
Hari demi hari kami lewati dengan penuh semangat, sudah hampir seminggu lamanya kami mempersiapkan acara ini, semua kerja keras dan usaha telah kami curahkan semuanya.
dibantu Zahra akhirnya kami siap untuk memulai hari esok.
"Alhamdulillah, akhirnya semuanya udah beres..." ucap Zahra seraya menepuk-nepuk tangannya.
satu persatu dari kami mulai beranjak pergi menuju Pondok, kini hanya tersisa Aku, Zahra dan Beberapa Warga.
"Mas Jhonathan.." teriak Zahra
aku yang tengah menutup pintu Aula lantas menoleh.
"apa Ra???"
"Ayok, yang lain udah pada duluan..."
"iya tunggu sebentar"
setelah selesai aku berjalan menghampiri Zahra yang sedaritadi berdiri di depan Pagar aula.
"Ayok..." ajakku
kami berjalan beriringan, lalu Zahra berkata
"Gak kerasa ya mas, ternyata tugas Mas Jhonathan hampir selesai"
"iya Ra.... Tiga bulan rasanya sebentar sekali, semua berkat bantuan kamu" ucapku
lalu Zahra menoleh dan berkata
"ahhh wong Zahra cuma bantu sedikit aja ko, mas Jhonathan ini suka berlebihan" pungkasnya.
"makasih ya Ra.."
"makasih untuk apa?" tanya nya.
"iyaaa.... selama disini mas banyak ngerepotin Zahra, Zahra juga gak henti-hentinya bantuin Mas"
"gak perlu mas, Zahra gak merasa di repotkan" jawabnya sembari tersenyum
"Ra...."
"Nggih"
"Mas mau ngomong sesuatu"
"ngomong opo to??" tanyanya
__ADS_1
"duduk dulu yuk disana" jawabku sembari menunjuk sebatang pohon besar yang sudah tumbang.
kami duduk berdampingan.
lalu aku berkata.
"Ra.... sudah Tiga bulan ini Mas bener-bener mengagumi sosok Zahra, mas gak tahu Kalo semisalnya mas ngomong ini, akan bagaimana reaksi zahra, tapi... Mas Suka sama Zahra, Mas Sayang Zahra, kalo boleh, ijinkan Mas buat jadi lelaki terakhir dalam hidup Zahra"
mendengar pembicaraanku Sontak Zahra sangat terkejud, raut wajahnya berubah 180° yang awalnya sumringah tiba-tiba menjadi kikuk kebingungan.
"maksud mas Jhonathan apa to??"
"Mas mau Zahra jadi Pasangan Mas Jhonathan"
Zahra hanya menghela nafas panjang tanpa berkata apa-apa.
wajahnya menghadap langit sore yang kala itu sangat cerah, lembayung berwarna jingga dipoles sedikit warna magenta, awan yang mulai menghitam berjalan sangat pelan, dan matahari berangsur turun menuju celah bumi.
"huft......" hela nya.
"Mas Tahu, Mas bukanlah lelaki baik-baik, mas bukan lelaki lelaki yang Alim, beda dengan Zahra dan keluarga Zahra, latar belakang mas juga sangat-sangat hancur, tapi Mas Janji bakalan memperbaiki semuanya secara bertahap, disaat itu mas gak bisa sendirian, mas butuh pendamping, orang yang siap memberitahu Mas ketika salah, Orang yang akan jadi motivasi untuk diri mas supaya tetap dijalan yang benar, dan mas percaya, bahwa Zahra lah orangnya.."
ia menoleh ke arahku, matanya sangat lembut menatapku.
"kenapa Mas bisa sangat yakin kaya gitu toh? Zahra sama Mas kan juga baru kenal beberapa bulan ini, Zahra gak mau terburu-buru, dan Zahra juga masih jauh dari yang mas fikirkan, Zahra juga masih harus banyak belajar, Sekarang mendingan kita sama-sama memperbaiki diri, InsyaAllah suatu saat nanti kalo kita berjodoh, pasti bakalan ketemu lagi, Nelayan yang pergi berlayar akan selalu tahu kemana ia harus Pergi dan Pulang ke Dermaganya, kita serahkan semuanya ke yang maha kuasa, tugas kita hanya berserah"
aku mengangguk dan mengajaknya untuk melanjutkan perjalanan menuju pondok.
zahra mengangguk lalu beranjak dari tempat duduknya.
kamipun berjalan dan akhirnya sampai di Pondok.
sebelum kami berpisah, ia memanggilku lalu berkata.
"Mas Jhonathan..."
aku menoleh tanpa berkata apa-apa
"Maaf ya..." ucapnya
lalu berlalu dari hadapanku.
Malam itu aku benar-benar merasa lelah, tubuhku terus saja memintaku untuk berbaring dan memejamkan mata, tapi tidak dengan fikiranku, fikiranku terus menerus memutar rekaman-rekaman percakapan aku dengan Zahra sore tadi.
akhirnya aku memutuskan untuk keluar Pondok dan berjalan menuju Aula Desa.
sesampainya disana benar-benar sangat sepi, sekitarnya hanya diterangi lampu neon yang redup, aku membuka Pintunya, kebetulan kuncinya masih aku simpan di saku celanaku.
__ADS_1
ku perhatikan semua sudutnya, ku bereskan hiasan-hiasan yang letaknya sedikit agak miring.
"Assalamualaikum dek Jhonathan..."
ternyata Pade Suryo tengah berdiri di depan pintu sambil memperhatikanku.
"Waalaikumsalam Pade" aku menghampirinya lalu meraih tangannya.
"malam-malam begini kenapa masih disini??" tanya nya
"gak bisa tidur Pade" ucapku sambil sedikit tertawa
"hmmmm... sini duduk" pintanya sembari menarik kursi plastik yang ada disampingnya.
kami duduk berhadap-hadapan..
"maturnuwon nggih, dek Jhonathan, dek Ricky, sama dek Citra benar-benar banyak membantu warga sini"
"gak apa-apa Pade, udah seharusnya kan, profesi kami kan memang menuntut untuk harus banyak membantu orang-orang.."
"sepertinya Pade belum siap buat ngelepas kalian bertiga, Pade masih butuh kalian, kalian udah Pade anggap seperti anak-anak sendiri." ucapnya seraya menghela nafas
"jangan khawatir Pade, kita bakalan sering main-main kesini ko.. Yang terpenting Pade harus sehat-sehat dulu aja ya, biar nanti bisa bersua lagi..."
beliau hanya mengangguk lalu menepuk-nepuk pundakku.
"jangan Lupain Warga sini yo dek..."
"gak akan lah Pade..." jawabku
"yowis, ayo ke pondok, besok bakalan jadi hari yang panjang"
aku menganggku..
" ayo Pade ..."
kami beranjak dari Aula, lalu menutup kembali pintu.
"Mau tidur di Rumah Pade, atau pulang ke Pondok??" tanya Pade Suryo
"di Pondok aja Pade, si Ricky takut nyariin"
"Yowis, Pade duluan nggih, Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
kami berpisah di gerbang Pondok, lalu masuk dan berjalan menuju kobong.
__ADS_1
sesampainya di kobong, semua santri dan Ricky sudah sangat terlelap.
malam itu aku entah tidur jam berapa.. yang pasti itu sangat larut.