Inikah Rasanya?

Inikah Rasanya?
Chapter 37: Kaca


__ADS_3

Aku paham bahwa hidup ini dikerubungi banyak misteri dan hal-hal yang tak bisa dijelaskan secara ilmiah. Namun, aku seakan terjebak di batas dimensi yang tidak bisa membedakan mana asli dan fiksi. Realita dan utopia menyisip satu sama selain sehingga sulit untuk ditelisik.


Pikiranku terbelenggu memetakan berbagai kemungkinan. Jika Bagas dan Andy bukanlah manusia, lalu dunia apa yang sedang berlaku dalam hidupku? Mungkinkah aku masuk dunia paralel? Ataukah aku terjebak di alam jin?


Ah, entahlah!


Semula aku tak ingin memikirkan dulu asal muasal pertukaran tubuh bisa terjadi. Selagi mimpiku tercapai, aku tidak peduli tentang apa pun yang melatarbelakanginya. Kini, aku terdesak untuk melakukan penelusuran supaya aku bisa selamanya menjadi Bagas.


Tak ada kehidupan yang lebih menyenangkan, selain menjadi good looking. Mereka yang berucap bahwa penampilan bukan segalanya, aku yakin dalam hati mereka terselip juga hasrat untuk bisa memilih wajah atau fisik sesuai keinginan hati. Terkadang orang berbicara bukan untuk menyemangati orang lain, melainkan untuk menyemangati diri sendiri.


Aku pejamkan mata, menahan sesak dan mencegah keluarnya air mata. Kupersiapkan diri untuk menapaki istana yang pernah menjadi persinggahanku.


Aku adalah Bagas. Bagas adalah aku. Seharusnya sesuatu yang diberikan tak seenaknya diambil lagi tanpa permisi (izin).


“Tuan Muda! Tuan Muda!”


Dalam bayangan gelap, kudengar suara panggilan terhadap Bagas yang begitu nyaring. Aku berharap itu panggilan untukku. Sayangnya, suara langkah kaki yang mendekat memberikan penegasan yang berlawanan.


Kueratkan mata sembari mengepalkan tenaga di telapak tangan. Mulut mulai berhitung mundur untuk menyambut si Kunyuk. Begitu dia ada di depanku, aku akan langsung menghajarnya.


“Tuan Muda, ini sudah siang. Ini sudah pukul setengah sembilan. Bukankah Tuan Muda ada kuliah?” terangnya diikuti bunyi pintu yang diketuk-ketuk.


Kontan aku bingung. Apa maksud ART tersebut? Apakah dia sedang membangunkanku? Bukankah ini sudah memasuki waktu sore hari?


Kubuka mata secara perlahan. Aku takut sekali ditipu lagi oleh keadaan.


Hah? Benarkah ini? Aku melompat dari tempat tidur. Kusentuh dinding, lemari, dan semua benda yang ada di sekitarku.


Hahay! Huhuy! Aku berputar laksana menari tanpa irama.

__ADS_1


Jadi, aku tetaplah Bagas? Aku bersiul berselebrasi.


Untuk memastikan diri, aku beranjak ke kamar mandi. Aku pantulkan badanku di cermin besar. Tinggi, putih, bahu lebar, kaki jenjang, hidung mancung, dan rambut rapi menjadi ciri utamaku lagi.


Wow! Ternyata yang kualami hanyalah mimpi. Syukurlah!


Dengan hembusan nafas yang penuh kelegaan jiwa, aku hampiri ART yang membangunkanku. Aku sapa dia dengan senyuman bahagia.


Kemudian, aku meminta bantuan sang ART untuk meneguhkan kebahagiaanku. “Sus, tolong pukul tangan saya!”


Dia tampak ragu menuruti permintaanku. “Tapi Tuan Muda… Saya… saya tidak mungkin melakukan itu. Maaf, saya tidak berani, Tuan Muda,” jelasnya sembari menunduk.


“Tolong lakukan saja, Sus! Saya ingin memastikan tubuh saya sudah benar-benar sehat atau belum,” dalihku.


Akhirnya, dia pun mau memukul-mukul lenganku sebanyak tiga kali. Sentuhannya terasa dan cukup membekas. Itu artinya peristiwa yang mengoyak batinku memanglah sebuah tipuan alam bawah sadar atau bunga tidur semata.


Huh! Mimpi yang terasa amat nyata. Bahkan, seperti ada mimpi di dalam mimpi.


Terserahlah! Aku tidak mau memusingkan definisi mau pun teori tentang mimpi.


Hatiku sudah riang kembali. Pikiran pun turut damai. Semua perasaan indah nan ekstatik mengukir di dalam sanubari.


Aku bergegas ke kampus. Aku rindu memamerkan kebahagiaan di depan teman-teman, terutama si Kunyuk yang telah membuat jantungku berdebar tanpa hitungan.


Sesuai perkiraan, aku terlambat mengikuti perkuliahan selama 15 menit. Namun, aku tetap diizinkan masuk dengan hangat oleh dosenku. Previlige seperti ini tentu hanya bisa didapat ketika aku menjadi Bagas.


Selama proses pembelajaran, kuintip pandangan Mutia tertuju lurus kepadaku. Dia seolah ingin mengatakan sesuatu.


Benar saja. Setelah dosen keluar dari kelas, Mutia menghampiriku.

__ADS_1


Aku coba bersikap cuek terhadapnya. Aku sudah memutuskan untuk mengalihkan perasaanku kepada orang lain.


“Gas, kamu ada waktu sebentar? Aku pengen ngomong serius sama kamu,” ucapnya pelan.


“Maaf, aku harus ke kantor papaku segera,” responku dengan nada datar.


Mutia memasang wajah memelas. “Aku mohon 5 menit aja, Gas.”


“Ya udah, ngomong di sini aja.”


Baiklah! Aku beri dia kesempatan. Lagi pula, aku juga penasaran dengan yang akan dia sampaikan. Mungkin saja dia berbalik ingin menyatakan perasaannya kepadaku.


Mutia melihat sekeliling. Kutahu dia menunggu teman-teman pergi.


Tiba-tiba Leo menarik tanganku. Dia mengajakku untuk meninggalkan Mutia.


Andi pun bereaksi. Dia memaksa Leo untuk keluar kelas – membiarkan aku dan Mutia berdua.


Aku tatap Mutia. Dia malah mengatupkan bibirnya. Kemudian, ia memutar pandangan ke kanan dan kiri.


“Aku nggak punya banyak waktu. Ini sudah lebih dari lima menit,” ujarku setelah cukup lama Mutia hening menunggu kelas kosong.


“Gas, Metha dan Dita sedang merencanakan sesuatu kepada kamu,” ungkapnya dengan suara bergetar.


“Rencana apa?” tanyaku polos.


“Aku nggak tahu, Gas. Tapi yang jelas, aku harap kamu mengurangi interaksi sama mereka.” Sorot mata memang melukiskan sebuah kekhawatiran.


“Kamu nggak tahu apa rencana mereka, tapi kamu meminta aku hati-hati sama mereka. Aku nggak paham lagi sama kamu, Mut. Kamu sudah jauh berubah. Tak lagi seperti Mutia yang aku kagumi sejak SMA.”

__ADS_1


Aku bangkit dari kursi, lalu melangkah pergi. Aku sengaja mendramatisasi ucapanku untuk memancing kepeduliannya lebih dalam. Pada hakikatnya, aku percaya dengan peringatan yang dia sampaikan. Namun, dia tidak tahu bahwa aku sudah tahu rencana Metha dan Dita terhadapku.


__ADS_2