Inikah Rasanya?

Inikah Rasanya?
Chapter 53: Pengakuan


__ADS_3

Mutia tidak hadir di hari perpisahan. Aku coba kirimkan dia pesan WhatsApp, tetapi tidak dibalas. Aku khawatir sesuatu terjadi kepadaku. Ah, semoga saja kekhawatiranku hanyalah titisan rindu – tak menjelma menjadi hal yang buruk.


Dita dan Metha minta diturunkan di Terminal Pakupatan. Metha ingin langsung pulang ke Bogor, dan Dita pun turut bersamanya.


Baguslah! Aku bisa menikmati perjalanan dengan tenang. Perihal mereka berdua tambah akrab, aku sedang tak tertarik untuk menelisik.


Usai menurunkan Duo Racun, aku meminta Andy menggantikanku mengemudi. Aku masih terbawa perasaan dengan perpisahan yang barusan terjadi. Wajah Ayah dan Ibu terukir jelas membayang di depan mataku.


“Gas, gue masih penasaran sama tujuan utama lu ke rumah Ardi?” tanya Andy menghidupkan obrolan.


Dia berkutat lagi pada pertanyaan sebelum berangkat. Padahal, aku sudah mengerahkan berbagai alasan. Dia memang tak mungkin dicuci otak.


Sebetulnya aku sedang malas membicarakan lagi pertanyaan Andy tersebut, tetapi seperti ada dorongan yang membuat firasatku tidak tenang. Bukan tentang jawaban terhadap rasa penasaran Andy. Ini tentang sebuah kejujuran yang begitu krusial.


“Dy…”


“Heem.”


Aku tegapkan posisi dudukku. “Lu percaya nggak kalau di dunia ini ada manusia yang bisa bertukar tubuh dengan orang lain?” tanyaku balik dengan nada berhati-hati.


“Maksudnya lu pengen tukar kehidupan dengan orang lain?” Andy bersenandung pendek. “Nggak usah ngada-ngada deh, Gas. Roh manusia hanya bisa terlepas kalau dia mati. Hidup ini bukan fiksi. Kalau manusia mampu bertukar tubuh, tidak akan ada yang namanya operasi plastik untuk mempercantik penampilan. Tidak akan ada juga kepenatan, karena keseharian bisa diganti-ganti sekehendak hati. Tinggal cari orang yang dalam kondisi yang sama dengan kita - ingin merasakan kehidupan yang berbeda. Betul, kan?" paparnya.


"Iya, gue paham. Cuma, bagaimana menurut lu atau pandangan lu terkait kemungkinan hal tersebut terjadi dalam kehidupan manusia?" Aku mempertegas pertanyaanku.


"Bersyukur dengan hidup yang kita punya sekarang merupakan cara ampuh untuk mengusir jenuh dalam kehidupan,” sambungnya.

__ADS_1


Aku atur tempo terlebih dahulu sembari memadupadankan pernyataannya.


Ternyata, kecurigaanku tentang dia keliru. Selama ini, aku pikir dia sedang menyelidiki identitasku sedikit demi sedikit.


Namun, aku sudah menyampaikan kalimat pembuka. Tanggung bila tidak diteruskan.


Besok merupakan hari ke-100 aku menjadi Bagas. Mimpi tentang kembali ke asal di hari tersebut terngiang-ngiang di benakku. Bagaimana jika hal tersebut benar-benar terjadi? Bukankah terkadang mimpi bisa juga sebagai sebuah pertanda masa depan? Ah, itu sangat mengerikan!


“Tapi bisa aja kan pertukaran tubuh terjadi, Dy. Mungkin orang yang mengalaminya aja tidak pernah bercerita kepada orang lain dikarenakan pantangan dari pertukaran tubuh itu sendiri. Di dunia ini kan banyak sekali misteri yang berjalan di luar nalar manusia. Mungkin juga baru sebagian kecilnya saja yang terungkap atau bisa divalidasi secara ilmiah.” Aku dengungkan paragraf pengantar sebelum pengakuan.


Apa? Pengakuan? Kucoba mendiskusikan lagi dengan nurani dan pikiran.


Ya, aku mantap dengan keputusanku. Jika besok ceritaku sebagai Bagas benar-benar usai, maka – setidaknya – aku punya seorang teman.


Akan tetapi, bagaimana seandainya pengakuanku yang mendukung ketakutanku menjadi realitas?


“Lu pernah bilang beberapa kali kalau sikap gue aneh," jelasku. Lalu, aku coba pancing lebih dalam logika berpikirnya. "Apakah waktu lu mengatakan itu sebenarnya lu berprasangka bahwa gue yang sekarang adalah orang lain?”


Andy tertawa. “Gas, lu ini kenapa sih? Kalau lu bosan menjadi tampan dan kaya, ya lu lari aja ke hutan. Lu tinggal di sana sebagai Tarzan, berteman dengan binatang-binatang. Beres, kan? Nggak perlu harus mengembangkan asumsi yang hanya ada dalam imajinasi. Em.... Tapi gue jadi tahu bahwa alasan lu ngajak nginep seminggu di rumah Ardi, yaitu lu pengen ngerasain kehidupan yang berbeda.”


Aku tatap tajam wajahnya. “Dy, jawab pertanyaan gue.”


Andy menepikan mobil sebelum masuk jalan bebas hambatan. Dia tampak berubah menjadi mode serius sesuai bahasa tubuh yang aku todongkan kepadanya.


“Gas, gue nggak tahu lu termakan film atau cerita apa. Tapi yang jelas begini….” Andy menepukkan tangan kanannya ke setir. “Gu bilang lu berubah, penekanannya pada sifat dan sikap lu yang bertentangan - dalam hal yang kurang baik. Maaf kalau gue terkesan mengatur hidup lu harus selalu menjadi diri lu yang lurus. Dalam hal ini, gue hanya berusaha menjalani peran gue sebagai sahabat lu. Seorang sahabat yang harus bisa menjadi alarm kebaikan bagi sahabatnya,” terang Andy.

__ADS_1


Aku sempat paranoid Andy sedang mengumpulkan bukti untuk mengungkap jati diriku. Rupanya, aku salah menduga.


Meskipun begitu, aku sudah telanjur membahas topik mengenai pertukaran tubuh. Dia mungkin akan sulit percaya, tetapi dia pasti akan tercengang jika aku jabarkan satu per satu fakta yang bersemayam ini.


Baiklah! Aku siap.


“Dy….” Satu tarikan nafas aku hela sesaat. Ini lebih mendebarkan daripada menyatakan cinta kepada Mutia kala itu. “Lu percaya nggak kalau gue sebenarnya adalah….”


Andy memenggal kalimatku. “Gas, sudahlah! Mending kita lanjutkan perjalanan aja biar cepat sampai Jakarta. Biar lu bisa cepat juga istirahat di kamar lu. Gue rasa pikiran lu sedang jenuh. Apa lu mau nyetok cemilan dulu buat di perjalanan?”


Aku menggelengkan kepala. “Gue izin tidur ya, Dy. Kalau lu ngerasa udah agak lelah, bangunin aja gue ya."


Tampak timingnyamemang kurang pas untuk menyampaikan sebuah pengakuan kepada satu-satunya orang yang aku percaya saat ini. Percuma memaksa dia untuk mengamini keajaiban yang aku alami ini ketika pemikirannya sudah mengindikasikan penolakan.


Aku pejamkan mata. Andy pun lanjut mengemudi sembari mengumandangkan semangat dengan kata-kata berirama.


***


Aku terus memerhatikan jarum jam yang berputar seakan melambat. Sekarang pukul 23.55 di hari Sabtu. Artinya, 5 menit lagi memasuki hari Minggu alias hari ke-100 kehidupan baruku.


Mataku sayu mengajak untuk tidur. Namun, batinku sangat khawatir sesuatu tak diinginkan terjadi ketika aku terbangun nanti.


Mimpi oh mimpi! Mengapa tiada letih menggoda hari-hariku?


Aku pergi ke dapur untuk menyeduh kopi. Pokoknya, aku harus melewati hari ini tanpa menutup mata. Sekuat apa pun kantuk menyerang, ‘kan kulawan dengan segala cara.

__ADS_1


Setelah membuat kopi, aku berjalan ke teras. Aku duduk sembari melihat angkasa tak berawan. Betapa cepatnya waktu berlalu. Semalam aku masih mengadu kisah dengan Ayah. Kini, segalanya menjadi sebuah kerinduan.


__ADS_2