Inikah Rasanya?

Inikah Rasanya?
Chapter 12: Perjuangan


__ADS_3

Cinta harus diperjuangkan untuk mendapatkan balasan atau sekadar jawaban atas rasa yang tertanam. Memang, rasa tidak bisa dipaksa. Ia bisa tumbuh karena terbiasa. Kegigihan, ketekunan, dan ketulusan merupakan pondasi awal untuk menunjukkan keseriusan – membina hubungan.


Aku tahu, jalan hidupku masih panjang. Masih akan banyak terbentang kisah asmara yang mungkin lebih menantang. Sayangnya, aku belum berpikir sejauh ini. Aku hanya ingin fokus mengejar cinta Mutia.


“Gas, lu dari tadi gue perhatiin ngelihatin Mutia terus. Gue kok jadi curiga ya,” ujar Leo merusak rancangan cinta yang tengah aku angankan.


Aku pun buru-buru memperbaiki posisi pandanganku. “Curiga apaan sih, Yo?”


“Lu suka sama Mutia?” tanyanya dengan suara pelan.


Cukup Andy saja yang tahu akan hal tersebut. Leo, si Mulut Sampah ini, jika dia tahu pasti akan menyebarkan kepada teman-teman yang lain.


“Gue dari tadi fokus ngelihatin Bu Siwi yang lagi nerangin.”


“Masa?”


Aku sebenarnya malas menanggapi Leo. “Mutia kan duduk di depan kita. Mau tidak mau pandangan gue pasti ngelewatin dia.”


“Lu nggak mau terbuka sama gue? Gue ini kan sahabat terbaik lu.”


“Fokus!” Aku memberi perintah agar Leo tidak mengajakku mengobrol.


“Apa sih yang lu lihat dari Mutia? Menurut gue, dia itu biasa aja sih. Kalau dibanding Dita, ya lebih kelas (mending) Dita. Sayangnya, Dita terlalu petakilan. Coba dia anggun sedikit. Tapi, lu kan bisa dapetin cewek lain yang lebih dari mereka juga, Gas,” papar Leo setengah berbisik.


Aku ingin sekali menendang Leo keluar kelas. Ocehannya sangat mengganggu gendang telingaku.


“Leo!!!” Tiba-tiba Bu Siwi berteriak. “Kalau kamu mau ngajak Bagas mengobrol, itu nanti setelah kelas ini selesai.”


“Ma…. maaf, Bu. Saya nggak ngajak Bagas ngobrol kok. Saya cuma….”


“Silakan keluar dari kelas saya! Kalau kamu tidak suka mata kuliah yang saya ajarkan, jangan ganggu temanmu!” tegas Bu Siwi dengan suara menggelegar.


Leo pun keluar kelas dengan raut kesal.


Mampus kau, Leo! Umpatku dalam hati.


“Bagas, kalau ada temanmu yang mengganggu kamu belajar, kasih tahu saya ya,” ucap Bu Siwi dengan suara lembut. Sangat kontras ketika beliau meminta Leo meninggalkan kelas lebih cepat.


Padahal aku menimpali setiap pernyataan Leo. Namun, aku justru diberi ketenangan oleh Bu Siwi. Ya, privilege tanpa usaha itu nyata. Cukup tambahkan senyuman sebagai garnish penampilan.


Sudah paham kan sekarang, mengapa aku dulu sangat iri kepada Bagas? Dia tidak pernah bersalah di mata orang lain. Ketika dia melakukan kesalahan, maka yang disalahkan yaitu kesalahan yang datang kepadanya.


Usai bubaran kelas, Leo langsung menjegalkan. Dia terus menggurutu karena merasa didiskriminasi.


Aku ingin tertawa mendengar keluhan Leo yang merasa diperlakukan berbeda. Bukankah selama ini ia bersama Tommy dan Revan juga begitu? Dia memperlakukan orang lain seakan lebih rendah darinya. Padahal, dia pun sama saja. Dia hanya numpang menggonggong kepada Bagas.


Ya, karma is real. Meskipun sebagian orang menyebut apa yang ditanam itu yang dituai, tetapi aku lebih suka mengatakan hidup penuh pembalasan. Balasan pun bisa datang dari orang, tempat, dan waktu yang tak diduga-duga.


Terserahlah! Hari ini aku coba habiskan waktu bersama para panglimaku dulu. Aku butuh penetralisasi pikiran sambil memikirkan cara untuk merebut simpati Mutia. Hariku akan selalu ada yang kurang jika dia masih bersikap tak acuh kepadaku.


***


Andy mengabarkan akan mengerjakan tugas kelompok di kost Mutia lagi siang nanti. Memang hanya Andy yang sepertinya bisa aku pertimbangkan untuk jadi teman selamanya. Tanpa aku minta secara eksplisit, dia tahu yang aku mau.


Sementara 3 Cecunguk yang lain, nanti pasti kutendang. Kapan hal tersebut akan aku lakukan? Tunggu saja! Saat ini, aku masih membutuhkan mereka sebagai hiburan. Cukup diberi makan, mereka terus menunduk bak ayam-ayam peliharaan.


Apa aku terdengar kejam? Ah, aku hanya ingin memberi mereka pelajaran sedikit demi sedikit. Terkadang, orang akan mengerti kesalahan atas perilaku tidak baiknya kepada orang lain ketika dia berada di posisi orang yang ditindas tersebut. Sabar dan menunggu dia sadar, hanyalah buang-buang waktu. Okay, tunggu saat yang sesuai tiba.


Setelah aku tahu Andy, Mutia, Metha, dan si Penganggu Ardi akan mulai mengerjakan tugas kelompok pukul 10.00, aku segera menghubungi Leo.


“Halo, Gas. Ini hari Minggu dan masih pagi. Ada apa lu nelepon gue?” keluh Leo menyambut panggilan dariku.


“Yo, kasih tahu yang lain kita ngerjain tugas role play Speaking pagi ini jam 8 di Café White Horse.”


“Hah? Pagi ini, Gas?” Dia memastikan dengan nada terkejut.


“Iya. Soalnya nanti siang gue ada acara.”


“Gas, bukan itu yang pengen tanya. Ini gue lihat jam di kamar gue menunjukkan jam 7 lewat 55 menit. Lu yang benar aja, Gas? Apa maksud lu jam 9? Tapi, kan semalam kita sepakat ngerjain tugas kelompoknya jam 10 malahan.”

__ADS_1


“Gue sekarang udah nunggu ya. Kabarin yang lain secepatnya! Gue kasih toleransi waktu 5 menit.”


“Gas…. Bagas….”


Aku matikan saja sambungan telepon dengan Leo. Waktu sedetik pun sedang sangat berharga untukku sekarang. Aku sudah menemukan cara agar Mutia tak lagi menghindar dariku.


Sebenarnya, aku bisa saja bertukar dengan Andy agar aku bisa satu kelompok dengan Mutia. Bahkan, meminta langsung pertukaran atas mandat dosen pengampu pun bisa. Namun, aku tidak mau terkesan menggunakan semua privilege sekaligus.


Mutia bukan perempuan yang bisa didekati dengan kuasa. Kejadian beberapa waktu lalu ketika dia mementalkan pernyataan Dita sudah cukup memberikan penegasan.


Mutia memang sosok yang tidak banyak bersuara, tetapi dia tidak akan tinggal diam ketika mendapatkan penghinaan. Sangat berbeda dengan diriku dulu yang hanya bisa termenung saat dunia merundung penampilanku.


Huh, ingatanku seketika tertuju kepada Ardi. Aku masih sangat penasaran mengenai alasan di balik kedekatan dia dan Mutia. Semoga saja bukan karena ada landasan cinta.


Apa mungkin Mutia akan menyukai Ardi? Tetapi, bagaimana jika Ardi lebih agresif dariku dalam menjalin kedekatan dengan Mutia? Ditambah mereka kerap satu kelompok dalam mengerjakan tugas.


Satu gelas Cappucino sudah habis aku tengak. Leo dan yang lainnya masih belum juga menampakkan batang hidung. Sial! Dia membuatku menunggu kala aku sedang begitu memperhitungkan waktu.


Aku ambil ponselku yang tergeletak di meja. Toleransi waktu yang aku berikan sudah bertambah 3 kali lipat. Ini membuat suasana hatiku mulai disusupi kekesalan.


“Pagi, Tuan Muda!” Leo berseru sembari melambaikan tangannya.


“Pagi, Gas!” sapa Sandi dan Lia yang datang bersama Leo.


“Pagi juga. Kita mulai aja ya diskusi teknis pembuatan tugas role play ini. Kalau kalian mau pesen makan dan minum langsung pesen aja ya,” jelasku.


“Gue nafas dulu dong, Gas,” ungkap Leo meminta jeda sejenak.


“Emang lu sekarang udah nggak bisa nafas?”


“Maksud gue istirahat dulu, minum dulu, makan dulu kek. Lu nggak lihat nih gue nafas tersengal-sengal gini”.


“Gue udah kasih waktu lu lebih. Kenapa lu baru datang sekarang?”


“Gue nungguin mereka berdua nih, lama banget!”


Bagus dan Lia pun melirik ke arahku dengan wajah yang tampak berdosa. “Maafin kami ya, Gas! Kami janji nggak akan buat kamu menunggu kayak gini lagi lain kali,” ucap mereka berdua saling menimpali.


“Nggak apa-apa. Maksud gue, Leo tadi seharusnya datang duluan ke sini. Paling tidak kan gue ada teman buat ngomongin konsep tugas kita.”


“Iya, maaf. Gue paham gue salah, Gas.”


“Udah, udah. Kita sekarang tentuin aja siapa yang mau jadi pembaca berita, siapa yang jadi kameraman, sama berita apa yang mau kita angkat. Gue udah bawa kamera sekaligus tripodnya juga. Gue juga udah booking coworking space yang private buat kita recording. Yuk, kita pindah tempat ke sana!”


Amarah hanya akan mendatangkan masalah. Bagaimana pun, aku harus tetap menjaga perangai – menjelma sebagai Bagas yang dikenal dengan segala kesempurnaannya.


Jarum jam berputar begitu cepat tanpa kusadari. Tidak sesuai harapan, aku baru bisa tancap gas ke kost Mutia sekitar pukul 11.00.


Awalnya, aku berniat datang ke kost Mutia dengan dalih mengantar Andy. Namun, tadi Leo banyak membuat lawakan sehingga kami hanyut dalam kegembiraan. Ya, pada dasarnya, Leo memang memiliki sifat yang humoris dan menyenangkan. Dia selalu bisa menghidupkan suasana dan mudah berbaur dengan siapa pun. Cukuplah! Dia bisa besar kepala jika mendengar aku memberikan pujian.


Posisiku sudah di depan kost Mutia. Namun, aku segan untuk langsung masuk. Kutelepon Andy agar menjembatani langkahku.


Bisa! Aku pasti bisa! Aku terus menyemangati diriku.


“Hai Mutia, Metha, Ardi,” sapaku.


“Bagas!” Metha menyambutku dengan riang. Sementara Mutia dan Ardi hanya membalas sapaanku dengan suara pelan.


“Aku ke sini mau jemput Andy. Em…. Kami ada kegiatan futsal bareng nanti jam setengah satu.”


Ini memang rencana Andy, tetapi aku tidak bohong tentang futsal. Kami memang sedang ingin mengencangkan otot dengan berolahraga.


“Duduk, Gas!” Hanya Metha yang tampak suka atas kehadiranku. “Kalau gitu tiap hari aja Andy aku culik ke sini ya biar kamu maen ke sini terus,” goda Metha berkelakar.


“Metha!!” Mutia menatap sahabatnya yang begitu agresif.


“Nggak usah aneh-aneh deh lu, Met. Bagas itu bukan sopir gue. Ini kebetulan aja kami habis ini ada kegiatan.” Andy mencoba menengahi. “Nih, ada makan siang dan cemilan dari Bagas.”


“Dimakan ya Mut, Di,” lanjutku meneruskan ucapan Andy.

__ADS_1


Mereka hanya mengganguk.


“Kamu nggak minta aku buat memakannya juga, Gas?”


“Apa aku perlu menyuapi kamu, Met?”


“Mau, Gas”


“Metha!!!” seru Mutia.


Apakah Mutia cemburu? Aku tidak boleh terlalu percaya diri. Bukankah Mutia memang selalu mengingatkan Metha agar menjaga sikap di depanku atau siapa pun.


“Ya sudah. Aku tunggu di mobil ya, Dy.”


“Oke, Gas!”


Memberikan perhatian, tetapi dengan langkah mundur. Itu strategiku untuk memancing rasa penasaran Mutia.


Tak lama, Andy menghampiriku. Dia mengatakan ada masalah dengan kamera yang mereka gunakan. Andy pun meminjam kamera yang kubawa. Tentu, dengan senang hati aku meminjamkan. Bahkan, aku menawarkan diri untuk menjadi juru kamera sekalian.


Semesta sepertinya mendukung perjuanganku hari ini. Buktinya, aku bisa bergabung tanpa meminta.


“Siapa yang jadi pembaca beritanya?” ujarku bertanya.


Mereka saling tatap menatap.


“Gimana kalau Ardi? Maksudku dicoba aja satu-satu untuk menentukan siapa yang nantinya kira-kira cocok,” saranku.


“Gu… gu… gue?” Ardi tampak kaget.


“Iya, Di. Lu pasti bisa.”


“Tapi….” Bahasa tubuh Ardi kutahu ingin menolak.


Aku segera menyela. Aku harus bisa menyakinkan Ardi untuk tampil di hadapan umum walau sebatas dalam format video. Aku bukan ingin menjahili atau pun mempermalukannya. “Lu coba aja, Di. Lu harus berani nunjukkin diri lu ke orang-orang. Gue tahu lu hanya kurang sedikit percaya diri aja.”


“Betul, Di. Kamu coba aja!” tambah Mutia.


“Atau lu tandem berdua sama Mutia, Di?”


“Sama Mutia?” Ardi menatapku sangsi.


“Gimana, Mut?” Aku sodorkan senyuman kepada Mutia.


“Iya, boleh.”


Perjuangan butuh pengorbanan. Pengorbanan butuh keikhlasan. Biarlah menahan cemburu sesaat demi membuat Mutia terpikat kepadaku seterusnya.


Proses perekaman video yang semula agak canggung berubah diwarnai gelak tawa. Leo memberiku tambahan inspirasi mengenai cara mengundang canda. Sedikit tampilkan sifat konyol, seperti pura-pura terpleset saat mengambil gambar.


Ardi mungkin mencoba menjadi sainganku, tetapi aku tidak boleh terlihat sedang bersaing dengannya di depan Mutia. Mengapa? Karena aku tahu Mutia bukanlah benda. Dia juga akan tersinggung jika tahu dirinya menjadi bahan rebutan.


Mutia itu berbeda dari beberapa perempuan yang kuamati. Mereka yang justru senang menjadikan diri sebagai trofi.


“Terima kasih banyak ya, Gas. Mungkin kalau nggak kamu tugas kita terhambat,” ucap Mutia kala aku dan Andy hendak meninggalkan kostnya.


“Santai aja, Mut. Ini cuma kebetulan aja kok. Oh iya, apa kamera kamu mau coba aku bawa ke tukang servis?”


“Ng…. nggak usah, Gas. Nanti aja aku bawa ke tukang service sendiri.”


“Kamu sungkan ya sama aku?”


“Em…. bukan begitu, Gas. Aku nggak mau merepotkan kamu aja.”


“Oh, ya sudah kalau begitu. Kalau kamu nanti berubaha pikiran, kabari aku aja ya. Mau minta ditemenin ke tempat servisnya juga aku mau kok.”


Aku tidak boleh memaksa Mutia. Ibarat bermain layang-layang, benang harus diulur sedikit demi sedikit. Tidak boleh langsung diutas ke angkasa, karena layang-layang justru bisa putus akibat shock dengan terpaan angin.


“Iya, Gas. Sekali lagi, terima banyak kasih ya!”

__ADS_1


“Iya, Mut.”


Ardi memandangku dengan wajah kesal. The war has begun. Namun, aku tidak akan menggunakan nuklir untuk langsung menghantam musuh. Aku akan memilih cara-cara diplomasi untuk mengundang lebih banyak simpati.


__ADS_2