
Kring.... kring....
Alaram berbunyi tapi aku sudah terbangun sebelum ia berdering, sengaja aku bangun lebih awal, setelah melaksanakan Sholat Tahajud, lantas aku segera mengambil Al-Quran dan membacanya.
jujur, setelah aku pulang dari Kegiatanku di Desa itu, aku jadj lebih terbiasa untuk bangun di sepertiga malam untuk sekedar berbincang dengan Penciptaku, lewat Sholatku.
ku baca lembar demi lembar, meski masih terbata-bata namun aku berusaha memastikan bahwa apa yang aku baca memang sesuai dengan arti dan maknanya.
"Allahu Akbar.... Allahu Akbar...."
terdengar Adzan shubuh telah berkumandang, aku bergegas bersiap-siap untuk pergi Berjamaah di Mesjid.
sudah beberapa minggu ini aku memang sering Ikut Berjamaah di Mesjid komplek, meski awalnya canggung, namun itu semua terasa menjadi biasa saha setelah aku mulai terbiasa..
"Mas Jhonathan..."
seseorang memanggilku, aku menoleh ternyata Pak Ajat, Satpam Komplek disini.
"Mau ke Mesjid juga?" tanyanya.
"iya Pak, gimana pak Komplek aman??"
"Aman terkendali pokonya Mas, heheh"
__ADS_1
"Pak Ajat juga mau ke Mesjid kan?? kalo gitu ayo bareng aja" pintaku sembari mengunci gerbang rumahku.
"siap atuh, mangga" jawab Pak Ajat seraya membungkukkan badannya.
kami berjalan beriringan, memang, Mesjid di komplek ini letaknya tidak begitu jauh dari Rumahku, jadi aku biasanya berjalan kaki saja, sembari meghirup udara Segar Kota Jakarta, sebelum Para polusi datang untuk menyerang.
Pukul 4 sampai 5 itu memang waktu yang tepat untuk menikmati Udara Segarnya Jakarta, selain masih sedikit orang yang beraktifitas, tapi keheningan dan temaram lampu menjadi penguat bahwasannya Jakarta masih bisa tertidur dengan Lelap.
"Mas Jhonathan ini enak ya"
tiba-tiba Pak Ajat berkata demikian.
"enak gimaba Pak??" tanyaku.
"yaaa enak, masih muda tapi udah punya rumah, udah punya kendaraan sendiri, kerjaannya Dokter pula. pokonya idaman banget lah"
"iya juga yaaa, tapi saya salut loh sama Mas Jhonathan, ketika orang-orang seusia mas Jhonathan lagi pusing mikirin cicilan ini itu, Mas Jhonathan mah adem ayem aja... hahahah"
"waahhhh semoga memang adem ayem aja ya pak"
aku melanjutkan perkataanku sembari bercanda.
"pak Ajat punya anak cewe gak pak?? kalo punya, jodohin lah pak sama saya, siapa tau cocok.. heheh"
__ADS_1
"kalo saya punya mah gak apa-apa dah, tak kasih, gak perlu pikir panjang, tapi anak saya Cowok semua Mas, masa mau di jodohin sama masnya"
"yaaa gak gitu juga dong pak, hahaha"
selang beberapa waktu akhirnya kami sampai di Mesjid, aku cuci kaki terlebih dahulu, kebetulan aku sudah mengambil wudhu di rumah.
setelah berjamaah, aku sempat bercakap bertukar pikiran dengan beberapa pengurus mesjid, salahs satunya Ustadz Hari, beliau sering sekali mengisi acara-acara pengajian, dan kali ini kebetulan pembahasannya tentang Jodoh dan Maut.
"Jodoh dan Maut itu sudah di persiapkan sedari kita masih di dalam kandungan, semua perjalanan hidup seseorang sudah tertata dengan rapi, dan tidak ada kata kebetulan, semuanya sudah diatur, kalo menurut seorang filsuf ternama, "kebetulan itu adalah sesuatu yang sudah di skenariokan", kita bisa saja memilih untuk menikah dengan siapa saja, tapi tidak untuk berjodoh dengan siapa saja."
aku tertegun dengan apa yang baru saja dibicarakan, lalu melontarkan pertanyaan.
"maaf pak Ustadz, apakah mungkin, jika ada jodoh yang tertukar?"
beliau tersenyum lalu menjawabnya.
"sama sekali Tidak! tak ada istilah Jodoh yang tertukar."
"lantas bagimana dengan, seseorang yang menikah beberapa kali? apakah orang yang ia nikahi adalah jodohnya semua?"
pertanyaanku terdengar konyol.
"ibaratnya seperti ini, Mas Jhonathan berlayar nih ya, ke Eropa semisalnya, nah pasti gak akan langsung dari Indonesia ke Eropa kan?? tapi akan melewati beberapa negara, beberapa dermaga dan pasti akan transit kan untuk sekedar mengisi bahan bakar atau singgah untuk menikmati keindahan kota yang dilalui ketika berlayar, tapi tujuan mas Jhonatahn kan cuma satau, Eropa!"
__ADS_1
"jadi maksudnya Allah ngasih kesempatan dulu nih untuk seseorang belajar bahwa sebuah pernikahan itu prosesi yang sakral, yang diharapkan sekali seumur hidup, untuk orang yang menikah beberapa kali, bukan karena jodohnya banyak, tapi Allah kasih kesempatan dirinya untuk belajar, belajar menghargai sebuah pernikahan, belajar bagaimana susahnya membangun rumah tangga, bertanggungjawab, dan masih banyak lagi"
aku hanya mengangguk, dan tiba-tiba terbesit dalam fikiran, "sepertinya masih ada harapan untuk aku dan Zahra bisa bersatu."