Inikah Rasanya?

Inikah Rasanya?
Chapter 50: Sadar


__ADS_3

Aku perhatikan gerak-gerik Metha secara jeli. Begitu ada kesempatan, lekas kurampas ponselnya. Aku tidak peduli jika harus tampil beringas. Bagiku, hal terpenting saat ini yaitu menyelamatkan nama baik serta masa depanku.


Metha tahu perbuatanku, tetapi dia memilih merekam ketimbang mencegah. Begitulah ironi manusia di abad ini. Setiap yang berpotensi mengundang massa, maka akan dijadikan konten. Rekaman yang diabadikan pun dijadikan sebuah alibi sebagai sang penolong dan saksi.


Ya, pasti ada maksud dan tujuan terselubung dalam benak Metha. Dia mungkin ingin menjadikan rekaman aksiku sebagai tumbal negosiasi. Intinya, aku jangan terpancing dalam arus permainan yang mulai dia dengungkan.


“Dasar pembunuh!” umpatnya. “Aku nggak ngebayangin gimana jadinya hidup kamu setelah ini. Mendekam di penjara seumur hidup dan kehilangan semua yang dimiliki.” Dia mundur beberapa langkah, menjauh dariku.


Aku terus mencari kesempatan untuk bisa menghapus bukti yang ia miliki. Sayangnya, tenagaku sudah agak surut. Aku harus memperhitungkan jarak dan kecepatan agar dalam sekali langkah berhasil meraih ponselnya.


“Kamu kayaknya kelelahan habis bunuh temanmu sendiri. Gimana kalau kita membuat sebuah perjanjian aja?” Metha mengembangkan tawa memasung akalku.


“Perjanjian apa?” balasku dengan suara manis.


“Kamu ikuti semua perintah aku. Dengan kata lain, kamu jadi budakku selamanya. Tenang, aku nggak ada perasaan apa pun kok sama kamu,” terangnya angkuh. “Karena gue tahu siapa lu yang sebenarnya. Haha…”


Apa lagi maksud Metha? Dia tahu aku yang sebenarnya? Ah, mungkin itu tentang perbuatanku tadi, bukan tentang identitas diri ini.


Aku bersantai sejenak. ‘Kan kubiarkan dia bertutur banyak. Saat berbicara, refleks seseorang sedang tidak bekerja secara maksimal. Di situlah, aku bisa melancarkan serangan.


“Kenapa diem aja? Nggak usah sok kelamaan mikir, nanti tubuh lu tergulung ombak lagi,” kiasnya.


Akhhh!!! Aku berlari menubruk tubuh Metha. Aku berhasil menyentuh ponselnya. Namun, dia begitu kuat mempertahankan benda yang mampu mengacaukan segala yang kupunya.


Aku tak mau mendekam di penjara untuk menebus dosa. Aku juga tak sudi menjadi suruhannya seumur hidup.


Buggghhh! Metha menendangkan tubuhku hingga aku terjungkal. Tenaganya cukup kuat, di luar perkiraanku.


“Lu pikir dengan penampilan lu yang lemas begini, lu bisa mengadu kekuatan sama gue?” sindirnya. “Padahal gue udah berbaik hati sama lu." Dia menolakkan tangan kiri ke pinggang. "Gue tunggu jawaban lu dalam dua menit. Kalau lu nggak menjawab, gue sebar video ini ke kontak WhatsApp gue. Silakan lu cerna baik-baik kemurahan hati gue, Prasetya Winardi.”


Apa? Metha memanggilku dengan nama lengkapku sebagai Ardi. Dari mana dia tahu tentang ini?


Aku raba tubuhku. Semua bagiannya masih menunjukkan aku ini Bagas. Lalu, kupantulkan gambaran wajahku ke atas air laut. Dalam remang-remang cahaya, aku bisa memastikan tidak terjadi pertukaran raga.


“Bagas, Ardi. Ardi, Bagas. Sulit dipercaya, tetapi ternyata memang ada." Metha membuat putaran langkah kecil. "Bagas ngasih tubuhnya ke lu supaya lu belajar bahwa menjadi orang yang kehidupannya terlihat sempura, tidak sesempurna menjalaninya sendiri. Namun, lu malah tidak tahu terima kasih. Lu serakah. Lu tidak bersyukur tentang hidup yang lu jalani,” paparnya sok bijaksana.


Metha tidak hanya punya bukti kejahatanku, tetapi ia juga tahu mengenali jati diriku. Apa sekalian saja aku kirim dia untuk bertemu si Kunyuk di tengah lautan?


Aku tidak suka diancam dan ditantang. Hidupku penuh kebebasan. Tak boleh ada yang membatasi apa pun yang ingin aku lakukan.

__ADS_1


Kuatur nafas sembari menyerap tenaga dari alam yang berseliweran melalui hembusan angin. Maaf, aku sudah telanjur berkhianat pada kebajikan.


Haaaahhh!!! Kucekik leher Metha. Dia tidak sadar dengan serangan yang kedua, karena terlalu sibuk berselebrasi dengan memandangi layar ponselnya.


“Kata orang, jangan terlalu cepat merayakan kemenangan sebelum dinyatakan sebagai pemenang,” ujarku penuh amarah.


“A… Ar…. Ardi si…. sialan. Le…. lepasin ta.... tangan lu. Gue ng…. nggak bisa nafas nih,” ucapnya terputus-putus.


Tadi dia begitu sombong kepadaku. Sekarang, ujung nafasnya berada dalam kekuasaanku.


“Gue kasih lu tawaran. Lu jadi pelayan gue seumur hidup atau lu mau mendayung ke neraka bersama si Kunyuk. Haha….” Giliranku menyodorkan dia si malakama.


Uhuk uhuk! Dia terbatuk-batuk. “O…. ok. Gu…. gue ma…. mau jadi pelayan lu. Ta…. tapi tolong lepasin dulu ta…. tangan lu dari leher gue,” pintanya kesakitan.


“Serius? Lepasin dulu hape lu!”


Dia menjatuhakn ponselnya ke pasir. Kulepaskan cekikanku. Aku beri dia kesempatan untuk menjilat sepatuku setiap hari.


Kunyalakan ponsel Metha. Begitu layarnya menampilkan gambar, aku tersentak. Dia sudah membagikan video tersebut ke beberapa kontak WhatsApp-nya.


Kurang ajar!


Aku hela nafas dengan berat. Sekali lagi, bukan aku yang ingin menjadi jahat, tetapi mereka yang mengubah personaku menjadi demikan.


Metha lari terbirit-birit. Aku segera mengejarnya dengan segenap tenaga yang menggumpal di tubuhku.


Jarak antara aku dan Metha cukup jauh. Aku harus bisa mencegahnya bertemu orang lain, apalagi sampai dia pulang ke rumah. Kulemparkan batu karang berukuran sekepal tanganku.


Bingo! Batu karang tersebut mengenai punggungnya. Dia tersungkur sambil mengerang. Jarak kami pun menjadi lebih dekat.


Aw!!! Mendadak dadaku terasa sesak bak ada benda asing yang menyapa jantung. Langkahku tertunda. Metha berlari ke sebuah bangunan yang biasa dijadikan tempat pelelangan ikan.


Dengan kaki yang berjalan terhuyung-huyung, aku fokuskan mata untuk mencari Metha. Sesekali aku berteriak untuk memberinya intimidasi.


Bukkk!!! Sebuah balok menyasar punggungku. Anehnya, aku hanya merasa seperti disentuh.


“Lu mau main-main sama gue sebelum bertemu si Kunyuk?” getirku.


Dia tampak ketakutan. Matanya membelalak dengan tangan yang bergetar hebat. Dia pun mencoba memukulku sekali lagi, tetapi aku berhasil menangkisnya.

__ADS_1


Balok yang dia gunakan untuk menghajarku, beralih ke tanganku. Tanpa segan, kuhantamkan balok itu ke kepala Metha. Seketika, dia pun terkapar di lantai.


Malam yang gelap berteman angin sepoi-sepoi. Rembulan hanya seperempat, cahayanya sekadar cukup untuk melihat mimik ketakutan Metha.


“Ardi, kamu mau ngapain aku? Kamu nggak berniat buat bunuh aku juga, kan?” tanyanya gemetar.


Aku geretkan balok di lantai untuk menekankan kesan sadis. “Bunuh kamu? Aku dan kamu. Gue dan lu. Tadi lu begitu takabur seolah bisa kabur. Sekarang, lu tinggal menghitung waktu aja untuk menghela nafas. Haha….”


“Ardi, tolong kasih aku ampunan. Aku janji akan menuruti semua perintahmu. Aku akan mengabdikan hidupku sama kamu.” Dia mengemis belas kasih.


Sayangnya, aku sudah bulat bersekutu dengan penghuni neraka. Kuhantamkan satu pukulan lagi ke kepala Metha. Darah segar mengucur deras dari kepalanya.


Aku membungkuk sembari menarik rambut panjangnya. “Kenapa lu share rekaman itu ke beberapa teman lu? Bisa-bisanya lu ingin membuat perjanjian, tetapi lu justru mengecoh gue. Lu juga tahu siapa gue. Lu berbahaya buat gue jika dibiarkan tetap ada di dunia. Jadi, apa kalimat terakhir lu?”


“A…. ampuni a…. aku, Di. To…. tolong!” ucapnya bak mulai kehabisan nafas.


Tak lagi terselip welas asih di hatiku untuknya. Kuadukan kepalanya ke lantai hingga tak terdeteksi lagi kehidupan di nadinya. Lantas, aku pangku tubuhnya untuk diceburkan ke tengah laut.


“Bagas, berhenti!” seru suara Andy ketika aku sudah bersenggama lagi dengan dinginnya air laut.


Metha melihatku membunuh si Kunyuk. Kemudian, Andy melihatku hendak membuang jasad Metha. Apakah aku harus membinasakan Andy juga? Mengapa dalam perbuatanku ini seakan berlaku efek bola salju?


“Bagas!!! Bagas!!!” Andy terus mengudarakan namaku. Aku masih enggan untuk membalikkan badan.


“Bagaaaas!!!” Terasa ada orang lain juga yang memanggilku. Keramaian menggema nyaring di telingaku.


Hah!!! Nafasku terengah-engah kala membuka mata. Aku lihat semua orang berkumpul di hadapanku, kecuali Dita.


Ya, si Kunyuk dan Metha pun hadir di depan mata, melihatku dengan raut heran.


Syukurlah mereka masih hidup. Jadi, aku bukan pembunuh. Ucapku dalam hati.


“Lu kenapa, Gas?” tanya Andy sembari menggoyang-goyangkan bahuku.


“Minum dulu, Nak Bagas. Kayaknya Nak Bagas mimpi buruk ya,” ujar Ibu memberiku segelas air putih.


Bunga tidur di sore hari, tetapi terasa begitu nyata ke badan dan pikiran. Mungkin inilah yang dinamakan pantangan tidur di sore hari – membuat linglung dan bisa dihampiri mimpi yang mengerik nalar.


Hem! Seingatku, sepulang dari perpustakaan mini, aku bersandar di kursi sebentar untuk memuaikan keringat sebelum menyaksikan sunset. Rupanya, aku tertidur.

__ADS_1


Kupeluk Ibu dengan penuh kelegaan. Beliau pun menyambut pelukanku dengan hangat, lalu mengusap keringat di dahiku.


__ADS_2