Inikah Rasanya?

Inikah Rasanya?
Chapter 46: Emosi


__ADS_3

Pagi cerah yang riang terkontaminasi oleh ulah Dita yang urakan. Jika mengikuti batas kesabaran, aku sudah tidak bisa memberikan toleransi kepadanya.


Pak RT, Ayah, Ibu, dan orang tua Astri memediasi Dita dan Astri untuk menyelesaikan kesalahpahaman yang terjadi. Tak ada banyak kata yang bisa kuucap selain meminta maaf kepada mereka. Bagaimana pun, semua orang tahu bahwa Dita merupakan bagian dari timku. Jadi, suka tidak suka, aku mesti sedia menjadi tameng.


Proses perdamaian antara Dita dan Astri berlangsung agak alot. Dita bersikukuh tidak mau mengucap kata maaf, karena menganggap Astri yang menimbulkan masalah.


Astri pun tak berhenti melemparkan sindiran. Katanya, perempuan kota ternyata kurang beretika dan angkuh.


Demi kebaikan bersama dan menyudahi drama, aku – mewakili Dita – meminta maaf kepada Astri dan orang tuanya. Posisi kami sebagai tamu, maka sudah sepatutnya menjaga sikap atau adab.


Setelah aku memohon pengampunan untuk Dita, Astri dan orang tuanya menerima dengan lapang dada. Terlantun pujian dari ayah Astri terhadap kebijaksanaanku. Ibu Astri pun turut mengemukakan harapan untuk bisa mengenalku lebih jauh. Semuanya kutanggapi dengan senyuman.


Ah, lega sudah! Namun, tidak tahu nanti siang atau nanti sore atau esok hari.


“Gas, lu pilih pulangin Dita atau kita semua yang pulang hari ini juga!” ujar Andy mencegah langkahku untuk ke kamar mandi.


Pilihan kedua dari Andy, jelas, aku tidak mau. Kualitas kebersamaanku bersama Ayah dan Ibu baru saja membentangkan jalan. Aku tidak mau kembali ke Jakarta dengan membawa penyesalan.


Akan tetapi, Dita memang harus segera diusir tanpa dia merasa dilenyapkan. Nah, bagaimana cara melakukannya? Itu yang dari semalam aku pikirkan.


“Lu aja yang pulangin dia, Dy,” responku.


“Kok gue?” pastikan Andy dengan nada sedikit tinggi. “Ada apa sih dengan lu, Gas? Lu udah bener-bener terjerat cinta sama dia sehingga lu nggak mau mulangin dia? Gas, lu lihat dong apa yang dia lakukan di sini.”


Aku mendekati Andy hingga hanya jarak kami hanya beberapa centimeter. Ada penekanan kata yang terasa sesak untuk kuterima.


“Lu kok kesannya nyalahin gue sih? Dari awal gue nggak ngajak siapa pun ke sini, selain lu. Dita, Metha, dan bahkan Mutia, itu Ardi yang bawa. Harusnya kalau lu mau menyalahkan orang lain atas keberadaan Dita, lu salahkan Ardi. Nggak usah ngebahas tentang perasaan gue,” ucapku agak membentak.


Andy terdiam membuang pandangan. Sadar bahwa perdebatanku dengan Andy bisa melambung ke telinga Ayah dan Ibu, aku pun memutuskan melanjutkan niatku untuk membersihkan badan.


Usai mereguk kesegaran jasmani, aku coba putar otak. Waktu terus bergerak maju, dan masalah semakin bertumpu.


Si Kunyuk memang sialan! Ingin rasanya mengutuk dia dengan segenap tenaga yang kumiliki. Ucapannya yang seolah peduli kepadaku jelas sebuah kamuflase. Sifat dan sikap Dita yang barbar sudah menjadi rahasia umum, tak perlu ditegaskan lagi.


Aku rentangkan handuk di atas jemuran yang terbuat dari susunan bambu. Kemudian, suara langkah kaki terdengar mendekat dari arah belakang.

__ADS_1


“Nak, Bagas,” sapa Ibu dengan nada yang terhantar sendu.


“Iya, Bu,” sahutku mengumbar senyuman.


“Maaf ya kalau keadaan di kampungnya Ardi tidak sesuai harapan, termasuk kondisi rumah kami yang sempit dan kumuh,” tutur Ibu sembari menunduk.


Aku paham, Ibu pasti merasa tidak enak hati atas keributan yang terjadi. Mungkin juga ditambah dengan kata-kata sumbang yang sering Dita lontarkan – mengomentari situasi dan kondisi di sini.


Tak mau membuat bersedih, aku angkat kedua tangan Ibu. “Justru kami yang seharusnya minta maaf sama Ibu. Kami telah menyusahkan Ibu. Kami juga telah membuat kekacauan.”


Mata Ibu tampak berkaca-kaca. “Tidak, Nak. Bagi Ibu, kedatangan Nak Bagas merupakan berkah yang tak terkira. Terlebih Nak Bagas dan teman-teman Nak Bagas datang tujuan mulia. Entah bagaimana caranya Ibu mengucapkan terima kasih atas segala hal baik yang Nak Bagas bawa ke sini.”


Perkataan Ibu mengalun syahdu penuh ketulusan. Aku tak kuasa menahan haru. Aku tahu yang Ibu rasakan. Perasaan bahagia yang diselimuti kekhawatiran. Ibu khawatir setelah hari ini sikap kami kepada Ardi akan berubah – menjauh. Padahal, Ibu baru saja merengkuh indahnya bunga-bunga yang bermekaran di sisi Ardi.


Aku peluk Ibu kala kusaksikan bulir air mata beliau jatuh ke tanah. Ibu pun tampak terkejut dengan sentuhan yang aku rekatkan.


“Bu, Ibu tak perlu risau lagi ya. Ardi akan baik-baik saja,” ungkapku lembut. Sejujurnya, aku ingin mengungkapkan lebih banyak kata, tetapi aku sadar akan batasan raga yang kulakoni.


Ibu membalas pelukanku. Terasa hangat dan melarutkan rindu. Aku seakan tidak ingin beranjak lagi dari tempat ini.


Lepas makan siang, aku beinisiatif mengumpulkan teman-teman di bibir pantai. Ada hal krusial yang harus aku sampaikan. Namun, pembicaraan ini tidak boleh terjangkau oleh pendengaran Ayah dan Ibu.


Dekapan Ibu mengalirkan sejuta keresahan ke dalam pikiranku. Ibu begitu pemikir, sama sepertiku. Beliau akan melakukan apa saja untuk membahagiakan sang putra semata wayang, sekalipun batin teriris pedih.


Tanpa basa-basi, aku langsung menyampaikan maksud dan tujuan. Ingat, ini bukan diskusi, melainkan peringatan.


“Dit, apa yang kamu lakukan tadi pagi sangat mencoreng nama baik kita di sini. Kamu juga membuat orang tua Ardi merasa bersalah. Kenapa sih kamu tidak bisa meyesuaikan diri dengan tempat kita berada sekarang?” Aku berusaha tak menambahkan bumbu amarah pada kalimat yang aku lontarkan.


“Gas, kok kamu nyalahin aku sih? Perempuan mana yang tidak cemburu kalau pacarnya dideketin cewek lain?” Dita membela diri dengan premis yang basi.


“Tapi seharusnya kamu bisa melihat situasi. Maaf, aku sudah menelepon sopirku untuk menjemputmu ke sini,” terangku halus.


Dita berdiri. Namun, Metha menarik tangan Dita hingga terduduk kembali. Metha pun terlihat membisikkan sesuatu kepada Dita.


“Aku mau pulang, tapi kamu juga harus pulang bareng aku, Gas,” pinta Dita setengah berteriak.

__ADS_1


Sudah disuapi jantung, minta hati. Mentang-mentang ditaburi kebaikan, jadi tidak tahu diri alias semakin ngelunjak.


Sabar! Tak ada salahnya memberikan dia rasa sebelum menjatuhkan hatinya dari atas tebing yang curam.


Aku putar pandangan ke arah Ardi. Aku harap dia mengerti bahwa aku meminta pertanggung jawabannya.


Rindu kepada Ibu mulai tersalurkan sempurna melalui dekapan. Maka dari itu, aku tidak sudi memenggal cerita di tengah jalan.


“Lu kayak anak kecil, Dit,” ujar Andy. Raut kekesalan begitu nyata terpancar dari wajahnya. “Sebenarnya apa sih tujuan lu ikut ke sini? Cuma mau ikut-ikutan aja karena takut Bagas diambil orang lain? Harusnya di mana langit dijunjung, di situ bumi dipijak. Jujur, kehadiran lu di sini hanya membawa masalah,” sambungnya dengan lantang.


Dita bangkit, dan kemudian berlari. Dia menyeka kedua matanya seraya mengencangkan isakan.


Terserahlah! Aku sedang tidak bernafsu mengadu peran dengannya.


“Gas, kamu ngumpulin kita hanya untuk melakukan sidang terhadap Dita?” tanya Metha dengan sinis. Lalu, dia mendekatiku. “Kalau kamu ingin menegur seseorang, tolong jangan di hadapan banyak orang. Pikirkan perasaan orang itu. Orang yang tulus mencintaimu, tetapi kamu permalukan di depan teman-temanmu,” katanya sambil melaju pergi.


Kalimat yang dialunkan Dita begitu menukik tajam di relung hatiku. Aku pun merenung sejenak. Ya, tidak seharusnya aku membuat forum untuk menyidang Dita.


Tidak! Aku sudah berada di koridor yang benar. Aku bukan menghakimi Dita secara personal, tetapi meminta dia merenungi imbas perbuatannya yang merugikan aku beserta yang lainnya.


Metha sedang berada di pihak Dita. Bisa saja sikapnya sekadar untuk memancing ibaku.


“Terus apa langkah kita selanjutnya, Gas?” tanya Mutia.


“Kita jalankan sesuai dengan plan kita,” jawabku.


“Bagaimana dengan Dita?” tanya Andy.


Aku pun sedikit tersulut emosi. “Tadi kan gue udah bilang, kalau sopir gue lagi perjalanan ke sini buat jemput Dita pulang ke Jakarta hari ini juga.”


Akhir-akhir ini Andy cukup banyak berbicara. Tidak seperti dia yang kukenal.


Nah, apa yang melatarbelakangi perubahan sikap dia? Duh! Semakin banyak saja misteri yang harus aku pecahkan, sedangkan misteri sebelumnya masih bergelantungan di depan mataku.


Andy menatapku seolah belum yakin dengan pernyataanku.

__ADS_1


“Gue rasa orang yang semestinya meng-handle Dita, itu bukan gue. Orang itu ialah orang yang telah mengajak Dita ikut dalam trip ini," tegasku kembali kepada Andy sambil menyindir si Kunyuk. "Gue bukan lempar batu sembunyi tangan, tapi lu nggak bisa dong menyangkutpautkan terus status gue dengan Dita supaya gue yang menanggung semua kesalahannya,” pungkasku


__ADS_2