Inikah Rasanya?

Inikah Rasanya?
Chapter 6: Pandangan


__ADS_3

Apa yang paling menyenangkan dalam hidup? Ketika semua keinginan ada di genggaman. Harapan tak lagi menjadi dekapan kesedihan. Mereka yang kemarin menghina menjadi bersujud memuja.


Dengan tubuh Bagas yang kutempati sekarang, aku bisa melakukan apa pun yang kusuka. Aku tak perlu lagi bersusah payah memoles diri agar dipandang sebagai manusia. Persetan dengan identitas! Hal yang terpenting buatku yaitu hati yang bahagia.


Setiba di kampus, banyak mata menuju ke arahku. Wow! Menakjubkan! Menjadi tampan dan kaya raya begitu mudah mendapatkan perhatian. Hanya dengan mengayunkan langkah, sayup-sayup pujian mengudara ke telinga.


“Halo Tuan Muda Bagas yang makin hari makin kece,” sambut Leo.


Sebenarnya aku masih geram atas perlakuannya kemarin. Namun, ini hari baru. Aku harus bisa menahan emosi. Kumasukkan saja kejadian itu dalam toples masa lalu. Aku harus fokus beradaptasi menjadi Bagas yang sesungguhnya. Tak ada yang lebih penting, kecuali memainkan peran ini demi meraih “Piala Citra”.


“Hai, Leo! Bagaimana kabar lu hari ini?”


“Widih, tumben lu tanya kabar gue.” Leo menepuk pundakku. “Lu nggak lagi sakit kan, Gas?” Lanjut, dia menyentuh dahiku dengan telapak tangan terbuka.


“Emang biasanya gue kalau nyapa lu gimana?” tanyaku datar.


“Lu amnesia?” Leo menatap heran.


Oh, Tuhan! Mengapa aku mengajukan pertanyaan yang justru membuatnya bertanya-tanya.


“Ma…maksud gue, lu tuh yang aneh. Gue sapa lu balik dan tanya kabar lu, malah lu bilang tumben.”


“Tapi gue perhatiin tampilan lu hari ini agak berbeda, Gas. Lu rapi banget dah. Pake kemeja putih, celana hitam, pantofel hitam. Lu mau ngelamar kerja di mana? Atau lu lagi cosplay jadi Pak Camat?”


Leo ternyata memerhatikanku sedetil itu. Aku harus bisa mengalihkan fokusnya agar dia tidak banyak berkomentar dan bertanya tentangku hari ini.


“Udah yuk, kita ke kelas aja langsung.”


Leo mengernyitkan keningnya. Aku tarik saja tangannya agar lekas mengikutiku.


Kemudian, seseorang menyerukan namaku. Langkahku pun terhenti.


“Bagaaaaaaasss!!!” Seorang perempuan menghampiri diikuti dengan teman-temannya.


Oh, Dita! Ini berasa de javu. Sebenarnya terselip niat untuk balas dendam atas penghinaan yang dia sempat layangkan kepadaku. Namun, sekali lagi, ini hari baru. Aku adalah Bagas, bukan lagi Ardi. Aku tidak boleh merusak citra sebelum semua hasratku terpenuhi.


“Gas, aku bawain hadiah spesial buat kamu loh,” ungkap Dita sembari memberikan goodiebag bermotif Batik.


“Apa ini, Dit?”


“Ini salad buah yang aku buat dengan penuh rasa cinta,” terang Dita. Teman-temannya bersorak bak barisan cheerleaders.


“Thanks ya, Dit!”


“Kamu mau memakannya, Gas?”


“Tentu. Kan katanya kamu buatin ini spesial buat aku.”


“Bagas, kamu itu so sweeet banget sih.” Dita menyandarkan kepala di pundakku. Dia mencoba bermanja, sementara aku menahan diri agar tidak membantingnya ke bumi.


“Gas, ayo masuk kelas! Nggak usah ngeladenin mereka.” Giliran Leo yang menarik lenganku.


“Gue masuk kelas dulu ya, Dit.”


“Bye, Bagas!” Balas Dita dengan wajah sumringah.


Huh! Setelah bertahun-tahun mulut tergembok rapat, akhirnya bisa lepas untuk bersuara. Tak ada lagi rasa takut apalagi canggung untuk bertutur.


“Gas, bukannya lu selalu nolak apa yang Dita kasih ke lu? Kenapa sekarang tiba-tiba lu terima?” Leo kembali menyodorkan pertanyaan yang meresahkan suasana hatiku.


Aku tak lantas menjawab. Aku memilih untuk duduk dahulu.


“Kenapa emangnya, Yo?”


“Lu sendiri yang bilang kalau lu nggak ada perasaan apa pun ke Dita. Jadi, lu selalu tolak pemberian dia, karena lu nggak mau disangka memberi harapan.”


“Yo, ini kan hanya pemberian biasa. Kalau gue terus tolak, nanti dia berkecil hati.”

__ADS_1


“Tapi Gas, menurut gue, lu harus tetep tegas ke dia seperti sebelumnya.”


Leo cerewet sekali. Ingin rasa kusumpal mulutnya pakai penghapus spidol.


Aku tahu tentang Bagas yang sudah berkali-kali menolak pernyataan cinta Dita. Namun, tiba-tiba saja sekelumit pikiran jahatku muncul. Aku akan terus membuat Dita bertekuk lutut kepada Bagas alias aku. Aku akan pura-pura merespon semua perhatian yang dia berikan. Membuat dia berpikir jika usahanya mengejar cinta berbuah manis. Aku juga akan hembuskan sedikit demi sedikit angin surga. Begitu dia terbuai dan terlena, aku akan ciptakan neraka untuknya berpijak.


Aku memang pendiam dan penyendiri, tetapi aku pengamat yang cukup baik. Aku selalu memerhatikan perilaku orang-orang di sekelilingku, termasuk hal-hal yang berhubungan dalam kisah hidup mereka.


Maaf Dita, kamu jadi urutan pertama dalam daftar sasaran permainanku. Kamu menilai orang hanya dari penampilan dan isi kantong. Akan tetapi, jika nanti perilakumu berubah mungkin aku bisa mengampuni atau menurunkan posisirankingmu. Ucapku membatin.


“Kelihatannya lagi pada seius banget. Ngomongin apa sih?” tanya Andy yang muncul tiba-tiba.


“Si Bagas barusan ngambil hadiah dari Dita,” jelas Leo.


“Oh!” respon Andy.


“Kok cuma oh sih, Dy?”


“Terus gue harus bilang gimana? Apa gue harus bilang ‘wow’?”


“Nggak seru lu, Dy.” Leo merengut.


Hem! Aku biarkan saja Leo mengomel. Andy juga tampak tidak peduli. You are so annoying, Leo!


Kelas dimulai. Namun, aku masih menunggu seseorang yang belum datang. Ya, Bagas. Dia tidak tampak di pojokan kelas tempat biasa aku duduk. Ke mana orang itu? Padahal ada banyak sekali hal yang ingin aku tanyakan kepadanya. Terpaksa, aku harus menemuinya di kost.


“Dy, Bagas nggak masuk ya?” tanyaku pelan.


“Bagas?” Andy memandangku penuh tanya.


“Em…. Ma…maksud gue Ardi. Ardi nggak masuk ya hari ini?” Huh, aku ceroboh sekali.


“Tapi tadi lu bilangnya….”


Segera kupotong ucapan Andy, “Lu salah dengar kali, Dy.”


Sebodoh-bodohnya aku, sesuram-suramnya hidupku, aku tidak pernah bolos kuliah atau sekolah. Apa yang terjadi dengan Bagas? Aku pun sedikit khawatir.


Setelah kelas usai, aku bergegas untuk menemui Bagas. Namun, tiba-tiba Tommy dan Revan menghadang.


“Gas, kita makan siang di mana nih?” tanya Revan.


“Di Café White Horse aja yuk!” usul Tommy.


Revan dan Tommy masih satu jurusanku denganku, tetapi kami berbeda kelas. Khusus untuk Revan, kalimat yang dia ucapkan di kantin waktu itu masih mengiang di telingaku.


Sabar, Ardi! Jangan mengotori tangan untuk membalas dendam.


“Em…. untuk hari ini kayaknya gue….” Alasan apa yang harus aku sampaikan untuk menolak tanpa memantik pertanyaan. “Gue lagi ada urusan lain.”


“Urusan apa, Gas?” Tommy meminta kejelasan.


“Itu…. apa…. em… gue ada urusan keluarga. Iya, urusan keluarga.”


Leo menatapku. “Lu hari ini kayaknya aneh banget, Gas. Ini beneran lu, kan? Lu bukan lagi kerasukan atau bertukar jiwa dengan seseorang, kan?”


Apa Leo tahu aku adalah Ardi yang berada di tubuh Bagas? Ternyata, dia dari tadi terus mengobservasi tingkah lakuku. Jantungku berdebar kencang menghadapi pertanyaannya.


“Maksud lu apa, Yo?” tanyaku sambil mengendalikan rasa panik.


“Haha….” Leo tertawa keras. “Gue bercanda kali, Gas. Ya udah, nanti sore ketemu di tempat biasa ya, Gas.”


“Oke.”


Dengan langkah cepat, aku segera meninggalkan mereka berempat. Semakin aku mengulur waktu bersama mereka, maka akan ada banyak pertanyaan yang mungkin tak bisa kujawab.


Aku berjalan kaki menuju kost. Mengendarai mobil hanya akan membuatku kelimpungan mencari tempat parkir di sana.

__ADS_1


Aku mengendap-endap melewati jalan setapak di antara bangunan-bangunan kost bertingkat. Tadinya, aku mau melewati jalan utama. Tetapi, ada Dita dan teman-temannya yang berdiri di gerbang kampus. Aku khawatir langkahku dijegal oleh mereka.


Saat keluar dari gang sempit, aku tak sengaja menabrak seseorang.


“Sorry…. sorry…. gue nggak sengaja!” ucapku memohon maaf sambil memalingkan wajah.


“Bagas?!”


Suaranya begitu santun mengalun di telinga.


Begitu menoleh, ternyata Mutia. Aku langsung salah tingkah.


“Kamu kok bisa ada di sini? Kamu mau ke mana, Gas?” Dia bertanya dengan segala keramahan yang dimiliki.


“Ini… gue…. eh aku…. mau….”


Selama mengenal Mutia dari SMA, baru kali ini aku bisa berbincang dengannya. Kemarin, dia bertanya kepadaku, dan aku tak bisa menjawab. Sekarang, ini jelas kesempatan yang baik untuk mengenalkan rasa yang kumiliki untuknya.


“Gas, kamu kok kayak gugup sih? Kenapa?”


“Nggak apa-apa, Mut. Aku cuma kaget aja lihat kamu.”


“Kaget lihat aku?” Mutia tertawa kecil. “Kamu ini kayak baru kenal aku aja. Kita ini satu SMA, terus satu kelas.”


Dia manis sekali. Tawanya pun mencerahkan hati seketika, ibarat sinar rembulan yang menjadi pelita dalam gulita.


Dulu, untuk memandangnya saja aku seakan merasa tak punya hak. Kini, kami bisa larut bertukar ceria.


“Kamu mau pulang ke kostan ya? Sendirian aja?” Aku menggaruk bagian belakang kepalaku.


“Iya, mau pulang. Tapi, ini lagi nunggu Metha. Kamu sendiri….”


Sekonyong-konyong Metha datang sambil berlari.


“Sorry! Gue lama ya, Mut? Tadi di tukang batagor yang ngantri rame banget”, ujarnya terengah-engah.


“Iya, Met. Santai aja.”


Metha datang di waktu yang tidak diharapkan. Dia, kemudian, menoleh kepadaku.


“Bagas???! Ini beneran kamu?” Matanya tampak berbinar-binar.


Aku respon dengan merekahkan senyuman.


“Kamu ke sini mau ke kostanku ya? Yuk, kita langsung masuk aja!” Metha menarik lenganku.


“Metha!” Mutia memoloti Metha.


Semua orang tampil manis di hadapan Bagas, tetapi menjadi bengis jika bertemu Ardi. Apakah dunia ini memang penuh dengan kemunafikan? Mengapa penampilan seseorang selalu dijadikan tolak ukur dalam bersikap?


“Gas, kalau boleh aku tahu, tadi kamu bilang mau ke mana?” Mutia bertanya lagi.


Kepada Mutia, aku tidak bisa untuk tidak jujur. “Aku mau ke…. ke…. kostan Ardi.”


“Ardi?” Metha mengangkat kedua alisnya. “Kamu mau menemui Zombie itu?”


“Metha, nggak boleh ngomong kayak gitu.” Mutia terlihat mencubit Metha.


“Oh! Salam ya buat Ardi!” ucap Mutia.


“Iya, Mut.”


“Gas, habis dari kostan Ardi, jangan lupa pulangnya langsung mandi tujuh kembang ya!” suruh Metha.


Mutia menyeret Metha pulang. Kemudian, dia menganggukkan kepala sebagai tanda berpamitan.


Metha, dia juga menilai aku sebaga mayat hidup. Aku bahkan seolah najis yang haram untuk disentuh.

__ADS_1


Baiklah! Dengan tubuhku yang sekarang, aku bisa merekam sekaligus membungkam setiap penilaian yang keluar dari mulut mereka. Mereka yang selama ini acapkali memandangku sebagai lalat sampah.


__ADS_2