Inikah Rasanya?

Inikah Rasanya?
Chapter 29: Benang


__ADS_3

Penyesalan selalu datang ketika keputusan sudah dibuat. Masalah pun menjadi berkali lipat apabila pikiran buntu karena hasrat tak terpenuhi secara sempurna. Semestinya, aku tidak terlalu tunduk pada egoku sendiri.


Kini aku menyadari, perkataan Tommy, Revan, dan Leo tentang Mutia – beberapa waktu yang lalu – ada benarnya. Semakin tinggi tangga yang pijak, maka semakin luas pemandangan yang bisa dilihat. Untuk apa aku mengejar cinta satu orang  jika bisa mendapatkan cinta yang banyak dari siapa pun dan dari arah mana pun?!


Persepsiku harus diubah. Semuanya demi kebahagiaanku juga. Aku tidak boleh membelenggu hidupku dengan cinta yang semu. Lepaskan Mutia, kembangkan definisi cinta. Kehadiran dia tak perlu lagi dianggap sebagai hal penting yang memengaruhi semangat hidupku.


Ah! Akibat kejadian semalam, gara-gara dia, kebebasanku sedikit terenggut. Papa tidak memperkenankan aku keluar rumah kecuali untuk kuliah dan pergi ke kantor. Aku tidak suka dibatasi seperti ini. Namun, aku tidak memiliki power untuk melawan.


Buggghhh!!!  Aku membanting pintu mobil dengan kencang. Kesal memuncak di otak. Sungguh, aku akan balas "hukuman" yang aku dapatkan ini.


“Gas, kamu kenapa? Apa kamu sedang tidak baik-baik saja?” tanya seorang perempuan yang suaranya cukup lama menghilang dari telingaku.


“Oh, Dita. Hai!” sapaku dengan wajam masam.


Dita merapat ke sampingku. “Kamu kayaknya lagi bad mood ya? Kenapa sih? Apa karena kamu kangen aku? Soalnya kan beberapa waktu ini aku jarang menemuimu. Maaf ya, Gas. Aku belakangan emang sibuk banget sama tugas kuliah. Tapi tenang, aku hari ini ke sini khusus untuk nengokin keadaan kamu.”


Ocehan Dita membuat kepalaku serasa berputar lebih kencang. Bukannya membantu meringankan beban pikiranku, dia justru memperberat dengan kata-kata yang membuatku tambah jengkel.


Aku ingin menghindar dari Dita, tetapi kulihat Mutia berjalan sendiri. Pandangan kami pun sempat beradu. Namun, aku segera membanting mata ke arah Dita.


“Dit, Nanti siang kamu ada kelas nggak? Aku mau ajak kamu makan siang sambil nunggu kelas selanjutnya,” ucapku dengan suara kencang agar mengudara ke telinga Mutia.


Dita menggenggam tanganku dengan wajah sumringah. “Seriusan, Gas? Kamu ngajak aku makan siang?” Dia pun melambungkan suara dengan cukup lantang.


“Kenapa? Kamu nggak mau ya? Nggak apa-apa sih? Mungkin....” Aku usap punggung telapak tangan Dita untuk menaikkan kesan mesra.


“Mau banget, Gas. Aku lebih baik skip kelas daripada melewatkan kesempatan ini,” tegas Dita.


Mutia melengos kala melewati aku dan Dita. Tampak dia curi pandang - mungkin untuk mengukuhkan pandangannya. Maafkan aku ya, Mutia!


Aku tahu Dita masih begitu mencintai Bagas. Aku bisa memanfaatkan dia dengan berpura-pura menanggapi perasaannya. Benar kata pepatah, jangan terlalu cepat membenci seseorang, karena suatu saat bisa jadi orang tersebut datang untuk membantu.

__ADS_1


Langkahku menuju kelas kembali terasa ringan bagai hari-hari yang lalu. Memberikan Dita perhatian bukanlah perkara yang sulit. Sementara, aku bisa mendapatkan tiga hal sekaligus. Pertama, Dita menjadi amunisiku untuk memanas-manasi Mutia. Kedua, dia bisa dimanfaatkan untuk membantu tiga serdaduku menjahili Ardi. Ketiga, perlahan-lahan aku akan kulik tentang kedekatannya bersama Metha – seperti yang aku lihat kala mereka pergi bersama. Pada akhirnya, semua tabir ini bisa dijadikan peta untuk membaca langkah si Kunyuk.


Kerja cerdas lebih menguntungkan diibanding kerja keras. Sekeras apa pun berusaha jika otak tidak digunakan, hasilnya tentu tidak akan memuaskan.


Setelah kelas usai, aku bergegas untuk mengajak Dita ke White Horse. Sebelumnya, aku sudah mengirimkan pesan singkat kepadanya untuk menunggu di samping mobilku.


Sementara itu, Tommy, Revan, dan Leo berkata tengah bersiap untuk mengeksekusi rencana mereka memberikan Ardi peringatan yang lebih keras. Sekali lagi, aku tidak mau tahu apa rencana mereka. Aku pun memiliki rencana sendiri untuk memuaskan batinku. Satu hal yang aku percaya tentang mereka, yaitu mereka sangat bisa diandalkan.


Begitu aku hendak menuruni tangga, Andy menepuk bahuku. Dia bertanya tentang hal yang membuatku terburu-buru.


Aku pun keceplosan. Saking percayanya aku kepada dia,  aku memberi tahu akan pergi makan siang bersama Dita.


Sedikit berbasa-basi, aku tawarkan Andy untuk turut dalam kencan palsuku. Di luar harapan, dia pun mengatakan ingin ikut. Katanya, beberapa hari ini dia rindu sosok Bagas yang selalu terbuka kepadanya.


Sial! Basa-basiku berbuah harapan yang tak diinginkan.


Sudahlah! Aku yang mengajak, maka tak mungkin pula jika aku tiba-tiba menolak keinginannya. Lain kali, aku harus tegas dalam berucap.


Aku menatap cermin. Merapikan rambut dan ekspresi, serta mengatur nafas. Tampan dan mapan. Identitas ini semakin kuat melekat dalam hikayatku.


Brukkk! Suara pintu toilet dibuka. Spontan, aku menoleh untuk sekadar melihat orang yang keluar dari balik kamar pembuangan.


Hah! Rupanya si Kunyuk. Baru saja aku berhasil melonggarkan saraf di otakku. Namun salah satu orang yang paling menyebalkan, begitu saja muncul, merusak penglihatan.


Abaikan! Anggap dia sebagai mahkluk astral atau penunggu toilet tak kasat mata.


“Kenapa pergi? Takutkah? Atau merasa terancam?” tanya si Kunyuk seraya memutar keran wastafel.


Bedebah! Dia sepertinya memang ingin cari ribut denganku.


Aku menghentikan langkah. “Lu pengen banget gue sapa dan tanya? Duh! Sayangnya, lihat lu aja gue muak banget,” sarkasku.

__ADS_1


“Em…. Kalau gitu, gue deh yang sapa dan tanya lu ya,” jajatnya. “Halo, Gas? Apa kabar? Apakah kamu bahagia hari ini? Bagaimana tidurmu semalam? Pastinya berkualitas seperti biasanya dong. Kan tidur di atas kasur seharga puluhan juta ditemani AC yang dingin seperti sedang berada di Antartika.”


Tampak jelas dia memancing emosiku. Aku lantas berbalik badan, dan langsung menghampirinya.


“Lu berkata hal itu biar gue kepanasan, biar gue kelonjotan kayak cacing yang ditaburi garam, begitu?” Aku balas mengejeknya. “Lu pengen gue marah, karena lu lagi ngerecord percakapan ini. Terus lu mau tunjukin hasil rekaman - yang nantinya lu edit sedemikian rupa - kepada Mutia. Lu bakal ngelakuin itu lagi buat ngehancurin reputasi gue di mata dia, kan?" Aku pelototi dia. "Norak lu! Lagian, gue udah nggak tertarik sama Mutia. Haha….”


Tanganku sebenarnya sudah gatal ingin meninju bibirnya. Dia merupakan manusia paling absurd yang pertama kutemui di dunia. Hidupnya tidak jelas, hanya mengganggu kebahagiaan orang lain. Jangan-jangan dia jelmaan dari iblis.


Aku meneguhkan hati untuk tak meladeni amarahku. Seperti kata pepatah, anjing menggonggong, kafilah berlalu. Mungkin baterai hidupnya dari menghancurkan moodku sehingga dia selalu melakukan hal tersebut kala berhadapan langsung denganku.


“Ups, sorry. Gue lupa kalau lu udah ditolak Mutia ya. Haha…." tawanya menyindir. "Bagas oh Bagas. Eh maksud gue, Bagas KW (tiruan). Harusnya lu pastiin dulu kalau Mutia bakal nerima lu sebelum lu nyatain cinta sama dia. Atau lu kabari gue kek biar gue bisa bantu. Ditolak sama cinta pertama itu kan sakitnya luar biasa ya?” satirnya.


Sabar! Sayangnya, sudah tak bisa lagi. Mulut rombengnya harus dibuat memar agar tak seenaknya berucap.


Aku hampiri lagi si Kunyuk dengan tangan mengerang. Aku tarik kerah kemejanya menggunakan kekuatan tangan kananku. Wajahku sudah tak bisa menahan deskripsi kekesalan.


“Mulut lu sepertinya harus benar-benar disekolahkan,” tukasku.


Tangan kiriku siap melayangkan pukulan. Namun, suara Andy menahan aksiku.


“Gas, lu kok lama banget sih di toiletnya. Ayo dong! Kebetulan gue udah laper banget nih,” seru Andy.


Aku meniupkan udara ke wajah Ardi. “Nasib lu lagi mujur. Kalau nggak, mungkin bibir lu udah gue bikin tebal 3 kali lipat. Jangan pikir gue akan ngerasa hutang budi seumur hidup sama lu!”


Aku lepaskan cengkramanku sembari mendorong tubuhnya. Dia justru menyeringai seolah merasa menang.


Dasar bodoh! Bersiaplah menerima serangan seribu bayanganku. Aku punya banyak senjata tanpa pelatuk.


Hah! Di depan Andy dan Dita, aku berupaya tetap tenang. Aku coba nikmati kebersamaan yang sejatinya berantakan.


Ya, makan siangku bersama Dita menjadi makan siang biasa. Tak ada percakapan yang bisa kubangun untuk memancing emosinya. Aku mesti menyusun ulang rencanaku untuk menjadikan Dita sebagai koleksi bonekaku.

__ADS_1


Aku tidak suka bermain boneka sungguhan. Akan tetapi, bermain boneka manusia mulai terasa membawa kebahagiaan yang berbeda.


__ADS_2