
Salah satu hal yang paling menyebalkan buatku yaitu menahan sabar. Terbiasa menggenggam rasa tersebut bukan berarti mempunyai kemampuan mengelola emosi secara baik. Selama ini, aku hanya berjuang menghindari konflik.
Keberadaan si Kunyuk saja sudah membuat aku harus menutup mata. Ditambah ada Mutia, Dita, dan Metha, juga posisi duduk mereka yang seperti sudah diatur tanpa persetujuanku, semakin membakar kesabaranku.
Ardi dan Mutia di kursi belakang. Andy dan Metha di tengah. Dita di depan mengganggu konsentrasiku. Aku bagai sopir yang ditemani penumpang genit. Lain kali, aku tidak akan melewatkan satu huruf pun pesan dari si Kunyuk.
Aku merasa ditipu oleh si Kunyuk. Kesabaranku sekarang setipis selembar tisu yang dibagi dua. Hingga suara tawa Mutia yang sayup-sayup menyasar telingaku terasa bagai jarum yang menusuk daging. Inginku tidak peduli, tetapi kesal menggantung di dada
Aku tepikan mobil menuju Rest Area KM 43 Tol Jakarta-Merak. Aku perlu mengeluarkan hawa panas di dalam mobil untuk sementara waktu.
Kuhela udara untuk memperlancar aliran darah. Amarah yang menyumbat otak harus segera dileburkan.
“Gas, terima kasih ya sudah bersedia memberikan aku tumpangan,” ujar Mutia menghampiriku.
Dita dengan cepat memblokir posisi Mutia yang berhadapan lurus denganku. “Iya, sama-sama. Kebetulan aja searah. Tapi kalau kamu mau turun di sini dan melanjutkan dengan transportasi umum, boleh kok,” responnya sinis. Dia melontarkan kalimat yang buat aku sendiri terdengar sangat tidak pantas.
Walaupun aku tahu status pacaranku dengan Dita merupakan pura-pura semata, namun aku semakin berpikir untuk menyakitinya lebih dalam. Terbayang jika aku benar-benar menjadi pasangannya, hidupku akan dipenuhi dengan perjuangan melawan amarah. Ucapannya yang kerap merendahkan orang lain tak berubah sedikit pun.
“Benar begitu, Gas?” Mutia memandangku.
“Sebentar lagi malam. Lebih baik kita isi perut dulu, karena perjalanan masih setengahnya,” tegasku. Semoga Mutia mengerti maksudku. Aku tidak boleh terkesan membela Mutia. Namun, dalam lubuk hati terdalam, aku sangat tidak sudi membela Dita.
Oh, sandiwara! Kapankah bisa aku akhiri?!
Usai makan, aku berjalan sebentara untuk melihat langit saja. Aku berdiri di samping kedai kopi Starb*cks.
Kenangan tahun lalu pun menyeruak di kepala. Ayah dan Ibu pernah bertanya mengenai rasa kopi yang satu cangkirnya setara uang harian dapur kami.
Kukembangkan senyuman. Ini kesempatan yang baik untuk membasuh rasa penasaran mereka. Beberapa cup kopi, pastry, dan kue bisa menjadi oleh-oleh spesial untuk Ayah dan Ibu.
Stok kesabaranku sudah terisi ulang secara tidak sengaja. Setidaknya, cukup untuk melanjutkan perjalanan sampai tempat tujuan.
Aku minta Andy menggantikanku menyetir. Hanya itu cara satu-satunya agar Dita tidak bermanja-manja terus denganku. Aku muak mendengar panggilan sayangnya yang alay.
Ya, memang aku bisa manfaatkan kemesraan yang Dita tuangkan untuk membuat Mutia cemburu. Namun, aku pasti kalah karena si Kunyuk bisa menyerangku balik. Sekarang saja, aku ingin memisahkan tempat duduk mereka.
“Babe, kamu pasti lelah ya nyetir terus dari tadi? Gimana kalau kamu duduk di tengah sama aku. Nanti aku pijitin ya.” Dita mehanan tanganku untuk membuka pintu mobil. “Biar Ardi ke depan, terus Metha pindah ke belakang bareng Mutia,” sarannya.
“I… iya, aku mau. Coba aja kalau aku bisa nyetir, biar aku yang mengemudi dari Jakarta sampe rumahku. Maaf ya Gas telah merepotkan,” ucap si Kunyuk menimpali saran dari Dita.
__ADS_1
Aku tetap membuka pintu depan. Lebih baik aku tidur dan menganggap mereka tidak ada.
“Aku nggak bisa duduk selain di depan,” jelasku.
Ini kali pertama aku mengalami beratnya perjalanan untuk bertemu Ayah dan Ibu. Bahkan, setiap menit terasa cukup menyiksa pikiran.
Sudahlah! Semoga tidur bisa merelaksasi setiap kesah yang membuat sarafku kencang.
Langit dalam kondisi gelap sempurna ketika aku terbangun karena merasakan laju mobil sedikit tersendat. Kulihat suasana sekitar. Aku sangat hafal tempat ini, Pasar Begog. Itu artinya hanya tinggal beberapa menit lagi aku bisa bertemu dengan Ayah dan Ibu.
Kemudian, aku menoleh ke belakang untuk meninjau keberadaan Mutia. Ternyata dia sudah turun.
“Mutia nggak dianter sampe rumahnya, Dy?” tanyaku kepada Andy.
“Nggak, Gas. Tadi dia minta turun di depan minimarket Kragilan. Dia dijemput sama ayahnya di situ,” terang Andy.
“Oh.” Aku merasa lega. “Di perempatan sana ambil kanan ya, Dy - perempatan yang kedua. Dari situ lurus terus, masih agak jauh, sekitar 800 meter,” ucapku memberikan Andy arah jalan.
Andy melongo menatapku. Lantas, aku tersadar bahwa instruksiku yang membuat lukisan wajahnya menjadi heran.
“Kok kamu bisa tahu sih rumah Ardi, Gas? Apa sebelumnya kamu pernah main ke rumahnya?” Dita yang justru bertanya dengan nada curiga.
Benar. Seharusnya aku fokus saja memulihkan kesaadaranku pascatidur.
“I…. iya, benar. Gue kagum sama lu, Gas. Sekali baca peta langsung hafal kayak orang yang udah nggak asing sama tempat ini,” ucap si Kunyuk menggali kelengahanku. Pujiannya sarat akan pancingan emosi.
Dia benar-benar bedebah, bagai tak bisa setia dan rela dengan keputusannya memberiku Mutiara Pengubah Nasib.
Andy pun terlihat seperti ingin mengajukan pertanyaan juga. Pandangannya sesekali ke sebelah kiri. Rautnya wajahnya seolah kurang yakin dengan alibi yang aku sodorkan.
Aku lantas membuka ponselku. Aku kabari Mama melalui sambungan telepon bahwa aku sudah tiba di tempat tujuan.
Untung saja, aku memiliki refleks dan respon pikiran yang sangat baik. Jika tidak, ucapanku yang gelagapan bisa menimbulkan reaksi skeptis Andy.
Terpikirkan olehku berbagi rahasia dengan Andy. Akan tetapi, ketakutan terbesarku, yaitu dia menjauh dariku. Pun, aku merasa pengakuan kepada orang lain bak menjadi sebuah pantangan terbesar dalam misteri pertukaran tubuh ini.
Terbukti, si Kunyuk acapkali menghidupkan kecurigaan ketika ada banyak pasang mata berkumpul di sekitar kami.
Kecerdasanku mungkin bagai hembusan angin yang tak tampak di mata teman-teman. Namun, maaf, aku terbiasa menganalisis sikap dan perilaku seseorang.
__ADS_1
Hah!
Mobil berhenti di depan rumah sederhana yang setengah dindingnya terbuat dari anyaman bambu. Kerinduanku mencair tatkala melihat Ayah dan Ibu berdiri di depan pintu menyambut kedatangan kami. Tetangga sekitar pun ada yang keluar rumah untuk mengintip situasi.
“Ardi!” seru Ayah dan Ibu.
Hampir saja aku maju meraih tangan mereka.
“Yah, Bu, ini teman-teman kuliah Ardi.” Si Kunyuk mulai memperkenalkan kami satu per satu. “Ini Bagas, dia teman yang Ardi ceritain udah bantu benerin motor Ardi. Dia teman Ardi dari SMA. Kemudian, ini Andy, Metha, dan Dita.”
Ibu mengusap lenganku. “Nak Bagas bener teman Ardi? Anak orang kaya itu ya - yang banyak sekali bantu Ardi? Ibu mah nggak nyangka anak Ibu bisa punya temen kayak Nak Bagas. Mana baik banget mau berkunjung ke gubuk kumuh kami ini. Ditambah, Nak Bagas ini ganteng banget kayak artis yang di TV,” ungkap Ibu dengan mata yang berkaca-kaca.
Aku paham perasaan Ibu. Beliau pasti tidak percaya anaknya mendapat kehormatan dikunjungi teman-teman borjuis.
“Ayo, masuk, Nak!” ajak Ayah. “Makan dulu, istirahat dulu. Pasti capek kan dari Jakarta ke sini. Ardi aja tiap pulang kampung, pas tiba di rumah langsung tidur. Tapi mohon maaf ya Adek-Adek semuanya, kondisi rumah kami seperti ini. Mohon dimaklumi, dan semoga betah di sini.”
Terkadang kenyamanan rumah bukan tentang bentuk bangunan dan isinya, melainkan kehangatan para penghuninya.
“Kami justru berterima kasih banyak Ayah dan Ibu mengizinkan kami berlibur di sini,” ucapku sembari menyodorkan oleh-oleh Starb*cks kepada Ayah.
“Apa ini, Nak?” Ayah membuka isi di dalam keranjang kertas. Wajah beliau tampak sedikit kaget. “Ini kan kopinya orang kaya yang mahal itu ya. Kami memang pernah nyeletuk kepengen ngerasain kopi-kopi orang kaya yang dijual seharga puluhan ribu ini. Terima kasih banyak ya, Nak!”
Aku tersenyum bangga. Ekspresi bahagia Ayah dan Ibu bergulir menyentuh relung hatiku. Mataku pun hanyut dalam haru. Namun, sebisa mungkin aku mengendalikan adegan ini agar tidak melibatkan aktor lain untuk masuk dalam percakapan.
Kondisi di dalam rumah tampak begitu rapi dan bersih seperti hendak menyambut Hari Raya. Tikar indah – yang sepertinya baru – melapisi lantai ubin merah yang usang. Di atasnya tersaji berbagai hidangan yang membuat liurku membuncah.
“Babe, apa di sekitar sini tidak ada hotel? Aku nggak yakin bisa tidur di sini. Mana banyak nyamuk lagi,” bisik Dita.
Aku abaikan keluhannya. Lagi pula, bukan aku yang mengajaknya. Jadi, aku harap dia bisa diam seperti Metha yang sepanjang perjalanan sangat mengirit suara.
Kusandarkan kepala di dinding sejenak. Kenangan masa kecil yang polos - belum mengenal beban hidup - melayang di depan mata.
Sejatinya, aku bisa menjalani hidup dalam kesederhanaan, tetapi tidak dengan ketidakadilan. Ketidakadilan sudut pandang orang-orang yang mendewakan penampilan dan kekayaan.
“Ayo, Nak Bagas, dan Adek-Adek semuanya makan dulu. Maaf ya seadanya,” ujar Ibu sembari menata piring.
Aroma bakaran Sate Bandeng pun menyapa ramah penciumanku. Perut yang sebenarnya masih cukup kenyang mendadak lapar.
Spontan aku menatap mesra si penggugah selera. “Sate Bandeng buatan Ibu memang yang terbaik,” ungkapku bernostalgia.
__ADS_1
Semua mata pun menembak ke arahku. Lalu, aku buru-buru mencuil satu sendok Sate Bandeng, dan memasukkannya ke mulut.
Bodoh! Semestinya aku mencicipi dulu, baru kemudian mengalunkan komentar.