
Entah mengapa ada perasaan senang yang menggelegar di hatiku melihat Ardi merana kemarin. Apa karena aku bisa membuat orang lain merasakan hidupku yang dulu? Ataukah karena perasaan yang terpuaskan seperti membalas dendam?
Hah! Setidaknya, ada orang yang mengerti jika hidupku pernah begitu tak mudah dan sangat menderita.
Hari ini Ardi tidak masuk kuliah. Setiap dihadapkan dengan masalah, besoknya dia enggan pergi ke kampus. Dia sangat lemah.
Mungkin dia trauma atau masih terbakar rasa malu. Bagaimana pun, ditertawakan oleh lain saat dalam kesusahan sangatlah menyayat hati.
Benar kata orang, insan yang terbiasa hidup dalam kemudahan dan kekayaan tak cukup tangguh dalam menghadang arus kesengsaraan. Apakah Ardi mulai menyerah? Aku akan pastikan nanti sore.
Aku rayakan kemenangan atas Ardi dengan mentraktir semua teman kelas di kantin. Berbagi kebahagiaan merupakan cara untuk meningkatkan kebahagiaan.
Memang, masih terlalu dini untuk menganggap ini kemenangan. Namun, aku jadikan ini sebagai pemicu semangat bahwa aku tak perlu khawatir kehilangan dukungan. Ketika uang sudah berbicara, semuanya menjadi lebih akrab.
Sayangnya. Mutia tidak ikut dalam gelaran perayaan ini. Katanya, ada Metha menunggunya di kost. Metha baru saja kembali ke Jakarta. Semoga dia meninggalkan masalahnya di kampung halamannya. Aku tak mau lagi hanyut dalam dramanya.
Sikap aneh Mutia aku abaikan sementara waktu. Mutia oh Mutia, mengapa tiba-tiba sok jual mahal? Apa mungkin ia juga telah dipengaruhi oleh Ardi? Si Muka Dua itu memang patut diwaspadai. Tapi sudahlah, aku tak mau moodku hancur. Pikiranku harus tetap jernih untuk memikirkan langkah selanjutnya.
“Gas, gue perhatiin ada yang berbeda dalam diri lu beberapa hari ini?” Tanya Andy selepas kami keluar dari kantin.
Aku dan yang lain pun menghentikan langkah. Pertanyaan Andy terasa penuh makna. Aku tak boleh salah ucap.
“Maksud lu gimana, Dy? Kayaknya gue sama aja deh setiap harinya. Nggak ada yang berbeda. Nggak ada juga yang berubah,” jawabku tenang.
Aku sudah yakin sikap diam Andy sejak kemarin merupakan sebuah pengamatan terhadapku. Di antara mereka berempat, Andy yang paling mengenal Bagas. Aku harus selalu berhati-hati dalam berbalas kata dengannya.
“Ini nggak seperti lu yang biasanya. Apa ada cerita yang nggak gue tahu?" Andy memasang wajah serius.
Apa ada yang membocorkan tragedi yang menimpa Ardi dan motornya? Aku percaya Tommy, Revan, dan Leo memiliki loyalitas yang tinggi. Aku tidak boleh terpancing rasa penasaran Andy.
“Maksudnya soal traktir teman-teman? Alasannya apa gitu gue melakukan hal tersebut?” Berpikir. Aku harus cepat mengalihkan pikiran Andy. “Ya…. ya…. em…. gue lagi pengen berbagi aja. Sekarang gue udah jadi bagian perusahaan bokap gue. Jadi, gue…. gue pengen merayakannya dengan cara seperti ini. Itu aja. Gue rasa itu bukan hal yang aneh kan, Dy”
“Apa sih lu, Dy? Masa hal kayak gini aja lu sangkanya ada yang berbeda dengan Bagas. Dari dulu kan Bagas orangnya emang dermawan, baik hati, rajin menabung, dan tidak sombong,” timpal Leo membelaku.
__ADS_1
Andy tampak tidak puas dengan penjelasan yang aku berikan. Bahkan, ketika diajak masuk ke dalam mobil, dia memilih undur diri. Dia mengatakan harus segera pulang karena ada urusan penting.
Aku tidak bertanya terkait urusan pentingnya. Lagi, lebih baik aku fokus mempertahankan suasana hatiku yang tengah bergembira. Besok atau lusa, aku urus kecurigaan Andy.
Bersama Tommy, Revan, dan Leo, aku menuju sebuah tempat hangout paling hits di jantung ibu kota. Letaknya di atas menara perkantoran. Cafe outdoor dengan pemandangan kota yang memanjakan mata.
Masa muda merupakan masa yang harus dinikmati sebaik mungkin. Karena ketika hari berganti dan umur beranjak, maka waktu tidak bisa lagi diulangi. Tak perlu memusingkan segala hal yang bisa merusak senyuman.
“Gue rasa tuh si Kunyuk sekarang lagi meratapi nasibnya dengan berurai air mata, makanya dia nggak masuk kuliah. Haha…. Harusnya kemarin tuh kita video-in dia dari awal naik sampai dapetin ekpresi dia ketika motornya terpotong-potong. Pasti dia bakalan viral. Nggak kebayang deh malunya jadi orang tua si Kunyuk itu,” papar Revan yang tampak begitu girang. Dia tak henti menyorot gambar kota dengan ponselnya.
“Bener banget, Van. Sayangnya, gue nggak kepikiran sampe situ. Gue terlalu bersemangat buat ngelihat penderitaan dia. Selama ini gue udah mendem (memendam) kesel banget sama dia. Habisnya, tuh orang hidup kayak Zombie. Kagak bisa bersosialisasi dengan siapa pun. Sekalinya ngomong, suaranya meringis kayak nahan pipis. Haha….” Leo pun menggelegarkan tawa ke udara.
Tidak bisa bersosialisasi? Bukankah kalian yang tidak pernah menganggap Ardi sebagai teman sedikit pun? Oh, tidak. Aku tidak boleh terbawa perasaan.
Sementara itu, Tommy fokus menatap ponsel dan menarikan jarinya di atas layar. Namun, sesekali dia ikut mengungkapkan pendapat tentang Ardi.
Obrolan berlanjut membahas kegeraman Tommy, Revan, dan Leo terhadap Ardi. Mereka mengatakan sudah sejak lama ingin mengerjai Ardi. Hanya saja, keinginan mereka selalu dihalangi olehku (Bagas).
Mereka mencela Ardi. Mereka memaparkan ketidaksukaan terhadap Ardi. Mereka bahkan ingin merundung Ardi lebih dari yang dilakukan ketika di parkiran fakultas.
Aku tahu mereka tidak menyukai Ardi. Akan tetapi, aku tidak mengira mereka menyimpan kebencian yang sangat dalam kepada Ardi.
Hati kecilku sempat merasakan kesal dan marah. Aku tidak mengerti dasar kebencian mereka.
Aku pikir tak ada kesumat di hati mereka. Toh selama ini, aku tidak pernah bersentuhan mau pun bersinggungan mereka.
Namun, aku tidak boleh kebablasan. Aku bukanlah Ardi lagi. Biarkan mereka berkicau sesuka hati.
Sabar. Selama aku masih butuh kehadiran mereka, aku akan berusaha menahan emosi. Segala tindakan harus diperhitungkan dengan matang.
Usai memberikan reward kepada Tommy, Revan, dan Leo, aku menuju bengkel di mana si Bapet diperbaiki.
Kemudian, aku antarkan sendiri si Bapet ke kost Ardi. Aku ingin melihat raut wajah Ardi ketika dia tahu aku sudah mulai beringas.
__ADS_1
Setiba di kost yang penuh aura kelabu, aku langsung naik menuju kamar yang sendu. Aku ketuk pintu dan panggil si penghuni yang mungkin sedang tersedu-sedu.
Ardi membuka pintu. Dia menyambut kedatanganku dengan sinis.
“Ada apa lu ke sini?” tanyanya tanpa mau melebarkan jarak bukaan pintu.
Aku sunggingkan senyum. “Oke, gue to the point aja. Pertama, gue mau ngembaliin si Bapet sama lu. Tenang, dia sekarang sudah jauh lebih prima. Beberapa sparepartnya sudah gue ganti dengan yang baru. Kedua, gue mau nengokin lu karena lu nggak masuk kuliah hari ini. Jujur, gue khawatir lu kenapa-kenapa.”
“Basi lu!” umpat Ardi. “Tabiat asli lu ternyata jauh lebih buruk dari yang gue kira.”
“Maksud lu apa? Lu lagi curhat tentang diri lu sendiri? Em, gue bisa kok jadi pendengar yang baik buat lu," ucapku satir.
Ardi keluar dari kamar. Dia menatapku berapi-api. “Gue tahu, pasti lu kan yang nyuruh Leo, Revan, atau pun Tommy untuk menghancurkan motor gue. Sorry, maksud gue motor Ardi. Kenapa gue bilang begitu? Karena motor itu susah payah dibelikan sama ayah lu buat mempermudah mobilisasi lu di sini. Lu malah menghancurkannya. Si Bapet, temanku yang paling setia di kala tak ada satu orang pun teman yang mau menjalin pertemanan denganku. Malang nian nasibmu, Kawan. Dihancurkan oleh sahabatmu sendiri.”
Ardi menyeringai. Kata-katanya bernada mengejek. Dia tampak telah membaca semua catatan hidupku.
“Gue malah pengen tanya balik sama lu. Gimana rasanya menjadi Ardi setelah beberapa bulan? Menyenangkan atau menyenangkan banget?” Aku balas menarik kedua bibir untuk melemparkan senyuman berkiasan negatif.
Hah! Aku sebenarnya bosan terlibat pembahasan yang sama secara berulang dengan Ardi. Lebih baik aku segera pulang. Setidaknya, aku sudah mengetahui kondisinya.
Lepas menyerahkan kunci si Bapet kepada Ardi, aku berjalan kaki menuju bengkel. Mobilku terparkir di sana sendirian tanpa teman. Aku sengaja tidak mengajak Tommy, Revan, dan Leo bertandang ke kost Ardi.
Melewati depan kampus, aku terkejut melihat Metha berjalan dengan seseorang. Orang itu bukan Mutia, tetapi Dita.
Misteri apa lagi ini? Metha bersama Dita? Mereka tampak akrab. Lalu, masuk ke dalam mobil yang aku tengarai sebagai taksi online. Aku tidak peduli mereka akan pergi ke mana. Aku hanya heran dengan penampakan yang tampil dalam retina mataku.
Ada apa dengan mereka? Bukankah mereka pernah berseteru? Mengapa mereka bisa menjadi dekat? Adakah perkelahian mereka dahulu merupakan sebuah kamuflase?
Perempuan jika terlibat perselisihan hingga terjadi adu fisik, biasanya tak mudah untuk dimediasi apalagi menjadi koalisi. Jelas, ada yang tidak beres dengan kedekatan Metha dan Dita.
Ah! Sayangnya, aku tidak bisa mengikuti mereka untuk memastikan.
Ardi memengaruhi pikiran Metha. Metha berjalan bersama Dita. Mungkinkah mereka memiliki keterkaitan satu sama lain? Sementara, aku akan pura-pura buta untuk mengungkap dusta.
__ADS_1