Inikah Rasanya?

Inikah Rasanya?
Chapter 18: Pertanyaan


__ADS_3

Menjelang pemilihan duta kampus, Metha semakin agresif mendekatiku. Dia menjelma seperti bayangan, mengikuti ke mana pun kakiku mengayun. Aku mulai risih dengan sikapnya. Dia membuatku menjadi canggung untuk mendekati Mutia.


Di lain sisi, Ardi tampak semakin lengket dengan Mutia. Mereka kerap terlihat pergi dan pulang ke kampus bersama.


Apa yang harus aku lakukan? Ketika Dita sedang terbenam, terbitlah Metha. Kukira drama cinta terhalang portal ini sudah usai?


Hah! Siapa lagi yang nanti akan menjadi penghadang? Hanya ingin menyatakan cinta saja harus melewati rintangan seperti mengikuti Ninja Warrior.


Aku berkutat dengan ponselku di tangan. Ingin menghubungi Mutia, tetapi ada perasaan yang takut. Bagaimana jika dia tidak menjawab panggilanku? Itu akan menjadi tambahan beban untukku.


Aku mau mengajak Mutia untuk bertemu di suatu tempat. Entah di mana, biarkan dia yang memilih. Kenyamanannya dalam pertemuan nanti merupakan prioritas utamaku.


Menelepon atau kirim pesan? Ataukah kirim pesan dahulu untuk meminta izin menelepon? Ah, terlalu lama berpikir hanya buang-buang waktu.


“Halo, Gas!” sapa Mutia.


Tak kusangka dia menjawab panggilanku dengan cepat. Mungkin inilah yang dinamakan berani mencoba, tak perlu risau di awal. Jangan takut akan hasil yang didapat, tetapi jangan pula meletakkan ekpekstasi tinggi di kepala.


“Halo, Mut. Em…. Kamu lagi ngapain?” Sebuah pertanyaan klise. Namun, aku belum siap untuk berkata to the point.


“Aku lagi siap-siap mau ke kampus, Gas,” terang Mutia.


“Lah, bukannya masih setengah jam lagi kita ada kelas.”


“Iya. Tapi aku mau ke perpus dulu ngembalin buku yang minggu lalu dipinjam.”


“Sama siapa ka ke perpusnya, Mut?”


“Sendiri. Kenapa, Gas?”


Mendengar Mutia akan pergi seorang diri, semangatku langsung membara. Semesta begitu paham yang kucanangkan.


“Aku pengen ngomong sesuatu ke kamu, Mut.”


“Soal apa, Gas?” Nada Mutia terdengar begitu penasaran.


“Nanti aku sampaikan pas kita ketemu. Tunggu di perpus ya, Mut.”


Aku tidak butuh konfirmasi dari Mutia. Aku tidak mau mendapatkan kalimat penolakan. Benang kusut antara dia dan Metha harus coba aku urai.


Tak mau membuat Mutia menunggu terlalu lama, aku segera berganti pakaian. Apa perlu mandi terlebih dahulu? Tidak. Setiap menitku sedang begitu berharga. Lagi pula, jika memang dasarnya sudah tampan, mau mandi atau tidak pun akan tetap tampan.


Cukup bilas muka dengan facial foam, oles ketiak dengan deodorant, dan semprot tubuh dengan parfum. Aku yakin Mutia atau orang-orang di kampus tidak akan tahu jika aku tidak mandi.


Setiba di perpustakaan, aku langsung berputar mencari Mutia. Aku sudah kehilangan waktu seperempat jam dalam perjalanan. Semoga saja Mutia belum berpindah tempat atau kesal menantiku.


Buuugggkh! Karena mataku fokus menerawang sudut per sudut perpustakaan, aku tak sengaja menabrak seseorang.


“Sorry, sorry. Gue nggak sengaja.” Aku lekas minta maaf dengan suara pelan.


“Nggak apa-apa, Gas. Santai! Orang ganteng mah bebas. Iya, kan?” sindirnya.


Aku kira dia siapa. Ternyata, Ardi. Aku sedikit menyesal telah melontarkan permohonan maaf kepadanya.


“Lu nggak apa-apa kan, Di?” Aku balas menyindirinya. “Gue nggak tahu kalau lu bisa ada sini. Soalnya gue kira lu mengidap agorafobia.”


Ardi! Kehadirannya juga patut diwaspadai. Dia seperti hantu yang datang di waktu-waktu tertentu.


Lantas, ada keperluan apa di di sini? Ini memang fasilitas umum, semua mahasiswa bisa mengakses. Namun, jangan katakan dia datang bersama Mutia!


“Gue nggak takut keramaian. Gue bisa menaklukan apa pun lebih dari yang bakal lu duga.” Ardi setengah berbisik ke telingaku, “Atau jangan-jangan, lu ngomongin diri lu sendiri yang masih cemas menghadapi banyak orang?” Ucapan Ardi makin dalam menukik ke ulu hatiku.

__ADS_1


Seandainya bukan di perpustakaan, aku pasti sudah mengultimatum mulutnya dengan satir yang lebih pedas.


“Em…. lu cari Mutia ya? Dia ada di lorong sebelah Timur dekat jendela. Tapi, lu jangan berharap dia ke sini sendirian. Kenapa? Karena di depannya ada tempat duduk gue,” terang Ardi sengaja memanaskan hatiku.


Apa benar Mutia datang bersama Ardi? Apakah Mutia berbohong kepadaku? Atau jangan-jangan mereka tidak sengaja saja bertemu di sini. Ah, sial! Lebih baik aku tanyakan langsung kepada Mutia. Sekaligus aku ajak Mutia berbicara di spot yang lain.


Aku abaikan Ardi. Lebih baik menjauhinya daripada harus bertaruh kesabaran. Sayangnya, pengacau lain berjarak lurus searah penglihatannya. Lepas dari Ardi, Metha menyapa – membawa sinyal kurang baik.


Tak bisa juga untuk bersembunyi, karena dia sudah melambaikan tangan. Tenang dan sabar! Hanya itu yang bisa aku teguhkan dalam jiwa.


“Gas, kamu ada di perpus juga? Kebetulan banget ya kita ketemu di sini?” tanya Metha berbasa-basi.


“Heem…” Aku jawab dengan gumaman.


Rasanya pertemuan ini tidak terjadi secara kebetulan. Aku bukan beprasangka tidak buruk, tetapi terasa aneh saja ada Ardi dan Metha dalam langkahku menuju Mutia.


“Kamu ke sini mau cari buku atau mau cari ketenangan untuk belajar, Gas?”


“Aku…. aku….” Waktuku tidak banyak. “Aku ke sebelah sana dulu ya, Met.”


Aku tinggalkan Metha begitu saja. Dia melongo, mungkin mengira aku tega. Biarlah!


Di mana Mutia? Ardi mengatakan dia ada di lorong Timur ini. Tetapi sejauh mata memandang, Mutia tak tercitra oleh retina mataku. Sepertinya, Ardi menjahiliku.


Ok! Aku akan biarkan Ardi merasa menang terlebih dahulu untuk beberapa saat.


“Gas,” suara Mutia terdengar menyapaku dari arah belakang.


Aku pun berbalik badan. “Mut….”


Sapaan Mutia membuatku bahagia. Hanya saja, si Pengganggu yang berdiri di samping Mutia membuatku harus menelan udara panas yang berkibar.


“Maaf ya, Mut. Aku telat. Kamu udah lama nunggu?”


Aku menoleh kepada Ardi. Anggap saja dia tidak ada.


“Gimana kalau kita ngobrolnya di kantin atau di taman?”


Mutia tidak langsung memberikan jawaban. Dia melirik kepada Ardi. Apa maksud Mutia? Apa dia meminta izin kepada Ardi? Tidak mungkin. Aku yakin Mutia hanya merasa tidak enak saja kepada si Muka Dua tersebut.


Belum sempat Mutia menjawab, Metha datang. Cocok! Penggabungan kekuatan yang luar biasa. Ardi dan Metha ibarat monster di Power Rangers yang menjadi raksasa. Sementara aku bak Rangers Merah yang sedang sendirian menghadapi musuh.


“Gas, kamu ada di sini. Aku cari-cari kamu loh dari tadi,” ujar Metha sembari merangkul bahuku.


Kuperhatikan, Mutia menebar senyum kepada Metha. Namun Metha tidak acuh, bahkan dia tampak sangat menghindari adu tatap dengan sahabatnya atau mantan sahabatnya. Entahlah! Aku tidak begitu mengerti mengenai status pertemanan mereka sekarang.


“Mmmm…. Mut, kalau gitu aku duluan ya,” ucap Ardi dengan lakon lugu. Sumpah! Aku ingin sekali meninju mukanya.


“Kita barenga aja, Di.” Mutia memilih pergi dengan Ardi. “Duluan ya, Gas, Met.”


“Iya, Mut,” responku. Aku ingin menyusul, tetapi Metha menahanku dengan erat.


Mungkin belum saatnya. Nanti siang seusai kelas akan kucoba lagi mengajak Mutia berbincang serius.


Aku ajak Metha menunju kelas lebih awal juga. Sejujurnya, aku makin tidak nyaman dengan cara Metha memusatkan sentuhan kepadaku.


Selama mengikuti pembelajaran, fokusku tertuju mencari cara agar bisa mengajak Mutia berbicara di tempat lain tanpa ada lagi gangguan.


Kemudian, aku kirimkan pesan kepada Mutia. Aku terangkan bahwa ada hal serius yang ingin aku bicarakan dengannya.


Mutia pun membalas dan menyatakan kesediaannya. Ketika kutanya tempatnya di mana, dia menjawab terserah – aku yang menentukan.

__ADS_1


Lalu, aku meminta Mutia menunggu sejenak seusai bubaran kelas. Aku harus mengalihkan Metha agar tidak membuntutiku. Dia tidak mempan diberitahu dengan alasan apa pun. Bahkan ketika aku katakan ada urusan kantor, dia malah tetap memaksa untuk ikut juga.


Akhirnya, aku mengendap-endap saat dia lengah. Aku minta dia menunggu di parkiran. Padahal, aku sudah serahkan kunci mobilku kepada Andy untuk menangani Tommy, Leo, dan Revan yang mengajak berkumpul di café biasa.


Jika nanti Metha marah atau kesal kepadaku, aku sudah berencana untuk berkata tegas kepadanya. Aku hanya menunggu persepsi Mutia yang akan memberikanku tambahan alasan dalam bersikap.


Aku dan Mutia sepakat untuk bertemu di sebuah restoran cepat saji. Letaknya sekitar 10 menit dari kampus. Kami pergi sendiri-sendiri dengan menumpang transportasi ojek online.


Tingkah kami ini, jika mengambil istilah anak muda 90-an ke bawah dinamakan backstreet. Seru, walau menegangkan. Seakan-akan sedang menutupi sebuah jalinan kasih.


Mengapa aku harus sembunyi-sembunyi dari Metha atau banyak pasang mata yang lain? Karena pada dasarnya aku tidak suka konflik dan menyakiti. Aku hanya akan membalas sakit hati ketika aku bisa mengumpulkan seribu alasan untuk membenci orang itu. Tujuanku melakukan pembalasan pun, seperti yang sudah aku ungkapkan, yaitu hanya untuk menyadarkan.


“Sorry ya Mut kalau kita harus bertemu seperti ini,” ucapku ketika kami sudah duduk berhadapan.


“Nggak apa-apa, Gas.”


“Oh iya, kamu mau makan apa? Biar aku yang pesankan.”


“Biar aku aja yang ngantri, Gas.”


“Aku yang ngajak, aku yang harus bertanggung jawab. Jadi, kamu mau apa?”


“Samain aja dengan pesanan kamu, Gas.”


“Yakin?”


“Iya. Terima kasih ya, Gas.”


Aku bangkit untuk berbaris, memesan makanan. Kemudian, aku pilih dua paket nasi dengan ayam, minuman cola, dan es krim Sundae Chocolate.


Kami pun menikmati hidangan sambil berbicara santai mengenai perkuliahan. Ya, sebelum masuk pada pembahasan inti, perlu kata-kata pengantar dulu, bukan?!


Setelah kurasa timing-nya pas, aku lantas melayangkan pertanyaan tentang dia dan Metha. “Sebelumnya aku minta maaf, Mut. Aku perhatikan persahabatan kamu dengan Metha seperti sedang renggang. Aku bukan ingin ikut campur. Aku hanya khawatir kerenggangan yang terjadi di antara kalian, itu ada kaitannya dengan aku.”


Mutia terlihat mengatur nafas. “Sebenarnya aku pengen ngomongin soal itu juga ke kamu, Gas,” ungkapnya.


“Jadi, benar karena aku?”


“Aku nggak bisa bilang karena kamu, karena aku rasa ini bukan kesalahan kamu juga.” Mutia memelankan suaranya sedikit. “Metha mengira kamu suka sama aku.”


Boom! Pernyataan Metha tersebut sebuah kebenaran, Mut. Timpalku dalam hati.


“Pas malem kamu nganter aku pulang, tiba-tiba Metha menanyakan soal kedekatan kita.”


“Kedekatan kita, maksudnya?”


“Aku rasa dia salah paham. Dia pikir kita memiliki hubungan spesial.”


Itu harapanku. Namun, haruskah aku mengakui perasaanku sekarang? Apakah ini momen yang sesuai? Belum. Pernyataan cinta harus dikumandangkan ketika atmosfer bahagia sedang berselimut tebal.


“Dia memintaku menjauhimu,” sambung Mutia, “Dia bilang juga jika aku ada perasaan terhadapmu sebaiknya aku mengalah saja.”


“Apa kamu mau mengalah?”


Mutia menatapku.


“Em…. Maksudku, kalau kamu suka sama seseorang, apa kamu mau mengalah demi sahabatmu?”


“Tidak. Aku akan memperjuangkan perasaanku dengan cara yang lain. Aku akan mencoba melakukan pendekatan yang bisa menghindarkan terjadinya perselisihan. Bagiku, sahabat itu penting. Akan tetapi, perasaanku tentu lebih penting,” paparnya.


Mutia seolah melambungkan harapan kepadaku. Apa pernyataannya sebuah kode? Apa dia suka kepadaku juga? Apakah perasaanku terhadapnya bersambut?

__ADS_1


“Terus, apa kamu punya perasaan sama aku?”


Aku tidak percaya jika aku menanyakan hal tersebut. Aku pun segera memutar otak untuk mengantisipasi jawaban “tidak” yang mungkin keluar dari mulut Mutia.


__ADS_2