan untuk menambah kesan dramatis.


“Aw! Lu parkirnya mepet banget sih sama jalan buat orang lewat,” ucapku memegangi dada.


Kemudian, aku membungkuk untuk mengambil ponselku yang tergeletak di aspal. Tommy, Revan, dan Leo mencoba memapahku.


“Lu nggak apa-apa, Gas?” tanya Tommy.


“Duh, layar hape gue retak lagi. Dada gue juga terasa sakit nih.” Aku berkata lebih keras.


Leo mendekati Ardi. “Heh, Sampah! Lu bisa nggak sih parkirin motor pake otak sedikit. Lihat-lihat dong kalau parkir! Jangan ngehalangin jalan! Emangnya lu pikir yang bawa kendaraan ke sini cuma lu doang? Motor rongsok kayak hidup lu aja masih lu bawa ke kampus.”


Leo memaki Ardi. Ini sedikit di luar ekspektasiku. Aku tidak menyangka reaksi Leo begitu cepat.

__ADS_1


Ardi menundukkan kepala. Dia berlagak polos.


Tenang. Aku masih punya dua anak buah yang akan kupancing untuk mengangkat senjata.


Maaf, Ardi. Aku harus memaksimalkan aktingku. “Padahal biasanya teman yang lain kalau parkir di dekat mobilku, mereka ngasih jalan lebih lebar sedikit buat melintas. Aw! Ada yang bawa air minum nggak?”


Tommy berlari ke kantin untuk membelikanku air minum. Sementara, Revan berjalan menghadap Ardi dengan tatapan yang tajam. Dia tahu bahwa gilirannya menjadi pistolku untuk menembak Ardi.


“Sahabat gue dadanya sakit gara-gara nabrak rongsokan lu. Layar hapenya juga retak gara-gara lu juga. Kalau soal hape, dia bisa beli lagi yang baru. Tapi gimana kalau dia mengalami luka dalam? Gue males sebenarnya bersentuhan dengan lu walau cuma seujung kuku.” Revan menoyor kepala Ardi. “Gue cuma pengen ngecek otak lu masih nempel di kepala atau udah pindah ke dengkul.”


Wow! Uang memang sangat ampuh dijadikan sebagai penarik loyalitas seseorang. Aku tak perlu mengeluarkan kalimat perintah, para pengikutku tahu yang harus mereka lakukan.


“Gu…. gu…. gue udah bener kok parkirnya. Mu…. Mungkin Bagas aja yang jalannya nggak lihat-lihat, karena tadi dia sambil main hape.” Ardi bersuara juga.


“Berani lu ya nyalahin sahabat gue? Kalau motor butut lu nggak ada di sini, sahabat gue nggak mungkin kesakitan kayak sekarang.“ Revan menendang roda depan motor Ardi.


Suasana makin panas, dan untungnya sepi. Aku makin suka. Aku tunggu sejauh mana Ardi akan bertahan menghadapi para serdaduku.


“Minta maaf lu sekarang sama Bagas sambil jongkok,” seru Tommy yang kembali dengan membawakanku sebotol air minum.


“Gu…. gue nggak salah apa-apa, kenapa gue harus minta maaf? Kalau dadanya sakit bawa aja ke klinik atau rumah sakit buat diperiksa.” Ardi membela diri.


Aku tidak berpikir untuk menghadiahi Ardi pukulan. Itu terlalu riskan. Level awal permainan cukuplah menyerang psikisnya, tak boleh ada adu fisik.


“Em…. Nggak apa-apa. Gue masih bisa nahan kok,” ungkapku seraya meringis.


Bruuuukkk!!! Tommy menendang motor Ardi hingga terjatuh.


Adrenalinku terpacu. Ini bak lari pagi. Pertunjukkan semakin memuaskan mata dan pikiran.


Sayangnya, tontonan ini harus berakhir lebih cepat. Aku lihat Mutia berjalan ke arah kami.


Aku pun meminta Tommy, Revan, dan Leo untuk lebih dulu masuk kelas. Akan bahaya jika Mutia melihat wajah kesal mereka.


Tinggal hanya ada aku dan Ardi saling berhadapan. Dia tidak menyadari Mutia berjalan dari arah belakangnya.


“Maksud lu apa pagi-pagi nyambut gue dengan cara seperti ini? Lu mau memanfaatkan tiga pengawal lu itu untuk mem*bull*y gue?”

__ADS_1


Ardi berbicara lantang kepadaku. Sungguh, aku harus belajar banyak darinya dalam hal seni peran. Lakonnya luar biasa bagus.


Mutia semakin mendekat. Aku tidak tahu dia mendengar perkataan Ardi atau tidak. Semoga saja tidak.


Aku memasukkan ponselku ke saku celana. Lalu, aku membantu Ardi membangunkan motornya.


“Apa-apaan…..”


Ardi ingin mengumpat. Namun, Mutia memotong dengan menyapa kami.


“Pagi, Gas, Di.”


Kulihat Ardi begitu terkejut melihat kedatangan Mutia. Aku bisa saja memancing emosi Ardi di depan Mutia. Hanya saja, ini terlalu cepat. Lagi pula, tujuan utamaku bukan menghancurkan image Ardi di mata Mutia.


“Huuh!” Aku berhasil mengembalikan posisi motor Ardi pada kondisi semula. “Di, maaf ya. gue benar-benar nggak sengaja nabrak motor lu. Harusnya gue cari parkiran lain yang tidak terlalu mepet dengan motor lu. Gue minta maaf banget ya, Di. Selesai kuliah kita bawa motor lu ke bengkel ya. Biar kalau ada kerusakan bisa langsung gue ganti. Sekali lagi, gue minta maaf ya, Di.”


Ardi melemparkan tatapan sinis kepadaku. Sedangkan, Mutia mengamati kondisiku dan Ardi. Mungkin dia mencoba mendeteksi hal yang tengah terjadi di antara kami.


Aku keluarkan ponselku. Kemudian mengusap-usapnya untuk mengundang perhatian Mutia. Tentunya, agar dia melihat ponselku mengalami kerusakan. Tak lupa, rintihan kesakitan aku gaungkan sebagai penambah umpan.


“Kamu kenapa, Gas? Hape kamu rusak?” Akhirnya, Mutia bertanya.


“Nggak apa-apa, Mut. Tadi dada gue kepentok stang motornya Ardi. Terus hape gue jatuh. Tapi asli, gue nggak apa-apa kok. Hape gue juga untungnya masih bisa nyala. Cuma retak layarnya aja.”


Ardi memelototiku.


“Kita masuk kelas sekarang yuk, Mut, Di,” ajakku sembari melambungkan senyum kepada Ardi.


Dia pikir, dia bisa lebih pintar dariku. Tidak, Ardi! Aku sudah menghidupkan mode serius untuk melanjutkan permainan ini.


Mutia membantuku berjalan. Ekspresi Ardi tampak begitu kesal.


Setiba kelas, aku berbisik kepada Leo supaya menyingkirkan motor Ardi dari dekat mobilku. Aku katakan saja jika aku trauma. Aku khawatir hal yang sama akan terjadi lagi.


Aku tidak mengarahkan cara yang harus dilakukan seperti apa. Namun, perintahku menyiratkan agar Leo mengajak Tommy dan Revan untuk membuat Ardi nanti tercengang.


Aku juga berpesan kepada Leo supaya hal ini tidak sampai ke telinga Andy. Aku tidak mau jiwa malaikat Andy turut berperan sebagai pahlawan.

__ADS_1


Sekali lagi, maaf Ardi! Aku bukan ingin melakukan perundungan. Aku hanya ini memberikan sedikit pelajaran demi membongkar identitas aslimu.


__ADS_2