ISTIKHARAH CINTA

ISTIKHARAH CINTA
Skenario Tuhan #19


__ADS_3

*Terjatuh berdiri lalui setiap hari, sadari hidupku hanyalah hembusan nafas, awan gemawan melayang dan hilang, berlari tak henti rinduku tak bertepi, selalu percaya meski tak melihat, lembut bisikan kasihmu selalu ku dengar sampai keujung sanubari tuk tenangkan jiwaku.


sekalipun ku berjalan dalam lembah kekelaman aku tak akan goyah, sebab engkau bersamaku, menuntunku selalu, terbang melintasi setiap musim dalam hidupku.


some people come in our life as blessing, other come in or life as lesson.


Manusia silih datang dan pergi, beberapa di antaranya meninggalkan luka, namun banyak juga yang memberikan pelajaran.


sebagian dari mereka membawa cinta dan kasih, sebagian di antaranya membawa kemunafikan dalam balutan kebahagiaan.


terkadang aku lelah dengan apa yang dijalani, namun berfikir lagi, untuk siapa saya hidup? hendak kemana tujuan akhir dari semua ini.


apakah hanya sekedar Hidup lalu Mati?


ternyara tidak!


lebih dari itu, apa yang sedang aku jalani hari ini esok dan seterusnya, tak lain untuk berguna bagi orang disekitar, membuat mereka tersenyum bahagia atas aku sebagai alasannya, membuat orang lain merasa bersyukur atas adanya aku di hidupnya.


lelah memang wajar, namanya juga manusia, bukan robot yang tinggal di beri bahan bakar lalu bisa on selama 24 jam.


menangis??


wajar juga kok, anggap saja menangis sebagai proses me recharge diri, agar kuat menghadapi kehidupan yang akan datang, selanjutnya apa?


Meminta kepada Tuhan mu agar senantiasa diberi jalan yang terbaik, meski sedikit agak terjal pun tak apa*.


*


Sore itu lembayung senja terlihat kembali di sepanjang cakrawala Jakarta, semburat mega ungu ke merah-merahan, awan yang diam di tempat, burung-burung malam mulai berterbangan, pohon dan dedaunan mulai merunduk menutup diri.


aku berdiri di depan koridor rumah sakit, memandang luasnya bentangan dunia yang tengah aku pijak.


"Mas Jojo.." seseorang memanggil namaku, sontak aku menoleh ke arahnya.


Zahra tengah berdiri di belakangku.


"Eh kamu Ra..." ucapku


"Mira kontrol lagi?" lanjutku


"Iya Mas, tapi alhamdulillah ini yang terakhir, Mira sudah sembuh total" jawabnya sembari tersenyum, senyum manis tanpa pemanis buatan.

__ADS_1


"mmmm Syukur deh kalo begitu, hari ini Ikhrom jemput kamu?" tanyaku kembali


"Mas Ikhrom hari ini ikut, kebetulan lagi libur kerja, lagi di toilet" ucap Zahra sembari menunjuk ke arah belakang.


"Hmmm baiklah, kebetulan Mas juga pengen ngobrol sama Ikhrom, sudah lama kan gak ketemu"


"sebentar lagi juga kesini"


"itu Mas Ikhrom" lanjut Zahra.


aku menoleh ke aras samping kanan, sosok pria berbadan agak sedikit berisi, dengan baju Koko berwarna Pich, menggendong seorang anak kecil di depannya.


ia berjalan ke arah kami berdua, aku yakin Ikhrom belum menyadari akan kehadiran diriku.


sampai beberapa meter ia mulai dekat, dan langsung menyadarinya.


"MasyaAlloh Jhonathan? apa kabar??"


ucapnya sembari meraih tanganku.


"kebetulan banget bisa ketemu disini, praktek disini rupanya" lanjutnya


Zahra hanya tersenyum melihatnya, lantas meraih Mira yang masih dalam dekapan Ikhrom.


"Alhamdulillah, Zahra kalo masak suka enak, jadinya gak pernah bisa nolak, jadi gini deh.. hehe" Candanya


"Syukur deh kalo begitu" ucapku


"Mampir ke Rumah Jo, gak jauh kok dari sini, nanti Zahra masakin makanan kesukaanmu, apa itu sayang?? eeeee"


"sambal goreng kentang pake telur puyuh" imbuh Zahra.


"Betul kan mas?" tanya Zahra kepadaku.


aku sempat terkaget mendengarnya, ternyata Zahra masih mengingat apa yang aku suka..


"Zahra waktu awal-awal menikah banyak banget cerita soal kamu Jo, dan dari Zahra juga saya tahu ternyata kamu dulu pernah tinggal di Gunungkidul"


"ohhh begitu" ucapku sembari melirik Zahra, kulihat Zahra hanya tersenyum.


"Kalo begitu kapan ke Gunungkidul lagi Jo? siapa tahu kita nanti bisa bareng" tanya Ikhrom

__ADS_1


"secepatnya, saya juga sudah merencanakannya, tapi belum nemu waktunya"


"ok, nanti kabarin aja ya, minta kontak kamu boleh?" pinta Ikhrom sembari menyodorkan telepon genggamnya


"mmm boleh" lalu aku meraih telepon genggam itu dan mulai mencatat nomor teleponku.


*ketik ketik ketik*


lalu aku save dengan namaku.


"Sudah" ucapku seraya mengembalikan telepon milik Ikhrom


"siap, kalau begitu kit pamit ya Jo."


ia meraih tanganku lalu memelukku.


"Ayo salam sama Om sayang" ucap Zahra kepada Mira.


Mira meraih tanganku lalu menempelkan ke keningnya.


"Assalamualaikum"


mereka berlalu dari hadapanku, Zahra sempat menoleh kebelakang, ia meninggalkan senyum khasnya, lalu berjalan beriringan dengan Ikhrom yang tengah menggendong Mira.


Hola... terimakasih yang sudah setia menunggu lanjutan dari Novel ini.


maaf beberapa minggu kebelakang sudah jarang update, karena saya memutuskan untuk rehat sebentar dari Semua Media sosial.


but now i'm Back 😊


ikuti terus kelanjutannya.


saya tunggu kritik dan sarannya.


mengenai give away, akan tetap di adakan nanti ketika episode telah menginjak episode ke 50+


stay tune yaaa..


Love you all 🌻💛


jangan lupa like nya.

__ADS_1


__ADS_2