ISTIKHARAH CINTA

ISTIKHARAH CINTA
Skenario Tuhan #15


__ADS_3

hadirnya Kinan tanpa sadar membalut luka lamaku yang tak pernah kututup, semoga selamanya akan tetap seperti ini.


*Cinta dan Agama, tak sedikit sepasang kekasih harus rela melepaskan segala Cinta yang telah terbangun dengan amat kuat hanya karena perbedaan Agama.


bukan menyalahkan Agama, tapi kembali lagi kepada diri tiap pasangan, apakah ia siap untuk membangun sebuah keluarga dengan dua kepercayaan didalamnya?


Tuhan maha membolak-balikan hati tiap mahluknya, kita tidak pernah tahu akan dan jadi seperti apa kelak , pada akhirnya tugas seorang hamba hanya meminta dan ber Doa agar diberi keteguhan hati, dan ke istiqomahan dalam segala hal.


apa kamu percaya??


apapun jawabanmu, tetap bersamaku ya.


aku masih tetap setia denganmu sampai bumi enggan berputar lagi.


Tiga jam lamanya kami benar² hanya terduduk, memejam mata dan saling bersandar.


Ketika aku membuka mataku, Kinan sudah berkutat dengan Telepon genggamnya.


"Kin..." ucapku


Kinan menutup teleponnya dan memandangku.


"Iyaa kenapa?" jawabnya


matanya bulat bersinar, bibir tipis nan merah di lukis gincu tipis.


"Tidak" aku memalingkan pandanganku darinya.


"satu stasiun lagi kita sampe, jadi lebih baik kita beres-beres dulu yu, jangan sampe ada yang ketinggalan" lanjutku sambil mengecek barang bawaanku.


Kinan dengan tenangnya lantas bergerak ikut me ngecek barang bawaannya.


laju kereta mulai melambat, makin lambat dan berhenti di peron stasiun kota Bandung.


riuh ramai suasana khas Stasiun, pengumuman dari penjaga loket, tawar menawar antara pembeli dan penjual oleh-oleh.

__ADS_1


semuanya melebur menjadi satu.


"Ayo.." ajakku sembari merangkul bahu Kinan.


ia menghela nafas lalu berkata.


"Sudah sampai sini, sudah sejauh ini, semoga apa yang kita harapkan akan terwujud ya" kata Kinan seraya menatap tajam mataku.


aku hanya mengangguk.


"Kinan!" teriak seseorang dari arah kerumunan.


Kinan menoleh mencari-cari sumber suara tersebut.


tak berapa lama terlihat sesosok pria sedikit Tua melambaikan tangannya ke arah kami berdua.


"Itu paman, Ayo" ajak Kinan


kami berjalan menuju Pria tersebut.


kemeja flanel merah bermotif kotak-kotak, berkacamata denfan rambut sedikit ikal.


"Apa kabar Paman??" ucap Kinan sembari memeluk pria tersebut.


"Kabar baik, kamu gimana?? sudah lama ya kamu gak pulang? padahal Jarak Jakarta - Bandung kan gak terlalu memakan banyak waktu" tanyanya


"iya Paman, Susah buat ngambil cuti, maklumlah namanya juga Anak baru"


Kinan menoleh ke arahku lalu memperkenalkan ke Pria tersebut.


"Ohhh iya Paman, kenalin ini Jhonathan, Jo ini Paman Martin, adik dari bapak"


aku menjabat tangan Paman Martin dan memperkenalkan diri.


"Saya Jhonathan"

__ADS_1


ia hanya mengangguk lalu mengajak kami untuk masuk ke dalam Mobil.


"yaudah ayo, Bapak sama Ibu udah pada nungguin di Rumah" ajaknya


kami berjalan di belakang paman Martin, aku menoleh ke arah Kinan, dan Kinan pun menoleh ke arahku.


ia menganggukan kepalanya seraya meyakinkanku untuk terus maju.


kami masuk ke dalam Mobil Kijang silver model tahun 90an, aku duduk di samping paman yang mengemudi, sedang Kinan duduk di belakang, tepat di belakangku.


sepanjang perjalanan kami di suguhi pemandangan khas Kota, riuh gemuruh mobil dimana-mana, suara klakson, pengendara motor yang saling salip satu sama lainnya.


aku fikir tak begitu berbeda dengan suasana Kota Jakarta, namun bedanya udara di Bandung tidak terlalu Panas, malah terbilang sejuk, meski saat itu matahari tengah bersinar sangat amat terik.


sepanjang perjalanan Kinan berbicara dengan Paman Martin menggunakan bahasa Manado, dan aku hanya terdiam tak bisa memperhatikan apa yang tengah mereka bicarakan.


namun yang ku tangakp sepertinya hanya obrolan-obrolan ringan selayaknya seorang keluarga yang sudah lama tidak bertemu.


"Nah jadi Jhonathan ini sama-sama praktek di rumah sakit tempat Kianan juga??" tanya paman Martin


"Iya Paman tapi enggak lebih lama dari Kinan"


"ohhh jadi adik tingkat Kinan??" tanyanya


"enggak juga paman, saya sempet break beberapa semster karena satu dan lain hal, jadi lulusnya agak telat" terangku sembari memperhatikan Kinan lewat kaca.


"Jhonathan ini beda tiga tahun sama Kinan paman, tapi lulusnya lebih dulu Kinan hehe" ucap Kinan menyambung percakapan Kami.


"ohhh gitu, Jhonathan asli mana? " ucap Paman


"Bapak sama Ibu asli Jawa, cuma dari SD kelas 2 atau 3 gitu ya pindah ke Jakarta, nyampe sekarang di Jakarta" jawabku


"mmmmm gitu, Muslim??" tanyanya


entah kenapa pertanyaan seperti ini yang aku takutkan, meski jawabannya hanya "Iya" dan "tidak", tapi rasanya ada sesuatu yang membuatku terdiam untuk beberapa saat.

__ADS_1


__ADS_2