Inikah Rasanya?

Inikah Rasanya?
Chapter 43: Terungkap


__ADS_3

Nyanyian ayam jantan di pagi hari membangunkanku. Hangatnya mentari pun menyelinap melalui jendela dan celah-celah bilik bambu. Hal yang paling dirindukan dari suasana kampung yaitu keasriannya yang seperti ini.


Entah mengapa aku merasakan kenikmatan berkali lipat kala mataku menerawang seisi rumah dan suasana yang membalut di sekelilingnya. Mungkinkah karena aku sudah berganti raga? Ah, rindu menyemat kalbuku dengan memori yang indah.


Dalam renungan mengawali hari, terdengar Ibu memanggilku untuk mengajak sarapan. Aku pun menyahuti, dan bergegas turun dari ranjang.


Sungguh tidurku semalam begitu pulas, padahal aku tidur di kamar yang selalu kukeluhkan.


Aku cuci muka, lalu menuju ruang tengah. Ya, di rumah ini tak ada ruang makan khusus. Jika ada acara kumpul keluarga, aktivas mengunyah di lakukan di tempat yang lapang.


Kulihat semua sudah berkumpul berhadapan. Akan tetapi, pandangan mereka sibuk pada benda yang masing-masing ada di hadapan mata.


“Gas, tidur lu semalam tidak nyenyak ya? Maaf ya, Gas. Beginilah suasana di kampung pesisir, banyak nyamuk dan panas. Ditambah tempat tidurnya juga keras,” ungkap si Kunyuk seperti menabuh genderang perang.


Ayah pun jadi ikut menimpali ucapan si Kunyuk. “Kalau ada yang Nak Bagas butuhkan untuk menunjang kenyamanan selama di sini, Nak Bagas sampaikan aja ya.”


Aku pun hanya bisa mengangguk. Tak mungkin aku mendebat si Kunyuk dalam situasi ini.


“Ayo dicicipi Adek-Adek. Semoga suka ya dengan sarapan kampung ini. Nih, Ibu bawakan bakwan jagung buatan Mutia,” terang Ibu. Lalu, Mutia mengekor di belakang Ibu sembari membawa nampan berisi air teh.


Bangun di waktu siang rupanya membuatku melewatkan beberapa hal penting. Mutia datang dan tampak begitu akrab dengan Ibu. Kukira dia tidak akan bertandang kemari.


Sementara itu, Dita sibuk bermain ponsel, dan Metha duduk terdiam dengan mulut yang bungkam. Sungguh, aku menyesal mengangkut mereka.


Kurampas ponsel Dita. “Simpan dulu ya ponselnya. Kita makan sama-sama. Habis itu, kamu dan Metha bantu beres-beres bekas makan ini,” ucapku berbisik.


“Apa? Bantu beres-beres? Babe, mending kita cari makan di luar ya.” Dita justru melemparkan keluhan yang membakar gendang telingaku.


“Dit, kalau lu nggak nyaman di sini, gue bisa anterin lu pulang sekarang juga,” tegas Andy mewakili isi pikiranku.


Siapa pun, aku rasa, pasti jengah mendengar ocehan Dita. Ingin rasanya kulempar dia ke laut agar ditelan ikan paus. Atau kuhanyutkan di ke Laut Jawa hingga terombang-ambing di Samudera Hindia dan bertemu Patrick di dasar Pasifik.


“Iya, iya. Repot banget sih lu sama urusan orang,” gerutu Dita.


Usai sarapan, kami berenam berkumpul di teras depan rumah untuk membahas secara rinci agenda selama di kampung ini. Kegiatan yang sudah dicanangkan harus bisa terealisasi dengan baik. Mau tidak mau Dou Racun pun andil dalam hal ini.


“Siang nanti kita berkumpul di rumah Pak RT. Ayah dan ibu Ardi sudah berkoordinasi dengan Pak RT untuk memfasilitasi kegiatan kita selama di sini,” ucap Andi membuka diskusi.


“Emangnya kita di sini mau ngapain sih? Kerja bakti? Bakti sosial? Atau KKN? Tapi kita ini kan masih mahasiswa semester awal, masih jauh kali memikirkan hal tersebut.” Dita melakukan interupsi yang mendidihkan darahku.

__ADS_1


“Terus lu maunya di sini kita ngapain, Dit? Berlibur sambil fashion show? Kalau gitu ngapain lu ngikut,” sarkas Andy. “Gue sama Bagas udah membuat rencana untuk mendirikan perpustakaan kecil di sini dan melakukan penyuluhan mengenai pentingnya membuang sampah pada tempatnya.”


“Tapi si Ardi nggak bilang tuh kalau kita di sini mau jadi agent of change,” sela lagi Dita.


Tanganku sudah gatal ingin menggampar mulut Dita.


“Ma…. maaf, Dit. Aku sendiri baru tahu hal ini kemarin. Aku kira Bagas sudah cerita banyak ke kamu,” papar si Kunyuk berlakon polos.


Sepertinya memang aku yang harus bertindak agar Dita tidak rewel lagi. “Dit, kamu nggak harus ikut kegiatan ini. Aku bisa mengantarmu ke terminal sekarang atau kamu bisa menunggu sopirku datang untuk menjemputmu pulang ke Jakarta.”


Dita menyandarkan kepala di pundakku. “Kamu pengennya aku pulang, Babe? Aku nggak mau. Kalau aku nggak ada di samping kamu, bisa-bisa aku kecolongan karena di sini ada Mutia juga.”


Kalau boleh jujur, mataku masih lebih nyaman melihat Mutia dibanding Dita.


“Dit, kita sebagai mahasiswa memang seharusnya mulai membiasakan diri untuk terjun ke masyarakat. Kita amalkan ilmu yang kita punya sekaligus kita pelajari problematika masyarakat di sekitar kita ini,” ungkap Metha – membuat kami semua memandangnya takjub.


Akan tetapi, aku merasa ada tabuh yang bunyinya ia sembunyikan di balik sikapnya yang aneh. Kemarin dia diam seharian. Kemudian, dia melayangkan kata-kata mutiara untuk menahan Dita pergi. Di lain sisi, sifat periangnya hilang bak memuai dalam sebuah rencana.


Ah, otakku dibuat tak berdaya menghadapi semua ini. Semakin kentara bahwa Dita dan Metha dihadirkan oleh si Kunyuk untuk menjegal kebahagiaanku dalam mendekap Ayah dan Ibu.


“Gue mau mandi. Lu lanjutin aja pembahasan agenda kita sama teman-teman ya, Dy,” pintaku kepada Andy.


Ketika berjalan menuju kamar mandi, kulihat Ibu duduk di ranjang dapur yang terbuat dari bambu yang dibelah tak terputus. Lantas, kuhampiri saja beliau untuk semakin mengakrabkan diri.


“Bu, Ibu sedang apa? Saya lihat Ibu melamun,” ucapku pelan.


“Eh, Nak Bagas. Ibu sedang bahagia menerima kehadiran Nak Bagas beserta teman-teman Nak Bagas. Selama ini, Ibu lihat Ardi tampak tak punya teman. Tapi ternyata, di Jakarta, dia bertemu dengan teman-teman yang sangat baik dan peduli kepadanya. Teman-teman yang memandangnya tanpa status sosial dan ekonomi,” ungkap Ibu dengan nada haru.


“Benar kan kata Ayah, Bu. Jakarta memang keras, tetapi banyak kebaikan yang tersimpan. Contohnya, Nak Bagas dan teman-temannya. Kekhawatiran kita tentang Ardi selama ini tidak terbukti. Ardi tidak dijauhi atau dibully teman-temannya sebagaimana yang kerap kita pikirkan,” imbuh Ayah sembari meletakkan kayu bakar di samping tungku.


Pernyataan Ayah dan Ibu menghentak batinku. Mereka tidak tahu bahwa sebenarnya Ardi tidak hidup dalam kepungan kebahagiaan seperti yang tampak saat ini. Ardi tetaplah Ardi yang ditolak oleh lingkungan sosial.


“Ibu dan Ayah tak perlu risau. Ardi bisa beradaptasi dan bersosialisasi dengan setiap tempat yang ditapaki. Ardi itu anak yang tangguh. Dia juga sangat menyayangi Ayah dan Ibu,” lantunku sendu.


Haru menyeruak menyelimuti percakapan kami. Dorongan perasaan yang besar menggerakkan tubuhku untuk memeluk Ayah dan Ibu secara bergantian.


Mereka sempat heran, tetapi kupastikan pelukan ini tak akan membuat identitasku terbongkar. Bahkan, tak kusangka, dengan begini aku lebih leluasa mencurahkan cinta kepada mereka.


***

__ADS_1


Keluar dari rumah Pak RT, aku disambut bak seorang selebritis. Kemudian, mereka berkerumun untuk berfoto bersamaku.


Mereka pun begitu antusias mendengar pemaparanku dan Andy mengenai kegiatan sosial yang akan kami lakukan beberapa hari ke depan. Mungkinkah ini the power of tampan dan kaya? Bisa jadi. Karena jika bukan dua hal tersebut ikut berbicara, maka bisa dipastikan sulit dalam mendapatkan atensi.


Tak ketinggalan, Ardi pun didekati oleh para tetangga yang dulu bahkan buang mata kalau bertemu muka. Tujuannya jelas, mereka ingin tahu lebih banyak tentangku.


Kulayani semua pemintaan yang ingin mengabadikan potretku. Semoga setelah ini, Ayah, Ibu, dan juga Ardi bisa dipandang lebih baik oleh warga sekitar.


Mimpi beberapa waktu lalu turut memberiku motivasi untuk menjadi pahlawan di kehidupan Ardi. Ya, tentang menaikkan derajat hidup Ardi.


Bukan. Ini bukan tentang persiapanku jika sewaktu-waktu masaku habis. Ini hanya bentuk balas budi.


Aku melenggang pulang dengan tenang. Perizinan untuk di tangan. Selanjutnya, eksekusi yang harus optimal.


Bagaimana tentang pendanaan? Papa dan Mama memberikanku bekal yang lebih dari cukup untuk kegiatan ini.


“Gue akui lu sangat-sangat jenius. Gue nggak kepikiran sedikit pun kalau lu bakal punya ide se-brilliant ini buat bertemu dengan Ayah dan Ibu,” ucap si Kunyuk di saat aku berjalan menuju kamar untuk mengganti baju.


“Gue lebih nggak kepikiran sama tujuan lu membawa Dita dan Metha ke sini. Tapi apa pun rencana lu, gue nggak akan ambil hati. Gue di sini untuk menyajikan kebahagiaan buat Ayah dan Ibu,” responku halus. Kemudian, aku mendekat menghadapnya. “Di, bisa nggak sih kita hidup dengan menjalani peran masing-masing tanpa menggesekkan masalah? Dulu lu minta gue untuk lebih percaya pada diri gue sendiri. Lalu, lu sodorkan gue untuk menjadi diri lu. Apa sekarang lu menyesal dengan keputusan lu?”


Ardi menyunggingkan bibir. “Menjalani peran masing-masing? Ya, gue melakukannya. Justru lu yang sepertinya kurang bersyukur dengan pengorbanan gue. Kenapa lu berusaha mengusik kehidupan gue yang seharusnya menjadi masa lalu lu? Lu pinter nyalahin gue. Padahal, gue hanya memberi batasan tentang siapa kita sekarang," pungkasnya.


“Gas, Di,” seru Mutia.


Seruannya membuat kepanikan mendera batinku. Apakah dia baru muncul dari belakang pintu? Ataukah dia menguping pembicaraan kami?


“Apa yang kalian perdebatkan?" tanyanya. "Maaf, tadi aku mendengar kalian….”


Aku segera memotong ucapan Mutia, “Kami tidak berdebat. Kami cuma sedang melakukan finalisasi untuk kegiatan ini. Namanya pria, suaranya terkadang terdengar kencang, padahal kami ngobrol biasa. Iya kan, Di?”


“I…. iya. Ka…. kami lagi ngomong pembagian tugas aja,” timpal Ardi dengan mode munafiknya. Produksi suaranya acapkali terbata dan bertempo lambat jika berbicara selain kepadaku.


Mutia menatapku curiga nan ragu. Aku pun memilih pergi dan urung berganti baju. Kemudian, aku berjalan menuju belakang rumah untuk bermain dengan gulungan ombak. Itulah cara yang biasa aku lakukan untuk meredakan gelisah.


“Ardi!”


Aku mematung. Debaran jantungku menjadi dua kali lipat. Aku kira Mutia tidak mengikutiku. Namun, tentu, hal yang menciptakan tubuhku panas dingin seketika yaitu nama yang ia kumandangkan di udara.


Apakah dia tahu jati diriku? Apakah perubahan sikapnya yang kembali ramah kepadaku karena dia sudah tahu identitasku?

__ADS_1


“Ardi!” panggilnya sekali lagi yang membuat ragaku lemas dan jiwaku cemas.


__ADS_2