
Aku dorong Andy hingga terduduk di sofa empuk kamarku. Tidak. Jangan berpikir yang tidak-tidak terlebih dahulu. Aku sedang marah bukan sedang ingin melampiaskan nafsu.
Sebentar! Memangnya aku punya nafsu terhadap Andy? Akh!!! Mengapa aku perlu mempertegas hal ini? Bukankah cukup jelas aku ini normal dan menyukai lawan jenis?!
Kembali pada penyebab utama meluapnya amarah dan kesalku kepada Andy.
“Ngapain lu ngikutin gue? Dan dari mana atau dari siapa lu tahu tentang keberadaan gue?” tanyaku berapi-api.
Mau menyangkal seperti apa pun, sudah jelas Andy memata-matai langkahku. Sungguh, aku tak habis pikir dia bisa bertindak sejauh ini.
“Gue semula berencana ke rumah lu. Cuma pas di jalan gue lihat mobil lu, terus gue ikuti lu dari situ. Gue minta maaf, Gas. Tapi maksud gue baik kok.” Andy menjorokkan kedua telapak tangannya ke depan mukaku. Dia seakan meminta aku untuk bersikap tenang.
“Maksud baik apa? Kalau lu punya maksud baik sama gue, kenapa nggak lu sampaikan dengan cara yang baik juga? Gara-gara kejadian motor Ardi yang rusak dan lu sangka gue pelakunya, terus lu menyelidiki gue tanpa henti begini? Lu ikuti ke mana pun gue pergi? Atau jangan-jangan, lu punya misi rahasia?” tegasku memberondongkan pertanyaan kepadanya dengan nada tinggi.
Semenjak satu per satu kedok orang-orang di sekitarku terbongkar, aku menjadi sangsi kepada siapa pun - termasuk Andy yang kukira satu-satunya teman paling positif dalam lingkaran keseharianku.
Ya, seketika keadaan yang tersaji belakangan ini membuatku mengalami trust issue atau kesulitan untuk percaya kepada orang lain.
“Gas, ini bukan soal itu. Ini soal yang lain,” ungkap Andy.
“Soal apa? Soal ujian semester atau soal ujian kehidupan? Gue nggak habis pikir sama lu, Dy,” kesahku.
Andy menarik kerah bajuku. Mungkin dia terbawa emosi juga. “Gas, gue mohon lu kembali pada diri lu yang dulu. Jangan rusak citra yang ada di dalam raga ini!“ suruhnya ambigu sembari menatapku penuh bara.
Aku lepaskan diri dari cengkraman Andy, lalu berjalan menuju tepi jendela. Dia membuat pikiranku ketar-ketir untuk kedua kali.
Sejenak kucoba berdiskusi dengan hati kecil. Memang cukup wajar jika Andy mencurigai aku bukanlah Bagas yang asli. Dia pasti lebih mengenal watak Bagas dari teman di sekelilingku. Namun, keajaiban yang aku dapatkan merupakan perkara yang tidak bisa diterima oleh akal semua orang. Aku yakin itu.
“Maksud lu gue ini siapa? Orang lain yang bertukar tubuh dengan Bagas ini, begitukah?” Sekalian saja kupancing pengetahuan dia secara eksplisit. Tak lupa tawa satir didengungkan sebagai soundtrack.
Kutengok sedikit, Andy justru membisu. Padahal, aku sudah punya amunisi untuk menghalau praduganya.
“Sebagai teman, gue hanya nggak pengen lu salah jalan, Gas,” ujarnya pelan setelah keheningan tercipta beberapa menit. “Beberapa hari terakhir, keanehan lu semakin jelas dalam pandangan gue. Salah satunya, lu nggak pernah ngajak gue lagi kumpul-kumpul bareng Tommy, Revan, dan Leo. Bahkan, lu terkesan menghindar dari gue. Apa karena lu tersinggung dengan cara gue ngingetin lu? Lu udah sangat berubah, Gas.”
“Itu hanya perasaan lu,” selaku menaggapi kecemburuan sosial yang dia ungkapkan.
“Karena itulah gue berusaha mengidentifikasinya dengan mengikuti pergerakan lu. Sekali lagi, gue minta maaf mengenai hal tersebut. Cuma gue mau berpesan, pikirkan lebih cermat segala keputusan atau langkah yang bakalan lu ambil. Setiap kepala tangan yang lu layangkan memiliki harga yang harus dibayar,” pungkas Andy. Lalu, dia keluar dari kamarku tanpa mengudarakan kata pamit.
__ADS_1
Memiliki teman sebaik Andy sesungguhnya sebuah anugerah. Sayangnya, aku sedang tidak ingin ada yang mengatur setiap rancangan hidupku. Lagi pula, aku tidak akan bertindak sejauh ini jika tidak dicubit lebih dulu.
Sudahlah! Aku simpan semua wejangan dari Andy di otak kananku sementara waktu. Apabila aku perlu, kupindahkan ke otak kiri.
Pada dasarnya, sikap dan sifat seseorang sangat dipengaruhi oleh sekitar. Menjadi baik, jahat, penyabar, dan pendendam merupakan bagian dari proses adaptasi dan pertahanan diri.
Menjadi baik dimanfaatkan, menjadi jahat disalahkan. Seorang penyabar kerap diremehkan, seorang pendendam acapkali dihinakan. Beberapa orang berharap bumi dihuni manusia-manusia berhati malaikat, tetapi mereka memperlakukan orang di sekitar tanpa meminta pendapat nurani.
Jarum jam bergulir dengan cepat. Lelah dan suntuk akhirnya membawaku pada kantuk.
Keesokan paginya aku terbangun dengan kepala bak ditusuk-tusuk jarum. Energi tubuh pun seakan terserap dalam mimpi hitam. Langit mendung pun memperkuat kesan fisik yang sedang tidak baik-baik saja.
Aku ada kelas pagi, tetapi kaki seolah tak mau beranjak dari tempat tidur. Kuperpanjang waktu istirahat beberapa saat. Mungkin jika semua serpihan nyawaku terkumpul, ada tenaga yang bisa kupakai menuju kampus. Penyakit memang bisa datang tanpa mengucap salam.
Mama mendatangi kamarku. Katanya, aku tak menjawab kala seorang ART membangunkanku. Aku bukan tak mendengar seruan tersebut, melainkan sedang dalam mode hemat daya.
Usai sarapan dan minum obat, aku pergi ke kampus diantar sopir. Aku memaksakan diri karena tak ingin terjebak kebosanan di dalam rumah.
Kakiku meniti langkah menuju ruang kelas dengan berhati-hati. Setiap sekitar 5 meter aku berhenti. Jarak tempuh seakan menjadi berkali lipat.
Dia juga membantuku menegakkan badan. Sentuhannya yang hangat sempat membuat indra perasaku terlena.
Tidak. Aku sudah berjanji pada hatiku untuk tak tergoda rayuan sang cinta pertama.
Aku tarik tanganku sembari mengibaskannya sedikit. “Aku bisa sendiri,” ucapku garang.
“Badan kamu panas, Gas. Wajahmu juga sedikit pucat,” terang Mutia.
Kuabaikan perhatian yang dia sodorkan. Ini bukan sekadar gengsi, tetapi juga pertaruhan rasa. Jika aku menerima uluran tangannya, dia bisa besar kepala.
“Gas, maaf jika aku bertanya dalam kondisi yang tidak tepat. Kenapa kamu tidak menjawab pesan yang aku kirim kemarin? Aku benar-benar minta maaf atas sikapku yang….”
“Bagasss!!!” teriak Dita memutus ucapan Mutia.
Antara penasaran dan tidak dengan sambungan kalimat Mutia, aku memilih untuk manfaatkan kehadiran Dita sebagai pemanas suasana.
Dita menghampiri, dan langsung membuat sekat.
__ADS_1
Lantas, aku pun segera memantik api. “Dit, tolong bantu papah aku masuk ke kelas ya," mohonku. Setiap kata kudendangkan secara merdu. "Kamu mau, kan?”
“Tentu. Aku ke sini memang untuk kamu, Gas. Ternyata, kamu mengajakku latihan berjalan di atas karpet menuju pelaminan,” cetus Dita sembari mengaitkan tangannya dengan tanganku.
Menggelikan! Ya, sebetulnya aku jijik mendengar Dita berbicara tentang masa depan atau pernikahan. Baru melewati batas usia remaja, tetapi pikirannya sudah mengelana terlalu jauh.
Biarlah! Mungkin sikapnya yang demikian merupakan salah satu taktik sandiwaranya.
Aku tinggalkan Mutia yang terpatung di atas aspal parkiran. Andai dia tak menorehkan luka di hatiku, pasti aku bahagia berjalan – bergandengan dengannya.
Sepanjang jalan hingga tiba di depan pintu kelas, Dita terus melambungan senyuman. Namun, tak sepatah kata pun terucap dari bibirnya untuk bertanya tentang kondisiku. Sangat kontras dibanding Mutia.
Aku pun semakin yakin jika Dita memang sedang ingin bermain-main perasaan denganku. Mustahil dia tidak paham aku tengah kurang fit, sedangkan kulit kami bersenggama cukup lama.
Lepas Dita pergi, Mutia menghampiriku lagi. Dia menyodorkan sebotol air mineral untukku.
“Gas…. em…. banyakin minum air putih ya biar kamu tidak dehidrasi,” kata Mutia dengan lembut.
Aku mengalihkan pandanganku. Sekilas kulihat raut wajahnya berubah sendu. Maaf, mungkin lewat cara seperti ini, dia bisa mengerti perasaanku. Perasaanku yang seperti dihantam badai pasir kala dia menolak cintaku demi membela si Kunyuk. Kini, butiran pasir tersebut masih melekat kuat di sebagian hatiku dan terkadang membangkitkan rasa ngilu.
Begitulah perempuan, dia ingat sekecil apa pun kesakitan yang didapat dari oleh lain. Akan tetapi, dia mudah sekali lupa atas perbuatannya. Padahal, kesakitan yang dia torehkan dalam diri orang lain sebesar barisan bukit.
Sikap tegaku semoga mampu membuat logika dan perasaannya bermusyawarah. Untuk membuat seseorang paham tentang rengat hati orang lain, terkadang dia harus dibuat mengenyam hal yang sama.
Mutia tetap berdiri di sampingku walau sudah kutolak dengan sikap dinginku. Kemudian, Andy dan Leo masuk kelas berbarengan.
“Yo, gue minta tolong beliin air minum, bisa nggak? Gue haus banget nih,” pintaku kepada Leo yang bersiap untuk duduk.
“Siap, Gas. Minum bening atau yang berwarna?” tanyanya.
“Air putih biasa aja,” jelasku seraya melirik “hadiah” dari Mutia.
Mutia meninggalkan botol tanggung 600ml di hadapanku. Dia berjalan menuju tempatnya untuk mengikuti pembelajaran. Kecewa dan sesal mungkin akan bersemedi di dalam batinnya. Mohon diresapi, wahai Cintaku!
Sementara itu, Andy membidikkan matanya kepadaku. Dia tampak tidak senang dengan caraku menghiraukan Mutia.
Hah! Bersiaplah, Bagas! Sepertinya akan ada siraman rohani setelah menerima materi dari dosen. Tatapan Andy sangat kentara mengisyaratkan akan datangnya hal tersebut.
__ADS_1