Inikah Rasanya?

Inikah Rasanya?
Chapter 14: Pencapaian


__ADS_3

Bagi sebagian orang, menjadi terkenal bukanlah impian. Digandrungi banyak penggemar justru bisa menghilangkan ranah pribadi. Cerita kehidupan akan terus diulik. Pijakan kaki senantiasa diamati ke mana pun pergi. Tak ada kebebasan dalam meniti pergaulan.


Namun, mereka yang mengatakan tidak ingin menjadi sosok terkenal biasanya sudah memiliki kehidupan yang layak, bukan?! Atau mereka tinggal melanjutkan bisnis orang tua. Paras sudah bisa dipoles dari kecil. Tahta sudah terbentuk dari derajat keluarga. Apa lagi yang perlu dirisaukan?


Hidup mereka tinggal melanjutkan rintisan keturunan. Ketika orang sepertiku (dulu) gagal, maka aku harus mengulang dari nol. Tetapi jika mereka yang gagal, mereka masih bisa berdiri dengan nilai di atas 50. Jadi, hidup terkadang tidak serta merta tentang usaha. Usaha memang tidak akan mengkhianati hasil. Namun, untuk mejadi “penguasa” butuh dari sekadar usaha.


Pagi ini aku diminta oleh Papa untuk ikut berangkat ke kantor. Beliau meminta aku mengatur dan mengawasi perusahaan selama satu bulan ke depan. Dalam kurun waktu tersebut, Papa dan Mama akan berada di Kanada untuk urusan bisnis.


Jika hanya sekadar mengatur dan mengawasi, itu bukanlah perkara yang sulit. Aku hanya perlu datang ke kantor untuk menerima laporan. Papa juga tidak menitikberatkan tugasku pada hal-hal substansial seperti presentasi dan analisis kurva perusahaan. Lagi pula, ada pegawai lain seperti manajer di setiap divisi yang bisa diandalkan untuk membantuku.


Usai dari kantor, aku bergegas ke kampus. Kehidupan sebagai putra konglemerat sudah mulai bisa aku lakoni dengan baik. Tidak ada lagi kecanggungan mau pun kebingungan dalam memahami rutinitas harian.


Turun dari mobil, aku lihat Ardi berjalan sendiri. Seketika muncul ide untuk mengajaknya makan siang di kantin. Aku pun lekas mendatanginya.


“Di, hari ini kita makan siang bareng yuk,” ucapku sambil merangkulnya.


Ardi yang terkejut segera melepaskan tanganku. “Jelaskan maksud lu apa!”


“Maksud apaan sih, Di? Gue serius mau ngajak lu makan siang. Gimana kalau kita makan bakso di kantin?” Aku tahu Ardi sedang begitu mewaspadai setiap kebaikanku terhadapnya.


“Gue udah curiga lu punya maksud kurang baik,” ketusnya.


“Lu kok belakangan ini berpikir negatif terus sama gue, Di? Lu kan dulu pernah traktir gue makan bakso. Gue pengen bales kebaikan lu aja,” terangku agar dia ingat hari di mana dia mencoba akrab denganku.


Aku tidak mengerti mengapa tiba-tiba seperti ada jurang yang membentuk jarak di antara kami. Padahal, dia memberiku semangat lebih dahulu.


“Nggak usah repot-repot mikirin masa lalu. Lu nikmatin aja hidup lu yang sekarang. Semoga bahagia!” Ardi menepuk dadaku.


Lantas, dia pergi dengan langkah yang cepat. Huh! Entahlah, dia sudah mengerti permainanku dalam mendekati Mutia. Namun, aku sebenarnya memang ingin menjalin pertemanan dengan dia.


Sikap dan sifat Ardi yang berbeda 180 derajat sejak bertukar tubuh membuatku semakin penasaran. Jika karena efek tubuh yang didiami, rasanya kurang rasional. Pikiran kami tetaplah memiliki kontrol penuh dalam bertindak.


“Gas!” Suara Revan menyasar telingaku dengan kencang.


Aku segera berbalik badan. “Lu sendirian aja, Van?”


“Tommy hari ini nggak kuliah. Ke kantin yuk!”


“Gue ada kelas, Van.”


Revan memerhatikan wajahku. “Kelas lu kan masih mulai 15 menit lagi. Lagian, lu telat dikit nggak bakal kenal omel juga.”


“Gue nggak laper, Van.”


“Ayolah, Gas! Beberapa hari ini gue ngerasa kita udah jarang banget nih ngumpul,” keluhnya.


Tiba-tiba Dita muncul menambah rantai dalam langkahku.


“Gas, ke kantin yuk! Aku lagi pengen makan bakso bareng kamu,” ucap Dita sembari mengikat tangan kananku dengan kedua tangannya. Dia mencoba bermanja, sedangkan aku mencoba menahan kesal.


“Kebetulan, Dit.” Aku tarik tangan Revan. “Revan juga lagi pengan ke kantin katanya. Kalian makan bareng aja berdua ya. Kali aja kalian bisa jadi food vlogger. Revan ini ahlinya dalam mencicipi cita rasa makanan,” paparku.


Dita dan Revan bengong. Di situlah aku bisa meloloskan diri, dan langsung berlari.


Hem, Dita dan Revan? Cukup serasi juga. Namun, bagaimana dengan Andy? Bukankah aku lebih dulu mendekatkan Andy dengan Dita? Ah, terserahlah! Mau Dita dengan Revan atau pun Andy, aku tidak peduli. Tujuanku bukan untuk menjadi Mak Comblang. Aku hanya tidak mau diganggu oleh Dita setiap hari.


Kelas dimulai. Aku terpana melihat Mutia yang tampil anggun hari ini. Terlebih, ketika Mutia menoleh ke belakang, lalu memberikanku senyuman. Ini langka. Maksudnya, Mutia selalu menatap ke depan selama proses pembelajaran.


“Gas, kita nongkrong yuk di tempat biasa,” ujar Leo ketika kelas usai.

__ADS_1


“Sekarang?” Aku sebenarnya sedang ingin fokus mengejar cinta Mutia.


“Iya.”


Mutia belum beranjak dari kursi. Aku pun masih ingin lebih lama menatapnya. Sementara Leo terus menarik-narik lenganku.


“Lu duluan aja, Yo.”


“Duluan gimana maksud lu? Mau mau nyusul aja? Lah, kan kita perginya naik mobil lu,” kesah Leo.


“Maksud gue, lu sama Andy duluan aja tunggu di gue di mobil.”


“Emang lu masih mau ngapain, Gas?”


“Kita tunggu di bawah aja, Yo. Yuk!” ajak Andy. Untungnya, dia paham tanpa harus diberi kode secara eksplisit.


Tersisa aku, Mutia, dan Ardi di dalam ruangan. Kudengar Metha meninggalkan Mutia karena hendak mengembalikan buku ke perpustakaan. Memang scene ini yang kuharapkan. Bagaimana dengan Ardi? Abaikan saja! Dia sudah jadi juru kunci sejak SMA.


Aku pun pura-pura merapikan buku menunggu Mutia keluar lebih dulu. Tak disangka, Mutia menghampiriku. Kemudian, dia memberikanku Pudding Cokelat dalam wadah kotak segiempat yang cantik.


Katanya, pudding itu dia buat sendiri. Dia memberikannya kepadaku sebagai ungkapan terima kasih karena sudah membantu tugas kelompok hari itu.


Hatiku bak taman di musim semi. Bunga-bunga bermekeran, kupu-kupu berdatangan, keindahan menyatu dalam dekapan. Aku jadi sungkan untuk menyantap pemberian Mutia tersebut. Haruskah aku simpan di kulkas sebagai kenangan? Ah, aku harap dia akan membuatkan hidangan serupa lagi untukku.


Mutia berlalu. Aku menoleh ke belakang untuk melemparkan senyum kepada Ardi. Aku pamerkan perhatian yang diberikan oleh Mutia.


Ardi pun balas tersenyum. Kemudian, dia mendekatiku. “Gue juga dikasih kok sama Mutia pas lu semua belum masuk kelas,” ungkapnya setengah berbisik.


Aku respon pernyataan Ardi dengan tertawa kecil. Aku yakin dia berbohong. Dia pasti panas hati, dan sengaja membuat aku kesal.


“Lu nggak percaya?” Ardi merogoh tasnya. Lantas, dia menunjukkan wadah yang sama dengan yang aku terima dari Mutia. “Sama, kan?” seringainya.


Apa mungkin Mutia berbohong bahwa pudding yang ia berikan bukan hanya untukku? Tetapi, dia memang tidak mengatakan itu spesial untukku saja.


“Rasa cinta? Lu berhalusinasi ya? Mutia memberikan ini bukan sebagai bentuk perhatian, melainkan ucapan terima kasih. Sorry, gue hanya mengingatkan biar lu nggak over confident dulu.” Dia tersenyum sinis kepadaku.


Hah! Ardi semakin kencang menabuh genderang perang. Padahal, aku berniat untuk berdamai. Apakah dia mau mencoba rivalitas tanpa batas denganku? Tunggu saja! Setidaknya, saat ini aku masih teguh dengan pendekatan emosional melalui perilaku positif.


“Oh iya, satu lagi, gue hampir tiap pagi sarapan bareng sama Mutia. Jadi, jangan coba-coba menghitung skor antara kita ya. Gue takut lu nggak kuat melihatnya,” tambahnya untuk membakar hatiku.


Apa aku terbakar? Iya. Aku yang memercikkan api ke tubuhnya, tetapi justru aku yang kepanasan. Ini sudah mulai perang mental.


***


Duduk di kursi presiden direktur sebuah perusahaan bonafit sangatlah penuh kebanggaan. Aku memang belum resmi menggantikan Papa, tetapi aku telah mempersiapkan diri menyambut hari itu tiba.


Aku berada di kantor sepanjang hari ini. Pekerjaanku cukup mudah. Hanya tanda tangan, bertanya progres, dan meminta laporan perusahaan selama sepekan. Tadinya, aku pikirnya otakku akan terkuras banyak untuk mengelola peusahaan. Jika hanya seperti ini, aku mungkin perlu mencari tantangan baru.


Setelah urusan di kantor beres, aku bingung mencari peraduan. Langsung pulang ke rumahkah? Namun, di rumah pun aku tidak tahu hendak melakukan aktivitas apa selain menonton TV atau film. Hangout bersama Andy, Leo, Tommy, dan Revan? Aku sedang malas bertemu mereka.


Aku merenung mencari tujuan sembari menyelinap di antara kepadatan jalan raya. Kemudian, kulihat Mutia berdiri di pinggir halte toko buku. Dia tampak hanya seorang diri. Tuhan sangat mengerti yang kumau.


Aku tepikan mobil di sisi Mutia. Lalu, kubuka kaca jendela pintu untuk menyapanya.


“Hai, Mut!" sapaku. "Kamu sedang apa di sini?”


“Hai, Gas! Aku lagi nunggu ojol (ojek online) nih.” Dia membalas sapaanku dengan senyuman.


“Mau pulang?”

__ADS_1


“Iya.”


“Ayo masuk!”


“Nggak usah, Gas. Driver-nya udah mau nyampe kok.”


“Dibatalin aja, nanti aku kasih ongkos ganti ruginya ke driver.”


Mutia terlihat enggan. Mungkin dia malu-malu atau butuh sedikit dipaksa. Terkadang perempuan perlu ditanya atau ditawari lebih dari satu kali, kan?


Akhirnya, Mutia masuk ke dalam mobil. Aku tanya mengapa dia pergi sendiri. Biasanya ke mana pun pergi akan ada Metha yang mendampingi. Ternyata, Metha sedang pulang ke rumahnya di Bekasi.


Rasa lapar menyerang perutku. Aku ajak Mutia mampir di sebuah café sembari menunggu jalan Kota Jakarta sedikit lengang. Ya, menyetir di sore hari laksana kaki dan tangan berolahraga.


Begitu berhadapan dalam satu meja, tubuhku sedikit gemetar. Aku sempat kikuk juga dalam menghidupkan obrolan. Semakin lama memandang Mutia, semakin aku terperosok dalam di jurang harapan. Harapan akan cinta yang terikat.


Bagaimana jika aku menyatakan perasaanku kepadanya sekarang? Jangan! Biarkan ini berjalan seiring waktu. Lebih baik menunggu lebih lama daripada memutus jembatan yang baru saja menghubungkan jarak.


Lepas makan, ekspresi Mutia mendadak berubah. Sebelumnya, kami mengobrol tanpa ada beban. Ya, membicarakan perkuliahan yang makin banyak disibukkan tugas.


“Kamu kenapa, Mut? Kok kayak gelisah gitu,” tanyaku.


“Nggak apa-apa, Gas,” jawabnya sambil memutar sedotan di dalam gelas jus jeruk kepunyaannya.


“Kamu mau pulang sekarang? Atau kamu kurang suka makan berdua dengan aku begini?” tanyaku lagi melambungkan terkaan.


“Bu…. bukan itu, Gas.” Mutia tampak kebingungan untuk mengungkapkan jawaban.


“Lalu?”


“A… aku nggak enak kalau nanti semisal Dita tahu aku makan berdua di sini sama kamu,” terangnya.


“Dita?” Aku tertawa untuk menyanggah kekhawatirannya. “Mut, aku kan udah pernah bilang sama kamu kalau aku dan Dita nggak ada hubungan apa-apa.”


Mutia menghela nafas. “Iya. Tapi, aku males aja kalau nanti harus berurusan sama dia.”


“Udah, kamu tenang aja! Kamu nggak perlu memikirkan hal tersebut. Apa kita mau pulang sekarang?”


Mutia mengangguk.


Sepanjang perjalanan mengantar Mutia pulang, tak tercipta banyak obrolannya. Aku kehabisan kata-kata dan ide untuk mencari topik pembahasan.


Kami hanya sesekali saling mengucapkan terima kasih. Aku berterima kasih karena Mutia bersedia aku traktir makan, sedangkan Mutia berterima kasih atas ajakanku dan mengantarnya pulang.


Sesampainya di kost, Mutia melambaikan tangan dan senyuman. Perpaduan yang begitu menggetarkan perasaan. Semoga ini awal dari romansaku bersamanya.


Hari ini cukup melelahkan. Meskipun begitu, aku diliputi kesenangan yang berlipat. Pekerjaan berjalan lancar, tujuan pendekatan cinta tercapai. Saatnya pulang, lalu tidur.


Namun kala membuka pintu mobil, seseorang memanggilku cukup lantang.


“Hai, Gas!”


“Metha.” Hampir saja aku salah tingkah, karena hendak merayakan pencapaian hari ini dengan tarian.


“Kamu habis ngedate sama Mutia ya?” tanyanya tanpa ancang-ancang.


“Ngedate? Em…. bukan. Kebetulan aja tadi ketemu di jalan, terus kami makan bareng. Ya, aku nggak mau bilang ini nge-date, walau berharap demikian sih,” jawabku sumringah.


“Oh….” suaranya seperti kehilangan tenaga.

__ADS_1


“Kenapa, Met?”


Metha tertunduk dengan wajah yang tampak lesu. Ada apa dengan dia? Mimiknya berubah secara signifikan. Dia yang menyapa, dia juga yang bertanya, tetapi mengapa seakan balas ucapan dariku menyalakan kepiluan? Ah!


__ADS_2