
Aku mengingat secara detil setiap kata yang keluar dari mulut mereka tentang diriku. Mereka yang melabeli aku dengan berbagai macam julukan hina. Namun, aku juga memaafkan mereka yang tidak masif mengejekku. Salah satunya yaitu Metha.
Dia pernah mengataiku seperti Zombie. Jujur, aku sempat kesal pada saat itu – walau aku mendengarnya ketika sudah menjadi Bagas. Akan tetapi, sikap dan perilaku Metha setelahnya tidak terlalu banyak memberi penghakiman kepada Ardi. Aku pun berpikir bahwa aku yang sudah berlebihan mendendam kepada setiap orang yang tidak suka kepadaku.
Kini, Metha berdiri di hadapanku dengan mata yang berkaca-kaca. Aku sungguh tidak berdaya jika dipertemukan dengan kesedihan.
“Kamu suka sama Mutia, Gas?” tanyanya setelah beberapa saat hening menduduki perbincangan kami.
“Em….” Mataku mendapati Mutia mengintip di balik jendela. Entah percakapan ini sampai ke telinganya atau tidak, tetapi aku harus menjaga bahasa tubuh.
“Apa kalian sudah saling menyatakan perasaan kalian satu sama lain?” Metha mempertegas arah pertanyaannya.
“Belum.” Aku menggelengkan kepala dua kali. “Aku belum berpikir untuk mengungkapkan perasaanku. Aku ingin semua berjalan apa adanya dahulu hingga aku tahu Mutia memiliki rasa kepadaku atau tidak,” terangku datar.
“Kalian cocok kok. Kalian pasangan yang serasi.”
Pernyataan Metha tidak selaras dengan notasi nada yang dimainkan. Ia juga menarik tangan kanannya untuk menyeka air yang menggenang di kedua sudut matanya.
“Kamu kenapa, Met?”
Aku bungkukkan badan sedikit untuk melihat wajah Metha. Apa dia menangis? Karena aku? Padahal ketika aku berbicara tentang perasaanku, aku berpikir akan mendapat tambahan dukungan dari orang terdekat Mutia di sini.
“Aku nggak apa-apa, Gas,” isaknya.
Jawabannya jelas menyiratkan keinginan untuk digali. Aku pun menggodanya dengan senyum kecil. “Tumben kamu jadi diem begini, Met. Biasanya kan kamu selalu ceria. Hoooahh…. Hehe….” Aku membuat putaran seperti sedang senam.
“Aku suka sama kamu, Gas,” ujarnya sembari menengadahkan wajah menatapku. Air mata semakin tampak nyata bersimbah di pipinya.
Giliran aku yang terdiam. Respon atau kalimat apa yang harus aku ucapkan? Aku tidak tahu cara menghadapi situasi seperti ini. Tak pernah terbayangakan jika akan secepat ini kualami pernyataan cinta dengan latar air mata.
“Hahaha…. Met, kamu mau nge-prank aku nih ceritanya. Haha…”
Aku tertawa bukan tidak mengerti akan rasa yang dia ucapkan merupakan kebenaran dari hatinya. Hanya saja, aku begitu gamang dan resah. Maka dari itu, seketika terpikir untuk memancing keceriaan. Aku tunjukkan tingkah lucu kembali – kembangkan senyum hingga dua pipi sedikit terangkat – untuk mengalihkan kondisi.
“Aku serius, Gas. Mungkin aku sering mencandaimu. Aku kerap berlakon bodoh di depanmu. Tetapi, itu karena aku sedang mengendalikan perasaanku. Aku sadar, aku punya banyak saingan. Mereka lebih cantik, lebih pintar, lebih segalanya dariku.”
Aku menghela nafas. Tak ada lagi yang bisa kulakukan untuk menghentikan luapan perasaannya.
“Ketika aku melihatmu bersama Mutia, aku mencoba untuk turut merasakan kebahagiaan. Namun, aku tak bisa memungkiri adanya harapan untuk bisa bersama kamu suatu saat nanti. Aku tahu diri kok, Gas. Aku ini hanya perempuan urakan, sering teriak seperti Tarzan, dan juga selalu cengengesan. Maaf, Gas! Aku tidak bermaksud menginterupsi kedekatanmu dengan Mutia saat ini. Aku hanya tak mau menanggung rasa tanpa pernah bisa diutarakan,” imbuhnya.
“Met….” Aku memegang kedua bahunya.
“Haaah! Apa sih aku ini?!” Metha memutar kepala sambil membangun tawa. “Maaf ya, Gas! Aku jadi emosional begini.”
“Met….” Aku mencoba menenangkannya.
“Gas, kamu nggak perlu kasih aku jawaban apa pun. Aku hanya ingin mengungkapkan isi hatiku. Aku bisa bersaing dengan orang lain, tetapi tidak dengan sahabatku sendiri.”
Aku tidak bisa melihat orang menangis di depanku dengan penuh perasaan. Metha, di balik sosoknya yang ceplas ceplos, dia memiliki emosi serapuh gabus.
“Bolehkah aku memelukmu, Gas? Aku mungkin tidak akan bisa memilikimu. Namun, aku mohom izinkan aku mendekapmu. Merasakan kamu seolah-olah pernah menjadi milikku walau dalam beberapa detik saja,” pinta Metha. Aku pun semakin dilema.
Jika aku katakan “tidak”, Metha akan merasa tersakiti lebih. Jika aku katakan “iya”, Mutia masih tampak mengamati keberadaanku dan Metha.
“Lupakan aja, Gas! Sorry, aku nggak bermaksud gimana-gimana.” Metha berbalik badan sembari menghapus laju air mata.
Aku menghalangi langkahnya. Lalu, kurentangkan kedua tangan pertanda kesediaan dalam mengabulkan keinginannya. Semoga keputuskan tidak memberikan penafsiran berlebih baik bagi Metha mau pun Mutia.
Metha memelukku erat. Haruskah aku membalasnya? Tetapi, dia menyatakan ingin memelukku bukan ingin kepeluk. Aku tetap apungkan kedua tanganku di balik punggung Metha.
Kemudian, dadaku terasa basah dan hangat diterpa air mata Metha. Jantungku berdetak tak beraturan. Ini pertama kalinya aku dipeluk seorang perempuan di luar nasab.
Sudahlah! Aku tak perlu larut dalam perasaan. Ini hanya sebagai penghiburan.
“Terima kasih banyak ya, Gas! Sampai jumpa besok,” ujar Metha setelah cukup lama memelukku.
Penyataannya kubalas dengan senyuman. Mataku sibuk melihat posisi Mutia yang sudah tidak terlihat lagi berlindung di balik tirai.
Aku sudah menambatkan hati kepada Mutia. Aku tidak mungkin berpaling ke lain cinta. Aku akan setia menunggu balas rasa darinya.
***
__ADS_1
Keesokan harinya, aku lihat Mutia dan Metha tampak tidak akrab. Mereka datang ke kampus sendiri-sendiri, begitu pun ketika keluar kelas. Apa ini karena aku? Apakah pernyataan cinta Metha kepadaku semalam yang merenggangkan persahabatan mereka? Lalu, apa arti ungkapan Metha mengenai kepantasanku bersanding dengan Mutia? Apa dia hanya sekadar melontarkan, bukan mengikhlaskan?
Aku ingin bertanya kepada Mutia atau Metha tentang pemandangan yang kulihat. Namun, aku takut dianggap sok tahu dan berpotensi memperkeruh persahabatan mereka. Tunggu mereka yang nanti bercerita saja. Harapku dalam hati.
“Yo, Dy, gue ngasih berkas-berkas pendaftaran dulu ya ke Adisty,” terangku ketika menuruni anak tangga.
“Ya udah, gue sama yang lain duluan ke White Horse ya. Semoga aja lu nggak menang biar lu nggak makin sibuk kayak artis Korea,” celoteh Leo.
“Sialan lu, Yo!” Aku tanggapi dengan candaan berkedok umpatan.
“Gas, gue ikut sama lu aja deh,” ujar Andy.
Aku dan Andy bergegas menemui Adisty di kantin fakultas. Adisty berusaha menahan keberadaanku. Untung saja ada Andy yang bisa kujadikan alasan untuk segera pergi.
Lepas dari kantin, kami menuju tempat mobilku terparkir. Namun, tiba-tiba terdengar riuh dari arah taman.
“Ada apaan tuh Gas rame-rame?” tanya Andy.
“Entahlah! Kan dari tadi gue sama lu. Kalau lu aja nggak tahu, ya gue juga sama.”
Aku tidak peduli dengan kerumunan yang tampak di pelupuk mata. Lagi pula, aku tidak terlalu suka keramaian. Mungkin saja itu seru-seruan ala anak Sastra yang sedang bermain peran.
Akan tetapi, seorang mahasiswi yang sering bersama Dita mendatangiku dengan raut yang terlihat panik. “Gas…. Dita, Gas. Dita…. Dita….”
“Dita kenapa?”
“Dia….”
“Tenang! Tarik nafas dulu, baru ngomong!”
Setelah mengikuti perintahku, dia memberikan penjelasan yang membuatku begitu terkejut. “Dita berantem Gas di taman sama teman sekelas kamu.”
Dita berantem dengan teman sekelasku? Apa yang dia maksud Mutia? Aku berlari kencang menuju lokasi yang dituduhkan.
“Tunggu, Gas!” teriak Andy.
Aku tidak ada waktu untuk menunggu. Dita benar-benar keterlaluan. Aku yakin pasti dia yang memulai perseteruan.
“Bagas,” ucap Dita dan Metha berbarengan.
Ya, untungnya bukan Mutia. Tidak! Aku datang untuk melerai. Dengan siapa pun Dita berkelahi, tetap saja bukan perbuatan terpuji.
Amarahku pun naik melihat sekeliling tak bergerak untuk memisahkan. Ternyata, sorak-sorai yang tadi kudengar yaitu pecutan semangat bagi para “gladiator”.
“Ada orang yang lagi beradu fisik, tetapi kalian malah menonton. Kalian pikir ini hiburan?!” suaraku lantang menggaung. “Bubar!!! Bisa-bisanya ada perkelahian justru dibiarkan, dan malah kalian kobarkan semangat. Di mana otak kalian? Hah?”
Tubuh ini memberiku kekuatan dan keberanian memaki perilaku tak acuh yang terpampang di hadapanku. Sungguh, aku miris membayangkan seandainya aku yang dijadikan domba untuk diadu.
Kemudian, aku pelototi Dita dan Metha secara bergantian. Tingkah mereka juga patut untuk diberikan teguran yang keras.
“Gas, cewek ini yang mulai duluan,” ujar Dita sembari merapikan rambut panjanganya.
“Dia bohong, Gas. Dia yang mulai duluan. Dia yang tiba-tiba nyerang aku tanpa alasan!” Metha membela diri dengan suara tinggi.
“Lu tuh emang cewek kurang aja, kegatelan, sama aja kayak temen lu yang sok imut itu,” pekik Dita.
“Dasar cewek stres. Nggak ada angin, nggak ada hujan, nyerang orang tanpa basa-basi. Dasar lu gangguan jiwa!” balas Metha.
“Lu tuh yang gangguan jiwa.” Dita tak mau kalah beradu umpatan.
Aku pun menjadi jengah mendengar raungan mereka. “Cukuuupp! Aku nggak peduli siapa yang mulai duluan. Pertanyaanku cuma satu, kalian mikir nggak dengan apa yang kalian lakuin ini? Ini tuh kampus bukan ring MMA (Mixed Martial Arts). Gimana kalau tadi pas kalian berantem ada yang ngerekam terus diunggah ke media sosial? Kalian siap jadi viral karena hal bodoh semacam ini? Kalian mau dikeluarkan dari kampus?”
Dita dan Metha tertunduk. Andy mengelus pundakku – mencoba menstimulasi otakku agar tidak terpancing emosi.
Ya, mengapa aku emosi? Jawabannya, karena keributan yang Dita dan Metha buat ada hubungannya denganku. Hah!!!
Mutia tiba-tiba datang. Aku pikir dia sudah pulang.
“Ada apa ini, Gas?” tanya Mutia. Kelembutan yang mengalun dari pertanyaannya membuat kepalaku mendingin.
“Aku juga baru datang, Mut. Aku nggak ngerti apa yang sebenarnya terjadi.”
__ADS_1
Mutia lantas memutar pandangan. Ia memerhatikan penampilan sahabatnya. “Metha, kenapa rambut kamu acak-acakan dan tangan kamu lecet-lecet begini?”
Mutia memeriksa kondisi Metha. Namun, Metha malah menghardik tangan Mutia yang berusaha mengalirkan simpati dan empati.
“Dasar carmuk (cari muka)!” Terdengar Dita melemparkan sindiran tertuju kepada Mutia.
Dita masih saja berulah. Ingin rasanya menampar mulut dia, tetapi aku harus bisa menahan diri. Reputasiku akan hancur jika mengikuti nafsu dan emosi.
Kuputuskan mengurai masalah mereka secara tenang. “Apa sih yang mendasari kalian bertingkah konyol seperti ini?”
Mereka terdiam. Tak ada yang membeberkan alasan. Kutunggu hingga beberapa menit, justru sunyi yang terwujud.
“Jawab!” Aku tinggikan suara.
Dita menaikkan kepala, memandangku. “Aku nggak suka dia peluk kamu, Gas.”
Dita menjulurkan ponselnya untuk menunjukkan adeganku dengan Metha semalam. Aku tidak menyangka akar permasalahannya hal tersebut. Huh! Aku lupa komplotan Dita ada di mana-mana.
“Dit, kita juga nggak hubungan apa-apa," tegasku terbawa kesal kembali. "Kenapa kamu harus marah sampai bertindak sejauh ini?”
“Lantas, kamu ada hubungan apa dengan cewek gatel ini?” tunjuk Dita kepada Metha. Lalu, telunjuknya berpindah mengarah kepada Mutia. “Apa kamu juga ada hubungan dengan cewek sok imut ini?”
Metha tersedu-sedu di belakangku. Aku tarik nafas dalam-dalam. Aku harus meng-clear-kan masalah ini di depan Mutia.
“Seberapa cinta kamu sama aku?” lontarku kepada Dita.
“Aku cinta banget sama kamu, Gas?” Dita memasang wajah memelas. Sayangnya, aku telanjur berang kepadanya.
“Hingga menjadi se-posesif ini? Apa kamu yakin bahwa kamu cinta sama aku?”
“Gas…. aku….” Dita pun berlinang air mata.
Cukup! Aku tidak tahan melihat ada banyak air mata di hadapanku.
“Mending sekarang kamu rapikan dulu penampilan dan pikiran kamu, Dit!”
Aku memberi kode agar teman-teman Dita segera membawa Dita angkat kaki.
Setelah Dita pergi, aku malah bingung. Ada Mutia dan Metha berdiri mengitariku – Metha di belakangku, Mutia di depanku.
Mutia tampak sedih karena diabaikan oleh Metha dan mungkin karena keributan ini. Sementara itu, Metha tampak kesakitan dan perlu dibawa ke klinik secepatnya. Hah!
“Dy, ajak Metha ke mobil. Kita bawa dia klinik ya!”
“Iya, Gas.”
Aku dekati Mutia. “Mut, maaf kalau….”
Mendadak Ardi datang memecah kalimatku. “Muuu… Mutia, apa kamu mau pulang bareng sama aku?”
Mutia mengangguk sambil menatapku. Aku sangat ingin mengucapkan kata untuk mencegah ajakan Ardi. Namun, aku tak mau dia salah sangka.
“Bentar ya, Di. Aku kasih hape Metha dulu. Tadi sepertinya dia tidak sadar menjatuhkannya”.
Mutia menyusul Metha. Ardi menggantikan posisi Mutia. Ya, tinggal kami berdua saling berhadapan.
“Bagas oh Bagas! Acting lu makin lama makin jago ya. Sumpah, gue perhatiin lu keren banget.” Tadi dia seolah terbata berbicara di depan Mutia. Kini, dia lancar sekali memberiku “pujian”.
“Gue kan belajar dari lu,” pungkasku.
“Lu tampil bak pahlawan dalam melerai Dita dan Metha. Namun, lu sekarang justru gundah melihat hubungan Mutia dan Metha, kan? Tiba-tiba saja mereka seolah tidak akrab. Ini gara-gara lu, Gas. Duh! Sayang banget ya, Gas. Baru kemarin makan Pudding penuh cinta dari Mutia, tetapi sekarang harus menelan pahitnya empedu kenyataan.”
“Maksud lu apa?”
“Metha suka sama lu. Lu suka sama Mutia. Nah, bagaimana dengan Mutia? Oke. Anggaplah Mutia juga suka lu. Hanya saja, Mutia pasti lebih memilih sahabat dibanding lu. Emang lu pikir Mutia mau terlibat dalam berbagai masalah yang bisa datang jika dia bersama lu?”
“Dan lu sekarang percaya diri bisa memikat hati Mutia?”
“Gue sih pelan-pelan aja, seperti yang gue lakuin saat ini.” Ardi melayangkan senyum satir. “Gue pulang duluan ya sama Mutia. Lain kali aja kita ngobrol lagi. Gue nggak mau Mutia nunggu gue lebih dari 30 detik.”
Sial! Ardi makin menjadi-jadi.
__ADS_1