Inikah Rasanya?

Inikah Rasanya?
Chapter 40: Diplomasi


__ADS_3

Seisi kampus, khususnya di Fakultas Ilmu dan Budaya, santer membicarakan jalinan asmara antara aku dan Dita. Terdengar kicauan yang memuji, ada juga yang menghujat Dita. Aku berusaha tidak peduli. Biarlah mereka berdebat sendiri tanpa aku harus memberi konfirmasi atau melakukan klarifikasi.


“Gas, beneran lu udah jadian sama Dita?” tanya Revan saat pesanan tersaji di atas meja.


“Masih mending Dita lah dibanding Mutia. Setidaknya, Dita masih menang cantik dan seksi,” jawab Leo dengan mulutnya yang lemes.


Tommy pun menepuk pundak Leo.


“So…. sorry, Gas. Ma.... maksud gue bukan ngebandingin kayak gitu.” Leo mengerti arti dari pukulan Tommy. Dia pun berusaha untuk meluruskan pernyataannya.


Aku sendiri tak ambil hati lagi kala Leo kembali menjelekkan Mutia. Pikiranku sedang dipenuhi cara untuk membuat Andy buka suara tanpa dipaksa. Semalaman aku dibayangi rahasia rencana Dita dan Metha.


Aku percaya Andy tahu tentang rencana tidak baik Dita dan Metha kepadaku. Namun jika hanya sekadar untuk membuatku merasakan patah hati, aku amat yakin rencana mereka lebih dari itu.


“Gas…” Giliran aku yang mendapatkan tepukan di pundak dari Tommy. “Lu ngelamun aja dari tadi. Kalau gue perhatiin nih, lu nggak happy ya jadian sama Dita?"


Aku mengangkat kedua alis.


"Menurut gue nih Gas, lu putusin aja Dita di depan teman-teman seperti saat dia nyatain cinta lagi ke lu kayak kemarin. Gue rasa tuh cewek nggak tulus sama lu. Paling juga dia jadiin lu buat ajang pamer ke teman-temannya. Dia akan bilang bahwa dia sudah berhasil mendapatkan sang idola kampus,” sambung Tommy.


Uraian dari Tommy membuat otakku tersentil tak percaya. Orang secuek dirinya ternyata mempunyai analisis yang lebih baik dari Leo dan Revan. Dia bisa mengidentifikasi Dita memang sedang bermain-main rasa denganku.


Sepertinya Tommy lebih bisa diajak berbicara secara mendalam dibanding dengan yang lain. Kupancing dia untuk bercakap lebih banyak. “Kenapa lu bisa berpikir seperti itu, Tom?”


Tommy merangkulku. “Gas, lu nggak inget udah berapa kali lu nolak dia dengan lembut dan tutur kata yang halus? Setahu gue, cewek kalau udah ditolak cowok, dia akan memilih memperbaiki penampilan atau karakter agar si cowok yang dia suka berbalik mengejarnya. Sedangkan Dita, dia tampak hanya terobsesi sama lu. Bisa aja besok atau lusa dia akan mempermalukan lu dengan memutuskan lu. Di mata gue, dia terlihat seperti seorang yang lagi mengantri tiket konser untuk dibuat konten.”


Pemaparan Tommy sangat masuk akal. Hanya saja, aku rasa Dita tidak akan mempermalukanku (lagi) dalam tempo secepat yang Tommy katakan.


“Jadi sebelum dia melakukan hal tersebut, lu yang harus lebih dulu melakukannya. Lu nggak perlu khawatir tentang reaksi teman-teman atau bakalan mendapat sentimen negatif dari mereka. Itu mudah untuk diatasi. Kita bertiga bisa menyebarkan isu Dita selingkuh, dia nembak lu cuma buat pansos doang, atau bahkan kita coreng namanya sekalian. Betul begitu, Yo, Van?” imbuh Tommy.


Leo dan Revan pun mengangguk dengan wajah tersenyum sadis. Mereka bertiga benar-benar “mafia”.

__ADS_1


Aku lihat kanan dan kiri sebelum memberikan tanggapan. Aku tak mau ada satu pun telinga yang mendengar percakapan ini.


Aman. Bangku-bangku di sekitarku sedang tak berpenghuni. Bagsulah!


“Emmm, padahal gue pikir tidak ada salahnya mencoba membuka hati untuk dia. Ketika dia terus mengejar gue, artinya dia serius dengan perasaannya. Bukankah lebih baik menerima cinta yang ada daripada mengejar cinta yang tidak pasti?” Aku tembangkan melodi nestapa bernada lara. Aku berlakon polos bak selembar kertas yang belum mendapatkan guratan tinta.


Kemudian, aku menghela nafas untuk lebih memperkuat kesan kesedihan dan kepedihan terhadap asumsi yang Tommy layangkan. “Makasih ya, Tom. Lu udah membuat gue sadar. Harusnya, seperti yang pernah kalian katakan ke gue, gue buka pandangan secara lebih luas. Mungkin aja di luar sana ada yang benar mencintai gue apa adanya." Aku jeda sejenak untuk menyedot orange juice. "Sudahlah, kita makan dulu aja. Habis itu kita lanjut bahas hal lain yang bisa membuat tertawa,” ucapku pura-pura tegar.


Obrolan pun meluas membicarakan si Kunyuk. Tommy, Revan, dan Leo mengaku sering melihat Mutia dan Ardi berduaan. Dalam kacamata mereka, Ardi mulai bertingkah songong. Mereka pun mengerjai Ardi beberapa kali, seperti membocorkan ban motornya hingga menggembok kamar kost Ardi.


Selama masih dalam batas kewajaran, aku akan membiarkan 3 Serdaduku menjahili Ardi. Namun, aku tekankan kepada Tommy, Revan, dan Leo untuk berhati-hati dalam melancarkan aksi kepada Ardi. Aku tak mau namaku ikut tercatut.


Memang aku tak perlu khawatir mereka akan berkhianat. Orang-orang seperti mereka – yang menghambakan diri kepada orang yang stratanya lebih tinggi – pasti tahu risiko yang akan didapat jika berani membelot. Meskipun begitu, waspada mesti dijaga. Jangan sampai kondisi berbalik – mereka mencoba mengontrol pergerakanku.


Hah! Terlalu banyak hal yang harus aku urus. Balas dendamku kepada mereka pun tengah di perjalanan. Ibarat sebuah gadget, aku sudah ingin melakukan reset segera. Lalu, memasang ulang aplikasi yang memang benar-benar aku perlukan dalam mempermudah hidupku.


“Gue pengen ngomong empat mata sama lu, Gas,” paksa Andy menarik tanganku. Entah dia datang dari mana, tetapi kehadirannya membuat suasana mendadak tegang.


“Jadi ini alasan lu sama yang lain nggak pernah ngajak gue nongkrong bareng lagi. Sejak kapan lu berubah jadi berseberangan dengan lu yang kemarin gue puji-puji? Gue udah berusaha percaya bahwa semua kejadian yang menimpa Ardi nggak ada kaitannya sama lu, Gas,” papar Andy.


Sial!


Andy sepertinya sudah cukup lama menguping obrolanku bersama Tommy, Revan, dan Leo. Namun, di mana dia duduk? Sementara, aku merasa sudah sangat berhati-hati memantau situasi.


“Gue nggak ngerti lu ngomong apa, Dy. Lu merasa diasingkan oleh kita, sedangkan lu sendiri yang tampak mengasingkan diri dari kita. Lu selalu bilang gue berubah, tetapi lu enggan memberikan solusi ketika gue lagi ditimpa masalah.”


Aku pergi sembari menggebrak meja. Cadangan amunisiku cukup banyak jika hanya bertarung kata-kata.


Ingat, aku ini orang yang betahun-tahun hidup tanpa teman. Tak ada lawan bicara, tak ada tempat bertukar cerita. Jadi saat aku mendapatkan kesempatan bertutur dalam raga yang sempurna, aku punya banyak esai dan fiksi untuk dijabarkan.


***

__ADS_1


Andy meneleponku berkali-kali, tetapi aku biarkan deringnya berhenti sendiri. Dia juga mengirimi pesan permintaan maaf. Namun, aku biarkan mengendap dan tenggalam ditimpa pesan yang lain.


Selain Andy, ada Mutia yang juga kubuat gelisah. Aku abaikan semua pesannya walau terselip rasa penasaran.


[Gas, bisakah kita bertemu setelah UAS nanti?] Begitu bunyi pesan Mutia yang dikirim 5 menit yang lalu.


Aku akan merespon dengan sigap seandainya dia langsung bertumpu pada poin yang hendak disampaikan.


Aku benci terhadap ajakan bertemu, tetapi tak membeberkan maksud dan tujuan. Layaknya sebuah chat dengan huruf “P” yang digunakan untuk memastikan si penerima masih hidup atau sudah mati. Sunguh aku benci.


Huwah! Mending aku menyeruput secangkir kopi terlebih dahulu sebelum masuk kelas.


Baru beberapa langkah menuju kantin, aku lihat Ardi dan Andy berjalan dari arah berlawanan, tetapi seakan menuju kepadaku.


Cahaya lampu terang menyala di otakku. Kuputuskan untuk mencegat Ardi. Aku teringat akan sebuah rencana penting dalam menghabiskan libur semester.


“Di, liburan semester ini lu pulang kampung, kan?” Aku sandarkan tanganku di atas pundak Ardi. Tak lupa nada bicaraku dibuat ceria untuk mempertajam keakraban. “Gue boleh ya menginap di rumah lu beberapa malam? Gue pengen merasakan asrinya suasana di tempat lu. Gue lagi pengen banget lari dan menepi sejenak dari sumpeknya Jakarta.”


Ardi menatapku sinis. Silakan saja dia membongkar tujuanku di depan Andy. Aku tidak akan menginterupsi sama sekali.


“Emmm…. Kenapa ha… harus ke rumah gue? Rumah gue kecil, fasilitasnya pun jauh berbeda dengan yang ada di rumah lu. Bukannya lu biasanya berlibur ke Bali atau luar negeri?” balasnya satir.


“Gue pengen kenal sama ayah dan ibu lu juga, Di. Lu kan bilang ke gue kalau ayah lu pengen banget ketemu gue langsung. Lagian, gue bisa kok hidup apa adanya. Nanti gue bawa tenda deh buat tempat tidur gue. Selain itu, gue pengen belajar banyak dari kehidupan lu. Maksud gue, kehidupan di kampung lu.”


Sesungguhnya aku tak perlu jawaban “iya” dari si Kunyuk. Aku bisa langsung menemui Ayah dan Ibu. Cukup berkata bahwa aku karib dari anak mereka.


“Gue boleh ikut juga kan, Di?” tanya Andy, sesuai firasatku.


Ardi menghadapkan kepala ke bawah. Bibirnya terkatup rapat, karena mungkin bingung untuk menolak.


Tenang! Aku hanya ingin melepas rindu kepada Ayah dan Ibu. Ya, itu saja.

__ADS_1


Orang yang tidak bisa diberi kebaikan itu pun melaju tanpa basa-basi. Tertinggal Andy dan aku dalam situasi yang sedikit canggung.


__ADS_2