ISTIKHARAH CINTA

ISTIKHARAH CINTA
Pelayanan Hari Pertama


__ADS_3

Setelah semalam kami disuguhkan dengan pemandangan yang tak pernah kami lihat sebelumnya, akhirnya kami mengawali hari ini dengan semangat yang membara.



Pukul 5 Pagi aku terbangun namun sudah tak ada siapapun yang bisa aku sapa, awalnya aku bingung kemana Ricky dan yang lainnya, aku mencoba meraih telefon genggamku yang tengah aku Carger, namun sebelum aku meraihnya seseorang dari luar kobong berseru memanggilku sambil mengucapkan salam.



“Assalamualaikum??? Mas Jhonathan”



Aku membalas salam tersebut dengan sedikit menguap.


“Waalaikumsalam”


Ketika aku membuka pintu ternyata Sahil, santri kecil yang pertama kali aku kenal.



“ohhhh kamu Hil!!!, ada apa” tanya ku.



Sahil tersenyum dan meraih tanganku .


“ Mas nya di tunggu Mas Ricky di Kebun belakang...” jawab Sahil dengan Nada Medoknya.



Aku sempat terdiam, apa yang sedang Ricky lakukan di Kebun Pagi Buta Begini.


“iyaaaa terimakasih” ujar ku.



Sambil meraih tanganku, kembali sahil mengucapkan salam sambil bergegas pergi, “Njeh Sami-sami, kalau begitu Sahil pergi dulu ya Mas... Assalamualaikum”



Salam sahil tak aku jawab, aku bergegas ke kamar mandi untuk mencuci muka, sebelum sesampainya aku di kamar mandi... aku baru tersadar bahwasannya aku tak tahu dimana letak Kebun yang di maksud sahil, akhirnya aku urungkan niatku untuk ke Kamar Mandi dan berbalik arah menuju Kamar ku.


Sambil berjalan aku terus mengusap-usap Wajahku seraya Mulutku tak henti-hentinya menguap.



“Assalamualaikum, selamat pagi mas jhonathan”



Suara itu terdengar di belakangku, aku menoleh ke belakang sambil membalas salamnya.



“Waalaikumsalam”


Namun setelah aku menoleh terlihat Zahra yang seketika membuat aku menjadi segar kembali bagaikan telah tersiram Embun pagi, aku tersenyum sambil mengusap wajahku.



ia berjalan menghampiriku sambil berkata


“Mas Jhonatan, mau kemana tooo???? “ tanya Zahra



Dengan sedikit terbata-bata aku menjawabnya.


“ma.... mauu ke Kebun, De Zahra.... tapi gak tahu tempatnya dimana...”


Ucapankau terdengar sangat baku, sampai-sampai Zahra meledekku..



“Ndak usah Formal gitu too mas bicaranya... kaya lagi bicara sama Presiden ajah”



Perkataan Zahra yang Lembut dan sedikit medok tersebut membuat wajahku terlihat meMerah..


Aku mencoba meNgles.


“hahahah..... itung-itung latihan buat Presentasi Sidang nanti..”



Namun ternyata Zahra pintar sekali membalikan perkataanku, dia kembali bertanya sambil sedikit meledek.


“emang Skripsinya Sudah sampai mana Tooh???”


Dalam hatiku aku bergumam “mampus dehhhh gw kejebak omongan sendiri”...


Aku hanya menggaruk-garuk kepalaku dan mencari-cari jawaban yang pas untuk menjawab pertanayaan nya.


Tetapi aku berpikir terlalu lama yang megakibatkan aku terlihat sedikit melamun.



“Mas..... Mas.. Jhonatan!!” ucap zahra



Aku tersadar dan menjawab.


“ii ii iyaaa”

__ADS_1



“ayooo kalo mau Ke Kebun, biar Zahra antar” ajak Zahra


Zahra berjalan terlebih dahulu di ikuti aku di belakangnya.


Tak ada perbincangan selama kami berjalan, karena Zahra sibuk menyapa semua santri yang berpapasan dengannya, sedangkan aku hanya melanjutkan dengan senyuman.


Beberapa saat kami sampai di Kebun, Zahra menujukan letak kebunnya.



“nahhh itu Kebun milik Pondok Pesantren ini mas, memang ndak terlalu luas.. tapi Alhamdulillah Semua sayuran yang kita konsumsi berasal dari sini... yaaa itung –itung irit pengeluaran mas”



“hmmmmm benar juga sih.... kalau nanam sendiri kan jadi lebih hemat dan sehat tentunya.”



“iyaaa mas.... ehhhh itu Mas Ricky sama Mbak Citra.” Ucap Zahra.



Aku menoleh dan terlihat Ricky dengan Citra tengah menanam sesuatu bersama Pa’De Suryo.



“ohhhh iya.... terimakasih Zahra sudah mengantar kesini”



“ndak apa-apa toh mas,itung-itung jalan-jalan pagi... kalau begitu saya permisi dulu.. Assalamualaikum “



“waalaikumsalam”



Zahra berjalan meninggalkanku, setelah tak terlihat... aku bergegas menghampiri Ricky Dan Citra.



“wehhhhhhh Tuan Raja Kita sudah terbangun dari mimpi indahnya” ledek Ricky



“ngapain sih??” tanya ku.



Namun Pa’De Suryo yang menjawab pertanyaanku.


“jadi Stok Obat kampung ini sudah menipis, berhubung akhir-akhir ini Dana dari Pemerintah sudah agak berkurang... jadi Pa’De berinsiatif untuk menanam Obat-obatan Herbal”




“hahahah bener tuhhhhh” sambung Ricky



“ ehhhh Hartono luuu juga sama aja” ujar Citra



Pa’De Suryo mencoba melerai


“sudahhhh sudah..... cepet bantuin Pa’de biar cepat selesai, nanti kalo udah selesai Pa’De ajak ke Klinik tempat kalian kerja, pa’de mau ke depan dulu ada urusan”



Pa’de begegas Pergi ....


Kami melanjutkan menanam beberapa Daun Mint, Jahe, Bratawali dan sebagainya.


Setelah selesai kami membersihkan diri dan bersiap untuk pergi ke Klinik bersama-sama.



"Joo...." ricky memanggilku



"apa ky?"



"kok gw jadi gugup gini ya" tanyanya



"maklum lah, inikan praktek pertama kita, makanya kita harus memberikan pelayanan terbaik kita okk" jawabku



"siapp pak boss"



kami berjalan menuju klinik yang tempatnya lumayan agak jauh dari Pondok, kami berjalan kaki, disepanjang jalan Pade Suryo tak henti hentinya memberikan kami Nasihat dan pengarahan.


__ADS_1


terlihat warga desa mulai berbondong-bondong pergi ke ladangnya masing-masing, beberapa dari mereka membawa sapi dan hewan ternak lainnya.



setiap warga yang berpapasan langsung mengenal kami, yaa meskipun aku masih mencoba untuk mengingat nama mereka masing-masing..



Setelah sampai ditempat, aku melihat bangunan Klinik yang sudah mulai rusak, atapnya mulai rapuh, dinding yang sedikit mengelupas dan retak ditambah peralatan medis yang kurang memadai.



Aku sempat berfikir .... ternyata pilihan Pa’De Suryo untuk menanam Tanaman Herbal merupakan yang paling tepat untuk kondisi seperti ini.



Kami di tempatkan di ruangan yang berbeda satu sama lain.



disana kami diperkenalkan dengan perawat lainnya.



Beberapa jam kami hanya duduk, berdiri, berjalan ke luar Klinik, masuk ruangan lagi, hingga tak teras Adzan Dzuhur berkumandang.


Semua pegawai bergegas menuju Mushola Terdekat termasuk Ricky dan Citra,



“Joooo kita tinggal dulu gak apa-apa kan??” ucap Ricky



“iyaaa gak apa-apa”



“sippp”



Ricky dan Citra meninggalkanku, sekarang hanya tersisa aku sendiri di klinik tersebut. Aku mencoba menghilangkan kejenuhanku dengan berjalan-jalan sekitar Klinik, sambil melihat kehidupan kampung.



Setelah ku rasa Cukup aku kembali ke Klinik dan terlihat beberapa pegawai sudah mulai berdatangan, namun Ricky dan Citra belum juga muncul.



Tak lama Mereka datang bersama Zahra, tiba-tiba aku kembali salah tingkah hingga tak kusadari ternyata aku melangkah mundur dan menabrak kursi yang membuat semua pegawai merasa kaget.



“Assalamualaikum”


Zahra mengucapkan salam dan semuanya menjawab.


“Waalaikumsalam”



“monggo makan dulu pak bu....” ajak Zahra.


Semua pegawai termasuk aku Citra Ricky makan sangat lahap..



Memang.... hari itu kondisi sangat sepi, tak ada seorangpun warga yang datang untuk berobat.



"Pade, ini memang setiap hari sepi ya??" tanya citra



"Alhamdulillah, itu tandanya warga disini pada sehat-sehat" jawab Pade.



"benar juga ya" ucap Citra



Pade tersenyum dan berkata


"monggo makan lagi, habiskan.. "



Aku sangat senang melihat semua pegawai berbaur satu-sama lain.


Setelah selesai, zahra membereskan semuanya, sedangkan yang lainnya kembali bekerja.


Aku mendekat untuk berniat membantu...


“saya bantu yaaa”



“ndak usah mas.... biar saya saja”


zahra tak sedikitpun menoleh, namun aku bersikeras untuk membantunya, aku mencoba mengambil sapu dan menyapu sisa-sisa nasi yang tertinggal, sedangkan Zahra terus berbenah.


__ADS_1


Waktu terus berjalan, dan hari itu benar- benar tak ada seorangpun yang datang untuk berobat.



__ADS_2