Inikah Rasanya?

Inikah Rasanya?
Chapter 13: Lakon


__ADS_3

Sebuah pesan dari Ardi meggetarkan ponselku. Katanya, dia ingin berbicara penting denganku. Wow! Semoga aku salah menerka. Apakah dia takluk dengan kehidupannya?


Mutia sudah kembali menebar senyum kepadaku. Perjuanganku sudah menampakkan hasil yang diharapkan. Ibarat sedang mendaki, aku tinggal menghitung langkah mencapai ke puncak. Jika harus kembali ke kaki bukit, jelas aku tidak bersedia.


Aku coba pastikan saja kalimat yang ingin disampaikan oleh Ardi kepadaku. Aku pun segera bersiap untuk pergi. Dia yang memiliki hajat, dia yang malah menyuruhku datang ke kostnya. Baiklah, tidak masalah! Aku akan turuti kemauannya. Lagi pula, aku masih patut berterima kasih atas kebodohannya menyerahkan semua kenikmatan hidup ini kepadaku.


Aku parkirkan mobil di kampus. Dengan hati berbunga-bunga, aku jalan kaki menuju kost Ardi. Kali ini aku tidak mengendap-endap lagi, hanya sedikit waspada mengawasi gangguan yang mungkin mengintai.


Bruuuukkk!!! Aku menabrak seseroang selang beberapa langkah turun dari mobil. Apakah bertabrakan dengan Mutia lagi? Jika benar, inilah yang dinamakan jodoh.


“Bagas,” serunya.


Sayang, bukan Mutia. Mutia tidak memanggilku dengan melodi manja. Namun, mengapa harus bertemu dengan dia?


“Dita, kamu kok jalannya nggak hati-hati sih,” ucapku halus. Lebih tepatnya, berusaha menjaga image.


“Bangunin!” pintanya genit dengan menjulurkan tangan.


Mau tidak mau, aku pun mewujudkan permintaannya.


“Ngapain kamu di sini?”


“Bagas, bukannya kamu ada kuliah jam 10 ya hari ini? Ini kan masih jam 9 lebih 10 menit. Kenapa kamu sudah ada di depan fakultas?”


“Aku ada urusan. Udah ya, aku pergi dulu!” Aku segera menyusun langkah kembali.


“Tunggu dulu!” Dita merentangkan kedua tangan untuk menahanku. “Aku kan belum jawab pertanyaan kamu.”


“Nggak dijawab juga nggak apa-apa.”


“Kok gitu sih. Apa nanti kamu nggak penasaran?”


“Nggak.”


“Bagas, jangan cuek gitu dong! Aku ke sini kan buat nungguin kamu. Kenapa sih beberapa hari ini kamu kayaknya menghindar terus dari aku?” Dia memasang muka cemberut.


“Aku nggak menghindar. Lagi banyak tugas aja. Oh iya, Andy nungguin kamu di kantin. Dia pengen belajar Ilmu Ekonomi sama kamu.”


Huh! Untung aku sigap mencari cara untuk mengalihkannya.


“Andy?” Dia tampak bengong.


“Iya. Coba kamu temuin dia dulu ya.”


Ketika dia lengah, aku segera pergi dengan langkah cepat. Dita memang seperti Jelangkung yang bisa datang tanpa diundang.


Em, apa aku coba dekatkan Dita dan Andy lebih serius saja ya?! Dengan begitu tidak akan ada lagi yang menganggu upayaku untuk menjalin ikatan dengan Mutia. Tetapi Andy kelihatannya susah untuk didekatkan dengan perempuan, terlebih yang belum dia kenal secara personal.


Ah! Nanti saja aku pikirkan hal tersebut. Aku sudah tidak sabar ingin melihat muka Ardi memohon kepadaku.


Tiba di kost Ardi, aku tata diri sebentar – tegapkan badan dan tunjukkan aura kebahagiaan.


“Permisi! Selamat pagi!” Kulantunkan salam setelah mengetuk pintu.


“Masuk!” sahut suara dari dalam. Terdengar ketus, tetapi tak kuambil hati.


Kubuka pintu, lepas sepatu, dan kembangkan senyum.


“Pagi, Di!”


Bukannya membalas sapaanku, dia malah memerhatikan penampilanku. Entahlah! Mungkin dia ciut melihatku.

__ADS_1


“Kenapa lu natap gue gitu banget, Di? Gue kan udah ucapin salam, sapa, dan lepas sepatu di luar dengan meletakkannya secara rapi dan sejajar. Apa ada yang kurang, Di?”


“Duduk!”


Aku tetap berusaha tenang, tidak terpancing dengan caranya bersikap dan bertutur. Kata orang, ketenangan merupakan serangan balik terbaik untuk menghadapi seseorang yang sedang marah. Apa Ardi marah kepadaku? Mimik wajahnya mengatakan demikian.


“Ada apa sih, Di? Lu yang nyuruh gue ke sini, tapi kok lu nggak ngasih sambutan yang friendly gitu sih?”


Ardi bangkit dari posisinya. Dia berdiri di hadapanku. Dia menyuruhku duduk, tetapi dia justru seolah ingin menantangku.


“Maksud lu apa sih?” tanyanya sinis.


Pertanyaanya tak berakar.


“Apa sih, Di? Lu ngomong yang jelas dong! Gue sama sekali nggak ngerti arah pertanyaan lu.”


“Kemarin lu hanya pura-pura baik kan di depan Mutia dan yang lainnya? Lu minta gue speak up di depan kamera dengan dalih numbuhin rasa percaya diri gue. Tapi maksud lu yang sebenarnya bukan itu, kan?” tanya Ardi. Dia berlagak bak seorang polisi yang melakukan interogasi.


“Kok lu berprasangka buruk sama gue, Di? Gue tulus buat bantuin lu. Biar lu bisa dinotice sama teman-teman yang lain juga. Gue coba bangun rasa percaya diri lu. Itu aja.”


Ardi tertawa getir. “Haha…. Lu mau bantu bangun rasa percaya diri gue? Lu sadar nggak, itu harusnya lu lakuin ke diri lu sendiri semenjak dulu. Ini bener-bener paradoks. Coba lu pikirkan dengan bijak, yang butuh rasa percaya diri itu gue atau lu?”


Benar. Semestinya aku membangun rasa percaya diriku sebelum aku seperti ini. Mengapa juga aku sekarang sok menjadi pahlawan? Namun, tujuanku kan hanya untuk menarik simpati Mutia.


“Kenapa diem?” Ardi melipat kedua tangan di dada. “Lu mencoba menggunakan gue sebagai umpan untuk menarik simpati Mutia. Betul, kan?”


Tiba-tiba Ardi merasa berada di atas angin. Dia bisa membaca situasi yang aku mainkan. Aku menjadi terpojok begini. Dia memang pandai dalam urusan mengolah kata.


Aku berdiri. Duduk hanya memberi kesan aku kalah (dan tertindas). “Langsung aja ke poin yang lu pengen sampein ke gue. Lu mau kita tukeran tubuh lagi, kan? Lu udah mulai merasa tidak nyaman dengan keputusan lu, kan?” Aku balas pernyataannya dengan pertanyaan satir.


“Lu tuh kenapa sih selalu keluar jalur kalau diajak ngobrol?” Tatapannya bagai sebuah pedang, tajam dan penuh amarah. “Gue tahu bagaimana harus menjalani dan mengangkat hidup ini. Lu mending tidak jumawa terlebih dahulu.”


Dia berbicara mengenai kehidupan seolah dia berhasil melalui banyak pergulatan batin. “Lu mau nasehatin gue tentang hidup? Gue udah mengalami banyak up and down dalam hidup ini. Gue sudah cukup mengenal banyak rasa kehidupan. Sedih, pedih, luka, terlunta, kecewa, lara, pilu, sendu, dirundung, diasingkan, dicurangi, dan diisolasi dari ruang sosialisasi, gue udah mengalaminya.” Jangan mengajakku berbicara tentang kejamnya dunia, aku sudah mengenalnya sejak dini.


Ardi lantas merungut. “Bersainglah secara sehat!”


“Maksud lu tentang Mutia?” Aku naikkan alis. “Mutia bukan benda atau piala. Gue nggak ngerti maksud lu di balik semua ini.” Aku membuat putaran kecil. “Hah! Lu sebenarnya suka sama Mutia atau hanya ingin menjadi seorang antagonis? Lu lelah menjadi sempurna, kemudian mencari tantangan dengan meminjam tubuh gue? Ups, sorry. Ini sekarang sudah menjadi identitas lu. Iya, kan?” Kudorong telunjuk menyentuh dadanya.


Dia diam dengan maata membara. Sudahlah! Jika diteruskan hanya akan memicu keributan. Aku harus tahu posisi dan mengerti tentang hutang budi.


“Ok deh, gue rasa obrolan ini agak sedikit kurang kondusif jika dipaksa untuk dilanjutkan. Sampai jumpa di kelas ya, Di.”


Keluar dari kost Ardi, aku menuju minimarket. Aku butuh minuman dingin untuk menyejukkan otak. Tadi itu, aku sebenarnya tersundut bara kesal. Sempat terselip hasrat untuk menumpahkan amarah. Namun, aku harus menjaga benturan fisik dengan siapa pun untuk saat ini.


Bagas, si Pratagonis yang sempurna dari Drama Korea menjelma bak sebuah legenda. Ardi, dengan sikapnya yang ambigu, membuatku semakin yakin dia mulai merasakan kepedihan dengan karakter yang dijalani.


Hem, intrik dan konflik dengan Ardi tanpa disadari membangkitkan hormon dopamin di tubuhku. Ada sensasi kesenangan yang tidak biasa ketika aku mampu menyaksikan dia tersiksa dalam meredam emosinya sendiri. Luar biasa!


Ternyata, “peperangan” bisa menjadi tantangan sekaligus hiburan. Sudahlah! Leo mengabari jika dia dan Andy sedang mengarah ke kelas.


Kala aku mempercepat langkah, terlihat Ardi berjalan sendiri dengan menunduk. Di belakang Ardi, ada Mutia dan Metha yang mengikuti, tetapi cukup berjarak. Ini momen yang tidak boleh aku lewatkan. Seakan tadi hanya iklan yang menjeda, kini aku lanjutkan kembali permainan.


“Hai, Di! Lu sendirian aja?” Aku segera merentangkan tangan kanan ke bahu Ardi untuk menunjukkan keakraban.


“Emang biasanya gue ke kampus sama siapa?” ketusnya.


Aku tahan diri untuk tidak menoleh sedikit pun ke belakang. Aku berpura tidak melihat Mutia dan Metha. “Gue cuma nanya aja kali.”


“Pertanyaan lu nggak jelas.” Dia berusaha melepaskan tanganku.


“Lu mau roti nggak? Ini masih baru kok. Barusan banget gue beli di minimarket.”

__ADS_1


“Gue nggak laper.”


“Oh, ya udah kalau lu masih sungkan gue. Kita ke kelas bareng aja yuk!”


Ardi sadar aku menjadikan dia sebagai umpan untuk membentuk citra di depan Mutia. Maka dari itu, aku lakukan saja secara total. Padahal, sebelumnya, aku tidak berpikir hingga sejauh ini untuk berlakon.


“Bagas baik banget ya, Mut. Makin ke sini dia makin perfect deh.” Terdengar pujian yang mengalun dari Metha.


“Mau lu apa sih, Gas?” tanya Ardi. Suaranya pelan, tetapi penuh sindiran.


“Berteman sama lu,” jawabku santai. “Gue lihat kemarin lu bagus banget pas role play jadi pembaca berita. Pronounciation lu baik, penekanan pada setiap kata yang lu ucapkan juga bagus. Lu harus lebih semangat lagi ya nunjukin siapa diri lu yang sesungguhnya ke orang-orang.” Aku naikkan volume agar suaraku lebih jelas mampir ke telinga Mutia.


Ardi melemparkan tatapan kesal. Maaf, aku hanya mewujudkan ucapannya sebagaimana dia juga mengatakan hal tersebut kepadaku kala mendekati Mutia.


“Bagas!” Seseroang memanggilku dengan suara yang lantang.


Suaranya sedikit kurang familiar di telingaku. Aku pun memutar pandangan untuk mencari si Pemanggil.


“Bagas, aku cari-cari kamu dari tadi loh.” Ia mengatur nafas sembari memegangi lutut.


Adisty, Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan, semester 5. Sewaktu acara perkenalan mahasiswa baru di jurusan, dia pernah menyisihkan aku dari barisan. Dia tidak meminta aku memperkenalkan diri. Dia berbisik ke temannya jika aku tidak enak dipandang.


Mendadak, aku seperti memiliki banyak pekerjaan rumah. Haha!!!


“Ada apa Kakak cari saya?” tanyaku sopan.


“Kita ngobrolnya di taman aja yuk!”


“Tapi aku 15 menit lagi ada kelas, Kak.”


“Aku bentaran aja kok.”


“Em….” Aku melirik ke Ardi seolah tidak tega meninggalkannya.


“Ayo, Gas!” Adisty menarik lenganku secara tiba-tiba. Aku pun tidak siap untuk mempertahankan diri.


“Gue pergi dulu ya, Di,” ucapku dengan tetap berpura-pura tidak melihat keberadaan Mutia dan Metha.


Setelah sampai di taman, Adisty mengutarakan maksudnya. Ia meminta aku untuk mewakili jurusan dalam perhelatan duta kampus yang akan di gelar bulan depan. Dia yakin aku pasti menang.


Jadi duta kampus? Jadi pusat perhatian? Itu mimpiku dari dulu. Akan tetapi, aku harus jual mahal sedikit. Basa-basi untuk menaikkan harga sebagai mahasiwa baru yang sudah populer dan menjadi suri teladan.


“Aku mohon ya, Gas. Please!” Adisty membungkukkan badan sedikit dan menyatukan kedua tangan di dada membentuk segitiga.


“Gimana ya, Kak? Aku nggak pede (percaya diri). Aku takut ngecewain Kakak dan jurusan. Mahasiswa semester atas kan banyak yang lebih baik dari aku, Kak.”


Ada kepuasaan tersendiri melihat orang yang dulu menghina sekarang berbalik memohon. Ingin rasanya berlama-lama hingga membuat dia bersimpuh – mengemis kata “Ya” dariku.


“Ya udah, Kak. Aku coba ya. Mohon bimbingannya nanti!”


“Yeaaah!” Adisty bersorak. “Terima kasih ya, Gas. Kalau gitu nanti aku kabari kamu lagi terkait teknisnya ya. Selamat belajar!”


“Iya, Kak.”


“Satu lagi, jauhi si Kumuh itu ya. Aku takut kamu terkontaminasi kuman dari dia,” ucap Adisty sambil mengedipkan mata.


Adisty berlalu, Leo dan Andy muncul di hadapanku. Mereka bertanya mengenai bahasan percakapanku dengan Adisty.


Setelah kujelaskan jika Adisty meminta aku menjadi duta kampus, dan aku telah menyetujuinya, Leo memasang muka tidak percaya. Dia juga meminta aku lekas meralat atau membatalkan persetujuan.


Ketika kutanya alasan aku harus melakukannya hal tersebut, Leo mengatakan jika aku pernah berujar tidak mau menjadi selebritas kampus. Popularitas akan memangkas privasi dan ruang interaksi.

__ADS_1


Ah! Itu kan Bagas yang dulu. Bagas yang sekarang baru mencicipi sedikit, dan ternyata nikmat. Haruskan aku membuang hidangan yang lezat ini?


__ADS_2