
Pagi ini kami beraktifitas seperti biasa, sebelum berangkat menuju klinik kami menyempatkan untuk melihat pertumbuhan tanaman-tanaman obat herbal yang tempo hari kami tanam.
setelah itu bergegas menuju Klinik.
suasana Klinik sama seperti hari-hari sebelumnya, Sepi, dan hanya beberapa warga saja yang datang untuk sekedar berkonsultasi.
siang harinya Zahra datang dengan Rantang makanannya, dan semua pekerja makan bersama-sama.
waktu terus berjalan, tanpa terasa hari sudah mulai menuju Sore, jam sudah menunjukan pukul Tiga, aku melihat Zahra tengah duduk di teras Klinik sambil membereskan Wadah-wadah tempat makan.
aku mendekatinya dan mencoba untuk berbincang.
"Zahra..." ucapku
ia menoleh lalu berkata.
"nggih mas, ada apa to??"
aku duduk disampingnya.
"nggak, cuma mau nagih janji kamu semalam, barangkali masih ingat, atau sudah lupa?"
"Yo pasti inget lah mas, nanti sore zahra anter ya"
"siap... kalo gitu Mas, eh saya ke dalam dulu ya."
aku beranjak masuk sedangkan zahra masih saja berkutat dengan wadah-wadah tersebut.
Sore itu Zahra mengajakku ke tempat yang ia janjikan kepadaku tadi malam.
Selama perjalanan tak ada sedikitpun kata yang kami berdua ucapkan, selang beberapa menit kami akhirnya sampai ditempat.
Sebuah bukit yang langsung menghadap ke pesawahan membuat siapa saja yang melihatnya pasti akan merasakan apa yang aku rasakan, tenang dan sejuk itu yang pertamakali terlintas dibenakku.
“ini mas tempatnya, biasanya kalo Zahra lagi banyak pikiran atau nyari ide buat skripsi pasti dateng ketempat ini..”
“perfect…..” kata itu terucap begitusaja dari mulutku.
“Zahra dikasih tau ibu tentang tempat ini”
“dan itu….” Aku menunjuk sebuah bangku yang terbuat dari bambu.
“itu Zahra yg buat, dibantu beberapa santriwati disini mas…”
“hmmmmmm…. Terimakasaih banyak yaaa Zahra sudah mengajak saya dateng ketempat ini..”
“iya mas sama-sama, ohhh iya kalo butuh sesuatu bilang aja ke Zahra ya mas, siapa tahu zahra bisa sedikit membantu..”
Aku tersenyum mendengar ucapannya tersebut dan menjawab.
__ADS_1
“Zahra juga kalo butuh tempat buat curhat atau sekedar berbincang mas siap ko untuk mendengarkan”
ia hanya terdiam..
"ehhh maksudnya, kalo zahra butuh bantuan apa gitu, apapun itu kalo Mas bisa, maksudnya Saya bisa bantu, saya siap bantu, jangan sungkan ya"
Zahra tersenyum dan menjawab.
“Pake Mas juga gakpapa toh mas....”
“hmmmmm boleh lah boleh….”
Zahra kembali tersenyum namun kali ini sedikit lebar.
Kami beranjak dari tempat kami berdiri, dan duduk di bangku bambu yang ukurannya lumayan besar.
Sementara aku melanjutkan pekerjaanku, Zahra tiba-tiba berbicara.
“kalo ketempat ini Zahra jadi inget ibu…”
Aku sempat bingung dengan yang ia bicarakan, akhirnya aku bertanya.
“lohhhh bukannya….”
Namun pertanyaanku terpotong.
Aku terkejut dengan pernyataan Zahra.
“inalillahi… maafkan mas, mas gk bermaksud..”
Lagi-lagi ucapanku terpotong.
“iyaaa mas ndak apa-apa. Memang sudah takdir Zahra seperti ini.”
Aku sempat iba terhadap Zahra, namun tiba-tiba aku teringat dengan apa yang Zahra katakan malam tadi, dan aku mencoba memastikan.
“maaf yaa Zahra bukannya lancang, tapi…..yang semalam kamu...”
Zahra menghela nafas dan menceritakan semuanya.
“huf……. Iya mas… jadi setelah ibu meninggal, bapak sempat murung, ndak mau bersosialisai dengan semua warga termasuk Zahra, namun entah darimana bapak bisa kenal dengan wanita itu, setelah 4 bulan kepergian ibu, akhirnya bapak menikah dengan perempuan itu… dan semenjak bapak menikah, perlakuannya terhadap Zahra jadi berubah, sekarang Zahra sering d bentak, sering kena marah”
Untuk kesekian kalinya aku merasa terkejut atas perkataan zahra..
Kemudian zahra meneruskan pembicaraannya.
“semoga kelak zahra bisa hidup lebih bahagia, sebahagia waktu Ibu masih ada"
Aku sempat terharu mendengarnya, lalu aku mencoba untuk merespon.
__ADS_1
“Aamiin, mas yakin ko suatu saat lelaki baik seperti yang zahra harapkan akan datang bersama kebahagiaan dan surganya Tuhan”
Zahra terlihat menunduk dan menjawab.
“semoga saja mas....”
beberapa detik kemudian ia berkata
"lohhh ko malah Lelaki sih mas??" tanyanya
aku sempat bingung, lalu menjawab seadanya yang ada di fikiranku kala itu.
"emmmm maksud mas, yaa semoga suatu hari nanti kebahagiaan yang seperti zahra harapkan bisa zahra dapatkan, gitu loh"
ia hanya tertawa kecil mendengar jawabanku, lalu kembali menunduk.
"kamu tahu gak? mas juga pernah kehilangan seseorang sumber kebahagiaan mas, bukan cuma satu, tapi langsung Tiga.."
"maksudnya Tiga??"
"iya.. Orangtua Mas Bercerai waktu umur mas 18tahun, lalu Mas di asuh Paman, beberapa tahun kemudian Paman Mas di panggil Tuhan, sampai sekarang Mas hidup sendirian, untung aja mas punya Citra sama Ricky, jadi hidup mas sedikit lebih berwarna kembali, jadi seharusnya Zahra bisa lebih Bersyukur, masih punya Bapak, Ibu, Warga Desa, sama Santri-santri disini yang selalu ada buat Zahra, gak kaya mas..."
"Ya Allah.... yang Sabar yo mas... insyaAllah suatu saat nanti kebahagiaan bakalan singgah di kehidupan mas Jhonathan, Inget Tuhan gak pernah membiarkan umatNya tinggal sendirian dalam kesedihan dan kesendirian... Semangat!!!"
"Aamiin...."
"Kalo gitu Zahra pamit Balik ke pondok yo mas"
"okkk, makasih banyak ya.."
"sama-sama, mas Jhonathan masih inget kan jalan pulangnya??" tanya Zahra
"Ya inget lah.... emangnya Mas sepikun itu"
"heheh becanda, yaudah Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam"
aku baru teringat bahwa aku belum memberitahu ricky bahwasannya aku pergi kesini.. dengan sedikit berlari aku mencoba mengejar Zahra dan memintanya untuk memberitahu ricky.
“zahraaaaaaaa” teriakku dari atas bukit
“nggih mas!!!” jawabnya sambil berteriak
“nanti kalo ketemu ricky atau citra, bilangin aku ada disini....”
“ohhhh njeeh njehhh” imbasnya.
Aku mengacungkan jempolku kepadanya, dan zahra pun pergi menuju pondok.
__ADS_1