Inikah Rasanya?

Inikah Rasanya?
Chapter 8: Pendekatan


__ADS_3

Setiap tindakan yang dilakukan berasal dari pikiran. Jika pikiran mengaku tidak mampu, maka raga pun akan mengikuti.


Aku adalah Bagas. Bagas adalah aku. Lupakan masa lalu, dan biasakan diri dengan kehidupan baru. Aku tidak boleh lagi memanggil diriku dengan nama yang dulu.


Beberapa hari terakhir, aku fokus mengulik tentang jati diri ini. Aku baca rekam jejak kehidupan Bagas di ponsel, laptop, dan catatan lainnya. Sama halnya dengan yang Ardi lakukan.


Sayangnya, tak ada banyak informasi yang bisa kudapati. Maka dari itu, aku meneguhkan observasi sembari menjalani lakon dengan berhati-hati.


Salah satu upaya pengamatanku yaitu dengan diam terlebih dahulu. Ketika sekitar berkomentar tentang sikap yang berbeda dari Bagas, di situlah aku mencatat setiap detil yang mereka sampaikan.


Dulu, aku pun melakukan cara serupa untuk memahami sikap teman-teman sekelas. Namun, aku selalu terbentur dengan masalah penampilan. Ketika aku merasa paham cara untuk menyesuaikan diri dengan mereka, wajah justru mendegradasi rasa percaya. Kini, sekali lagi, masalah itu tidak akan pernah terjadi lagi.


Untuk keadaan di dalam rumah, aku sudah memahami sekitar 50 persen. Aku sudah hafal seluk beluk isi istana. Aku juga mengenali wajah-wajah asisten rumah tangga yang berjumlah 11 orang, supir dan ajudan yang berjumlah 5 orang, dan tukang kebun serta penjaga keamanan yang berjumlah 4 orang.


Fasilitas penunjang kehidupan yang aku terima pun membuat batin tercengang. Bayangkan saja, uang saku per hari yang aku terima setara biaya hidupku per bulan ditambah uang kost. Uang sebanyak itu jelas sulit untuk dihabiskan seorang diri dalam sehari. Andai kata dibelanjakan membeli Seblak dan Cilok bisa untuk mentraktir satu kampung.


Hah! Si Bodoh itu mungkin mencoba bereksperimen dengan kehidupan. Nyatanya, dia malah melakukan tindakan yang sebentar lagi akan dia sesali seumur hidup.


Sungguh ironis, apabila besok atau lusa dia ingin bertukar tubuh kembali, aku tidak akan pernah mengabulkannya. Lagi pula, dia yang menukar. Barang yang sudah dibeli tidak bisa direfund dengan alasan apa pun.


Haha! Aku tak sabar ingin melihat ekpresi dia memohon dan meraung.


“Tuan Muda, waktunya sarapan.”


Suara panggilan itu menghentikan rancangan skenario yang aku buat.


“Baik, Sus.”


Dengan wajah penuh senyum, aku berjalan menuju ruang makan. Separuh pemahamanku yang belum tercapai tentang rumah ini yaitu Mama dan Papa. Aku belum punya banyak kesempatan untuk mengenali mereka lebih dalam. Mereka sehari-hari begitu sibuk bekerja.


“Selamat pagi, Pah, Mah!” sapaku.


“Pagi, Sayang!” respon Mama.


Sementara Papa hanya menganggukan kepala. Beliau tak membalas karena tampak sedang mengunyah roti.


“Sayang, hari ini kamu tampak bahagia. Apa ada sesuatu yang bisa kamu share ke Mama?”


Mama seperti biasa, tuturnya penuh dengan kelembutan. Hati selalu merasa tentram kala mendengar kata yang beliau alunkan.


“Bagas bahagia bisa berada di tengah-tengah Mama dan Papa. Hidup selalu terasa sempurna setiap harinya”, ungkapku.


“Kamu paling bisa membuat kami bangga. Iya kan, Pah?”


“Iya.” Papa tampak fokus menyelesaikan sarapan terlebih dahulu.


Aku pun berusaha hidmat menikmati sajian yang tersedia.


Di rumah maupun di kost, menu sarapanku biasanya hanya gorengan. Di sini, ada roti, salad, buah-buahan, nasi goreng, susu, dan jus segar. Tidak mengherankan jika Bagas menjadi begitu tampan, cerdas, dan sehat. Asupannya saja penuh nutrisi dan kemewahan.


“Gas, siang nanti kamu nggak ada kuliah, kan?” tanya Papa usai kami selesai sarapan.


“Nggak ada, Pah.”


“Kamu ke kantor ya. Papa mau kamu mulai belajar untuk mengelola perusahaan.”


“Pah, biarkanlah Bagas fokus dengan kuliahnya dulu,” sela Mama.


“Iya, Mah. Papa paham soal itu. Tapi sebagai penerus pimpinan perusahaan, Bagas kan juga sudah harus mulai mengenal dan belajar sedikit demi sedikit mengenai bisnis,” terang Papa.


“Ya sudah. Kalau memang tujuannya untuk sebatas mengenali perusahaan, Mama setuju.”


“Sama satu lagi.” Papa memandangku. “Tahun depan kamu ambil kuliah Manajemen Bisnis ya.”


“Maksud Papa?” Mama tampak tidak setuju dengan permintaan Papa.

__ADS_1


Sementara itu, aku diam mengamati. Aku tak mau melakukan interupsi. Apa pun yang Papa minta akan aku lakukan. Bukankah nanti semuanya aku juga yang akan memiliki?! Ya, aku sang penerus tahta Permana Group.


“Papa dari awal kurang suka Bagas kuliah Sastra, Mah. Memangnya dia mau jadi sastrawan? Hidup di era sekarang tuh harus cermat memilih keilmuan yang prospektif untuk di masa depan,” tegas Papa.


“Kalau Bagas harus menjalani kuliah dual degree, dia pasti tidak punya waktu bersama teman-temannya.” Mama melakukan manuver jika hidup juga harus dinikmati.


“Jika ingin menjadi orang sukses, kita harus mau melepaskan kesenangan sesaat, Mah. Semua orang hebat di dunia juga seperti itu. Rela belajar siang malam, dan pandai mengatur pergaulan. Jangan terlena dengan aktivitas hanya menghabiskan waktu saja, tanpa adanya input positif buat kehidupan kita. Papa nggak bilang Bagas harus kuliah ganda. Dia bisa mulai lagi dari semester awal dengan program studi yang baru tersebut.”


“Tapi, Pah. Kita juga tidak boleh menekan anak sesuai dengan kemauan kita. Kita harus memberikan dia juga keleluasaan dalam menentukan garis hidupnya. Kita, sebagai orang tua, memang wajib mengarahkan anak pada hal-hal yang baik bagi dirinya. Namun, anak juga kan punya hak juga untuk menentukan pilihan langkahnya sendiri. Apalagi Bagas kan sekarang sudah mulai tumbuh dewasa. Dia pasti mengerti mana yang terbaik bagi dirinya. Dia juga pasti paham tentang mana yang baik dan tidak baik.” Mama tampak khawatir dengan kondisi psikologisku.


“Iya, Mah. Kita lanjut bahas ini nanti ya. Papa ada meeting pagi. Ini sepertinya sudah mau telat.” Papa beranjak dari kursi.


Mama mengangguk lesu. Beliau seakan tak rela jika aku kehilangan masa muda untuk bekerja. Padahal, aku sama sekali tidak masalah. Sebagai pemilik perusahaan kan tidak perlu terlalu pusing memikirkan hal-hal prosedural dan operasional bisnis. Ada bawahan dan anak buah yang bisa disuruh. Untuk apa merekrut mereka jika bukan untuk dipekerjakan? Mungkin terdengar sadis. Namun, bukankah rantai kehidupan memang demikan? Siapa yang berada di urutan paling atas, dia yang memiliki kuasa untuk mengatur “mangsa”.


Papa berlalu, aku pun pamit kepada Mama untuk pergi ke kampus.


Dulu, aku memilih kuliah di jurusan Sastra Inggris tanpa memikirkan peluang pekerjaan yang akan didapatkan di masa depan. Aku hanya mengikuti Mutia. Ya, aku selalu ingin dekat dengannya. Mencoba memperjuangkan cinta yang entah bisa tersampaikan atau tidak.


Aku sebenarnya ingin masuk di Fakultas Ekonomi, entah itu jurusan Akuntansi atau Manajemen. Namun begitu tahu Mutia menjatuhkan di Fakultas Ilmu dan Budaya, aku langsung berubah pikiran.


Lagi pula, terkadang di negeri ini, dunia kerja tidak selalu membutuhkan sosok yang pintar. Koneksi alias orang dalam masih jadi jalan pintas yang mampu menyingkirkan kualitas/ kualifikasi yang sebenarnya dibutuhkan.


Ah, aku kan sudah tidak perlu pusing memikirkan masa depan terkait pekerjaan. Jaminan hidupku sekarang sudah jelas. Hanya perlu menjaga agar pertukaran tubuh ini tidak terjadi lagi.


Kupacu mobil dengan kecepatan maksimum. Sesekali adrenalin perlu diuji untuk mengobarkan gairah hidup.


Turun dari mobil, aku awasi sekeliling. Tumben sekali Dita tidak tampak untuk menyambutku pagi ini. Mungkin dia sedang tidak ada kuliah. Sudahlah! Mengapa juga aku mengharapkan kehadirannya?!


Kaki melangkah, tetapi tiba-tiba mata mengejutkan batinku. Aku lihat Mutia berjalan dengan seseorang. Bukan Metha. Lantas, siapa orang itu? Bisa-bisanya ada pria lain yang mendekati Mutia.


Pria itu berjalan menyamping sehingga aku sulit mengenali. Hem, mau menjadi sainganku? Dia harus menyembah laut terlebih dahulu.


“Pagi, Mut!” sapaku


Namun, mengapa pria di samping Mutia malah menutup muka dengan cardigan. Dia juga mundur beberapa langkah dari aku dan Mutia.


“Itu siapa, Mut?” tanyaku pelan.


“Kamu nggak ngenalin dia siapa, Gas?”


Aku menarik cardigan pria itu.


“Hai, Gas!” sapanya dengan senyum satir.


“A…a….a…Ardi….” sebutku terbata. Aku cukup tercengang melihat penampilan barunya. Dia tampak jauh lebih rapi dari hari-hari di masa silam. Hari di mana Negara Api masih menyerang.


Akan tetapi, mengapa Mutia tampak akrab berjalan bersama Ardi?


Biarlah! Nanti aku selidiki seiring berjalannya waktu. Lebih baik aku tajamkan pandangan kepada Mutia saja.


“Kamu udah sarapan, Mut?”


“Udah, barusan sama Ardi.”


“Oh.” Aku semakin heran dengan jawaban Mutia. Apa aku tidak salah dengar? Sejak kapan mereka bisa menjadi dekat?


“Mut, aku duluan masuk ke kelas ya,” ujar Ardi. Dia juga berpamitan kepadaku, “Duluan ya, Gas!”


Mutia tampak ingin mengikuti langkah Ardi. Namun, aku segera menarik tangannya.


Wow, tangannya begitu halus! Bisakah waktu berhenti sejenak agar aku mengabadikan moment ini lebih lama?! Bisa menyentuh tangannya saja seperti tengah bermain bersamanya di atas awan.


“Maaf, Gas!” Mutia mengangkat tanganku.


“So…sorry, Mut. Aku nggak bermaksud…. Aku cuma….”

__ADS_1


“Cuma apa, Gas?”


“Nanti siang kita makan siang bareng yuk,” ajakku dalam rangka melakukan pendekatan.


“Nanti siang…. em….”


Mendadak Dita datang di waktu yang tidak diharapkan. Dia pun menyelinap di antara aku dan Mutia. Lalu, dengan sengaja menabrakkan badannya ke Mutia.


“Aw!” Mutia terjatuh.


Aku hendak menolong Mutia, tapi Dita menarik tanganku.


“Dia itu cuma cari perhatian, Gas,” ucap Dita. Dia juga menghalangi langkahku yang hendak membantu Mutia berdiri.


Aku coba julurkan tangan saja, meski terus dihalau oleh Dita. “Kamu nggak kenapa-kenapa kan, Mut?”


“Nggak apa-apa, Gas,” jawab Mutia. Dia terlihat sedikit kesulitan memposisikan diri seperti semula.


“Lebay! Masa kesenggol dikit aja jatuh. Kalau mau ala-ala Putri jangan di sini, maen FTV (film televisi) sekalian”, cibir Dita.


Mendengar suara Dita yang lantang dan ketus, Ardi berbalik badan. Ia kemudian lari menghampiri Mutia.


“Boleh aku bantu, Mut?” tanya Ardi.


Aku dibuat tidak dipercaya ketika Mutia mengulurkan tangan kanannya ke Ardi. Seolah ia meminta bantuan Ardi untuk memandu langkah.


“Terima kasih ya, Di,” ucap Mutia. Rautnya sangat jelas melukiskan kenyamanan saat tangannya bertautan dengan tangan Ardi.


Ada apa dengan Mutia dan Ardi? Apa selama beberapa hari ini aku kecolongan karena kurang memerhatikan mereka? Padahal, aku sedang berupaya semaksimal mungkin untuk mendalami peran sebagai Bagas.


Mutia dan Ardi pergi. Aku hanya bisa menatap pilu. Dita menyandera posisiku dengan terus menggenggam erat lenganku.


“Gas, itu si Kunyuk kan?” tanya Dita dengan sinis.


“Heem….”


“Tampilannya sih sedikit beda. Tapi, yang namanya sampah mau diolah jadi apa pun tetap saja sampah kan ya?!”


Terserah Dita mau berbicara apa pun. Aku sedang fokus mengidentifikasi penyebab kedekatan Mutia dan Ardi.


“Terus cewek yang sok imut itu siapa, Gas?”


Ingin rasanya aku memaki Dita karena mengatai Mutia. Namun, aku harus tetap menjadi image. Aku tidak boleh kelepasan atau terbawa amarah.


“Mutia.”


“Temen sekelas kamu juga, Gas?”


“Iya.”


“Kamu nggak naksir dia kan, Gas?”


Dita ternyata cukup peka membaca bahasa tubuhku.


“Dit, aku sudah harus masuk kelas nih. Aku duluan ya!”


“Em…. Ya sudah deh. Tapi nanti siang kita makan siang bareng ya. Mau kan, Gas?”


Aku mengangguk. Jika aku mengatakan tidak bisa, dia pasti akan terus menahanku. Perkara nanti siang, masih ada beberapa jam lagi untuk mencari alasan.


Hah! Aku berjalan ke ruang kelas dengan memaksa senyum. Ya, aku tidak boleh menunjukkan wajah kesal di hadapan teman-teman.


Mutia itu pujaan hatiku sejak SMA. Jika Ardi tiba-tiba ingin menjadi rivaluku, aku akan maladeninya dengan senang hati.


Perlahan tapi pasti, aku tak perlu terburu-buru dalam melakuan pendekatan. Selagi kesempurnaan dalam genggaman, tak perlu khawatir akan adanya penghalang.

__ADS_1


__ADS_2