Inikah Rasanya?

Inikah Rasanya?
Chapter 36: Enyah


__ADS_3

Langit seakan runtuh. Duniaku lenyap seketika. Tak ada lagi mobil yang mewah. Tak ada lagi kamar yang megah. Teman-teman pun menghilang bagai tersapu khayalan.


Aku menangis sejadi-jadinya. Aku tumpahkan semua lara di bersama air mata. Mengapa Tuhan begitu tega mempermainkan hidupku? Mengapa bibirku diolesi madu, sementara manisnya tidak sampai ke lambung? Lebih baik tidak merasakan kemanisan harapan daripada - kemudian - dijejalkan kepahitan siksa kehidupan. Jika memang diminta untuk mencicipi angan-angan, mengapa tidak mengatakan dari awal bila itu sejatinya titipan?


Tidak. Aku bukan ingin mengklaim sesuatu yang bukan milikku, tetapi aku meminta pertanggung jawaban dan keadilan. Aku rasa siapa pun akan kesal dan marah ketika hidupnya dipermainakan sebagaimana yang kualami saat ini.


Semua rencanaku tumbang. Padahal, belum satu pun keberhasilan yang sempurna bisa kunikmati.


Aku tinggalkan tas, lalu menuntun kaki untuk pulang ke rumah Mama dan Papa. Ya, aku belum siap kehilangan mereka. Bagiku, mereka tetaplah orang tuaku juga.


Namun, tujuan utamaku pulang sebetulnya untuk menggeledah isi rumah. Aku yakin si Kunyuk menyembunyikan rahasia pertukaran tubuh di salah satu ruangan yang ada di rumah. Kecurigaanku sangatlah beralasan.


Apabila ditilik dari kejadian kemarin, cukup mengherankan bukan si Kunyuk tiba-tiba datang untuk menjengukku?! Ternyata, ada hal jahat yang dia lancarkan terhadapku. Aku memang merasa janggal sejak mula melihatnya datang.


Sudah pasti si Kunyuk berencana mengambil sesuatu atau benda pusaka. Kemudian, malamnya dia mengeksekusi pertukaran tubuh. Dengan kata lain, sakit luar biasa yang aku rasakan semalam merupakan buah dari perbuatannya.


Pembalasan sedang dalam perjalanan, wahai Kunyuk!


Tetapi, bagaimana caranya aku bisa leluasa masuk ke dalam rumah? Dengan tubuh ini, aku pasti sulit menyisir setiap sudut ruangan. Ditambah, si Kunyuk pasti tidak akan menyambutku sehangat aku menyambutnya.


Ah, sudahlah! Aku pikirkan nanti saja. Hal terpenting untuk dilakukan saat ini yaitu tiba di sana terlebih dahulu. Jika sudah begitu, aku bisa memerhatikan keadaan/ penjagaan terlebih dahulu sembari mencari celah masuk.

__ADS_1


Kala hendak menaiki angkutan umum, Andy menabrakku. Aku pun terjatuh, dan nyaris saja teprental ke trotoar.


Sial! Ada saja kejadian yang menguji emosiku.


“Lu nggak apa-apa, Di? Sorry ya, gue nggak sengaja. Gue buru-buru soalnya. Gue mau ke rumah Bagas,” ucapnya sambil menjulurkan tangan kepadaku.


“Iya, gue nggak apa-apa.” Aku abaikan bantuannya. Aku bisa bangkit dengan kedua kakiku sendiri.


Sesaat aku terdiam. Aku pandang Andy secara komprehensif dari kaki hingga kepala.


Tepat sekali. Aku bisa masuk ke rumah bersama Andy. Aku manfaatkan saja si Hati Malaikat seperti si Kunyuk memanfaatkannya.


Nahas, hidup Andy seolah-olah hanya sebagai jembatan untuk menyeberangi jurang. Masa bodohlah!


Tanpa banyak bertanya, Andy menyetujui aku ikut dengannya.


Di tengah perjalanan – di dalam angkutan umum – Andy seolah berbalik memerhatikanku. Dia menatapku layaknya seorang yang sedang dilanda rasa penasaran.


Aku lantas bertanya arti tatapannya kepadaku. “Sorry, dari tadi lu lihatin gue terus. Apa ada yang aneh sama gue, Dy?”


Andy mengalihkan penglihatannya. Kemudian, dia menjawab pertanyaanku secara halus. “Gue udah tahu siapa lu. Maksdunya, lu dan Bagas pernah bertukar tubuh. Sekarang, kalian bertukar tubuh lagi. Maka dari itu, lu pengen balik lagi jadi Bagas, kan?”

__ADS_1


Telingaku tersentak, batinku terkejut mendengar uraian dari Andy. Rupanya dia benar tahu tentang kejadian gaib yang aku alami.


“Kok lu bisa tahu?” Aku tak bisa lagi bersembunyi di balik kata-kata. Lagi pula, dengan memberikan penegasan, Andy mungkin bisa kutarik untuk berada di pihakku. “Apa Bagas yang ngasih tahu lu?”


“Kita sudah sampai di tempat tujuan," terangnya. Dia mengajak aku turun dari angkutan umum. "Oh iya, kalau lu berharap gue bisa bantu lu, lebih baik lu buang harapan itu sekarang juga. Gue nggak bisa ngelakuin apa-apa, karena apa yang terjadi pada kalian bukanlah ranah gue. Sorry ya! Di sini, posisi gue hanya sebagai teman kalian,” ungkapnya.


Andy bisa membaca isi kepalaku. Akan tetapi, pernyataannya tidak menjawab pertanyaanku sama sekali. Jika Andy tahu mengenai pertukaran tubuh ini dari si Kunyuk, maka dia pun kemungkinan besar mendapat cerita lain di balik transmigrasi kehidupan ini.


Hanya saja,dia mendadak menyebalkan. Dia bungkam seribu bahasa bak baru saja disihir menjadi patung batu.


Aku tarik tangannya sembari memohon agar dia mau berkisah. Tetapi, dia tetap mengunci mulutnya.


“Dy, apa lu tahu siapa Bagas sebenarnya? Terus apa saja yang lu ketahui tentang dia? Mengapa kami bisa bertukar tubuh? Dari mana kekuatan tersebut berasal?” Aku tak berhenti menyerang pendengaran dan nuraninya. “Gue mohon kasih gue penjelasan, Dy. Seandainya gue nggak bisa menjadi Bagas lagi, gue nggak apa-apa. Asalkan lu bisa kasih gue penjabaran terkait semua ini.”


Andy tertawa. Aku menunduk, menahan kepusingan yang menyergap kepala.


Ting!!! Andy menghilang dalam hitungan detik.


Aku menyaksikan dengan sangat jelas kaki Andy lenyap dari pandanganku. Pergerakannya pun begitu cepat bak rambatan cahaya.


Keganjilan mengembara di dalam batinku. Apakah Andy dan Bagas makhluk dari dunia lain? Apakah mereka semacam jin atau bahkan alien?

__ADS_1


Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan, sedangkan tubuhku merinding ketakutan? Peristiwa-peristiwa di luar nalar yang kuhadapi semakin menggusur batas kesadaranku.


__ADS_2