
Aku bisa mendatangkan ribuan kupu-kupu cantik dengan pesonaku yang sekarang. Namun, cinta pertamaku yaitu Mutia. Aku tidak bisa begitu saja memalingkan hati saat pelayaran akan berlabuh di dermaga.
“Mut…. Mutia…. Kamu dengar aku, kan?”
Aku terus berdiri di depan kost Mutia. Aku tidak akan berhenti hingga dia mau menemui.
“Gas, udah yuk. Kita pulang aja! Besok juga kan lu bakal ketemu Mutia lagi,” ajak Andy.
“Nanti, Dy. Gue nggak bisa nyimpen masalah ini sampe besok.”
“Emang ada masalah apa sih, Gas?”
“Ini sebenarnya gara-gara Dita. Tapi sepertinya gue kena imbasnya juga.”
“Oh.”
Aku lihat gagang pintu bergerak. Akhirnya, Mutia mau menemuiku juga. Pikirku lega.
Segera kususun ulang permintaan maaf yang akan disampaikan. Aku harus bisa membuatnya percaya jika Dita hanya sebatas penggemar fanatikku saja.
“Mutia,” panggilku memastikan.
Sayangnya, sosok yang muncul dari balik pintu bukan Mutia.
“Hai, Gas,” sapa Metha.
“Hai, Met. Di mana Mutia?”
“Mutia sedang tidak enak badan katanya.”
“Mutia sakit?”
“Iya. Dia bilang sih tiba-tiba kepalanya pusing. Jadi, dia pengen tiduran dulu.”
“Bukan karena dia nggak mau nemuin aku, kan?”
“Bukan, Gas. Masuk yuk! Aku aja yang nemenin kamu. Seharian juga nggak apa-apa. Tadi aku tuh lagi di kamar mandi pas kamu panggil-panggil Mutia.”
Ini memang kesempatan untuk menunggu Mutia. Namun, aku sedang tidak bergairah untuk berbincang dengan Metha.
Apa kucoba pancing Mutia dengan perhatian? Itu sepertinya ide yang paling relevan untuk saat ini.
“Nanti aku balik ke sini lagi aja ya, Met.”
“Jam berapa?”
“Setengah jam lagi deh.”
“Bener ya, Gas? Aku akan tunggu kamu di teras.”
“Iya.”
Aku berpikir untuk membelikan Mutia obat dan makanan. Tetapi, di mana Andy? Dia tadi berdiri di sini. Sekarang malah menghilang. Ya sudahlah, aku tinggalkan saja dia. Lagi pula, aku akan balik lagi ke sini.
“Gas, lu mau ke mana? Kok ninggalin gue gitu aja,” teriak Andy ketika aku membuka pintu mobil.
“Lu sendiri dari mana ngilang gitu aja?”
“Gu…. gu ….gue dari kost Ardi tadi.”
Aku menatapnya sinis. “Ngapain lu ke sana?”
“Itu…. apa…. flashdisk gue kebawa sama dia tadi.”
Mengapa Andi seperti gugup? Apa dia takut aku akan memarahinya karena dia pergi ke kost Ardi? Ah, aku tidak punya waktu memikirkan hal tersebut.
Aku mampir ke apotek. Setelah itu ke toko kue membeli brownies dan donat. Cokelat dan makanan manis bisa memulihkan mood. Asupannya bisa membuat otak melepaskan hormon serotonin yang bisa memberikan efek menyenangkan.
Tak butuh waktu lama, aku pun segera kembali ke kost Mutia. Andy yang terus bertanya mengenai sikapku yang mendadak perhatian kepada Mutia, kuabaikan begitu saja.
Dari balik kaca mobil, kulihat Mutia berdiri di depan gerbang kostnya. Dia tampak berbincang dengan seseorang.
Ardi. Ya, itu jelas Ardi. Mengapa Mutia mau menemui Ardi sementara tidak denganku? Cemburu membara, membakar hatiku.
Aku berusaha cepat-cepat untuk turun dari mobil. Namun, ada saja gangguan lain yang datang. Sebuah motor menutup akses parkir mobilku.
__ADS_1
Aku pun meminta Andi turun untuk memindahkan motor tersebut. Mataku fokus memerhatikan Mutia dan Ardi. Apa yang sebenarnya mereka bicarakan?
Mutia langsung masuk ke dalam begitu menyadari kedatanganku kembali. Dia benar-benar tampak tak mau bertemu denganku.
“Lu sama Mutia ngobrolin apa tadi?” Aku mencegat Ardi yang juga mau pulang ke kostnya.
“Kenapa emangnya?” Ardi malah balik bertanya.
“Kenapa lu bisa dekat dengan Mutia?”
“Kita kan teman satu kelas. Emangnya ada masalah apa, Gas?”
Sikap Ardi membuatku kesal. Dia pura-pura tidak mengerti maksudku. Padahal, dia tahu jika aku menyukai Mutia sejak SMA. Apa dia dia punya niat untuk melakukan sabotase?
“Lu tahu bahwa kita sudah….” Ah, aku tidak bisa melanjutkan kalimatku. Ada Andy yang sedari tadi terlihat mengamati.
Aku tinggalkan saja Ardi. Sulit rasanya menahan emosi melihat sorot matanya yang seakan menantangku. Dasar si Tukang Pencitraan!
“Met, Mutianya sudah masuk lagi ya ke dalam?” Aku langsung bertanya kepada Metha.
“Iya, Gas.”
“Tadi Ardi ke sini ngapain ya?” tanyaku lagi untuk menjawab rasa penasaran.
“Ardi tadi ke sini bawain Paracetamol sama roti buat Mutia.”
“Oh! Hanya itu aja, Met?”
“Iya, Gas”
“Em…. Aku juga bawain obat dan kue buat Mutia. Juga ada buat kamu, Met.”
“Seriusan?” Metha terlihat senang.
“Iya. Dihabisin ya!”
“Pasti. Kalau perlu aku makan bungkusnya juga hingga tidak tersisa.”
“Nggak harus seperti itu juga, Met.”
Metha merupakan teman dekat Mutia dari OSPEK. Semua perempuan pasti menyukai Bagas. Aku akan jadikan Metha perekat dalam upayaku mengejar cinta Mutia.
Semula, aku berencana mengobrol dengan Metha untuk memancing kehadiran Mutia. Akan tetapi, saat ini, menemui Ardi lebih penting. Aku tidak mau terlalu banyak penghalang dalam perjalanan asmaraku.
“Em…. Lain kali aja ya, Met. Sampaikan maafku saja kepada Mutia ya?”
“Maaf kenapa, Gas?”
“Dia pasti mengerti.”
Metha mengangguk. Matanya terus berbinar-binar menatapku. Terlebih saat aku berikan dia perhatian kecil juga.
Ardi! Awas saja jika dia juga memiliki perasaan kepada Mutia!
“Dy, tunggu di mobil ya!” Perintahku kepada Andy. Aku tidak mungkin mengajaknya ke kost Ardi juga. Bahaya jika nanti dia mendengar percakapan kami. Ya, aku memang akan membahas mengenai pertukaran tubuh ini.
“Emang lu mau ke mana, Gas?”
“Ke kost Ardi.”
Andy mengikuti langkahku. Aku menarik nafas agar tidak terbawa emosi.
“Dy, tunggu di mobil aja ya!” tegasku dengan suara pelan.
“Iya, Gas.”
Dengan langkah cepat, aku menuju lorong hitamku di masa lalu. Aku sebenarnya tak pernah ingin kembali menapakkan kaki di tempat ini lagi. Terlalu memuakkan!
Tuk tuk tuk! Ardi tak juga membukakan pintu.
“Ardi!” Kuserukan namanya.
Dia juga tak menyahut. Padahal tadi jelas kulihat dia pulang ke kost. Apa dia sengaja tidak mau membukakan pintu?
Aku pun memutuskan membuka pintu tanpa menunggu konfirmasi. Bisa-bisanya dia berusaha menghindar dari masalah genting seperti ini.
__ADS_1
“Ardi!” sebutku dengan lantang.
Dia tampak terkejut melihatku ada di dalam kostnya.
“Oh, Tuan Muda. Ada apa keperluan apa Tuan Muda ke sini?” tanyanya dengan intonasi dan kata yang seolah meledek.
“Gue mau bicara penting sama lu!”
“Boleh. Tapi, mohon tunggu sebentar ya. Gue baru habis mandi. Gue jemur handuk dulu keluar.”
Selama tinggal di sini, aku tidak pernah menjemur handuk di luar saat sinar matahari masih memancar.
“Oh iya, sepatunya boleh dilepas ya. Maaf, Bagas itu walaupun dia tampan dan kaya raya, tetapi dia masih tahu etika,” sindirnya saat melewatiku.
Oke. Baiklah. Terima kasih telah mengingatkan. Kesahku dalam hati.
Tak lama Ardi kembali dengan pembawaan yang percaya diri. “Silakan cari tempat duduk yang nyaman! Hal penting apa yang ingin dibicarakan sama gue? Tentang pertukaran tubuh ini?”
“Kenapa lu bisa dekat dengan Mutia? Dan apa tujuan lu tiba-tiba mendekati Mutia?” Aku tidak bisa berbasa-basi lagi.
“Haha…” Ardi sedikit menyeringai menanggapi pertanyaanku. “Hal penting itu yang lu pengen tanyain ke gue? Gue kira ada yang jauh lebih penting. Ya, seperti lu memohon gimana caranya bisa bertukar tubuh lagi, karena lu tidak bisa beradaptasi dengan kemewahan.”
Memohon kembali ke tubuh yang ada di hadapanku ini? Kembali pada kehidupan suram? Itu tidak akan pernah terjadi. Justru dia yang nanti akan memohon dan mengemis di kakiku.
Mungkin dia sekarang tampak menikmati hidup yang serba menyedihkan di tempat ini. Namun, itu karena baru beberapa hari. Sudahlah! Aku tak perlu membahas hal tersebut untuk saat ini.
“Jawab aja pertanyaan gue! Gue lagi nggak pengen buang-buang waktu melihat lu berpura bahagia,” sindirku balik.
“Oke, oke. Gue bisa memahami.” Dia mengambil ponsel. “Maaf, gue bales dulu ya chat dari Mutia. Dia bilang terima kasih, karena roti yang gue bawakan katanya enak sekali.”
Mutia bilang terima kasih ke Ardi. Aku coba periksa di ponselku juga. Nahas, tidak ada pesan dari Mutia yang masuk.
Ardi menaruh ponselnya. “Maaf membuat lu menunggu. Gue nggak bisa membiarkan Mutia menunggu balasan dari gue terlalu lama.”
“Jangan terlalu banyak pembukaan!” Tampaknya dia sengaja memanas-manasiku.
“Oke. Kenapa gue bisa dekat dengan Mutia? Ada dua alasan. Pertama, gue dan Mutia ngekost berdekatan. Kami sering bertemu ketika sama-sama membeli sarapan di warung yang di pertigaan. Kedua, gue sama Mutia kan bukan baru kenal kemarin sore. Cuma memang kita jarang bertegur sapa. Nah, pertemuan demi pertemuan di pagi hari itu membuat kami jadi sering mengobrol. Ditambah, lu tahu kan gue sama Mutia satu kelompok buat ngerjain tugas mata kuliah Prosa I,” urainya.
Uraiannya membuatku makin panas hati. “Langsung pada jawaban pertanyaan gue yang kedua!”
“Ini gue kayak lagi presentasi. Gue minum dulu ya? Lu mau minum juga nggak?”
“Nggak.”
Setelah meneguk segelas air, Ardi kembali membuka mulut. “Tujuan gue tiba-tiba ngedeketin Mutia? Sepertinya pertanyaan ini sudah terjawab tadi. Gue sama sekali nggak tiba-tiba ngedeketin Mutia. Semua tercipta secara tidak sengaja.”
Tidak sengaja, katanya. Jelas ini semua disengaja.
“Gue nggak pernah beli sarapan ketika matahari sudah terbit.”
“Itu kan lu yang dulu, Gas.”
“Maksud lu?”
“Setelah gue pelajari kebiasaan lu dan gue tahu lu suka sama Mutia. Gue berusaha mewujudkan impian terpendam lu yaitu mengungkapkan perasaan lu kepada Mutia,” ungkapnya santai.
“Mewujudkannya? Apanya yang mewujudkannya? Sekarang gue udah bisa ngedeketin Mutia langsung?”
“Tapi, lu kan Bagas bukan Ardi lagi.”
“Apa lu suka sama Mutia juga? Apa lu cuma manfaatin tubuh gue?”
“Gue kan tadi bilang kalau gue cuma mau membantu lu. Mewujudkan harapan lu aja. Kalau lu tanya apa gue suka sama Mutia, gue jawab tidak. Dulu, tidak. Kalau sekarang, gue nggak tahu juga. Gue lihat-lihat Mutia cukup manis dan baik. Dia juga menarik dan cerdas.”
Aku menarik kerah kaos Ardi. “Apa sifat lu yang sebenarnya sepicik ini?” tatapku tajam.
“Picik? Ini kan peninggalan tubuh lu. Gue hanya menambahkan keberanian sedikit. Oh iya, Bagas tidak pernah kasar kepada siapa pun. Dia itu baik dan santun kepada semua orang. Pelajari dan adaptasi lagi yang baik ya.” Ardi menodorongku sedikit. Dia pun selalu bisa membalikkan kata-kataku.
Jika hanya Dita yang menjadi penghalang buatku mendekati Mutia, itu bukan masalah besar buatku. Namun apabila Ardi juga turut menjadi penghalang, aku harus benar-benar putar otak.
“Gue juga ingetin sama lu ya, yang suka sama Mutia itu gue. Lu jangan sok berbicara seolah gue minta bantuan lu buat menyatakan perasaan gue kepada Mutia.” Aku tebalkan kalimatku yang terakhir.
“Lihat aja nanti siapa yang akan Mutia pilih. Atau….” Ardi mengernyitkan dahinya, “Apa lu sebenarnya pengen kembali ke tubuh yang ini, tapi lu jaim untuk mengungkapkannya? Gue tawarin sekali lagi, lu mau tukeran tubuh lagi atau nggak?”
Aku bangkit, dan memilih untuk pergi saja. “Lebih baik lu siap-siap aja buat nikmatin kesengsaraan yang akan lu rasakan tidak lama lagi!” serapahku.
__ADS_1
Darahku mendidih. Aku pergi dengan mengepalkan tangan. Ingin rasanya kuluapkan amarah ini kepada Ardi. Namun, aku tidak boleh terjebak dalam emosi.
Tahan! Sekarang, aku sudah mengerti cara untuk mendekati Mutia. Aku bisa pegang Metha. Dia bisa jadi pionku. Selain itu, aku juga bisa gunakan Andy sebagai menteriku.