ISTIKHARAH CINTA

ISTIKHARAH CINTA
Skenario Tuhan #4


__ADS_3

"Sebaik-baiknya manusia ialah yang paling bermanfaat bagi sesamanya."


kalimat tersebut mungkin yang menjadi patokanku untuk hidup, meski terkadang lelah menerpa, namun bisa melihat orang lain kembali tersenyum merupakan obat dari segala obat yang ada di Dunia ini.


sekitar sepuluh menitan, akhirnya aku sampai di depan komplek.


"Terimakasih Dok, maaf merepotkan" ucapku seraya membuka sitbelt yang masih terpasang.


aku beranjak dari kursi setir dan membuka pintu mobil, sebelum kembali menutup pintu, tiba-tiba Dokter Kinan menahan Pintu dan berkata.


"Dok kalau keadaan diluar ginimah panggil nama aja ya" pinta Dokter Kinan


"kalau begitu Dokter Kinan juga sama ya, panggil nama saja" jawabku


ia mengangguk, dan aku tersenyum sambil berlalu.


ku perhatikan Mobil dokter Kinan sampai menghilang di Perempatan Jalan.


aku berjalan menuju rumah, keadaan komplek saat itu sudah sepi, jam menunjukan pukul 12:13 dini hari.


jalanan terlihat berkilau karena bekas guyuran air hujan, dan tersorot lampu tiap rumah yang sedikit temaram.


"ternyata hujan hari ini merata" gumamku dalam hati


sesampainya di rumah, seperti biasa tak ada seoranpun yang terlihat, ku buka pintu, ketika hendak masuk ke dalam kamar, aku menoleh ke arah meja makan, hidangan makan malam sudah tersedia.


di atasnya terdapat secarik kertas.


"Mas, tadi saya sempat masak, takutnya Mas Jojo gak jadi dinas malam, tapi kalau jadi pun tolong dimakan ya Mas, kalo udah pulang, InsyaAllah gak akan basi ko, masukin aja ke Microwave ya Mas kalo dinginmah, ohh iya tadi Ibu datang kesini, katanya mau bertemu Mas Jojo, kalo ada waktu Ibu mau ketemu katanya, Terimakasih ya Mas"


seketika aku langsung meraih ponselku, ku lihat pesan masuk, dan ternyata memang ada satu pesan yang terlewat dari Ibu.


"Jooo, Ibu mau bertemu, kalau Jojo ada waktu kabarin Ibu ya"


aku hendak membalasnya, namun ku urungkan karena sudah terlalu lelah untuk memikirkan hal-hal yang seperti ini.


Keesokan harinya, seperti biasa setelah sarapan, aku segera bersiap-siap untuk beraktivitas, pagi ini aku sudah berjanji untuk bertemu Ibu, awlanya aku menghiraukan pesan yang ibu kirim, tapi pagi tadi Ibu telvon dan bilang ingin sekali bertemu.


pada akhirnya aku meng iyakan saja.


aku membuat janji di restauran yang sudah biasa kami datangi, sesampainya disana, aku mencoba menghubungi Ibu, namun tak kunjung mendapatkan jawaban, tak lama sebuah pesan masuk ke telepon genggamku.

__ADS_1


"Jo, Sebentar lagi Ibu nyampe, kamu tunggu di dalam aja."


aku tak membalasnya, dan langsung masuk ke dalam restauran tersebut.


selang beberapa waktu, ibu datang bersama suaminya, yang tak lain berarti Ayah tiriku.


aku sudah lama tidak melihatnya (Ayah Tiriku).


aku meraih tangan Ibu, begitupula dengan Ayah Tiriku.


"sudah lama??" tanya Ibu


aku hanya mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah kata..


"Kita bicaranya di rumah ibu saja ya.. Ibu nyuruh kamu kesini awalnya karena takut kamu gak mau ke rumah Ibu" pintanya


kebetulan Rumah ibu yang sekarang memang tak jauh dari restauran tersebut.


sekali lagi aku hanya mengangguk.


sepanjang perjalanan kami hanya terdiam, sesekali Ayah tiriku melirik lewat kaca depan mobil.


tak lama kami sampai.


Ayah tiriku membukakan Pintu, aku duduk di meja ruang tamu.


"ibu bikinin minum kesukaan kamu ya??" tanya Ibu


"gak usah bu" jawabku


kamu duduk saling berhadapan, Ibu disebelah kanan dan Ayah tiriku di sebelah kiri.


lalu ibu memulai pembicaraannya.


"maafin Ibu ya Jo, sudah lama ibu gak nengokin kamu, kerjaan ibu lagi banyak, belum lagi kalo harus dinas luar kota, bisa lama banget, Ayahmu aja sering banget ibu tinggalin.."


sebelum selesai, aku memotongnya, memang terdengar tidak sopan, namun masih tersimpan sedikit rasa marah dalam diriku terhadap ibu.


"memang biasanya juga seperti itu kan Bu?? " pungkas ku


Ibu menghela nafas panjang-panjang, sementara Ayah Tiriku hanya terdiam sambil sesekali mengerutkan dahinya.

__ADS_1


"Joooo, maafin ibu ya" pintanya sembari menggenggam tanganku.


"gak perlu Bu, tak sepantasnya seorang Ibu meminta maaf kepada anaknya, lagian sudah sejak lama aku maafin.." jawabku sembari melepaskan genggaman tangannya.


"Sebenarnya Ayah kamu yang minta kita buat ketemu"


"Ayah yang mana??" jawabku sedikit ketus


"Sayang, jangan gitu dong" ucap Ibu


"Ibu... langsung saja ke pokoknya, aku harus segera ke rumah sakit, ada pasien yang menungguku."


"Ibu dan Ayah mau kamu tinggal bareng kita, dirumah ini" pintanya sedikit lirih


"maaf bu, Jhonathan udah gede, sudah bisa hidup sendiri, sudah bisa mengurus semua keperluan Jojo sendiri, lagian kalo hanya untuk menetap terus Ibu sering gak ada di rumah, untuk apa, sama aja kaya Hidup sendiri"


"tapi Jo... Ibu mohon untuk sekali ini saja, turuti apa yang ibu mau"


"Bu... sedari kecil Jojo selalu menuruti semua yang ibu mau, Ibu nyuruh Jojo home schooling, jojo ikuti padahal Jojo pengen hidup normal, punya banyak teman, punya banyak kenalan, Ibu pengen Jojo jadi Dokter, okk Jojo turutin, tapi pernah gak sekalipun Ibu nurutin apa yang Jojo pingin??? gak pernah kan?? semuanya harus Ibu dan Ayah, kalo hanya itu yang ingin Ibu bicarakan, maaf bu Jojo harus segera pergi" jawabku sembari beranjak dari tempat duduk ku.


sebelum aku pergi Ayah Tiriku menghadangku, namun anehnya tidak ada yang ia katakan.


"apalagi Om??? mau merintah saya untuk nurutin kemauan Om juga??? " ucapku sedikit membentak


"Ibu Kamu sakit Jo, Ibu kamu menderita Kanker, sudah stadium 3" teriak Ayah Tiriku


aku yang mendengarnya sangatlah terkejut, Ibu yang terlihat sehat ternyata memendam sakit yang teramat serius.


lalu Ia melanjutkan perkataannya.. kali ini nada suaranya sudah mulai turun, suaranya sangat lirih.


"dan kamu masih berani, masih tega buat ngebentak-bentak Ibu kamu?? okkk kamu gak mengakui atau menghargai saya sebagai Ayah sambung kamu, tapi Saya Mohon, untuk sekali ini saja... turuti apa yang Ibu kamu mau"


aku menoleh ke arah Ibu, air matanya mulai menetes, ia hanya menunduk tak bergerak, tangannya terus saja mengenggam satu sama lainnya.


aku menghampirinya, aku berlutut di hadapannya, lalu berkata.


"apa benar yang dia bicarakan bu?? sejak kapan?? kenapa ibu gak pernah cerita?? buuu?? jawab bu..."


namun Ibu tetap saja terdiam, air matanya semakin mengalir dengan deras.


aku memeluknya, tak terasa air matapun ikut menetes, anak mana yang tak terpukul ketika mendengar orangtuanya menanggung sakit, sekalipun di masa lalu Ia telah banyak menyakitimu.

__ADS_1


"maafin Jojo bu, Jojo gak bisa ngerawat Ibu, Jojo egois terus-terusan menyimpan dendam ke Ibu, maaf buuuu"


__ADS_2