
Aku obrak-abrik lemari untuk mencari jati diri orang yang sekarang menghuni tubuhku. Aku juga telurusi setiap sudut ruangan yang sekiranya menjadi saksi kehidupan si Muka Dua itu.
Mata terus meneliti. Pikiran tak berhenti berkonsentrasi. Sayangnya, tak kudapati secercah petunjuk pun catatan tentang dia. Hanya foto-foto diri dan keluarga yang tak menyiratkan adanya hal yang aneh.
Bagaimana dia bisa mendapatkan Mutiara Pengubah Nasib? Siapa yang memberikan benda tersebut kepadanya? Itulah pertanyaan-pertanyaan dasar yang harus aku temukan jawabannya untuk bisa menyingkap tabir ini.
Jika dia ingin membantuku lepas dari belenggu kesengsaraan, mengapa kini dia terus mengusik hidupku? Bukankah itu sebuah keanehan yang besar? Apa maksud dia dengan semua ini?
Dia juga tampak tidak memiliki keluhan dengan hidup baru yang sudah dijalani berminggu-minggu. Rahasia apa yang dia sembunyikan? Jika aku analisis lebih dalam, mana ada orang yang hidup dalam kesempurnaan justru ingin melepaskan semua yang dimiliki?! Pasti ini bukan sekadar pertukaran tubuh biasa. Jelas ada motif besar yang terselubung atas sikapnya.
Namun, siapa yang bisa aku tanya untuk membuka misteri ini selain dia? Jawabannya, tidak ada. Lalu, cara apa yang bisa aku gunakan agar dia mau bercerita? Jawabannya, juga tidak ada.
Aku tak mungkin bertanya kepada para pegawai di sini mengenai Bagas. Apakah aku bertanya kepada Andy saja? Betul. Itu lebih rasional. Setidaknya Andy mengatakan dia berteman dengan Bagas sejak SMP. Paling tidak, ada beberapa hal yang Andy ketahui tentang Bagas.
Baiklah! Aku akan coba mengulik kisah Bagas dari Andy secara perlahan tanpa membongkar identitas ini. Lagi pula, dia tampak lugu. Tampaknya akan mudah mengorek informasi darinya.
Setelah berjam-jam berkutat dengan ketidakpastian, aku telepon Andy untuk bertemu di White Horse. Kebetulan hari ini tidak ada kuliah. Aku juga sedang tidak ada hasrat untuk pergi ke kantor. Jadi, aku bisa puas melakukan investigasi.
Ketika keluar menuruni tangga, aku terkejut melihat kehadiran Mama dan Papa. Mereka mengabari akan pulang beberapa lagi. Lantas, mengapa tiba-tiba sudah ada di rumah?!
“Mau ke mana kamu?” tanya Papa. Nada suaranya langsung tinggi.
Mengapa Papa menyapaku secara tidak ramah? Apa aku melakukan kesalahan?
“Ba…. Bagas mau ketemu sama temen, Pah,” jawabku dengan jantung berdebar-debar.
“Duduk!” Perintah Papa, menginstruksikan aku untuk menunda kepergian.
Aku lekas turuti kehendak Papa. Sorot matanya membuatku gelisah dan takut.
“Tenang, Pah!” ujar Mama seraya mengelus pundak Papa.
Ada apa sebenarnya? Papa memandangku seakan-akan aku telah membuat masalah besar yang menyulut emosinya. Padahal, aku merasa tidak melakukan apa pun yang memunculkan konflik di rumah ini.
“Apa saja yang kamu lakukan selama Papa dan Mama pergi ke Kanada?” Papa melemparkan pertanyaan dengan sebuah gertakan tangan di meja.
“Bagas…. em…. kuliah, ke kantor, em…. pulang. Sebatas itu aja, Pah,” terangku sedikit terbata.
Ya, hanya itu yang aku lakukan. Tidak ada lagi. Hangout sama teman-teman pun masih dalam koridor kewajaran.
Aku bingung menghadapi ekspresi Papa. Aku juga tidak bisa mengidentifikasi di mana letak kesalahanku.
“Apa yang Papa suruh kepada kamu?”
Aku mengingat-ingat ucapan Papa sebelum pergi. “Papa suruh aku mengawasi perusahaan.”
“Itu kamu paham.”
Lantas salahku di mana, Pah? Tanyaku dalam hati.
Aku memang jarang pergi ke kantor, karena aku merasa tidak banyak urgensiku untuk ke sana. Apa karena hal tersebut Papa marah kepadaku?
Papa memegangi dadanya. Mama terus berusaha mendinginkan Papa dengan berbagai sentuhan.
“Papa hanya nyuruh kamu buat mengawasi kinerja para karyawan, bukan mengambil keputusan,” jelas Papa.
__ADS_1
“Bagas nggak membuat keputusan apa-apa, Pah,” sanggahku. Aku memang tidak merasa membuat keputusan yang mengundang amarah Papa.
Papa melemparkan sebuah dokumen ke badanku. “Kamu lihat ini!”
“Sabar, Pah. Bagas kan belum mengerti tentang cashflow perusahaan. Bisa jadi ini hanya kekeliruan saja. Jangan marahin Bagas secara berlebihan begini, Pah,” ucap Mama dengan lembut. Beliau melakukan pembelaan untukku.
“Pokoknya, hari ini kamu diam di rumah. Papa akan mengajari kamu untuk mempertanggung jawabkan semua ini.”
Papa bangkit dari sofa. Beliau lalu pergi ke kamarnya. Sementara itu, Mama memberiku kata-kata penenang.
Aku baca dokumen yang Papa lemparkan. Tertulis ada kerugian senilai satu milyar lebih di lembar pertama. Untuk lembar keduanya terdapat surat pernyataan berisi persetujuanku untuk melakukan pengadaan barang dan jasa inventaris perusahaan. Tampak jelas juga ada tanda tanganku di atas materai.
Sial! Ternyata, ada yang mengelabuiku. Aku ingat siapa yang memintaku untuk membubuhkan tanda tangan dalam berkas ini. Aku pikir hanya persetujuan peninjauan laporan. Awas saja! Aku akan membuat perhitungan dengan orang itu.
“Kamu nggak usah terlalu memikirkan hal ini, Sayang. Ini sudah diselesaikan sama Papa dan Mama. Tadi Papa marahi kamu mungkin hanya terbawa emosi sesaat. Papa nggak menyangka ada orang kepercayaannya yang memanfaatkan kamu selama kami di Kanda,” papar Mama.
Syukurlah jika aku tidak harus menguras otak untuk mengurusi hal ini. Aku masih punya urusan penting lainnya yang lebih bersinggungan langsung dengan hidupku.
Aku telepon Andy untuk membatalkan pertemuan hari ini. Apakah ini sebuah sinyal jika kebebasanku akan tergerus?
Ah, tidak! Ini hanya sementara. Lagi pula, semua ini demi kesenanganku juga nantinya. Tak ada yang perlu aku khawatirkan. Aku ikuti saja dulu alur yang Papa suruh. Toh, jika nanti aku resmi menajdi pemilik Permana Group, hidupku akan lebih nyaman. Semua kenikmatan dan kesuksesan di dunia ini perlu proses juga pengorbanan mental, bukan?!
Papa mengajakku ke ruang kerjanya. Aku pun diceramahi tentang sikapku. Katanya, segala sesuatu harus dipahami terlebih dahulu. Dalam bisnis, tidak boleh sembarangan menandatangani suatu berkas. Bahkan ketika disodori sebuah dokumen, harus benar-benar dipahami kata per kata yang tercantum.
Emosi Papa sudah mereda ketika kami saling berhadapan. Kemudian, beliau memberikanku tiga buah buku untuk dibaca. Buku tersebut berjudul How to Win Friends and Influence People karya Dale Carnegie, Rich Dad Pood Dad karya Robert Kiyosaki, dan Think and Grow Rich karya Napoleon Hill.
Menurut Papa, buku-buku tersebut bisa menambah wawasanku tentang bisnis. Di samping, aku juga hal mau mempelajari secara langsung.
Bisnis harus dibangun dengan sungguh-sungguh. Namun, kesungguhan saja tidak cukup. Perlu pondasi dasar pengetahuan yang kuat mengenai bisnis itu sendiri, ditambah ketekunan dan kemauan untuk belajar dan berinovasi.
Selesai kuliah manajemen bisnis dengan Papa, aku kembali ke kamar. Aku rebahkan badan ke kasur untuk memperlancar aliran darah. Juga, meregangkan otot-otot kepala yang kencang.
Ketika hendak memejamkan mata, ponselku berdering. Aku lihat nama sang penelepon dengan perasaan malas. Huh! Ada saja gangguan yang menyapa kala aku butuh istirahat.
Metha? Ada apa dia menghubungiku? Ah, aku sedang tidak ingin mendengar suaranya.
Aku biarkan panggilannya berhenti sendiri. Namun, dia memanggil lagi. Ada keperluan penting apa hingga dia mengulangi panggilannya?
Betul. Aku tidak akan tahu maksud dan tujuan Metha jika tidak meresponnya.
“Halo, Met. Ada apa?”
“Gas….” suaranya seperti sedang menangis. “Aku cinta sama kamu. Aku mau kamu jadi pacar aku.”
Aku menarik nafas panjang. Itu lagi dan lagi yang dia bahas. Aku tidak tahu bahwa dia begitu keras kepala. Harus dengan cara apa aku memberinya penegasan?
“Met, aku sudah menjelaskan hal tersebut kepada kamu berkali-kali. Sorry, aku nggak bisa memaksa perasaanku. Tolong, berhenti bersikap seperti ini,” ucapku sedikit memarahi.
“Tapi aku nggak mau kamu sama Mutia, Gas.”
“Kenapa? Dia kan sahabat kamu, Met. Gue bener-bener nggak paham sama pola pikir lu. Apa sih yang membuat lu nggak konsisten begini?”
“Pokoknya kalau kamu sama Mutia pacaran, kamu harus jadi pacar aku juga. Kalau tidak….”
Metha ini luarnya saja terlihat tangguh, ternyata dalamnya serapuh gabus.
__ADS_1
“Kalau tidak kenapa? Kamu mau bunuh diri? Tolonglah, Met! Berpikir lebih dewasa sedikit. Ada banyak cowok lain di luar sana yang mungkin suka sama. Aku tutup ya teleponnya. Aku tidak suka jika kamu terus seperti ini. Jangan salahkan aku jika aku akan benci sama kamu,” gertakku.
Aku memaklumi jika terkadang suka kepada seseorang bisa meruntuhkan logika. Namun, Metha sudah sangat berlebihan memberikanku tekanan.
Saat aku hendak mematikan sambungan telepon, Metha mengalihkan ke mode video.
“Aku akan terjun dari jembatan ini. Aku serius, Gas!”
Gertakanku berbuah ancaman balik dari Metha. Dia tampak berdiri di sebuah jembatan layang. Posisinya sudah bersiap untuk menjatuhkan diri. Dia juga sorot jalanan yang ada di bawah tempat dia berada. Aku tidak menyangka ucapanku tadi ternyata sesuai dengan adegan yang sedang dia lakoni.
“Jangan gila, Met! Pulang sekarang juga! Jangan bertindak konyol dan bodoh!”
“Aku akan pulang setelah kamu katakan setuju untuk menjadi pacarku.”
Dia pikir aku akan luluh dengan ancaman seperti itu. “Terserah kamu deh, Met. Lagian yang nantinya akan menyesal di akhirat itu kamu bukan aku.”
“Gas, aku nggak main-main. Aku serius!”
Metha menjulurkan kaki kirinya ke luar pegangan jembatan. Kuperhatikan juga wajahnya basah dan matanya merah sembab. Sepertinya dia sehabis menangis. Simbahan air mata masih tercetak kental.
“Pulang! Jangan nekat, Met!”
Metha mengegeleng-gelengkan kepala.
Aku dulu nyaris bunuh diri karena merasa hidup tidak berarti. Hidupku sepi dan hampa. Sekarang aku menyaksikan orang lain akan melakukan hal yang sama.
Terlihat Metha memang sudah siap untuk mempercepat ajalnya. Haruskah aku biarkan dan tidak peduli? Tentu saja, tidak.
Jika Metha benar-benar bunuh diri karenaku, aku akan dibayangi rasa bersalah seumur hidup. Lalu, jika kematian Metha masuk media massa, maka aku pun akan dibayangi berbagai pertanyaan dari keluarganya, kepolisian, dan wartawan.
Ah! Metha cerdik membidik kelemahanku.
“Kamu di mana sekarang, Met?”
“Buat apa kamu tanya aku di mana?” bentak Metha.
“Share lokasi kamu segera. Aku akan ke sana,” pintaku secara tegas.
“Aku kamu mau bilang setuju dulu kalau kamu mau jadi pacar aku!”
Aku sudah menduga dia akan memaksaku untuk mengatakan hal tesrsebut. “Oke, oke. Iya. Sekarang cepat kasih tahu kamu berada di mana!”
Metha pun mengirimkan titik lokasi dia berdiri. Aku lantas bersiap untuk pergi.
Perkara ucapanku yang tadi, aku anggap hanya angin lalu. Metha meminta aku mengatakan “setuju”, sedangkan yang aku lantunkan yaitu “iya”. Itu bukan penegasan atau janji, kan?!
Begitu sampai di teras rumah, aku teringat bahwa Papa melarangku ke luar rumah hari ini. Apa yang harus aku lakukan? Pergi mengendap-endap saja? Hem. Rumah ini memiliki banyak pengawas baik yang bernafas mau pun yang tidak.
Kemudian, Mama memanggilku. Beliau bertanya mengapa sikapku seperti tengah mengamati sesuatu.
Kemudian, aku jelaskan kepada Mama secara jujur tentang Metha. Mama pun menyuruh aku lekas pergi. Beliau menjamin semua akan baik-baik saja. Beliau yang akan bertanggung jawab seandainya Papa tahu aku melanggar peraturan.
Rintangan pertama clear. Aku hubungi Mutia dan Andy. Aku butuh mereka untuk mencegah tindakan gila Metha. Jika aku pergi sendiri, aku takut terperangkap dalam emosi.
Dasar Metha! Bisa-bisanya dia menyerangku dengan cara yang picik.
__ADS_1