
Pade Suryo pernah berkata, "kalau kamu meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik" dan itulah yang menjadi landasanku kali ini.
terkadang kita memang harus meninggalkan sesuatu yang sudah menjadi bagian dari hidup kita yang tidak bisa terpisahkan, namun tanpa kita sadari hal itulah yang membuat kita tertinggal dan hanya jalan ditempat.
saat berjala meninggalkan, terkadang rasa lelah menghampiri, rasa ingin menyerah, rasa sudah tidak kuat lagi bertahan, tapi ternyata semua rasa itu amatlah wajar.
kita memang harus merasakan lelah, menyerah dan takut untuk akhirnya menemui bahagia.
ingat! Surga di dapat tidak dengan cara yang cuma-cuma.
saat berusaha meninggalkan, kita juga sering merasa sendirian, berjalan seorang diri tanpa pijakan, berjalan seorang diri tanpa tahu kemana arah yang sebenarnya.
kita hanya meraba angin, menerka-nerka tiap jengkal jalan yang dilalui.
tapi nyatanya kita lupa, bahwa tidak ada manusia di dunia ini yang ditinggalkan sendirian.
kita lupa bahwa masih ada Allah sang pencipta yang senantiasa ada bernaung dalam diri kita.
petunjuk-NYA akan selalu ada, jika kita memintanya.
jalan-NYA selalu mudah jika kita mau mematuhinya.
Ia datang saat kita merasa kotor dan berdosa, tapi tak jarang kita juga kehilangan-NYA saat kita merasa sudah bersih dan suci.
pada malam yang berbadai, pada pagi yang berkabut, Ia senantiasa menemani kita, membimbing kita, tanpa pernah sedetikpun meninggalkan kita.
*
setelah mereka menghilang terhalang kerumunan orang, lantad aku kembali ke ruanganku.
aku berjalan menyusuri koridor dan lorong-lorong rumah sakit yang sepi.
tak ada lagi suara riuh gemuruh pasien, hanya satu atau dua penjenguk yang keluar dari kamar tiap pasien.
sesekali mereka menyapaku, dan melontarkan senyumannya.
aku berniat untuk menjenguk Dion terlebih dahulu, yang kudengar ia sudah kembali pulih.
namun ketika hendak kubuka pintu kamarnya, tak ada seorangpun disana.
ruangan kosong, hanya ada dua ranjang pasien yang berbaris rapih, dengan selimut dan bantal yang sama.
aku kembali ke ruanganku, diperjalanan aku berpapasan dengan suster Celine.
__ADS_1
"mohon maaf, Suster Celine" ucapku sembari memanggilnya yang berpapasan denganku.
ia menoleh dan berkata
"Ia Dok? ada yang bisa saya bantu?" tanyanya
"Enggak ada, saya hanya mau tanya, Mmmm Dion sudah pulang kah??" jawabku
"Betul, sudah sedari dua atau setelah Dokter ngambil cuti Dion dijemput orang Panti, dan kondisinya juga sudah sangat baik, jadi pihak rumah sakit membolehkannya untuk di rawat di rumah" jelasnya panjang lebar
"hmmmm, Syukurlah kalau begitu, hanya saja saya jadi gak sempet berucap sampai jumpa"
"ohhh iya, maaf ya Dok, saya lupa memberi kabar"
"tidak apa-apa, saya senang Dion sudah diterima di panti lagi"
Suster Celine mengangguk, dan aku melanjutkan perkataanku
"kalau begitu saya permisi, terimakasih, maaf mengganggu waktunya"
"iya Dok sama-sama"
lalu Suster Celine beranjak dari hadapanku.
aku kembali berjalan menuju ruanganku.
aku menopang kepalaku, sedikit aku pijat semampuku, ku oleskan minyak kayu putih yang biasa aku pakai.
ku balurkan di sekitar leher, punduk dan kembali aku pijat.
badanku mulai terasa mengigil, sampai akhirnya aku tak kuat lagi menopang berat badanku sendiri.
sejak kejadian itu aku tidak ingat kelanjutannya bagaimana.
yang ku tahu, sekarang aku sudah berbaring di sofa ruangnku.
aku buka mata, waktu menunjukan pukul 2 dini hari, ku sapu semua sudut ruanganku, sampai aku menemukan Dokter Kinan yang tengah tidur dengan posisi terduduk di bawah kaki ku.
aku mencoba untuk berdiri, dan ku bopong Dokter Kinan menuju sofa tempatku berbaring, dan ku selimuti dia dengan jas Dokterku.
ia masih tertidur, nampak raut wajahnya sangat lelah, pipinya tak merah lagi, namun sedikit agak memucat.
aku keluar untuk mencari barangkali masih ada toko atau warung yang masih buka di kantin, aku baru teringat bahwasannya aku melupakan makan siangku, dan tadi pun belum sempat untuk makan malam.
__ADS_1
ku susuri malam itu, namun hasilnya nihil.
aku terduduk di bangku tunggu di depan satu ruangan, sambil memjamkan mata mencoba untuk terlelap.
namun tak lama seseorang keluar dari balik pintu lantas menegurku.
"Selamat malam Dok"
aku mencoba tersenyum dan membalasnya.
bapak Tua mungkin kisaran umur 60 tahun an.
"Iya selamat malam pak" jawabku
ia duduk di sebelahku
"istri saya yang sakit, sudah di rawat kurang lebih 3 harian, Alhamdulillah sekarang sudah berangsur membaik" ucapnya
aku paham dengan sifat orang tua, mereka tak perlu dipancing untuk bisa bercerita.
"Ibu sakit apa Pak?" tanyaku
"ahhh biasa penyakit orang tua, ya asam urat, ya kolesterol, istri saya dulu seneng banget makan-makannan yang banyak santannya, sekarang baru kerasa efeknya."
"mmmm begitu, semoga Ibu cepat sembuh ya pak"
"Aamiin, dia sudah mulai lupa dengan orang-orang disekitarnya, untungnya sama saya masih ingat.. hehe" candanya, lalu melanjutkan perkatannya.
"maaf ya Dok saya malah mengganggu"
"gak apa-apa Pak, saya malah senang loh pak rasanya ketika mendengarkan cerita dari orang tua seperti bapak, saya juga sering berharap, kalau suatu saat nanti saya juga bisa sama-sama menua bersama orang yang saya Cintai, seperti bapak dan Ibu"
"Dokter sudah berkeluarga??" tanyanya.
"Belum" jawabku sembari menggelengkan kepala
"Bapak Doaka semoga Gusti Allah segera mempertemukan Dokter dengan Jodohnya, supaya bisa menua bersama-sama" ucapnya sembari menepuk pundakku
"Aamiin, terimakasih... sehat-sehat ya pak, biar bisa menjaga Ibu terus"
ia tersenyum, guratan senyumnya mengingatkan aku kepada Orangtuaku.
"kalau begitu saya permisi ya Dok" ucap Bapak itu, lantas berjalan meninggalkanku
__ADS_1
dalam hati aku bergumam
"ya Allah, sehatkanlah kedua orangtuaku, meskipun sekarang mereka sudah berpisah, meski kami tidak dapat untuk kembali bersama, tapi aku mohon bahagiakanlah mereka dengan keluarganya masing-masing, bahagiakanlah mereka di masa tuanya, jangan sesekali engkau mengambil mereka dariku tanpa ada aku mendampingi disisinya."