
Hujan mengguyur Jakarta selama seharian ini. Dingin menerpa menambah kekakuanku untuk meminta izin kepada Papa dan Mama perihal pulang kampung. Ya, aku masih belum menemukan alasan yang sekiranya tak menimbulkan spekulasi dan interogasi.
Semalam si Kunyuk menyampaikan melalui chat WhatsApp bahwa aku dan Andy mendapat persetujuan dari Ayah untuk datang. Hal tersebut sudah sesuai dengan prediksiku. Ayah pasti gembira ketika tahu anaknya memiliki teman (akrab).
Dulu Ayah selalu berharap ada teman yang mau datang ke rumahku. Entah teman sekolah di Serang maupun teman sekolah dan kuliahku di Metropolitan.
Saat ini, Ayah dan Ibu mungkin tengah sibuk merapikan rumah dan mempersiapkan kamar. Kubayangkan wajah sumringah mereka walau semua hanyalah ilusi. Jika bukan aku mendapatkan keajaiban ini, anak mereka yang bernama Ardi akan masih terus mendekap mimpi memiliki teman.
Andy berseru di depan kamarku. Lamunan dan angan pun terpaksa aku jeda sementara waktu.
Kehadiran Andy bagian dari rencanaku. Aku hendak menjadikan dia umpan sekaligus penguat kepercayaan agar aku bisa mudik di pekan pertama libur semester ini.
“Mama sama Papa gue udah nungguin lu dari tadi,” ucapku berbohong.
“Nungguin gue? Ada apa emangnya? Bukannya lu yang nyuruh gue datang ke sini buat nemenin lu beli perlengkapan tenda?” tanya Andy keheranan.
Aku lekas seret Andy menghadap Mama dan Papa. “Kita beli perlengkapannya setelah gue mendapatkan izin.
“Izin?” Andy memaku kakinya ke lantai. “Maksudnya gue harus bantuin lu supaya dapet izin dari Mama dan Papa lu?
Aku mengangkat kedua alis.
"Oke. Nggak ada masalah. Tapi gue mau mastiin satu hal sama lu.”
Aku mengerti pernyataan yang akan Andy sodorkan. Namun, aku tak mau menjadi dukun dahulu. “Apa itu?”
“Jelaskan ke gue secara jujur, apa tujuan utama lu pengen ke rumah Ardi?” suaranya begitu tegas dan lugas.
Kucoba lemparkan tawa kecil guna menetralisasi situasi. “Huh! Gue ke sana karena pengen belajar tentang kehidupan Ardi. Sekaligus sebagai penebusan dosa atas ulah Tommy, Revan, dan Leo yang sempat mengerjai dia. Terus siapa tahu di kampung Ardi, gue bisa memberikan kontribusi positif,” paparku.
Andy tampak kurang percaya dengan pemaparanku. “Benar seperti itu? Lu nggak ada maksud lain, kan?”
“Apa di mata lu, gue ini sudah berubah menjadi seorang penjahat? Perlukah gue pakai tiara di atas kepala atau menjahit sayap di punggung?” tanyaku satir kepada Andy. Dia seperti wasit kehidupan yang mengaturku untuk menjadi malaikat.
Sudahlah! Aku malas terus menerus debat dengan Andy. Aku melangkah menuruni tangga menuju tempat Mama dan Papa berada. Andy pun mengikuti di belakangku.
Kulihat Mama dan Papa sedang bersantai di depan televisi. Sepertinya ini memang waktu yang sesuai untuk meminang restu kabur dari ibu kota.
__ADS_1
“Mah, Pah, lusa kan Bagas sudah masuk libur semester. Bolehkah Bagas berlibur ke rumah teman Bagas di Serang selama beberapa hari?” izinku dengan suara yang halus.
“Boleh, Sayang.” Mama tersenyum ramah kepadaku. “Tapi kamu perginya sama siapa aja?”
“Cuma sama An…”
Papa memotong ucapanku. “Berapa lama kamu di sana? Terus di sana ngapain aja? Cuma main-main doang, kan? Lebih baik liburan semester ini kamu manfaatkan untuk menebus dosa kamu bulan lalu, dengan belajar mengenai bisnis lebih mendalam. Bantu Papa di kantor. Kalau performamu bagus, Papa bisa kasih kamu liburan ke mana pun. Mau keliling Indonesia, Asia, Eropa, atau Amerika juga boleh.”
Aku kira Papa sudah memaafkan dan melupakan kesalahanku. Ternyata, dia masih menggenggam erat kerugian perusahaan yang pernah aku ciptakan.
“Em…. Bagas di sana juga bukan hanya buat liburan kok, Pah. Kami di sana nantinya….” Aku tepuk punggung Andy secara pelan agar dia turut bersuara.
Andy menyejajarkan posisinya denganku. “Iya, Om. Rencananya kami mau mengadakan bakti sosial juga di kampung teman yang akan kami kunjungi itu. Terus ke depannya mungkin bisa jadi model buat kami membangun sebuah gerakan sosial berbasis komunitas atau kemasyarakatan.”
Aku melongo menatap Andy. Tak kusangka dia pandai mengarang.
“Wah, bagus tuh,” respon Mama dengan antusias. “Siapa yang punya ide tersebut, Dy?”
“Bagas, Tante.”
Padahal, aku sendiri tidak tahu Andy akan menopangku dengan pernyataannya yang brilliant.
Jika Mama sudah mengeluarkan kata-kata bijaknya, aku yakin Papa tidak akan bilang tidak.
Papa hening beberapa detik. Aku tak henti tunjukkan ekspresi penuh harap.
“Oke. Papa izinkan, tapi tidak lebih dari seminggu,” tegas Papa.
“Terima kasih banyak, Mah, Pah,” ucapku sembari mencium telapak tangan Mama dan Papa.
Waktu seminggu sudah lebih dari cukup. Lagi pula, terlalu lama bercengkrama dengan Ayah dan Ibu berpotensi membuatku rindu di kemudian hari.
***
Hari keberangkatan menuju Kota Santri tiba. Berbagai perlengkapan dan kebutuhan makanan sudah tertata rapi di mobil.
Aku sudah tidak sabar ingin melihat penampakan kampungku yang terbaru, meski mungkin tak banyak berubah. Berbagai kata-kata perkenalan pun sudah aku semayamkan di otak dari semalam.
__ADS_1
Namun, aku masih harus menjemput Ardi di depan kampus. Tak masalah. Tidak mungkin juga dia memercik keributan di depan Andy.
Beberapa meter sebelum titik Ardi menunggu, kulihat dia tidak seorang diri. Ada tiga perempuan yang penampakannya sangat tidak asing di mataku. Ya, Mutia, Dita, dan Metha.
Akan tetapi, mengapa ada Mutia, Dita, dan Metha bersama Ardi? Bahkan, ada dua koper yang berdiri di antara mereka.
Aku bisa memaklumi keberadaan Mutia. Mungkin Ardi mengajaknya turut serta, karena Mutia hendak pulang kampung juga.
Lantas, bagaimana dengan Dita dan Metha? Aku sudah katakan ada kegiatan di luar kota ketika Dita kemarin memintaku menemaninya ke Bali.
Hah! Perasaanku mulai tidak enak. Aku turun dari mobil dengan semangat yang terkikis.
Benar saja. Dita menghampiriku. Dia pun merajuk, karena merasa telah dibohongi olehku.
“Bagas, My Babe, Kesayanganku, kok kamu nggak jujur sih kalau kegiatan kamu itu di kampung halamannya Ardi. Apa kamu sengaja mau kasih surprise buat aku? Untung aja Ardi ngasih tahu aku semalam. Ya, walaupun jadinya persiapan aku nggak maksimal sih,” ungkap Dita dengan nada manja sembari menggelendot di pundakku.
“Bentar ya, Dit. Aku mau ngomong sama Ardi sebentar.”
Kutarik Ardi menjauh dari perkumpulan mahasiswa yang seakan tengah bersiap untuk melalukan KKN atau berwisata. Si Kunyuk ini memang penuh muslihat.
“Kenapa bisa ada Dita dan Metha juga dalam trip ini?” tanyaku setengah berbisik kepada si Kunyuk. Aku menahan kesal dan volume suara. “Kalau cuma Mutia, gue bisa mengerti, Tapi tetap, lu tuh nggak bisa seenaknya memasukkan orang lain ke mobil gue tanpa izin.”
“Orang lain?” Si Kunyuk mengernyitkan dahi. “Dita kan pacar lu. Terus Metha kan sahabat Mutia. Gue justru bantuin lu buat mempersatukan mereka seperti sebelum lu menebar cinta kepada mereka. Siapa tahu mereka bisa akrab di acara bakti sosial ini. Dan lagi, gue udah chat juga sama lu kalau gue bakal bawa 3 orang teman. Lu pun bilang setuju. Coba deh lu cek lagi history percakapan kita di hape lu,” terangnya penuh sindirian.
Aku pun segera merogoh ponselku di saku celana. Kususuri pesan antara aku dan dia.
Brengsek!
Aku tidak teliti dalam membaca. Saking aku malasnya berkomunikasi dengan dia lewat media apa pun, aku hanya membalas pesan yang sekiranya penting buatku. Tak disangka, dia mengartikan satu jawabanku untuk semua pertanyaannya.
“Benar kan gue ada minta izin buat bawa teman sama lu?” kernyihnya.
Sudahlah! Aku tidak punya alasan kuat untuk tidak mengangkut Dita dan Metha, karena mereka sudah ada di depan mataku. Barang-barang mereka pun telah dimasukkan ke bagasi belakang mobilku oleh Andy.
Namun jika tahu begini, aku akan memilih mengajak Tommy, Revan, dan Leo. Mereka lebih bisa diandalkan dan tak perlu dijaga.
Aku stabilkan emosi sembari memagang setir, dan bersiap menginjak gas. Tiba-tiba, Dita ingin pindah tempat duduk ke depan menggantikan Andy. Sesuai dugaanku, belum mengarah pada jalan yang dituju saja, kekacauan mulai timbul satu per satu.
__ADS_1
Si Kunyuk memang biadab! Padahal, aku tidak punya sedikit pun niatan jahat terhadapnya.
Sabar! Ya, aku dipaksa sabar. Keterlibatan Dita dan Metha dalam liburanku ini memang sepertinya sudah diatur oleh si Kunyuk. Dia berupaya membuat aku tidak nyaman dalam menuai rindu kepada Ayah dan Ibu.