
Hal yang paling membahagiakan dalam hidup yaitu berbagi kebahagiaan yang dimiliki. Aku bisa melihat senyum anak-anak yang antusias memilih dan memilah buku bacaan sesuai minatnya. Aku juga melihat senyum para orang tua menyaksikan putra putri mereka melepas gawai untuk bercengkrama dengan jendela dunia.
Suasana di kampungku semakin tertata rapi. Warga semakin sadar pentingnya menjaga keindahan lingkungan dan kelestarian alam dengan bijak membuang serta mengelola sampah. Memang, salah satu investasi terbaik bagi generasi selanjutnya yaitu alam yang sehat. Alam yang senantiasa bisa diandalkan untuk menopang kehidupan semua makhluk hidup.
Ini semua mungkin tidak akan terjadi bila pikiranku tidak bersinergi pada jiwa dan raga yang tepat. Seorang Ardi tidak mungkin mampu menginisiasi perubahan. Bukan tidak adanya inisiatif dan keberanian dalam diri, tetapi sadar bahwa tidak akan ada yang mau mendengarkan. Sementara bagi seorang Bagas, cukup berbicara satu kalimat saja sudah bisa membakar semangat satu kampung.
Hah! Sudahlah! Setiap kali aku menyerap rasa syukur, selalu saja ada perbandingan hidup yang merayap ke dalam pikiran.
Dita tidak jadi dipulangkan. Dia menangis memohon untuk tetap tinggal hingga hari terakhir agendaku di sini. Sebagai kompensasinya, dia berjanji menjaga sikap dan tutur kata.
Jujur, aku ragu dia bisa menepati janjinya. Namun, aku bisa menjadikan janji yang dia ucapkan sebagai tombak jika dia berulah lagi.
Kulangkahkan kaki menyusuri jalan beraspal. Tujuanku yaitu ke sekolah dasar tempatku pertama kali menimba ilmu di bangku pendidikan. Aku hendak sedikit bernostalgia. Menonton tingkah murid-murid yang polos sekaligus jajan makanan khas depan sekolah.
Di sepanjang jalan, semua orang yang berpapasan pandang melemparkan senyum dan sapa kepadaku. Batinku semakin riang, tetapi sedikit dipukul pilu. Semakin dekat dengan waktu perpisahan – meninggakan tempat ini, semakin merata haru menjalar ke sel-sel tubuhku. Hari ini akan menjadi kemarin di hari esok. Kemarin akan menjadi gumpalan kenangan yang tak bisa diulang.
Huh! Aku mudah sekali terbawa emosi.
Aku beli 10 tusuk telur gulung, salah satu jajanan favoritku. Penjualnya masih sama, hanya harganya yang sudah menajdi dua kali lipat karena tertekan inflasi.
Sayangnya, aku ceroboh. Sudah tahu mau kulineran, tetapi tak membawa uang sepeser pun.
Aku lantas meminta izin kepada si Bapak penjual untuk pulang sebentar. Malu pun harus kutanggung akibat terlalu percaya diri seakan dompet terselip di saku.
“Sepuluh ribu ya, Mang? Ini saya bayarkan,” suara Mutia mengalun syahdu di telingaku. Tangannya yang mulus melaju di depan mataku, menyodorkan uang dengan gambar pahlawan bernama Frans Kaisiepo.
“Thanks ya, Mut. Bisa kebetulan begini ya. Nanti aku ganti di rumah,” ucapku.
“Nggak usah. Anggap aja aku traktir kamu.” Mutia tertawa kecil.
“Cieee…. Neng Mutia sama si Aa ini pacaran ya? Cocok dah, Mamang mah setuju,” goda si Bapak penjual yang memang dikenal ramah dan jenaka.
__ADS_1
Aku tanggapi pernyataan si Bapak dengan pujian bahwa telur gulung buatannya enak. Rasanya masih sama seperti dulu.
“Gas, kamu emangnya pernah beli telur gulung di sini sebelumnya?” tanya Mutia keheranan.
“Em…. maksudku…..” Aku memperlambat tempo jawaban untuk mencari kalimat pengalihan. “Maksudku telur gulung yang dijual di depan SD kan selalu enak ya. Di mana pun itu.” Aku hela nafas lega. Kemudian, aku ingat perkataan si Bapak. “Mut, kamu sering jajan di sini juga? Kok si Bapak kayaknya kenal banget sama kamu.”
Mutia melesungkan pipinya. Namun, ketika hendak menjawab, ia kalah cepat dengan si Bapak.
“Neng Mutia ini langganan saya dari dulu, A. Sama kayak si Aa Ardi yang rumahnya di sebelah sana. Barusan si Neng habis makan 10 tusuk juga,” terang si Bapak sambil menunjuk ke arah rumahku. “Cuma pas kelas 4 si Neng Mutia pindah sekolah. Jadi aja Mamang sempat kehilangan satu pelanggan setia,” imbuhnya.
Aku memandang Mutia. Ingatanku meraba pada masa lalu. Keterangan yang diberikan si Bapak menyentak memoriku.
Untuk lebih menyakinkan, aku ajak Mutia duduk di pilar pohon asem yang menjadi salah satu keterangan lokasi sekolahku. Seingatku, Mutia tidak pernah bersekolah di sini. Tidak pernah terbaca atau terdengar namanya dalam daftar siswa seangkatanku. Wajahnya pun asing dalam databaseku.
“Mut, kamu sekolah di sini juga bareng Ardi? Aku kira kalian baru kenal pas SMA di Jakarta.” Aku langsung mengorek informasi pasti darinya.
“Ya, benar. Aku dan Ardi kenalnya pas SMA. Waktu SD, aku tidak sekelas dengannya. Dia kelas A dan aku kelas B. Aku sekadar tahu dia, karena dia anak yang cerdas. Dia selalu dielu-elukan oleh para guru. Sementara aku, ketika itu, hanya murid SD pendiam yang sering sakit-sakitan dan jarang masuk sekolah. Aku tak punya banyak teman dan selalu menyendiri. Aku hanya bisa iri melihat Ardi yang selalu ceria,” paparnya.
Mutia, anak dari kelas B yang pendiam dan jarang masuk sekolah. Ah, tidak ada nama dengan sosok seperti yang dia utarakan.
Aku coba berikan Mutia ruang untuk bercerita lebih banyak. “Lalu? Apa selama SD kamu dan Ardi tidak pernah berinteraksi?”
“Aku selalu ingin bermain dengannya. Dia anaknya periang, gampang berbaur, dan – itu tadi – cerdas. Namun, aku hanya bisa melihat dia dan teman-teman dari kejauhan. Badanku yang rapuh kerap tidak diperkenankan berkegiatan yang mengundang keringat.” Mutia menghela nafas sejenak.
Sebentar! Aku masih belum bisa mengenang jelas siapa Mutia. Akhhhh!!!
Apakah mungkin ada bagian dari memoriku yang hilang atau tersangkut di dasar otak sehingga sulit bagiku mengingat Mutia?
“Suatu hari, aku lihat Ardi kebingungan di depan si Bapak penjual telur gulung yang tadi. Rupanya, uangnya hilang dan tidak bisa membayar telur gulung yang sudah dipesan. Aku pun menyodorkan uangku untuk membayarkan. Kejadiannya persis seperti kamu tadi yang berencana pulang dulu ambil uang ke rumah. Sayangnya, saat itu merupakan hari terakhirku di sekolah ini. Hingga akhirnya aku tak menyangka bisa bertemu dia di Jakarta,” sambung Mutia sedikit sendu.
Aku ingat kejadian yang Mutia tuturkan. Namun, perempuan penolongku kala itu berwajah pucat. Namanya, Rindu Larasati.
__ADS_1
Benar, Rindu Larasati.
Tubuhku seketika gemetar. Apakah Rindu adalah Mutia? Apakah ada pertukaran jiwa yang juga Mutia alami yang sama sepertiku?
Aku tahu Rindu, walau hanya sekadar tahu. Dia anak yang sangat tertutup. Dia selalu didampingi ayah atau ibunya selama berada di sekolah. Dia juga selalu mengenakan sweater merah jambu menutupi seragamnya. Ya, sebatas itu saja yang kukenali tentangnya. Aku kira dia hanya murid selewat.
Ingatanku benar-benar ditantang dan diuji. Rindu dan Mutia, benarkah satu orang yang sama?
“Rindu?” ucapku dengan suara bergetar.
Mutia mengangkat kedua alis seraya menyipitkan mata. “Ka…. kamu kok bisa tahu nama kecil aku, Gas?”
Dia telah mengonfirmasi konklusiku.
Tidak. Apa yang tadi aku katakan? Aku ini kan Bagas.
Aku memutar otak lagi. Mutia semakin mengarahkan matanya secara saksama untuk meneliti ekspresiku.
“Em…. rindu…. Iya, rindu. Kamu rindu masa-masa SD dulu, kan ya?”
“Oh! Aku kira kamu tahu nama kecilku. Hampir aja aku labeli kamu paranormal." Mutia menghembuskan udara dari mulutnya. "Ya, aku rindu masa SD dulu. Tapi, aku sedang merasa benar-benar bersyukur bisa menikmati siang yang cerah ini. Dulu, aku diprediksi akan mati sebelum menginjak usia 10 tahun. Aku mengidap Leukimia. Untungnya, Tuhan memberiku kesempatan hidup lebih lama. Setelah menjalani berbagai pengobatan hingga ke luar negeri, aku akhirnya sembuh. Sebagai bentuk buang sial, orang tuaku mengganti namaku dari Rindu Larasati menjadi Mutiara Cinta Setiawati. Mereka berharapku hidupku akan seindah mutiara dan sesetia cinta.”
Pantas saja aku begitu asing ketika Mutia mengatakan pernah satu SD denganku. Ternyata, dia berganti nama. Hal yang memang lumrah dilakukan agar nasib buruk yang pernah melekat sirna selamanya. Bukankah nama itu adalah doa?!
Aku lanjutkan untuk menyantap telur gulungku. Tanpa sadar, ternyata tinggal satu tusuk terakhir. Aku bengong menatap plastik dengan raut tak percaya. Bagaimana caranya aku menjadi pendengar yang serius, tetapi mulutku lancar mengunyah? Mutia pun tertawa melihat tingkahku.
Berbincang dengan Mutia, hatiku merasa nyaman. Benci yang menyelinap di dalam sanubari terkikis lewat sepenggal memoar yang disenandungkan olehnya.
Aku masih berhutang kepadanya. Hutang yang terlupakan, karena dia yang tak bisa lagi kutemukan hingga lulus SD.
Kini, Rindu alias Mutia ada di sampingku. Lantas, apa yang harus aku lakukan untuk membayar kebaikannya?
__ADS_1
Tak sepatutnya aku bertingkah layaknya anak kecil. Mencoba mendendamnya sebab dia menolak cintaku.
“Maaf ya, Gas. Aku jadi banyak bercerita sama kamu. Entah kenapa aku melihat kamu seperti Ardi saat usia SD, sedangkan Ardi yang sekarang sangat tertutup seakan sedang menyembunyikan identitasnya,” ungkap Mutia.