
Perasaanku campur aduk. Aku ingin menjadi kekasih Mutia. Namun, dia kerap tarik ulur kedekatan ini bagaikan bermain layang-layang.
Apa yang sebenarnya da ipikirkan tentangku? Apakah dia menyukaiku sebagaimana aku menyukainya? Baiklah. Aku akan pastikan saja hari ini. Menunggu hanya semakin membelenggu pikiran.
Aku kirimkan pesan melalui WhatsApp kepada Mutia berisi ajakan untuk bertemu. Dia menanyakan perihal topik yang ingin dibahas. Aku katakan saja hal yang penting. Lebih baik diucapkan langsung agar dapat sekaligus membaca lukisan wajahnya.
Kami pun sepakat untuk bertemu di taman fakultas sore nanti seusai perkuliahan. Jujur, jantungku berdebar sangat kencang laksana melebihi menunggu hasil ujian akhir sekolah (kelulusan). Rasanya, aku ingin segera membuncahkan segala rasa yang telah lama tertanam di hati.
Cinta belum dinyatakan, tetapi berbagai dugaan dan skenario sudah mengemuka di atas kepala. Seandainya Mutia menerima cintaku, kehidupanku akan terasa semakin lengkap. Lantas, bagaimana jika dia menolak? Tidak. Aku yakin dia tidak akan menyanggah perasaanku.
Semalam, aku baca banyak artikel di internet tentang memahami perasaan perempuan. Katanya, apabila perempuan berubah sikap secara mendadak – yang sebelumnya dekat, maka dia sedang menanti kepastian.
Aku telah salah membiarkan perasaan menggumpal lebih besar. Padahal, bisa saja perasaan itu justru menciut karena dibiarkan menggelinding sendirian.
Aku bersiap menuju kantor. Belajar dan terus belajar mengenai bisnis. Adakalanya rasa bosan mendera, karena merasa passionku kurang dalam bidang tersebut. Namun jika aku coba tatap masa depan, menjadi pebisnis atau pengusaha akan lebih menyenangkan dibanding menjadi pekerja biasa (karyawan).
Begitu hendak keluar dari gerbang rumah, kulihat Andy berjalan menghampiri. Tumben sekali dia datang tanpa mengabariku terlebih dahulu.
Aku lantas meminta Andy masuk ke dalam mobil. Sekalian saja kuajak dia ke kantor. Tak ada waktu untuk menjamunya di dalam rumah.
“Gas, gue pengen ngomongin hal yang serius sama lu,” ujar Andy begitu kakiku mantap menginjak gas.
Aku tengok wajah Andy. “Hal serius apa, Dy?”
“Gas, gue rasa perbuatan lu sama Ardi waktu di parkiran kemarin sangat keterlaluan," ungkapnya seraya menepuk bahuku. "Gue nggak tahu lu ada masalah apa sama dia. Tetapi, perilaku tersebut bukanlah cerminan Bagas yang gue kenal."
Dari mana Andy tahu jika aku yang menjadi dalang perundungan kepada Ardi. Apa mungkin Tommy, Revan, atau Leo bercerita kepada Andy? Aku sangsi mereka bertiga berkhianat kepadaku. Mereka tahu konsekuensi yang menunggu mereka seandainya aku marah.
Lalu, tentang Bagas yang berbeda - tidak seperti yang Andy kenal. Empat orang ini, menganggap Bagas seperti malaikat. Padahal, orang yang menabuh genderang perang lebih dahulu yaitu pemilik asli tubuh yang sekarang menjadi milikku.
“Atas dasar apa lu nuduh gue? Gue kira lu beneran sahabat gue – yang mengenal gue lebih dari siapa pun yang ada di dekat gue saat ini. Ternyata, lu malah berpikir gue bertindak sebagai aktor utama yang membully Ardi.”
Aku sengaja memainkan persahabatan supaya Andy tidak membelot.
“Sorry, gue nggak asal nuduh. Waktu di kelas, gue nggak sengaja lihat chat Leo kepada Revan dan Tommy. Isinya, dia meminta Revan dan Tommy menghancurkan motor Ardi atas suruhan lu. Dan karena lu adalah sahabat gue, gue wajib ngingetin lu, bukan?!” terang Andy.
Sial! Leo sangat ceroboh. Bisa-bisanya dia mengirimkan pesan misi rahasia tanpa memerhatikan sekitar. Satu peringatan akan kuberikan kepadanya ketika bertemu di kampus nanti.
“Huh! Gue pikir selama ini kita berlima teman yang akrab. Nggak tahunya, ada yang menjual nama gue demi kepentingannya sendiri,” ucapku bernada sendu. Aku tidak mungkin mengakui perbuatanku kepada Andy. “Gue nggak punya masalah apa pun sama Ardi. Justru lu tahu sendiri kan kalau Tommy, Revan, dan Leo lah yang tidak suka kepada Ardi. Sekarang, terserah lu mau percaya atau pun tidak sama gue."
__ADS_1
Andy menatapaku. “Gue nggak mau lu salah langkah, Gas.”
Salah langkah? Apa lagi maksud Andy dengan mengatakan hal tersebut? Sudahlah, kali ini aku anggap kalimatnya sebagai nasihat. Aku sedang tidak ingin berdebat atau ribut dengannya.
Ada hal yang lebih penting yang harus aku pikirkan. Sekalipun, aku tidak boleh meremehkan Andy. Dia seakan bertransformasi menjadi jaksa atas segala hal yang aku lakukan.
Aku mengajak Andy ke kantor, tetapi ia meminta berhenti di tengah jalan. Aku pun penuhi permintaannya. Tak ada kalimat tanya yang aku tujukan untuk mengetahui ke mana dia akan pergi. Ada rasa canggung yang tiba-tiba saja terbentuk di antara kami berdua.
Setiba di kantor, aku coba susun ulang rencana pernyataan cintaku kepada Mutia. Lagi pula, hari ini tugasku hanya ikut dalam meeting sebagai pendengar,
Waktu pun terasa bergerak cepat saat suasana hati bisa dijaga sebaik mungkin. Aku kabari Mutia jika aku sedang menuju kampus. Aku ingin menyatakan cinta sebelum masuk kelas. Alasannya, karena ketika pulang ada banyak potensi gangguan.
Tarik nafas, hembuskan. Sepanjang jalan, aku atur ritme udara yang masuk ke dalam paru-paru. Aku juga coba tenangkan pikiran untuk menormalisasi detak jantung yang berdebar kencang.
Mutia mengabarkan sudah menunggu di taman. Aku semakin diguncang rasa pensaran dan harapan. Semoga kesigapan Mutia untuk bertemu denganku memberikan pertanda yang baik.
Turun dari mobil, aku pastikan kata-kata yang akan ditembangkan. Mutia, setiap kali aku menatapmu, aku bisa merasakan semua pancaran rasa yang tergambar melalui parasmu. Kemudian, setiap kali aku berdiri di dekatmu, aku begitu yakin untuk senantiasa melangkah bersamamu - ke mana pun. Maka dari itu, maukah kamu menjadi antena hidupku yang bisa membuat sejarah yang kutampilkan lebih cerah?
Wow! Semoga aku lancar melafalkan kalimat-kalimat tersebut.
Mutia duduk dengan anggun di bawah pohon rindang. Semakin langkahku dekat kepadanya, semakin nafasku terasa berat.
“Hai, Gas. Ada hal penting apa yang mau kamu sampaikan kepadaku?” Mutia langsung menanyakan inti pertemuan ini.
Sial! Aku harusnya membeli bunga atau cokelat, atau sejenisnya. Mengungkapkan cinta dengan tangan kosong. Bukankah hal tersebut sedikit aneh?
Aku hitung mundur dari tiga, dua, satu. Oh, tidak! Aku belum siap. Lidah seperti tertahan oleh gigi. Aku benar-benar gugup.
“Gas, kamu kenapa?” Mutia memandangku.
Aku semakin sulit menahan gejolak dalam jiwa. “Ng.... ngak. Nggak kenapa-kenapa, Mut.”
Aku butuh waktu beberapa menit untuk menetralisasi emosi.
“Sejujurnya, ada hal pengen aku sampaikan juga ke kamu, Gas. Ini tentang perasaanku," ungkap Mutia. "Begini, Gas,” suaranya yang syahdu seolah-olah mengindikasikan timbal balik positif yang akan aku dapatkan.
Namun, aku tak kuasa menunggu dia melengkapi kalimat pokoknya. “Mut, apa yang dikatakan Metha waktu di jembatan, tentang perasaanku kepadamu, itu benar. Aku mencintaimu. Aku menyukaimu sejak kita berseragam putih abu-abu. Akan tetapi, waktu itu aku hanya bisa mengagumimu tanpa memiliki keberanian sedikit pun untuk mendekatimu.”
Huah!!! Ada rasa lega yang menggelora walau pernyataan cinta yang aku utarakan belum mendapat penegasan. Memang, paragraf yang dibacakan tidak sesuai dengan yang sudah ditulis dalam otak. Meskipun begitu, substansinya kan tetap sama.
__ADS_1
Aku pejamkan mata sesaat menunggu kata yang akan terucap melalui bibir Mutia. Sayangnya, Mutia tak kunjung bersenandung.
Aku buka mata, dan layangkan pandang ke arahnya. Dia menunduk dengan sedikit terisak.
Apakah dia tengah bahagia? Ataukah menangis karena hendak memberikan penolakan?
Mengapa suasananya menjadi kelabu? Ini di luar dari yang terlintas dalam benakku.
“Mmmm…. Mut? Kamu ke…. kenapa? Apa aaa… ada yang salah dengan ucapanku?” Aku begitu waswas.
Jangan! Aku tidak mau mendengar cintaku bertepuk sebelah tangan.
Mutia menegakkan posisi duduknya kembali. Ia menatapku dengan berkaca-kaca.
“Gas, terima kasih banyak atas rasa yang kamu miliki untukku.”
Gelisah mendera batinku akibat respon yang dia berikan lumayan mengabu.
“Tapi, bolehkah aku menyambung kalimatku yang tadi?” pinta Mutia.
Jelas, bisa. Aku pun mengangguk pertanda setuju. Hanya saja, dia membuatku seperti sedang duduk berputar di bianglala. Ada pemandangan indah yang bisa aku lihat ketika berada di atas. Namun, ada juga tanah yang menghampar datar untuk aku tapaki keluar dari permainan – seorang diri.
Mutia mengeluarkan ponselnya. Jarinya bergerak lincah di atas layar.
“Aku ingin berbicara tentang perasaanku. Perasaan yang kecewa terhadapmu,” jelas Mutia. Kemudian, ia memutar sebuah rekaman suara.
Mendadak aku bak disambar petir. Aku mendengar suara angkuhku mengalun dari speaker ponsel Mutia.
Itu perkataan yang aku lontarkan kepada Ardi kemarin sewaktu mengantarkan si Bapet. Durasinya begitu singkat. Hanya bagian saat di awal aku menanyakan kabar Ardi, dan ketika dia mengatakan aku yang menyuruh Leo, Revan, serta Tommy untuk menghancurkan si Bapet.
“Aku benar-benar nggak nyangka kamu melakukan hal setega itu, Gas. Buat kamu mungkin motor Ardi mengganggu penglihatanmu. Tetapi buat Ardi, itu lebih dari sekadar alat transportasi. Ada semangat yang membumbung tinggi untuk bertahan, untuk menimba ilmu di kota ini. Motor itu dibeli dengan jerih payah ayahnya, yang ingin melihat sang anak mudah dalam bermobilisasi.” Mutia menitikan air mata. “Semua orang mengagumimu, termasuk aku. Ya, aku akui bahwa aku juga menyukaimu. Namun, aku selalu sadar diri. Aku hanya perempuan biasa yang mungkin tidak sepadan untuk bisa bersanding denganmu.”
“Mut, ada hal yang keliru dalam rekaman tersebut. Aku mohon kamu….”
Mutia bangkit, dan menyela perkataanku. “Maaf, aku telah salah kira tentangmu. Aku hargai perasaanmu, tetapi hatiku tak bisa menerima perbuatanmu kepada Ardi. Kamu menghancurkan motor Ardi, lalu memperbaikinya. Mungkin buatmu itu lucu, seperti mainan. Sayangnya, kamu abai bahwa ada perasaan yang tidak bisa dipermainkan dengan segala kemewahan yang kamu miliki sekarang.”
Mutia pergi, meninggalkan kepedihan di hatiku. Tak ada satu pun kata yang bisa aku gunakan untuk memaku kakinya agar dia mau mendengarkan penjelasanku.
Ardi keparat! Pantas saja, kemarin dia membuka pintu sembari menggenggam ponselnya. Rupanya, dia merekam percakapan. Kemudian, dia menyuntingnya agar terkesan aku yang biadab.
__ADS_1
Aku akan balas duri yang dia tancapakan di tubuhku. Bersiaplah, wahai si Muka Dua!