
"Allah tidak akan memberi ujian kepada umatnya diluar batas kemampuan umatnya tersebut."
ucapan tersebut yang aku yakini, seperti halnya sekolah, hidup itu proses pembelajaran, ketika kita ingin naik kelas, maka Ujian lah salahsatu yang harus dilewati, kalau kita ingin mendapatkan peringkat, maka effort lebih juga harus kita curahkan.
"bu, maafin Jojo bu, Jojo gak pernah bisa jadi anak yang berbakti.." aku memeluknya dengan erat, air mata tak henti-hentinya mengalir dengan deras, Ibu terus saja terdiam, pipinya sudah lembab, tangannya tak berkutik, sementara Ayah tiriku, berusaha menahan air matanya yang juga hendak menunggu waktunya untuk melonjak keluar.
"gak apa-apa sayang, Ibu yang salah, sedari kamu kecil, waktu ibu lebih banyak di pekerjaan daripada sama kamu, Ibu gak bisa menjadi sosok ibu yang sempurna untuk kamu, bahkan saat kamu wisuda pun Ibu masih saja sibuk dengan kerjaan Ibu"
ibu mengusap rambutku, air matanya semakin deras membasahi.
"mungkin ini teguran dari Allah, supaya Ibu lebih banyak menghabisakan waktu dengan anak Ibu ini.. Jojo gak perlu khawatir lagi ya, Ibu sudah mengajukan pengunduran diri dari kerjaan Ibu, sekarang Ibu ingin menebus waktu yang hilang, meski kita gak bisa mengulang lagi dari awal, tapi Izinkan Ibu untuk membuat memori baru bersama kamu ya, sebelum Ibu dijemput Tuhan"
"Ibu gak boleh ngomong gitu, Untuk apa Ibu punya anak seorang Dokter, kalo gak bisa nyembuhin Ibu nya sendiri, Jojo akan merawat Ibu, Jojo akan minta bantuan ke Dokter-dokter lainnya, supaya Ibu bisa sehat lagi, bisa bahagia lagi."
"gak perlu sayang, Ibu sudah bahagia dengan kamu seperi ini saja"
aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku, tanpa ada kata yang terucap.
aku tak tahu harus bagaimana menanggapinya, rasanya langit terasa runtuh menimpaku, seorang diri.
sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, aku tak henti-hentinya berdoa agar Allah segera memberiku jalan keluar atas apa yang tengah dihadapi.
aku sudah berusaha membujuk Ibu untuk mengikuti segala rangkaian pengobatan, Dokter-dokter ahli pun sudah aku hubungi satu persatu, mereka sudah siap untuk membantuku, namun Ibu kekeh dengan pendiriannya, Ia beranggapan bahwa percuma di obati pun, penyakitnya sudah terlalu kuat untuk disembuhkan, yang ada Ibu hanya akan membuang-buang uang, dan merepotkanku, begitu katanya.
Ibu hanya meminta agar aku lebih banyak menghabiskan waktu bersamanya, hanya itu, tak lebih.
__ADS_1
sesampainya di Rumah sakit aku langsung menemui Dion, tanpa menyimpan tas yang ku bawa.
ku lihat dari luar Dion tengah berbaring, entah tertidur, atau hanya memejamkan matanya saja.
hendak aku masuk, namun Dokter Kinan tiba-tiba menahanku dari samping.
"Jangan dulu ya Dok" ucapnya sembari meraih tanganku yang hendak membuka pintu.
aku terkejut, lantas menoleh ke arahnya
"kenapa??" tanyaku.
"tadi pagi orangtua Dion datang kesini, Suster Celine yang menghubunginya."
"tadi malam selepas Dokter Pulang, Suster Celine yang menemani Dion, dan sepertinya Dion banyak cerita ke Suster Celine"
"terus kenapa saya gak boleh masuk??"
"kata Suster Celine, tadi Dion berantem hebat sama orang tuanya, dan ia yang minta jangan dulu di ganggu"
menedengarnya aku hanya menghiraukan perkataan yang keluar dari mulut Dokter Kinan, aku memaksa masuk.
aku berjalan mendekati Dion yang masih saja memejamkan matanya.
"selamat pagi Dion"
__ADS_1
namun tak ada jawaban
aku terus mendekat, ku geser kursi besi ke samping ranjang tempat Dion berbaring.
"Dion tidur??" tanyaku sembari mengelus rambutnya
namun tetap tak ada jawaban.
selang beberapa waktu Dion membuka matanya, lalu menoleh ke arahku.
"selamat Pagi Dok" ucapnya sembari tersenyum
"gimana?? dah mendingan??" tanyaku
"lumayan Dok, sekarang udah bisa duduk, yaaa meski gak kuat lama-lama"
"gak apa-apa, pelan-pelan pasti bisa ko"
ia mengangguk.
"Kata Dokter Kinan, tadi Mama , papa kamu kesini?? benar??"
"iya Dok" jawabnya sembari memalingkan wajahnya dariku.
"Dokter boleh ketemu??"
__ADS_1