
Selama masih Hidup, Manusia tak akan pernah lepas dari ujian dan permasalahan.
tanpa terkecuali, entah itu anak-anak, remaja, orang dewasa, suami-istri, sepasang kekasih, atau orang gila sekalipun.
Binar mata Zahra masih saja terlihat indah, sama seperti pertama kali aku melihatnya.
guratan senyum yang akan memesona tiap orang melihatnya.
"Jadi gimana kehidupan setelah menikah??" tanyaku
"Alhamdulillah, Mas Ihrom benar-benar bertanggungjawab, semua perkataan yang keluar sebelum kita menikah memang ada buktinya" jawab Zahra
aku hanya mengangguk, mendengarnya kenapa hati ini terasa sesak?
Ya Allah tolong hilangkan perasaan ini, Zahra sudah dimiliki lelaki lain, aku tidak ingin menjadi perusak dalam rumah tangga orang lain.
"Jadi Mas Jhonathan gimana?? udah ada yang baru?"
pertanyaan Zahra memecah lamunanku
"mmmmm... belum, masih proses pencarian" jawabku sembari memalingkan pandanganku dari Zahra
"Dokter Jhonathan!"
teriak seseorang dari arah pintu masuk, ia melambaikan tangan kepadaku.
aku tak bisa melihatnya dengan jelas, karena terhalang orang yang berlalu lalang, tapi dari suaranya sepertinya itu Dokter Kinan.
beberapa detik terlihat, dan benar Dokter Kinan tengah berdiri di depan pintu.
"itu Calonnya ya mas??" tanya Zahra sembari melihat ke arah Dokter Kinan.
"mmmm, bukan... itu Dokter Kinan, rekan kerja disini"
"tapi masih single kan mas?? Cocok loh sepertinya"
"Cocok??? "
__ADS_1
"iyaaa cocok"
Terlihat Dokter Kinan masih saja memperhatikan kami berdua, tak lama ia berjalan menghampiri kami.
"Selamat Siang" sapa Dokter Kinan kepada Zahra, lantas menjulurkan tangannya.
"Saya Kinan" lanjutnya
Zahra meraih tangan dokter kinan
"Saya Zahra, temen mas Jhonathan dari kampung" jawab Zahra sembari tersenyum
"Cantiknya.." ucap dokter Kinan
aku hanya menunduk malu mendengar apa yang baru saja terlontar dari mulut Dokter Kinan.
"Alhamdulillah, Dokter Kinan juga MasyaAlloh Cantiknya" balas Zahra
"kenapa Dok??" tanya Dokter Kinan kepadaku
Dokter kinan masih saja berdiri di hadapan kami, memperhatikan dengan seksama, lalu berkata
"ohhhhh saya tau, Zahra ini calonnya Dokter Jhonathan ya?? kenapa gak pernah Cerita sih Dok??? pantesan waktu itu kaget banget kesannya waktu saya bertanya"
aku yang mendengarnya lantas menyanggah apa yang baru saja terlontar
"ehhhh ehhhh bukan Dok, sembarangan wong Zahra dah ada suaminya kok"
"berarti kalo belum ada, Dokter mau???"
sejujurnya, semenjak aki duduk kembali, bersanding disini dengan Zahra, rasa yang benar-benar sudah ku kubur dalam-dalam, hanya dalam hitungan menit kembali terpugar.
aku bingung dengan perasaan ini, disisi lain aku senang melihat Zahra yang sudah bahagia bersama pilihannya, namun akupun tak bisa membohongi perasaanku sendiri.
jika dapat memilih, Ya Allah tolong matikan perasaanku ini, biarkan Zahra bahagia, dan akupun akan berusaha untuk bahagia.
aku yakin engkau telah mempersiapkan sesosok wanita sempurna untuk ku.
__ADS_1
"lohhh kok jadi diem??" tanya Dokter Kinan
"enggak Dok, apaan sihhh ahhh.... yaudah ayo masuk" aku berdiri dari tempat duduk ku, dan menarik tangan Dokter Kinan untuk mengikutiku.
tanpa sempat berpamitan terlebih dahulu, aku meninggalkan Zahra begitu saja.
"ehhh ehhh ehhhh.... ini apa ini???" tanya dokter Kinan
aku menoleh dan kulihat tanganku masih menggenggam tangan lengan Dokter Kinan.
tanpa sadar kami sudah jadi bahan tontonan disini.
"ehhhh maaf Dok" ucapku sembari melepaskan genggamanku.
sesekali aku menengok kanan kiri ku, dan yaaa semua mata masih saja tertuju ke arah kami berdua.
"tuhhhkan bener kan.. itu Mantannya ya Dok??"
"Dokter Melody Kinanti, tolong hentikan yaaa" jawabku sembari bercanda mengacak-acak rambutnya.
"mulai lagi deh, bikin rambut kaya gini lama tau, main rusakin begiti aja" ucapnya sembari merapihkan tatanan rambutnya.
Dokter Kinan masih saja berdiri dihadapanku, mengusap-usap rambutnya, tiap helainya ia rapihkan, sampai kembali seperti sedia kala.
setelah terlihat sedikit rapi, aku kembali mengacak-acak rambut panjangnya
"gak usah di rapiin, gini aja dah Cantik kok"
lalu aku berlari meninggalkan Dokter Kinan di ruangan tersebut.
ku dengar ia sedikit mengumpat, lalu mengejarku.
tapi langkahnya terhenti di depan pintu ruang perawatan.
aku juga ikut terhenti, ku menoleh kebelakang, aku lihat Dokter Kinan masuk ke dalamnya.
namun entah apa yang ia lakukan.
__ADS_1