
Sesampainya di Klinik aku tetap tak melihat Ricky dan Citra, ternyata benar saja mereka pergi ke Pondok.
di klinik hanya ada bu Siti yang tengah menyapu lantai, Beberapa Perawat berbincang di ruang tunggu, dan PaDe Suryo yang tengah Duduk di teras Klinik.
"Assalamualaikum, selamat Pagi PaDe" ucapku sembari meraih tangan beliau
"Waalaikumsalam, darimana??" tanyanya
"nyari sarapan PaDe, PaDe udah sarapan??"
ia mengangguk lalu menyuruhku untuk duduk disampingnya.
"sini duduk, ada yang mau PaDe tanyakan"
aku mendekat dan duduk disampingnya, beberapa detik hanya hening yang tercipta, sampai akhirnya PaDe membuka pembicaraan.
"Setau PaDe Ibu sama Ayah kamu itu orang baik-baik"
aku mengangguk tak berkata, lalu beliau melanjutkan perkataannya .
"tapi kenapa mereka bisa sampai seperti ini, sampai-sampai anak satu-satunya ter telantarkan seperti ini" ucapnya sembari mengusap-usap pundakku.
"Tapi saya gak merasa ter telantarkan PaDe, Ibu sama Bapak gak lari dari tanggungjawabnya sebagai orangtua, mereka masih ngasih Saya Fasilitas, tempat tinggal, biaya hidup, sampai pendidikan.." belum aku selesai, PaDe memotong pembicaraanku.
"tapi ada satu hal yang mereka lupakan"
sekejap aku terdiam, begitu juga dengan beliau.
"tanggungjawab orantua bukan hanya sekedar memberi fasilitas seperti yang barusan kamu katakan, lebih dari itu, harusnya mereka bisa ikut andil dalam mendidik kamu, memberi Ilmu Agama yang Baik buat kamu, dan itu yang mereka lupakan, sekarang PaDe tanya ke kamu" ia menghadap ke arahku, matanya menyorot tajam, lalu berkata.
"Kamu Cinta sama Zahra?? kamu berharap Zahra bisa jadi pendamping kamu?? tapi ingat nak, Jodoh itu cerminan dari diri kita sendiri, sekarang kalo kamu masih tetap seperti ini, ya jangan harap Gusti Allah bakalan ngasih jalan ke kamu buat bisa bersanding sama Zahra, seenggaknya mulai lah dari hal-hal yang kecil..." beliau masih menatapku.
"Sholat, dekatkan diri kamu, minta sama Allah supaya di permudah segala jalannya"
"tapi saya sudah berjalan terlalu jauh PaDe, saya malu, saya takut Allah sudah tak akan menerima saya, Taubat saya.."
"itu urusan belakangan, yang terpenting dari sini" katanya seraya menunjuk dadaku
"kalo kamu benar-benar dari Hati, gak ada lagi alasan .. yaaaah... PaDe tahu kamu anak yang baik, anak yang pintar, pasti kamu faham apa yang barusan PaDe sampaikan.. InsyaAllah akan selalu ada jalan" ucapnya sembari menepuk bahuku, lalu beranjak meninggalkannku.
aku hanya terdiam dan memikirkan segala perkataannya, aku memang mengaku Muslim, tapi Setelah kejadian beberapa tahu ke belakang, aku merasa sudah sangat menyimpang, Sholat tak pernah aku laksanakan, Puasa apalagi.
suatu masa aku memang benar-benar merasa kehilangan arah, sempat aku mempertanyakan dimana keberadaan Tuhan ketika aku membutuhkannya, dimana Ia ketika aku dalam kesusahan, kesendirian, dan kesepian.
__ADS_1
aku tidak pernah merasakan keberadaanNya lagi, seakan-akan aku memang berjalan di dunia ini hanya seorang diri.
saat aku tengah terdiam tanpa sadar Citra menepuk pundakku.
"Jo??? kenapa?? Lu sakit??" tanyanya
seketika aku tersadar dan menyeka air mata yang hampir saja menetes, lalu mengalihkan pandanganku.
"lu nangis Jo??" Citra bertanya sembari memaksa memalingkan wajahku ke hadapannya.
"gak Cit, gw gak apa-apa, cuman gak siap aja buat ninggalin desa ini" ucapku, namun ku tahu sebenarnya Citra tak yakin dengan apa yang aku bicarakan.
"hmmmm... Jo, gw udah kenal lo lamaaaaaa banget, otomatis gw tahu kapan lo ngomong jujur sama kapan lo boong, gw gak akan maksa lu buat cerita, tapi kalo lo butuh gw, jangan sungkan ya, gw akan selalu ada buat lo" Citra mendekap bahuku lalu menyandarkan kepalanya diatas pundakku.
"Cit.." ucapku
Citra melepaskan sandarannya lalu menatapku.
"iya."
"sebenernya Tuhan itu ada gak sih??" tanyaku
"ko lo ngomong gitu sih Jo! emangnya siapa yang nyiptain lo kalo bukan Tuhan??" jawabnya agak sedikit menaikan volume suaranya.
"gak, maksud gw, kalo emang ada, tapi kenapa saat gw butuh, gw gak pernah merasakan kehadirannya, gw kaya bener-bener sendirian, terus kalo emang Tuhan itu bener-bener ada, kenapa Tuhan membiarkan gw kesepian"
aku terdiam mendengarkan setiap perkataannya, lalu citra melanjutkannya.
"Lu gak kenapa-napa kan jo?? "
"gw suka sama Zahra Cit, tapi dipikir-pikir ko gw Bego banget ya bisa mengharapkan Wanita seperti Zahra, sedangkan gw nya aja kaya gini, gimana gw bisa ngajak dia ke jalan yang bener, yang ada tar malah gw yg doi bimbing"
"Jo... Kalo lo bener-bener sayang dan sepenuh hati lo pingin Zahra jadi pendamping hidup lo, ya benahin lah hidup lo, Sholat lagi, mulai ngaji lagi, Terus banyak-banyakin doa, minta sama Allah"
"gw ngerasa kalo gw udah terlanjur hina Cit, gw udah berlari terlalu jauh" belum selesai lantas Citra memotong pembicaraanku.
"ya gak lah Jo, asal niat lo emang bener-bener pengen memperbaiki diri, sejauh apapun jarak lo sekarang, Tuhan dengan jutaan caranya akan tetap menghampiri lo, kalo yg pernah gw baca sih gini
"Selangkah Lo berjalan menuju Tuhan, maka 10 ribu Langkah Tuhan menghampiri lo, Kalo Lo menghampiri Tuhan dengan cara Berjalan maka Tuhan dengan cara Berlari akan menghampiri lu"
gak ada kata terlambat, InsyaAlloh selalu ada Jalan, Semangat!!" ucap Citra seraya menggenggam tanganku dengan tangannya.
aku tersenyum mendengar apa yang barusan Citra katakan,
__ADS_1
"Thanks ya Cit, lo udah selalu ada buat gw, cuma lo sama Ricky yang bisa nerima gw dengan kondisi gw yang kaya gini, lo udah sabar banget ngadepin gw yang moddyan, gw cowo tapi cemen, malah lo yang sering gw bikin kesel, gw berharap lo sama Ricky bakalan terus seperti ini ya Cit"
"ahhh Jo, ko gw jadi melow gini sih ah.." Citra mengusap matanya yang hampir meneteskan air mata
kami tertawa bersama-sama, lalu Ricky dari belakang menghampiri kami.
"ketawa gak ngajak-ngajak, pasti lo pada lagi ngomongin gw ya???" Tutur Ricky sembari duduk disamping Citra.
"hadeuh lu timeing nya kaga tepat banget sih Ky, jadi ngerusak suasana tau gak??" ucap Citra sambil menepuk paha Ricky
"ohhhh jadi gitu , sekarang pada pinter main belakang yaaa, awas lo Jo kalo macem-macem sama Princess gw" Ricky menunjuk-nunjuk ke arahku, sementara tangan satunya merangkul Citra, aku dengan spontan membantah apa yang dipikirkan Ricky.
"eits... sebentar bosque, ini semua gak seperti yang ada di pikiranlu, santuy lah" candaku
"jo, lu tau kagak?? " tanya Ricky
"apaan??"
"beb ceritain jangan?? " ucap ricky sambil menatap mata Citra, tangannya tak lepas dari bahu Citra, lalu aku baru tersadar dengan apa yang hendak Ricky ceritakan.
"sebentar, kalian jadian??" tanyaku dengan ekspresi yang tidak percaya.
Ricky tersenyum menganggukan kepalanya, kulihat Citra juga tersenyum, raut wajahnya berubah memerah.
aku beranjak dari tempat dudukku dan memeluk Ricky lalu berkata.
"selamat bro, akhirnya perjuangan lo selama ini berbuah manis juga, selamat, selamat, gw doain semoga langgeng nyampe jenjang pernikahan, pokonya nyampe maut memisahkan dah"
Ricky dan Citra serentak berkata "Aamiin"
"kapan??? ko gw kaga tau?? ko lu gak pernah cerita sih Ky?? " tanyaku
"belum lama sih Jo, baru juga tadi pagi" Citra menjawab dengan wajah yang sedikit tersipu malu.
"ohhh jadi yang tadi pagi ke pondok putri itu ternyata."
Ricky dan Citra hanya tersenyum.
"ko lo mau sih Cit?? tar nyesel loh" candaku seraya mendekatkan wajahku ke wajah Citra.
"ahhh sialan lu Jo, ujung-ujungnya tetep aja gak enak"
Jawab Ricky sambil sedikit mendorong tubuhku.
__ADS_1
"tapi beneran dah gw nanya serius"
"kalo udah Cinta gak perlu alasan lagi kali" jawab Ricky dibarengi dengan senyum Citra yang masih saja tersipu-sipu.