
Aku sadar bahwa masalah hidup tak akan berhenti selagi kaki masih menginjak bumi. Akan tetapi, aku tengah sedikit khawatir menghadapi situasi ini. Situasi ketika sifat asli yang ada di sekitarku mulai tampak ke permukaan.
Papa semakin tegas memintaku untuk belajar mengenai perusahaan. Leo, Tommy, dan Revan mulai terasa membosankan. Ya, mereka bertiga semakin jelas hanya memanfaatkan harta yang melekat di sakuku.
Dita sudah jarang menyambutku. Tetapi, itu bagai sebuah teka-teki untukku. Ditambah, Ardi tak henti berupaya menyerang mentalku.
Sementara itu, sikap Mutia mendadak berubah kepadaku. Dia tampak dingin. Bahkan, dia menyapaku seperti terpaksa. Dia tak banyak mengurai kata. Tatapnya kembali bersahaja kalau berpapasan denganku.
Hah! Memulai dan mendesain ulang lagi. Sampaikan kapan terus seperti ini? Ketika langkahku sudah maju satu meter, aku justru didorong mundur dua meter.
Siang ini, Adisty mengajakku bertemu di studio foto. Katanya, ada pemotretan untuk cover majalah kampus. Aku pun mengajak Andy untuk menenmani.
Sesampainya di studio foto, Adisty mengabari jika dia tidak bisa datang. Katanya, tiba-tiba ada urusan penting yang tak bisa dipending. Entah urusan penting apa, dia tidak menjelaskan.
Sejujurnya, aku benci orang yang membatalkan janji, padahal dia sendiri yang membuat janji. Namun, aku tidak bisa juga memakinya. Lagi dan lagi, aku terjebak dalam citra diri.
Masuk ke dalam ruang pengambilan gambar, aku lekas berganti pakaian. Kemudian, wajahku dirias sedikit agar tampil lebih cerah di layar kamera.
Pemotretan dimulai. Tak ada kesulitan buatku mengikuti arahan sang fotografer. Hanya berpose menggunakan style casual dan formal layaknya seorang mahasiswa yang akan pergi ke kampus - sebagaimana keseharianku.
Beberapa gambar sudah diambil. Aku pikir sudah selesai, dan bisa segera pulang. Ternyata, seorang pria kemayu yang menjadi perias mendatangi. Dia mengatakan ada beberapa foto lagi yang ingin diambil.
Aku masuk ke ruang ganti lagi. Kali ini, aku diminta ganti pakaian dengan gaya yang agak nyeleneh. Entah tema apa harus aku mainkan, aku hanya ingin cepat pulang.
Celana dan sepatu yang aku pakai masih sama. Hanya saja, untuk atasannya aku memakai cardigan hitam tanpa baju pelapis.
“Tampan, senyumnya lebih sensual sedikit ya,” seru si pria kemayu.
Sensual? Bukankah ini untuk majalah kampus, bukan majalah bertema body health atau pun dewasa?
Aku juga tidak mengerti senyum sensual seperti apa. Namun, aku coba ikuti arahan dua orang di depanku saja. Berbebat hanya akan memperlama keberadaanku di sini.
“Sekarang cardigannya dilepas ya, Tampan. Kita ambil foto kamu yang topless.”
Apalagi lagi ini? Foto tanpa mengenakan atasan? Aku tidak bisa menuruti semua instruksi yang mereka berikan.
“Sorry, ini foto buat apa ya? Saya dikabari bahwa pemotretan ini untuk majalah kampus. Kenapa sekarang saya harus foto tanpa busana seperti ini?” Aku utarakan keresahanku.
__ADS_1
“Tampan, foto buat majalah kampus udah cukup tadi. Ini foto tambahan untuk sample pose kamu yang akan ditampilkan di majalah Pria Sehat,” terangnya.
“Majalah Pria Sehat? Kenapa nggak dibicarakan dari awal? Kalau seperti ini, saya merasa dibohongi”, aku sedikit tinggikan suara.
“Kita nggak bohongi kamu, Tampan. Kita sudah kirim informasinya sama Adisty. Dia bilang kamu udah sepakat. Lagian, ini baru untuk pengajuan aja. Kalau dari redaktur majalahnya cocok, kita bisa tanda tangan kontrak. Uh!” Si pria melambungkan tawa.
Aku telepon Adisty. Aku tidak terima sudah dibohongi olehnya. Semestinya dia menjelaskan kegiatan hari ini secara detil. Jika caranya begini, jelas aku merasa tertipu.
Selama percakapan di telepon, Adisty mengatakan sudah mengirimkan jenis pemotretan yang dilakukan hari ini secara rinci. Dia memintaku membaca lagi email yang kemarin dia kirim.
Rupanya memang benar bahwa dia menyampaikan ada dua jenis pemotretan yang harus aku jalani. Sial! Aku tidak teliti. Aku pun sudah membalas setuju.
Baiklah. Aku tunaikan saja keputusan tidak sengaja yang telah aku buat. Memang tak ada salahnya menambah popularitas dengan menjadi selebritis, tetapi aku tidak suka pamer tubuh tanpa busana. Ya, sekalipun ini bukan tubuhku yang asli.
“Siap ya, satu…. dua…. tiga….” Sang fotografer menghitung untuk menjepretkan kamera.
“Tunggu, tunggu! Kayaknya ada yang sedikit kurang deh!” Si pria kemayu melakukan interupsi. Lalu, dia menghampiriku. “Ininya dibuka sedikit ya biar makin cetar menggoda.”
Pria tersebut memintaku membuka kancing celana jeans yang aku kenakan. Aku terdiam sesaat, meredam amarah.
Tangan si pria menyosor ke celanaku tanpa persetujuan. Dia pun seakan hendak menyasar bagian vitalku.
Dengan cepat, aku menepis tangan si pria. “Sorry, saya nggak bisa kayak gini. Pemotretan macam apa ini?”
Aku pergi sambil merapikan baju. Andai Andy tidak menahanku, aku sudah mengobrak-abrik tempat ini. Kesabaranku benar-benar di ambang batas ketika tangan asing mencoba menggerayangi wilayah privasiku.
“Tenang, Gas! Gue rasa lu hanya salah paham,” ujar Andy begitu kami masuk ke dalam mobil.
“Tenang? Gue yang salah paham? Lu nggak lihat betapa mesumnya di b*nc*ng tadi. Dia kira gue cowok yang haus ketenaran dan harta. Gue punya segala. Gue nggak perlu menjadi foto model atau selebritis atau apa pun itu demi uang.” Andy menjadi pelampiasanku dalam menumpahkan semua kekesalan.
Aku akan meminta pertanggung jawaban Adisty mengenai hal ini. Awas saja jika nanti aku bertemu dengannya.
Kupacu kecepatan mobil di gigi 4 agar bisa segera sampai ke kampus. Andy terus mengingatkanku agar berhati-hati dan mengalihkan laju mobil pada kecepatan standar.
Aku tahu perilaku cukup berbahaya. Namun, ini cara untuk meluapkan kekesalan dan menggantinya dengan adrenalin baru.
Ada saja hal yang membuat kepalaku panas setiap harinya. Ataukah aku yang mulai tidak bisa mengendalikan emosi?
__ADS_1
Saat hendak memasuki gerbang kampus, aku lihat Ardi berjalan dengan langkah yang mencurigakan. Entah mengapa, aku merasa dia seperti hendak bertemu dengan seseorang.
Aku meminta Andy mengendalikan setir mobil. Aku turun untuk mengikuti si Kunyuk itu. Aku ingin mengetahui apa yang akan dia perbuat.
Ardi menengok kanan dan kiri, memerhatikan keadaan di sekitarnya. Lalu, dia masuk ke dalam minimarket.
Ah, apa jangan-jangan dia hanya ingin berbelanja? Apa aku terbawa over thinking saja ketika melihat dia berjalan sendiri di tempat umum?
Aku tunggu Ardi keluar dari minimarket selama beberapa saat. Tak terlihat dia menenteng makanan atau pun minuman. Lantas, apa yang dia lakukan di minimarket tersebut? Apa hanya menumpang ke toilet? Tidak mungkin.
Aku ikuti lagi Ardi dengan berhati-hati. Kakiku sudah menginjak jejaknya, sekalian saja aku kulik kegiatannya.
Ardi menatap ponselnya. Sepertinya ia mendapat telepon dari seseorang. Ia menoleh sekelilingnya, kemudian menepi ke tempat yang sepi.
Aneh, jika hanya telepon biasa harusnya dijawab di mana pun tidak perlu risih. Aku mengendus sikap yang bukan sekadar menampilkan sifat introvert.
Aku berlindung di balik tembok untuk menguping percakapan si Kunyuk.
“Gue bilang lu itu bodoh. Harusnya lu paksa si Bagas lebih keras lagi,” ucap Ardi kepada lawan bicaranya di telepon.
Siapa orang yang Ardi katakan bodoh? Dia juga menyebut namaku. Sudah pasti orang itu merupakan orang yang aku kenali.
“Gue udah capek-capek ngasih saran sama lu, tapi lu malah nyerah gitu aja. Kalau lu suka sama seseorang, lu perjuangin dong. Lu desak juga Mutia supaya mau mengalah sama lu. Lu pura-pura nggak bisa hidup tanpa Bagas. Kalau kemarin ancaman bunuh diri lu gagal, coba cara lain,” imbuh Ardi.
Instingku memang tidak pernah salah. Gelagat Ardi memang menyimpan sebuah rahasia. Aku pun yakin orang yang ada di seberang telepon Ardi yaitu Metha.
Dia menyuruh Metha memperjuangkan cinta. Namun, dia juga menghalalkan segala cara. Aku tidak menduga dia lebih bodoh dalam hal asmara dibandingkan aku.
“Lu kapan balik ke sini? Gue akan ajarin lagi gimana caranya biar lu bisa dapetin hati Bagas,” pungkas Ardi.
Akhirnya, terkuak juga. Orang yang berada di balik perubahan besar dari sifat Metha yaitu orang yang tidak aku sangka sama sekali.
Apakah aku hajar saja Ardi sekarang? Tidak. Ada CCTV yang mengarah ke tempat kami berdiri.
Pura-pura harus dilawan dengan pura-pura juga. Bara di kepalaku semakin menyala. Aku akan balas Ardi dengan cara yang lain. Aku tidak perlu mengotori tanganku.
Sungguh, julukan si Muka Dua begitu pantas disematkan kepada Ardi. Dia punya rencana untuk menghancurkanku, aku pun punya rencana yang sama. Tinggal rencana siapa yang lebih matang, itu yang akan menang. Betul, kan?
__ADS_1