
Jam 5 sore. Akhirnya Pa’De Suryo menginstruksikan untuk menutup Klinik saja dengan alasan hari sudah mulai gelap.
"yowis mari kita tutup saja hari ini" ucap Pade
kami semua akhirnya bergeges membereskan meja masing-masing.
namun beberapa saat kami akan menutupnya, datang seorang ibu membawa anak nya yang terkena cacar.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam. monggo bu" ucap Bu Siti
akirnya kami tak jadi menutupnya dan terlebih dahulu untuk mengobati anak tersebut, setelah selesai kami memastikan tak ada warga berikutnya yang datang, akhirnya kami pulang ke Pondok untuk beristirahat.
Malam itu sama seperti malam-malam sebelumnya, setelah magrib semua warga berkumpul dengan keluarga masing-masing, semua santri bertadarus, ricky dan Citra mengikuti rutinitas semua santri, sedangkan aku duduk disebuah kursi yang sengaja di Bangun untuk para santri jika sedang menghafal, di bawah pohon yg rindang dan bercahayakan lampu neon yang redup, aku membuat program-program yang akan kami terapkan di desa ini.
“Assalamualaikum…”
Suara itu terdengar lagi.
“waalaikumsalam”
Zahra menghampiriku sambil membawa sesuatu.
“ini mas Jhonatan , Zahra bawakan wedang jahe…”
“terimakasih Zahra…”
“boleh Zahra duduk disini???”
“silahkan, silahkan…..”
“dulu Zahra waktu bikin skripsi juga ditempat ini mas..”
“serius???”
__ADS_1
“nggih, tempat ini sejuk banget sampai-sampi dulu Zahra pernah dimarahin bapak.. gara-gara kelamaan duduk disini…”
“hahahah…. Iya sih.. tempatnya nyaman banget.”
"monggo mas di minum"
aku mengangguk dan meneguk beberapa kali wedang yang zahra berikan kepadaku.
Tiba-tiba Zahra terdiam.
“Zahra????”
Namun dia tetap diam… aku menepuk pundaknya.
“deee… de Zahra???”
“astagfirulloh….. maa maaf mas….”
“kenapa??? masih muda jangan banyak ngelamun, tar kesambet loh" ucapku
namun raut wajahnya seperti menggambarkan ada yang tengah di fikirkan.
aku memang bukanlah orang yang pandai membaca fikiran orang lain, tapi raut wajahnya terlihat berbeda.
"kayaknya lg Ada yang dipikirkan??” tanyaku
“ndak ko mas….”
“kalo mau cerita…. Cerita aja jangan sungkan, tohhh kalo dipendem sendiri gk ngejamin bakalan selesai. Kalo cerita kan siapa tahu saya bisa ngebantu..”
“ndakkk ada mas beneran…. ”
Aku malah ikut terdiam.
“tuhhh kan sekarang mas jhonatannya yg diem”
__ADS_1
Aku bingung harus menjawab apa, akhirnya aku mencoba mengalihkan pembicaraan tersebut.
“ehhhhh….. kamu tahu tempat yg enak buat mikir gak???” tanyaku kepada Zahra
“maksudnya??” jawab Zahra
“iyaaa tempat yang tenang, sejuk pokoknya yg enak buat mikirin sesuatu gituh, ngerti??”
Zahra diam, terlihat wajahnya yang berubah seperti tengah berpikir.
“owhhh…. Iyaa iyaaa tahu, gk jauh ko tempatnya dari sini mas.”
“kalo gitu bisa ajak saya kesana??”
“sekarang???” Tanya Zahra.
“yaaa nggak lah… besok aja gimana??”
“okkkk…. Besok Zahra anter mas jhonatan ketempat itu, kalo gitu Zahra pamit dulu yaaa mas udah ngantuk, mas jhonatan jangan tidur larut malam lohh mas takutnya nanti masuk angin”
“siapppppp….” Jawabku
“assalamualaikum…”
“waalaikumsalam”
Zahra tersenyum dan pergi menembus kegelapan lorong pondok, entah kenapa aku sangat nyaman ketika berada di dekatnya, perhatiannya, perkataannya seperti kami sudah kenal sejak lama, padahal aku dan dia baru beberapa hari ini saling kenal.
Aku melanjutkan pekerjaanku, tak terasa jam sudah menunjukan pukul 11:30, setelah aku rasa cukup.. akupun bergegas menuju kamar.
Sesampainya dikamar, terlihat Ricky bersama santri yang lainnya sudah tertidur pulas.
Aku membereskan pekerjaanku dan mulai berbaring untuk menutup mataku.
Hari ini terasa sangat biasa sepertihalnya ketika kami pertamakali meginjakan kaki ditempat ini, namun senangnya kami mulai bisa beradaptasi dengan semuanya, dengan kehidupan disini, dengan warganya, santri-santri .... yang paling terpenting hari ini aku lebih banyak berbincang dengan Zahra.
__ADS_1
Tak sabar rasanya untuk sampai di hari esok.