
Selama di kelas, wajah Mutia yang tampak penuh kecewa membayang di pelupuk mataku. Terpikir dalam getir bahwa seharusnya aku tidak perlu melecehkan Ardi hingga mengikutsertakan Mutia. Ya, mengapa aku bisa setega itu? Mengapa aku tidak bisa menahan diri? Mengapa aku tidak pergi - justru memilih mengadu sabar?
Terkadang aku merasa begitu jahat kepada Mutia dan Ardi. Namun, terkadang juga aku merasa situasi yang membuatku demikian. Andai aku bisa membaca pikiran, aku mungkin bisa lebih mengerti mereka.
Ah!!!
Aku pusing. Setiap kali aku bertindak di luar koridor kebaikan, aku selalu terjebak perdebatan dengan nurani. Otak menurunkan penyesalan ke hati. Aku pun kerapkali diselimuti frasa “tidak tahu diri”.
Namun ketika mereka melakukan hal yang sama – menyakitiku – secara terus menerus, adakah terbersit perasaan bersalah dalam diri mereka? Pernahkah mereka berpikir bahwa aku juga manusia yang tak selamanya bisa menahan luka batin? Mereka, orang-orang yang memandangku sebelah mata, menilai sekitar berdasarkan estetika mata.
“Bagas, apakah kamu masih sakit?” Pertanyaan sang ibu dosen membuyarkan renunganku.
“Em…. tidak, Bu. Saya baik-baik aja,” jawabku sedikit tersipu.
“Tapi dari tadi Ibu perhatikan kamu melamun terus,” ungkap beliau.
“Oh, saya sudah selesai mengerjakan kuis ini, Bu,” terangku seraya melihat teman-teman di sekeliling yang masih berkutat menggoyangkan pena.
“Ya sudah, kamu boleh kok meninggalkan kelas. Kamu memang luar biasa, Bagas,” puji beliau.
Aku berdiri, tetapi tidak langsung melangkah pergi. Kugeser mata untuk melihat Mutia. Dia pun sadar bahwa aku tengah memerhatikannya.
Kukira dia akan membuang muka, ternyata dia menatapku balik dengan tegar. Aku yang malah kalah dalam adu pandang.
“Gila lu, Gas. Gue masih merangkai kata untuk menjawab soal pertama, lu udah selesai aja. Jangan-jangan lu dibantu sama jin ya?” ujar Leo pelan.
Ketika aku membaca soal ujian, semua tubuhku seakan bersinergi untuk merumuskan jawaban. Lalu, tangan menari lincah di atas lembaran soal.
Aku merespon pernyataan Leo dengan menepuk pundaknya. Kemudian, aku menghampiri Andy. Kusampaikan kepadanya untuk bertemu di White Horse secepatnya.
Kebingungan mendera pikiran. Semangat melunglai ke tanah seolah diri sedang mengatur ulang untuk menjiwai peran yang akan dilakoni. Menjadi baik salah, menjadi jahat dihantui rasa bersalah.
Kubuka pintu mobil, tetapi riuh gemuruh menjeda perjalananku. Nyanyian riang nan sumbang semakin menguat di telinga. Namun, aku masih enggan membalikkan badan.
“Selamat ulang tahun, kami ucapkan. Selamat panjang umur, kita kan doakan.” Lagu ulang tahun menyasar mendekatiku.
Perasaan ulang tahunku sudah lewat 3 bulan yang lalu. Apa aku saja yang kegeeran?
Mau tak mau, aku harus memastikan subjek yang tertera dalam lagu tersebut.
Dita menampa kue tart dua tingkat berwarna cokelat. Dayang-dayangnya terus bersenandung bak tengah memainkan soundtrack film.
“Selamat ulang tahun ya, Gas! Semoga di usiamu yang bertambah satu ini, kamu semakin menjadi pribadi sempurna yang menghiasi bumi,” tutur Dita.
Bagas. Ya, aku lupa bahwa hari ini memang benar ulang tahun Bagas. Ulang tahun yang selalu dirayakan meriah oleh teman-teman semenjak di bangku SMA. Namun, mengapa di kelas aku tidak mendapatkan kejutan apa pun?
“Ayo tiup lilinnya, Gas. Tapi sebelumnya jangan lupa make a wish dulu ya.” Dita tampak begitu antusias merayakan hari spesial ini.
“Thanks ya, Dit.”
Aku turuti perintahnya. Kututup mata untuk memanjatkan harapan. Aku berharap selamanya menjadi Bagas. Itu saja sudah cukup.
__ADS_1
Tak ada salahnya kan aku meminta seperti itu?! Lagi pula, bukan aku yang mencuri raga ini. Si Kunyuk lah yang memberiku secara cuma-cuma.
Tepuk tangan mengudara selepas aku memadamkan kilauan lilin-lilin kecil. Terima kasih kuucapkan dalam hati atas mood booster yang mereka berikan.
Setelah nyanyian mereda, satu per satu para penggemarku menyodorkan kado. Aku terbuai menikmati indahnya sebuah perhatian dari orang yang bahkan tak kuhafal wajahnya dan tak kutahu namanya.
Seumur hidupku, ini kali pertama aku menerima hadiah tanpa pamrih. Ya, semua serba pertama, dari surprise hingga untaian ucapan selamat dan doa.
Semua dayang pun begitu girang membentuk posisi yang baru. Semoga saja kegaduhan ini tidak mendapatkan pengusiran dari dosen atau staf kampus yang lain.
Dita meraih kedua tanganku. Batinku menerka maksud yang ingin dia sampaikan.
Kemudian, sebuah spanduk besar mulai ditarik membentang oleh para dayang. Wajahku pertama kali terpajang dalam latar warna cinta.
Tak perlu membaca secara jelas tulisan dalam spanduk tersebut. Aku sudah bisa memastikan ungkapan yang tercantum.
[Selamat Ulang Tahun, Bagas! Maukah Kamu Menjadi Pacarku?] Begitu kalimat yang tertera disertai potret Dita yang memegang gambar hati.
Wow! Kuakui urat malu Dita tak berbentuk. Mukanya pun setebal lapisan tanah yang berjenjang dari humus hingga batuan.
Maaf, aku bukan sedang mencelanya. Aku justru salut dengan orang yang mempunyai keberanian seperti dia.
Akan tetapi, apakah ini bagian dari rencananya terhadapku? Hem, aku ikuti saja dulu alur yang dia canangkan.
“Gas, kamu bisa baca kan tulisan itu? Aku sadar mungkin kamu akan berkata aku tidak punya malu dan tidak tahu diri. Tetapi, aku sungguh mencintaimu. Aku membuktikan keseriusanku kepadamu, seperti yang kamu minta,” paparnya.
Aku garis bawahi frasa “Seperti yang kamu minta”. Rasanya, aku tidak pernah memotivasinya sejauh ini.
Dita mengambil benda berbentuk hati yang terbuat dari gabus. Dia juga mendekap seikat bunga mawar merah yang begitu merona.
“Gas, kalau kamu terima pernyataan cintaku, kamu ambil mawar ini. Jika kamu menolakku lagi, kamu patahkan hati ini, dan aku berjanji tak akan lagi membayangimu untuk selamanya,” katanya dengan mata berkaca-kaca.
“Terima! Terima! Terima!” Seruan kencang berkumandang agar aku meraih mawar.
Saat dalam posisi *******, teman-teman kelasku berdatangan. Mereka juga memampangkan ucapan selamat ulang tahun untukku dalam berbagai bentuk flyer.
Aku coba cari keberadaan Mutia. Tak kulihat dia berdiri di barisan teman-teman.
Lantas, aku mengulur waktu sejenak. Aku berharap Mutia melihat momen ini.
“Gas, aku siap menerima apa pun kata yang terucap dari bibir kamu.” Dita memelas jawabanku.
Aku kembali menelaah Mutia yang mungkin masih dalam perjalanan menuju sini. Entah mengapa aku sangat yakin dia akan datang menyaksikan “pertunjukan” aku dan Dita.
Benar saja, Mutia berjalan dengan wajah lesu. Di belakangnya ada Andy dan Ardi mengikuti.
Siap! Satu, dua, tiga.
Aku ambil gabus rapuh yang diukir dengan sangat baik. Lalu, kupatahkan menjadi dua bagian yang tidak sama rata. Bunyinya yang tragis disahuti miris oleh para penonton.
Dita menunduk seraya meluruskan ke dua tangan menghadap tanah.
__ADS_1
“Sorry, Dit. Aku tidak bisa diberi pilihan melalui benda seperti ini.” Aku sodorkan potongan hati yang lebih besar kepada Dita. “Kamu jaga sebagian hati ini. Dan aku menjaga sebagiannya lagi supaya kita ingat bahwa cinta terkadang rapuh, terkadang juga bisa berduri seperti mawar.” Aku tarik mawar yang tergurai di tangan kanan Dita. “Namun jika kita bisa saling melengkapi, maka semuanya akan terasa kuat dan indah.”
Penonton bersorak. Beberapa meneriakiku disertai kata-kata penuh pujian.
Hah! Aku sendiri heran mengapa aku bisa begitu romantis dan puitis.
Dita mengangkat kepala. Dia menatapku dengan ekspresi ceria. “Jadi, maksud kamu…. kamu…. kamu menerima pernyataan cintaku, Gas?”
Aku mengangguk sembari tersenyum lebar.
Dita pun berupaya mengaitkan tangannya di tubuhku. Sesungguhnya aku tidak ingin bersahut peluk dengannya.
Tuhan mendengar kemauanku. Andy tiba-tiba saja menarik tanganku – menjauhkanku dari Dita.
“Gas, katanya ada yang mau lu omongin sama gue sembari kita makan siang. Yuk berangkat sekarang! Kebetulan gue udah lapar benget nih,” ucap Andy dengan suara lantang yang membuatku tercengang. “Sorry ya, gue nggak ada maksud mengganggu momen ini. Tapi Bagas dalam masa pemulihan, dia tidak boleh telat makan,” imbuhnya diiringi gerakan tangan yang cekatan dalam mengambil kunci mobilku.
Aku bersyukur dengan sikap Andy yang agresif. Setidaknya, dia menyelamatkan dari rasa malu yang berkepanjangan.
Ya, aku senang mendapatkan perayaan ulang tahun dan banyak hadiah. Tetapi di sisi lain, aku sebetulnya malu menerima pernyataan cinta di depan khayalak umum.
“Gas, lu apa-apaan sih menerima pernyataan cinta dari Dita begitu aja?” tanya Andy sambil mengendalikan kemudi.
“Maksud lu apa-apaan itu yang seperti apa?” jawabku dengan pertanyaan balik.
“Lu udah bilang nggak suka sama Dita sejak pertama kali dia ngejar-ngejar lu. Sekarang lu begitu aja mau menerima pernyataan cinta dia. Oke, gue tahu perasaan setiap orang bisa berubah. Tapi, apa lu mendekati Dita sebagai pelarian dari Mutia?” Andy sedikit membentakku.
Awalnya kupikir bisa berbicara secara santai dengan Andy. Rupanya, dia mendadak emosional.
“Terus masalahnya buat lu apa? Lu cemburu? Lu suka sama Dita?” tanyaku halus, tetapi mungkin cukup menukik di hati.
Andy membanting setir ke kiri. Hampir saja mobilku menubruk trotoar.
Aku menahan diri untuk berkomentar. Kutunggu dia membuka kotak misteri secara perlahan.
Andy menghela nafas kala gigi dilepas di posisi netral. “Gas, nggak gini caranya lu mengambil keputusan tentang perasaan lu. Dita punya maksud yang tidak baik sama lu. Gue nggak mau lu terjebak dalam rencananya.”
Bingo! Aku memang ingin menginterogasi Andy mengenai hal yang dia sampaikan.
“Apa yang lu tahu tentang rencana Dita terhadap gue? Coba lu jelasin sedetil mungkin sama gue.” Kuhujamkan tatapan tajam kepada Andy. “Sebelumnya lu pernah berbicara juga tentang hal ini sama gue. Tolong jabarkan sekarang! Kalau lu emang peduli sama gue, seharusnya lu juga nggak menjebak gue dalam kalimat lu yang ambigu.”
Andy terdiam menghadap depan.
“Kenapa lu diem? Apa jangan-jangan lu cuma ngarang cerita untuk menjelek-jelekkan Dita? Apa Mutia yang nyuruh lu seperti ini?” Kulemparkan saja pertanyaan sarkas kepada Andy.
“Gas….” Andy menggeleng-gelengkan kepala sesaat. “Lu tuh terlalu baik sama orang. Dita itu melakukan semua ini hanya untuk balas dendam sama lu, karena lu pernah nolak dia. Apa yang tadi dia lakukan ke lu tuh palsu, hanya untuk menarik simpati lu. Dia ibarat sedang menjebak seekor burung dengan umpan mahal.”
Giliran aku yang diam. Aku pura-pura terkejut untuk mendengar lebih banyak kicauan Andy.
“Dia dan Metha bekerja sama untuk menghancurkan lu. Sebelum lu ketemuan sama Dita dan Metha di café beberapa hari yang lalu, siangnya gue secara tidak sengaja dengar percakapan mereka di DPR. Gas, percayalah kalau Dita tidak sedang mengurai perasaan yang tulus kepada lu. Gue ini sahabat lu. Gue nggak mungkin menjerumuskan lu,” urai Andy.
Aku percaya pada semua ucapan Andy. Namun, aku merasa pokok dari semua yang dia sampaikan masih tersembunyi di balik lidahnya.
__ADS_1
“Gue nggak tahu mana yang harus gue percaya, karena gue juga bingung untuk menentukan siapa yang berkata jujur,” ucapku sendu. Aku lukiskan keresahan agar Andy tak terlalu banyak bermain teka-teki di hadapanku.