Inikah Rasanya?

Inikah Rasanya?
Chapter 11: Sikap


__ADS_3

Cinta pertama laksana adrenalin yang membakar semangat dalam jiwa. Ia yang pertama kali mengenalkan rasa suka. Ia juga yang mengenalkan kata posesif.


Banyak yang mengatakan cinta tidak harus memiliki. Asalkan melihatnya bahagia, itu sudah luar biasa. Tidak! Aku kurang setuju dengan ungkapan tersebut. Ini pengalaman pertamaku mencinta lawan jenis. Bagiku, bahagiaku yaitu bisa bersama dengan sang pemikat hati.


Aku akan memperjuangkan cintaku hingga aku mengerti tentang arti mencinta sesungguhnya. Pengembaraan ini baru saja dimulai. Meskipun aku bisa memetik seribu bintang, tetapi yang aku mau hanyalah rembulan.


“Gas, lu lagi ngapain?” Terdengar suara Andy di depan kamar. Kedatangannya menjeda khayalanku.


“Masuk, Dy!”


Andy langsung mengambil posisi duduk di sampingku.


“Mama lu nelepon katanya lu dari kemarin kelihatan ngelamun aja", ungkapnya. Kemudian, dia menatap dengan serius. "Kenapa sih lu? Lu lagi ada masalah?”


“Gue baik-baik.”


Andy menarik lengan kaos yang aku kenakan. “Ini yang lu bilang baik-baik aja? Jam segini aja lu belum mandi.”


“Ini kan masih pagi.”


“Ini udah jam sepuluh, Bagas. Makanya, tadi Mama lu telepon gue supaya jengukin lu. Mama lu khawatir melihat sikap lu yang sejak kemarin tampak murung. Coba cerita sama gue ada apa!”


Aku menunggu testimoni dari Mutia mengenai obat dan kue yang aku bawakan. Namun hingga malam berganti pagi, tak ada satu kata pun pesan yang masuk darinya.


Haruskah aku cerita kepada Andy perihal tersebut? Hah! Aku belum begitu mengenal dia. Butuh waktu lebih lama untukku bisa menanamkan kepercayaan kepada orang yang ada di sekelilingku.


“Nggak ada apa-apa, Dy,” kilahku.


Namun, Andy malah semakin serius menatapku. “Lu boleh bilang kalau lu baik-baik aja. Tapi, lu nggak bisa bohongin gue.” Kemudian, Andy menurunkan tangannya. “Gue perhatiin selama beberapa hari terakhir ini sikap lu beda banget, Gas.”


Apa maksud Andy? Membohongi dia perihal perasaanku kepada Mutia? Itu memang benar. Aku belum bisa berkisah kepadanya. Tetapi, dia mengatakan ada perbedaan sikap yang mencolok dariku.


Aku tidak boleh terprovokasi dengan pernyataannya. Bisa jadi dia berusaha memancing kejujuranku. Intinya, aku tidak boleh tergesa-gesa menyimpulkan dia mengetahui rahasiaku. Rahasia tentang pertukaran tubuh ini.


Akan tetapi, aku tidak bisa mengendalikan pikiran sepenuhnya dari rasa waswas. “Be…. beda gimana maksud lu?”


Andy menyoroti mataku. Bahaya! Aku segera membanting pandangan ke tepi yang lain.


“Gue nggak pernah lihat lu kayak gini sebelumnya. Ini bukan Bagas yang gue kenal,” terangnya.


Aku pun terus memompa otak agar menstimulus ketenangan pada seluruh organ tubuh. “Masa sih, Dy? Kita kan baru kenal beberapa bulan ini. Wa… wajar kali kalau lu tahunya gue selalu ceria dan pede (percaya diri). Namanya manusia kan pasti hidupnya fluktuatif, naik dan turun sewaktu-waktu. Adakalanya kita cuma butuh me time (menghabiskan waktu singkat dengan diri sendiri) untuk mengatur mood yang tiba-tiba suntuk.”


Andy makin tajam memberikan tatapan. “Baru kenal beberapa bulan ini? Lu amnesia, Gas? Kita kan udah kenal sejak SMP. Kita sering main bareng dari dulu. Kita juga sering berangkat sekolah bareng walau nggak satu SMA.”


Gawat! Mengapa aku tidak menyadari jika memori kehidupan Bagas tidak tertinggal di otak ini? Pikiran dan kemampuan dalam tubuh ini merupakan dua hal yang berbeda. Tidak terkoneksi meski tubuh saling bertukar. Bagaimana caranya agar aku bisa menghindar dari konfirmasi yang Andy layangkan? Bodoh!


“Oh itu…. haha….” Kucoba netralisasi keadaan dengan tertawa sambil otak mencari kalimat pengalihan yang sesuai. “Gue ngetes ingetan lu aja. Kita kan temenan udah lama ya. Iya, udah lama banget. Haha…. Masa iya gue lupa sama sohib terbaik gue.” Aku menepuk pundak Andy.


“Lu sebenarnya siapa?” Tatapan Andy tidak berubah sedikit pun. Ia bahkan tidak terpancing ajakanku untuk tertawa.


Aku salah menerka. Aku kira Andy bukanlah seorang observer. Ternyata, dia paling teliti dibanding yang lain.


“Gu… gue? Ya…. ya…. gue Bagas lah. Masa lu nggak ngenalin gue. Lu amnesia, Dy? Haha….”


Aku terus mencoba untuk mengalihkan kecurigaan Andy. Namun, dia justru semakin menelitiku. Dia menelaah penampilanku dari kaki hingga kepala dengan saksama.


“Lu bisa menipu orang lain, tetapi tidak sama gue. Gue kenal lu udah lama. Lu nggak bisa berpura-pura di depan gue.”


Kata-kata yang dilontarkan Andy membuatku dilanda kecemasan. Tenang! Aku harus tetap tenang!


“Aa… apa sih lu, Dy? Ya…. yang aneh itu lu.” Aku dorong wajahnya yang terus membayangi wajahku. “Lu lihatin gue gini amat sih, Dy? Gue jadi serem deh sama lu.”


“Gue lagi mastiin lu Bagas atau bukan.”

__ADS_1


Dia kembali melihatku dengan tatapan yang membuatku bergidik ngeri. Aku belum siap jika identitasku terbongkar secepat ini.


“Ya… ya… ini gue lah, Bagaskara Permana. Udah sih jangan lihatin gue dengan tatapan kayak gini terus. Emang lu pikir gue siapa?”


“Kayaknya gue tahu siapa lu?”


Aku bangkit dari sofa, lalu berjalan mendekati jendela. Andy mengobarkan kepanikan dalam pikiran. Jangan-jangan Ardi cerita kepada Andy tentang pertukaran tubuh ini. Kurang ajar jika itu benar Ardi lakukan.


Hal tersebut sangat mungkin terjadi. Kemarin, Andy mengatakan menemui Ardi di kostnya untuk mengambil flashdisk. Bisa jadi itu hanya alibi. Ardi mungkin memberi kode kepada Andy mengenai rahasia ini.


Tudinganku sangat beralasan. Selama ini tidak ada satu pun personel 4 Panglima mau berbicara kepada Ardi. Bahkan, mereka tidak pernah menganggap Ardi ada.


Ardi! Dia yang mengajak bertukar tubuh, dia pula yang membocorkan rahasia. Memang tidak ada kesepakatan apa pun di awal, tetapi aku akan memberinya pelajaran setelah ini.


“Maksud lu dari tadi apa sih, Dy? Lu nggak jelas banget.”


“Lu sebenarnya….”


Andy mengampiriku. Jantungku berdegup kencang.


“Nggak jelas lu. Mending gue mandi.”


Saat langkah mampu menemukan arah untuk menyudahi perbincangan, Andy menarik lengan kananku dengan kencang.


“Lu sebenarnya Dewa Cinta yang masuk ke tubuh sahabat gue, Bagas, kan? Ngaku lu?”


“Nggak lucu, Dy,” keluhku sembari menghela nafas lega.


Andy tertawa tanpa henti. “Lu kenapa sih? Muka lu tegang banget. Gini ternyata orang yang lagi jatuh cinta ya. Gampang banget buat dikerjain. Haha….”


Huh! Jadi, Andy cuma mengerjai aku. Padahal, aku sudah khawatir setengah mati.


“Apaan sih lu, Dy? Bercanda lu nggak lucu. Gue pikir lu kesambet.”


Andy! Aku nyaris menceritakan jati diriku yang asli. Aku sempat merasa posisiku sudah terdesak sehingga tidak bisa mengelak. Rupanya, dia hanya mengajakku naik roller coaster.


“Sejak kapan lu suka sama Mutia?”


Andy berhenti ketawa.


“Hampir aja gue tinju muka lu.”


“Maaf, Gas. Seru juga ternyata ngerjain lu. Terus sejak kapan lu suka sama Mutia?”


“Entahlah,” responku ketus.


“Lu mau main rahasia-rahasiaan sama gue?”


Benar. Jika aku tidak menjawab pertanyaan Andy, akan tercipta kesan bahwa kami bukan teman dekat.


“Sejak…” Aku tidak boleh mengatakan sejak SMA. Nanti dia bisa menginterogasiku lagi. “Em… sejak beberapa minggu ini.”


Andy mengangguk-anggukan kepala. “Pantes gue perhatian ada yang berbeda dari lu. Gue emang yakin sikap lu yang belakangan ini agak aneh, karena lu lagi jatuh cinta sama seseorang. Tebakan gue pun ternyata benar.”


“Kenapa lu bisa tahu gue suka sama Mutia?”


Suasana menjadi lebih santai. Percakapan layaknya sesi curahan hati.


“Gue udah kenal lu luar dalem, Gas. Pas kemarin tiba-tiba lu bilang mau jemput gue, terus lu ngasih obat dan kue ke Mutia, gue udah tahu ada maksud terselubung. Kalau bukan karena lu suka sama dia, terus karena apa?”


Lain kali, aku akan bersikap jauh lebih tenang menghadapi Andy dan teman-teman yang lain. Aku tidak perlu panik jika mereka berkata aku berbeda. Seperti Andi, nyatanya, dia hanya sedang melemparkan prank kepadaku.


“Lu benar. Tapi, gue nggak tahu Mutia suka sama gue atau nggak.”

__ADS_1


“Lu udah nyatain perasaan lu ke dia?”


“Belum. Gue pengennya semua berjalan dulu aja sampai gue tahu dia punya rasa yang sama atau nggak sama gue.”


“Memang ya, playboy itu justru bisa bertekuk lutut kepada cewek yang pendiem dan misterius. Cewek yang ketika cewek lain lihat lu histeris, dia biasa aja. Ah, udah kayak drama aja sih lu, Gas,” papar Andy. Dia tampak memahami yang tengah aku rasakan.


“Udah, udah. Pokoknya lu jangan cerita soal ini kepada siapa pun, termasuk Leo, Tommy, dan Revan.”


“Siap, Tuan Muda!”


Ketakutanku menghilang. Kecemasanku mereda. Kami pun lekas berangkat ke kampus untuk mengikuti perkuliahan siang.


Begitu hendak turun dari mobil, kulihat ada dua perempuan dengan karater yang bertolak belakang. Betul, Mutia dan Dita.


Bagaimana ini? Kesempatan untuk menghampiri Mutia ada di depan mata. Namun, Dita berjalan mendekat.


“Dy, tolong lu halau Dita dulu ya,” pintaku. Ini saatnya aku mulai memanfaatkan teman.


“Gimana caranya, Gas?”


“Terserah lu! Pokoknya lu harus bisa halangi dia soalnya gue mau samperin Mutia.”


“Tapi, Gas.” Andy memasang raut bingung. “Gue nggak pengalaman ngobrol sama cewek di luar ngomongin soal pelajaran.”


“Ya, itu bagus. Lu ajak dia diskusi atau kasih dia les Bahasa Inggris atau apalah. Yang penting dia nggak gangguin gue dulu hari ini.”


Dita sudah semakin mendekat ke mobilkku. Aku mendorong Andy untuk segera keluar.


“Ayo cepet keluar!”


Andy menghadang langkah Dita. Begitu pandangan Dita terhalang, aku pun segera keluar dan berlari mengejar Mutia.


“Mut…. Mutia…. Tunggu, Mut!” seruku setelah berjarak hanya sekira 2 meter dengannya. “Aku mau ngomong sesuatu sama kamu, Mut. Please, kasih aku kesempatan buat ngejelasin semuanya sama kamu!”


Mutia tidak mau menghentikan langkahnya. Ia tetap melaju ke depan seakan tidak mendengar perkataanku.


Dengan cepat aku memposisikan diri di depannya. “Mut, tolong dengerin aku dulu!”


“Ada apa sih, Gas?” Bak sudah terpojok, Mutia mau juga memberikan respon.


“Kenapa sih kamu dari kemarin menghindar terus dari aku? Kasih aku kesempatan untuk ngejelasin semuanya ke kamu, Mut.”


“Ngejelasin apa sih, Gas? Aku nggak ngerti.”


“Soal kejadian kemarin. Aku sama Dita tuh nggak ada hubungan apa-apa.”


“Terus hubungannya sama aku apa?”


Mutia tidak seperti biasanya. Dia tidak sedikit pun mengembangkan bibir, memberikan senyuman.


“Terus kenapa kamu menghindar dari aku?”


“Udahlah, Gas. Lima menit lagi kelas mau dimulai.”


Sikap Mutia benar-benar berubah kepadaku. Sementara itu, aku juga tidak bisa mengambil kesimpulan dia cemburu kepada Dita. Namun jika ada hal yang mendasari perubahan sikapnya, apa itu? Sulit untuk mempredisikan arti kediamannya.


Hah! Apa? Mutia cemburu kepada Dita? Sementara selama ini hanya Mutia yang tampak tidak terpesona dengan kesempurnaan Bagas.


“Met, Di, tungguin dong!” Mutia melambaikan tangan kepada Metha dan Ardi.


Dia berjalan meninggalkanku dengan menyisakan teka-teki. Aku tak bisa mencegah kepergiannya. Hanya saja, mengapa nama Ardi ikut dikumandangkan juga oleh Mutia? Metha dan Ardi tidak berjalan bersama. Mereka memang berada dalam satu garis, tetapi cukup berjarak.


Ardi! Dia semakin membuatku jengkel.

__ADS_1


__ADS_2