Inikah Rasanya?

Inikah Rasanya?
Chapter 38: Drama


__ADS_3

Keberanian muncul berkat adanya sokongan yang kuat. Baik itu berupa kekuasaan atau pun kekayaan. Intinya, berada di lapisan bawah tidaklah menyenangkan. Tidak bisa melawan, bahkan selalu direndahkan.


Aku lebih baik menahan rindu kepada Ayah dan Ibu daripada harus kehilangan semua kenikmatan hidup ini. Lagi pula, menahan rindu bukan berarti melupakan. Memoriku tetaplah sama, hanya raga yang berbeda. Aku bisa mengunjungi mereka tanpa melepaskan kebahagiaan.


Siang ini aku pergi ke toko buku sendiri. Tadinya, aku ingin mengajak Andy. Namun, aku merasa lebih nyaman pergi tanpa teman. Terkadang keberadaan orang lain di dalam langkah seperti sebuah kekangan.


Kususuri rak-rak Sastra dan Linguistik yang ada di dalam toko buku. Demi mendapatkan nilai sempurna di UAS, aku harus mencaplok semua sumber materi yang terdapat dalam setiap mata kuliah. Pintar saja tidak cukup jika tidak dibarengi usaha. Aku mau tak ada setitik pun cela dalam diriku yang bisa dihujat oleh orang lain.


Aku membeli buku-buku bertajuk Pengantar Bahasa, Sastra, dan Filsafat, juga beberapa novel populer seperti "Pride and Prjudice" karya Jane Austen, "Dunia Sophie" karya Jostein Gaarder, dan "Animal Farm" karya Goerge Orwell. Marilah berteman para mahakarya dunia agar aku bisa mengukuhkan diri sebagai mahasiswa Sastra Inggris.


Selesai berbelanja buku, aku merasakan dahaga. Lantas, aku menuju kedai minuman bernuansa kopi. Haus hilang, kantuk pun bisa dihadang. Begitu pikirku.


Akan tetapi, masa depan memang penuh misteri dan kejutan. Dari jarak sekira 10 meter, aku lihat Dita dan Metha berdiri mengantri di kedai yang aku tuju. Sial!


Dita menoleh ke belakang. Tepat! Penglihatannya lurus kepadaku.


“Bagas!!!” serunya. Kemudian, dia berjalan menghampiriku. “Kebetulan banget ketemu sini. Apa ini namanya jodoh? Hehe… Ngomong-ngomong, kamu mau beli minuman di sini juga?”


“Iya.” Aku berupaya mengembangkan senyum.


“Kamu mau minum apa, Gas? Biar aku aja yang belikan. Kamu sama Dita duduk dan tunggu aja ya,” ujar Metha.


Jika aku menolak tawarannya, permainan mungkin akan tersendat sedikit. “Americano panas ya, Met,” terangku sembari menyodorkan satu lembar uang biru. Namun, dia menolak pemberianku.


Ok. Anggaplah traktiran dari Metha sebagai karunia memiliki wajah tampan penuh godaan dan selalu menjadi idola para wanita.


Aku duduk berhadapan dengan Dita. Dia bertanya tentang kegiatanku sebagai Duta Kampus, persiapanku menghadapi UAS, hingga kehidupanku di rumah. Dia berlagak perhatian. Sementara, aku sudah mengenal wataknya lebih dalam.


Ketika aku sakit minggu lalu, dia tak acuh terhadapku. Kini, dia coba membelaiku dengan kata-kata palsu nan memuakkan telinga.


Hah!


Aku arahkan pandanganku kepada Metha. Sudah lebih dari 20 menit, tetapi dia belum juga kembali dari barisan.


“Kamu lihatin apa sih, Gas? Metha? Sabar ya! Mungkin lagi ada kendala dengan mesin penjualnya,” ucap Dita sembari menarik daguku.


Aneh! Aku tidak berkomentar apa pun, tetapi dia membaca raut wajahku secara sangat berlebihan. Dia menganggapku seperti anak kecil yang resah menunggu, lalu cukup ditenangkan menggunakan tipuan. Padahal, aku hanya memeriksa posisi Metha.


Wajar bila instingku mengatakan ada yang tidak beres dengan sikap Dita dan Metha. Dita seolah tengah mengalihkan perhatianku. Sementara itu, Metha melancarkan sebuah rencana.


Beberapa saat kemudian, Metha datang membawa nampan berisi tiga cup minuman. Hanya saja, aku sempat melirik dia berjalan bukan dari area penjual menyajikan pesanan konsumen, melainkan sisi sebelah kiri kedai yang sepi.


“Thanks ya!” ucapku setelah menerima minuman pesananku. Aku hempaskan lukisan curiga sejenak dari wajahku. Kemudian, aku bangkit dari kursi. “Aku duluan ya,” pamitku.

__ADS_1


Metha menarik lengan kiriku. “Kamu mau ke mana, Gas? Mau langsung ke kampus?” tanyanya. Sangat kentara bahwa dia berupaya menahanku lebih lama. “Ini kan baru jam 1, Gas. Kuliah kita kan jam 3.”


“Iya, mau ke mana sih, Gas? Minumannya diminum dulu dong di sini. Kasihan loh Metha udah ngantri lumayan panjang tadi,” timpal Dita.


Keanehan semakin membumbung di otakku. Aku rasa mereka tidak sekadar memintaku untuk menghabiskan waktu dengan mereka. Tampak ada maksud terselubung dari setiap pernyataan mereka.


“Aku ada urusan lain,” jelasku.


“Terus kamu nyetir sendiri, Gas? Kalau kamu nanti ngantuk dan tertidur gimana?” Dita semakin agresif mencegahku.


“Minum di sini” dan “tertidur”. Dua frasa utama yang aku tangkap dari pertanyaan Dita seakan penegasan bahwa benar ada sesuatu di dalam minuman yang aku genggam.


Aku sempat melihat Metha mengeluarkan sesuatu di dalam tasnya setelah mendapatkan minuman kami. Dia juga menepi sejenak ke sisi toko yang kosong. Dia tidak langsung menghampiri aku dan Dita. Nah, bukankah itu memperkuat kejanggalanku terhadap tingkah mereka?!


“Ng…. nggak. Aku sama sopirku. Karena kondisiku belum pulih sempurna, aku minta ditemani sopir. Terus setelah ini, aku mau ke kantor bokap. Maaf, aku harus segera pergi. Terima kasih banyak atas minumannya ya, Met, Dit.” Aku berbohong untuk mendapatkan reaksi spontan mereka.


“Oh gitu. Ya udah, hati-hati ya, Gas!” ucap Dita dengan nada yang dibuat sendu.


“Sampai ketemu di kampus, Gas,” tambah Metha.


Aku terus menatap cup Americano-ku. Aku tidak berani untuk meminumnya walau haus menggerogoti kerongkongan. Lebih baik nanti aku berhenti sebentar di minimarket untuk membeli sebotol air putih daripada membuktikan pernyataan Dita.


Sebentar!


Apa aku tersugesti oleh ucapan Mutia tentang Dita dan Metha yang merencanakan sesuatu kepadaku? Jadi, aku hanyut dalam kecurigaan yang berlebihan.


Satu hal yang cukup mengganggu pikiran, pertemuanku dengan mereka terjadi secara kebetulan. Namun, mereka seperti sudah menyusun rencana untuk “meracuniku”, dan hanya mencari momen yang pas.


Mungkinkah maksud Mutia meminta aku menjauhi Dita dan Metha terkait hal ini? Mutia tahu rencana dua perempuan ganjen tersebut, tetapi masih sungkan untuk memberitahuku secara gamblang.


Ah! Tapi apa yang ada di dalam minuman ini selain sari biji kopi dan air panas? Obat tidurkah?


Lantas, untuk apa Dita dan Metha membiusku? Apakah mereka hendak menculikku, kemudian men-setting adegan seolah-olah aku mengagahi salah satu dari mereka? Hah! Itu terlalu barbar dan seperti drama lawas.


Andy! Kucoba telepon dia untuk bertemu.


Sebelum Mutia meminta aku untuk berhati-hati terhadap Dita dan Metha, Andy lebih dulu melarangku menjalin kedekatan bersama Duo Racun tersebut.


Aku lebih baik menggali informasi sedalam-dalamnya dari sisi Andy. Aku gengsi jika harus mendekati Mutia demi rahasia yang dia simpan.


Kurang ajar! Andy tak menjawab teleponku. Chat-ku pun hanya centang satu. Ketika sedang sangat dibutuhkan, dia bagai punya seribu kesibukan. Ketika sedang tidak dibutuhkan, dia malah membayangiku.


Bagaimana lagi, aku tunggu saja Andy di kampus. Andai aku tahu di mana dia tinggal, akan kudatangi langsung dia.

__ADS_1


Baik tempat tinggal Andy, Tommy, Revan, dan Leo, tak ada satu pun yang kuketahui letaknya. Lebih tepatnya, aku tidak mau tahu. Sebelumnya, mereka di mataku bagaikan gerombolan teman sekelas yang “sok ngartis". Jadi, sangat tidak penting tahu di mana mereka bermukim.


Aku duduk di taman dengan pikiran cemas menerka-nerka. Kuputar Americano yang sudah dingin. Aku penasaran mengenai ingredient tambahan yang mungkin dibubuhkan oleh Metha sewaktu mataku lengah. Tetapi, siapa yang bisa aku jadikan kelinci percobaan?


Aku berdiri memutar pandangan untuk mencari mangsa. Tak disangka, korban menghampiri dengan sendirinya.


“Kenapa lu? Habis mimpi buruk?” tanya Ardi. Kemudian, dia memegang pundakku. “Dari kejauhan gue perhatiin lu lagi gelisah. Lu bisa cerita sama gue kalau mau.” Dia cengar-cengir seperti orang bego.


Untungnya suasana hatiku sedang cukup baik. Jadi, aku menjawab pertanyaan Ardi dengan ikhlas. “Mimpi buruk? Gue bahkan nggak tahu yang dimaksud mimpi buruk itu seperti apa. Apa lu yang sebenarnya ngalamin mimpi buruk? Dan sekarang lu lagi terbawa perasaan gundah gulana untuk mencari teman curhat. Lu butuh penguat hati kalau mimpi buruk lu hanyalah sebatas bunga tidur yang tidak ada kaitannya dengan kehidupan nyata.Terus lu bingung siapa kira-kira teman yang bisa menjadi pendengar dan pemberi lu motivasi. Benarkah begitu?”


Dia membuang muka menanggapi serangan balikku.


Aku balas menarik lengannya untuk mengajak bersandar di kerasnya kursi taman – sekeras sindiranku kepadanya. “Lu bisa kok cerita sama gue, Di. Tenang aja, gue bukan orang yang comel kok. Gue ini seorang pendengar yang baik. Ayo cerita sini!”


“Lu itu kalau sembuh kayak cerewet ya,” ledeknya sambil menahan tarikanku.


Aku mengangkat alis dan menyunggingkan bibir. Terbias sebuah ekpresi ramah, tetapi karikatur.


Brukkk!!!


Tiba-tiba Ardi menjatuhkan diri dengan posisi mundur. Aku tidak mengerti maksudnya. Apakah dia sedang mendalami mata kuliah “Drama”. Entahlah! Dia memang tidak jelas semenjak bersemayam di badanku.


“Kenapa lu terjatuh? Ditabrak sama arwah penunggu taman?” seringaiku.


“Lu…. kok…. jahat ba…. banget sih, Gas. Gue salah apa sampe lu do…. dorong gue?” ucapnya sedikit terbata berpura gagap. Semoga saja sih dia benar-benar gagap. “Gu…. gue…. kan cuma tanya kenapa lu sama teman-teman lu fitnah gue soal fo…. foto yang lu sebar ke teman-teman kelas.”


Dahiku mengernyit. Dia sekonyong-konyong membahas foto-foto yang membuatnya dicibir teman-teman dan diusir dari kost.


Oh! Aku paham. Dia pasti melihatku duduk sendirian di taman, lalu dia menghampiriku sambil menghidupkan rekaman di ponsel. Dia memancingku untuk mengakui kejahatanku.


Hah! Aku jengah dihadapkan dengan manusia-manusia pemain sinetron yang tidak lolos casting.


“Udah deh, Di. Jijik gue lihatnya lu bersandiwara begini. Apa sih yang lu cari? Perhatian? Simpati dan empati?” Aku menghela nafas. “Mending lu minum nih kopi biar otak lu enggak nge-lag karena memori penuh.”


Aku menyodorkan Americano-ku kepadanya. Semoga saja dia mau meminumnya.


“Kamu kenapa, Di?” tanya Mutia yang datang dari arah belakangku.


Rupanya karena melihat Mutia, si Kunyuk tanpa aba-aba menjatuhkan diri.


Hah! Sepenting apa sih penilaian Mutia dalam hidupku? Aku sudah tidak lagi mengharapkan cintanya. Jadi, penilaian apa pun yang Mutia labelkan kepadaku tak berpengaruh lagi pada psikologisku.


“Aku…. aku…. aku nggak apa-apa kok, Mut. Mungkin Bagas nggak sengaja aja dorong aku. Aku paham kok. Aku memang tidak pantas mendapatkan keadilan. Padahal, aku coba bertanya kenapa dia berbuat jahat kepadaku. Aku ingin tahu di mana letak kesalahanku supaya aku bisa memperbaiki diri sekaligus meminta maaf kepadanya,” jawab si Kunyuk menggelembungkan cerita dengan suara meringis.

__ADS_1


Cukup, Bagas! Waktunya pergi mencari Andy. Meladeni si Kunyuk hanya menggerus stabilitas mood-ku.


“Kalian berdua cocok. Sama-sama pandai ber-acting. Semester depan kan ada pementasan Drama, cocok banget kalau kalian menjadi pemeran utamanya. Namun, apa ya drama yang cocok buat kalian? ‘Romeo and Juliet’ atau ‘The Great Gatsby’ atau ‘The Doll House’? Tidak, tidak. Sepertinya judul yang tepat buat drama kalian yaitu ‘Munafik’,” ucapku satir seraya meninggalkan mereka.


__ADS_2