Inikah Rasanya?

Inikah Rasanya?
Chapter 7: Otentitas


__ADS_3

Sehebat apa pun menjalani hidup dalam kesendirian, jenuh pasti melanda. Terlebih ketika lidah lancar berbicara, tetapi tak memiliki kawan bertukar kata. Ingin bercerita atau berdiskusi, tetapi tak memiliki ruang interaksi.


Hakikat manusia sebagai makhluk sosial sudah melekat dari lahir. Setiap orang membutuhkan orang lain dalam hidup. Membutuhkan bukan berarti menggantungkan nasib. Namun, lebih menjurus pada transaksi sosial. Seperti seorang pembeli dan penjual yang memiliki hubungan simbiosis mutualisme.


Sayangnya, dunia dipenuhi dengan strata. Hidup harus berlomba agar tidak ada di dasar tangga klasifikasi lapisan masyarakat. Ironisnya, terkadang persyaratan lomba lebih menguntungkan mereka yang berkuasa. Mungkinkah pagelaran yang dibuat hanya untuk flexing semata? Biarlah. Toh, sekarang aku sudah memiliki segalanya.


Hari pertama menjalani hidup sebagai Bagas sungguh menyenangkan. Memang, ada rasa lelah karena seharian aku mencari keberadaan Bagas.


Saat kutemui di kost, dia tidak ada. Aku cari di danau juga tidak ada. Semua pelosok yang biasa aku diami kala penat juga sudah disambangi. Hasilnya, dia tidak ada di mana pun. Sementara, motor yang biasa kupakai terparkir di kost. Aneh!


Ada banyak pertanyaan yang ingin aku ajukan kepadanya. Aku perlu mendalami karakter sebagai Bagas dengan natural secepatnya. Aku pun ingin memastikan keabsahan pertukaran tubuh ini. Apa ini hanya bersifat temporer atau justru permanen. Harapanku, tentu, aku ingin mendiami tubuh ini selamanya. Hidupku sudah cukup menderita tanpa teman dan pergaulan.


Lelah berkeliling, aku pulang ke rumah sebentar. Aku ingin beristirahat. Sore nanti Leo mengajak hangout di tempat biasa. Aku tidak tahu tempat biasa mereka berkumpul di mana. Lihat bagaimana nanti mood-ku saja.


Begitu menyentuh kamar, jarum jam membentuk sudut 90 derajat di antara angka 12 dan 3. Tidur satu jam sepertinya cukup untuk merelaksasi badan. Lagi pula, Leo tidak mengatakan jam berapa aku harus menemuinya. Dia hanya mengatakan sore. Sebelum langit gelap, berarti sore masih memanjang.


Kurentangkan kedua tangan. Oh, nyamannya! Ruangan yang wangi dengan kasur empuk. Ditambah sejuknya hembusan AC seakan berada di surga dunia. Mataku pun menutup perlahan.


Namun begitu tiba di gerbang alam mimpi, aku terperanjat. Aku lekas duduk dengan kebimbangan.


Tidak! Bagaimana jika tubuh ini bertukar ke asal ketika aku tidur? Aku tidak mau merasakan kebahagiaan ini sekejap mata.


Aku harus mencari Bagas lagi. Aku tidak boleh tidur sebelum ada kepastian tentang durasi pertukaran tubuh ini.


Aku tenangkan diri sebentar. Dalam 15 menit lagi aku akan keluar mencari Bagas lagi. Aku atur dulu peredaran oksigen di tubuh dengan melakukan peregangan. Tujuannya, agar menahan laju kantuk.


Huwaaahhh!!! Badanku rasanya lebih segar. Otot-otot yang sempat kencang kembali lentur. Sungguh nikmat yang tiada tara.


Sebentar! Sepertinya ada yang aneh. Iya, bisa-bisanya aku tertidur sebelum menemui Bagas. Hah???!!!


Aku kumpulkan kesadaran yang berterbangan dengan menggosok-gosok mata. Rasa takut jika tubuhku kembali menjadi Ardi membumbung ke angkasa. Tidak. Aku tidak mau itu terjadi.


Begitu pandangan sempurna, aku menatap seisi ruangan dengan saksama. Syukurlah! Aku masih di kamar Bagas.


Kemudian, aku berkaca untuk meneguhkan citra. Huh! Aku sudah ketakutan setengah mati. Untung saja, pertukaran tubuh ini bukan sekadar mencicipi rasa.


Aku lihat jam di ponsel Bagas, ternyata sudah pukul 03.00 dini hari. Rupanya, aku tertidur cukup lama.


Lapar kemudian memandu langkahku keluar. Aku segera menuju dapur untuk mencari makanan yang bisa dimakan.


“Tuan Muda cari apa?”


Seseorang bertanya tanpa memberikan pertanda. Aku terkejut hingga badan terasa lemas.


“Maaf, Tuan Muda. Saya tidak bermaksud membuat Tuan Muda kaget.”


“Oke, oke. Tidak apa, Bi,” ucapku seraya mengatur nafas.


“Tuan Muda lapar?”


“Iya. Ada mie instan nggak, Bi?”


“Mie instan?” tanyanya memastikan dengan wajah bingung. “Saya buatkan Spaghetti atau makanan yang saja ya, Tuan Muda. Atau Tuan Muda mau makanan yang lain? Apa pun yang Tuan Muda mau akan saya buatkan secepatnya.”


“Ya, sudah. Tolong buatkan saya makanan berat yang enak ya, Bi. Apa pun itu, terserah.”


“Baik.”


Dia undur dari hadapanku. Namun, tiba-tiba saja aku terpikir sesuatu.


“Bi, bagaimana kalau saya minta dibuatkan Nasi Goreng Kambing saja? Kambingnya ada, kan?”


“Ada, Tuan Muda. Untuk makanan pembuka dan penutupnya Tuan Muda mau apa?”

__ADS_1


“Nggak usah, Bi. Itu saja sudah cukup kenyang.”


Orang kaya terkadang sukar dipahami. Untuk makan saja harus ada semacam ritual upacara, pembuka, isi, dan penutup.


Sekitar 10 menit menunggu, pesananku tersaji di depan mata. Aroma rempah dan pembakaran kecap menyergap penciuman dengan syahdu. Ini pasti lezat.


Benar saja. Suapan pertama langsung membuat lidah bergoyang bak biduan. Sudah cukup lama aku menginginkan hidangan ini.


Selesai “sahur”, aku kembali ke kamar untuk tidur. Sungguh menyenangkan bisa menjalani peran sebagai pangeran.


Aku terbangun saat matahari kulihat di jendela mulai meninggi. Untungnya, hari ini hanya ada 1 mata kuliah di jam 1 siang.


Selesai mandi, aku tatap lemari pakaian cukup lama. Aku tidak mau nanti diledek lagi oleh Leo, karena penampilanku yang terlalu formal.


Aku coba mengingat-ingat penampilan Bagas sehari-hari. Baiklah, aku coba penampilan yang casual untuk hari ini. Untuk atasan aku pakai polo shirt putih dan beige bomber jacket. Sedangkan untuk bawahannya, aku pakai stonewashed jeans dan sneakers.


Meskipun aku tidak terlalu tahu tentang fashion, namun aku masih mengerti sedikit mengenai jenis penampilan. Mengapa? Karena aku selalu membayangkan bisa berpenampilan menarik seperti yang dimau banyak orang dan dibutuhkan beberapa lowongan pekerjaan.


“Bagas, hari ini kamu tampan sekali!” sapa Mama ketika aku turun dari tangga.


Ya, aku harus membiasakan diri memanggil Mama dan Papa.


“Benarkah, Mah?”


“Iya dong, Sayang. Tapi memangnya kamu mau ke mana? Bukankah hari ini jadwal kuliah kamu adanya siang?”


“Bagas mau ketemu temen dulu, Mah.”


“Kamu nggak sarapan dulu, Sayang? Apa kamu nggak lapar? Kemarin Mama lihat kamu pulang kuliah langsung tidur, sepertinya capek sekali.”


“Nanti Bagas makan di luar aja ya, Mah!”


Salam kusematkan meraih tangan Mama. Kaki pergi dengan langkah yang begitu ringan.


Di grup chat WhatsApp Bagas dan 4 panglimanya, mereka terus menanyakan posisiku. Bahkan mereka berkali-kali bergantian meneleponku.


Ah! Aku sedang malas menanggapi. Menemui Bagas jauh lebih penting.


Setiba di penampungan kesuraman hidupku, dengan cepat aku menaiki tangga ke lantai dua. Kembali menuju tempat paling pojok yang tak terjangkau cahaya matahari.


Aku coba langsung membuka pintu. Bingo, terbuka. Artinya Bagas ada di dalam.


Bagas menatapku dengan ekspresi kaget begitu mata kami beradu. Mie instant cup di tangannya nyaris saja tumpah.


“Wah, ada orang kaya baru ternyata yang mengunjungiku. Ada apa, Gas?” sarkasnya.


“Gas, banyak hal yang gue pengen tanyain sama lu. Kemarin lu kenapa nggak masuk kuliah? Emangnya lu ke mana?”


“Sebentar. Gue jadi ngeri kalau lu jadi perhatian begini sama gue.”


Aku bukan memberikan perhatian, tetapi melaungkan kekesalan.


“Gas, berapa lama kita akan bertukar tubuh?”


“Gue nggak bisa jawab.”


“Kenapa?”


“Lu tanya sama diri lu sendiri!”


“Maksud lu apa, Gas? Jangan bikin gue bingung dong!”


“Lu lihat siapa kita sekarang? Jadi, tolong biasakan dulu memanggil nama sesuai tubuh yang sedang ditampakkan. Jangan mengundang kecurigaan jika ada orang yang tidak sengaja mendengar!”

__ADS_1


“Tapi identitas kita….”


Bagas menyela, “Mulai hari ini kita harus terbiasa dengan perubahan diri kita masing-masing. Lu adalah Bagas, dan gue adalah Ardi. Paham? Masa begitu aja tidak paham?”


Ada perubahan dari gaya bicara Bagas. Sebelumnya ia selalu bertutur dengan suara yang halus dan penuh wibawa. Apakah ini karena pengaruh bawaan dari tubuhku? Masa bodohlah!


“Oke. Itu yang memang gue harepin. Bahkan, kita pun tidak perlu lagi kembali ke tubuh asal.”


Bagas, maksudku Ardi, tidak menanggapi pernyataanku. Dia sibuk mengunyah mie instant cup yang sepertinya lezat.


“Gue belum sarapan. Apa ada stok mie yang lain?”


“Tinggal ini yang tersisa.”


“Perasaan, kemarin lusa gue nyetok banyak.”


“Oh iya, gue lupa. Bagas itu tidak suka mie instant. Biasakan diri lu dengan kondisi lu yang sekarang. Lepaskan kebiasaan miskin yang masih menempel di otak lu.”


“Pantas saja Bibi di rumah bengong pas gue bilang pengen makan mie instant.”


“Bibi?” Ardi memuncratkan mie yang baru masuk di mulutnya. “Lu ceroboh banget sih! Semua asisten rumah tangga yang ada di rumah harusnya lu panggil ‘Sus’. Mereka itu mempunyai background pendidikan sebagai perawat. Bukan orang sembarangan yang dipekerjaan untuk masak dan beberes rumah doang.”


Aku tertegun mendengar penjelasan Bagas. Jadi, itu alasannya mereka heran ketika aku panggil Bibi. Duh!


“Kenapa lu nggak ngasih tahu detil-detil seperti ini di awal? Termasuk tentang bagaiamana sikap lu ke teman-teman lu, sikap lu di rumah, apa aja kegiatan lu. Gue nyari lu dari kemarin buat nanyain semua itu,” ungkapku sedikit kesal.


“Lu yang awalnya nggak percaya tentang cerita gue, justru malamnya menelan mutiara yang gue berikan. Sungguh gue nggak sangka sama sekali dengan kenaifan lu.”


“Gue cuma pensaran.”


“Yakin? Bukan karena….”


“Apa maksud lu?”


“Kemarin, ketika gue sadar kita udah bertukar tubuh, gue langsung buka semua tentang diri lu. Gue buka hape lu, akun media sosial lu, laptop lu, buku-buku lu, pokoknya semuanya yang bisa menjelaskan hidup serta kebiasaan lu.”


“Lu kok lancang banget sih!” Aku meninggikan suara. Dari tadi sikap dan kata yang ia lontarkan terus memantik emosiku.


“Apa? Lancang? Lu lupa ya, Gas. Kita kan udah sah tukeran kehidupan. Wajar dong kalau gue membuka kehidupan suram lu di masa lalu. Lu juga ngantongin hape gue tuh.”


Aku membawa ponselnya untuk melihat waktu. Aku belum bergairah untuk mengorek isi di dalamnya seperti yang dia lakukan terhadapku.


“Terserah lu! Tapi, tolong jelasin dulu yang tadi gue tanyain!”


Ardi menaruh cup mie-nya. Kemudian, ia bersandar ke dinding.


“Hem, ternyata lu suka sama Mutia dari SMA ya?” ujarnya.


“Jangan mengalihkan pembicaraan!”


“Banyak sekali catatan lu tentang Mutia. Sayangnya, perasaan lu hanya bisa lu tuliskan menjadi puisi dan fiksi. Makanya, lu berharap suatu saat bisa menjadi tampan. Haha….” seringainya.


“Sifat asli lu seperti ini? Menyebalkan, udik, dan tampak licik. Jadi, semua yang lu tampilkan sebelumnya hanya pencitraan? Dan lu bosen hidup dalam kepura-puraan? Sungguh mengenaskan!” Aku balik mengias hidupnya.


“Gue cuma menyesuaikan diri dengan wujud gue yang baru.”


Sial! Selalu aja ada kata yang menjadi senjata untuk menyerangku balik.


“Gue pulang. Gue udah nggak mood ngobrol sama lu.”


“Hamba mohon maaf jika tidak mampu menjamu Tuan Muda dengan baik!” Dia berdiri, lalu membungkukkan badan sedikit.


Hah! Aku tidak akan bertanya lagi tentang hidup ini kepadanya. Aku akan mencari tahu sendiri. Lagi pula, waktu nantinya akan memupuk kebiasaan. Aku lantas pergi dengan menahan emosi.

__ADS_1


__ADS_2