ISTIKHARAH CINTA

ISTIKHARAH CINTA
Sesuai Nama


__ADS_3

Pintu terbuka dan nampak seorang perempuan cantik berhijab abu-abu menggunakan gamis panjang menutupi seluruh badannya, keluar menghampiri kami dan sahil.



Seketika diri ini bak bagaikan patung yang tak dapat bergerak meski angin mencoba untuk menerpanya, mataku terfokuskan kepada wanita yang tengah berbincang dengan sahil, aku hanya terpesona melihat wajahnya yang putih bersinar bak mutiara tersorot mentari pagi, raut muka yang menyejukan, mata yang bersinar bagaikan mata seorang bayi yang baru saja terlahir, suara merdu nan lembut mengiringi kekagumanku terhadap sesosok bidadari yang tengah ada dihadapanku.



Ternyata kebengonganku diketahui oleh Ricky yang sedari tadi mencoba menyadarkan ku dengan  cara menyengol-nyenggol bahuku.


“Joooo…. Jojo….”



Seketika aku tersadar dan mencoba mengalihkan pandanganku.


“ehhh… iya gimana Ky??” ucapku sedikit gagu.



Sambil menyentuh Dahiku Dia (Ricky) bertanya..


“Luu sakit???”



Dengan sedikit menepis tangan Ricky dari Dahiku, aku menjawab.


“kagaaa….. cuman aga Cape kayanya”



Sementara Citra hanya Tersenyum melihat tingkah laku kami berdua,


Tiba-tiba wanita tersebut menghampiri kami dan berucap.

__ADS_1


“Assalamualaikum, monggo Mas, Mbak silahkan masuk"


Lagi, lagi dan lagi, suara tersebut terngiang ditelingaku



sebelum masuk sahil menghadap ke arah kamai dan berkata.


"kalo begitu kulo pamit yo mbak, mas, Assalamualaikum" ucap sahil seraya beranjak dari hadapan kami



kami bertiga mengangguk dan langsung berjalan membuntuti Wanita tersebut dari belakang.



Setelah kami masuk, aku terpesona dengan interior yang masih sangat clasik dan etnik, terlihat sekali hampir tak ada barang elektronik terpajang di rumah ini, yang terlihata hanya Beberapa Kaligrafi yang tersusun rapi di dinding rumah, ukiran-ukiran khas Jogja terpajang disebelah lemari kayu kecil, buku-buku yang sepertinya sudah berusia lama masih tersusun di rak kecil yang tak jauh dari pintu masuk, bukan hanya itu namun ada salah satu Lukisan Imam Syafii (Ilmuan Islam yang sudah sangat terkenal dalam dunia pendidikan).



“monggo lenggah… mas, mbak”



Aku yang sedaritadi terpesona akan dirinya menjawab dengan sedikit gagap.


“iyaaa iya terimakasih banyak”



kami duduk di kursi kayu, lalu wanita tersebut memperkenalkan diri dan menjulurkan tangannya kepapda citra.


“saya hasyakyla Azzahra, panggil saja Zahra, saya putri Kyai Arif pemilik pondok pesantren ini”.


__ADS_1


Namun ketika aku hendak bersalaman, wanita tersebut (Zahra)  malah menarik tangannya sebelum aku meraihnya.


Malu sekali rasanya ketika kejadian tersebut, namun Zahra hanya tersenyum dan melanjutkan perkenalannya, dan bertanya.


“jadi mas dan mbak ini yang akan melakukan penlitian di desa kami ini??”



Citra menjawabnya sembari melepaskan Tas ransel yang sedari tadi masih di gendongnya.


“iya benar sekali, saya Citra dan ini kedua teman saya, Jhonatan dan ricky. Tapi sebetulnya kami bukan mau meneliti, hanya akan melakukan pelayanan kesehatan seperti biasa saja”.



Belum selesai citra menjawab, Zahra langsung memotong pembincaraan.


“kalau begitu tunggu sebentar, bapak sepertinya masih di belakang.. biar saya panggilkan, mas dan mbaknya istirahat dulu aja, permisi..”



Zahra pergi menuju Pintu belakang dan meninggalkan suara merdu dicampur Logat Jawa yang sangat kental didalam Fikiranku.


Sementara menunggu, Ricky sempat berdiri dan berjalan Mondar-mandir sembari mengangkat-angkat Telepone genggamnya, sedangkan aku dan citra hanya diam menyaksikan Kegelisahan Ricky.


Citra berusaha meledek Ricky yang tengah kebingungan.


“udahlah Ky, Mau siapa juga sih yang Ngubungin Lu…. Lu kan Jomblo.. haha”.


Ricky hanya merespon dengan menengok dan menjulurkan Lidahnya.



“disini memang susah sinyal Dek”


Perkataan tersebut membuat Kami terkejut dan aku yang tengah memejamkan mata hampir saja berkata Kasar.

__ADS_1


__ADS_2