
“Zahraaaa”
Aku membuka pembicaraan, tapi Zahra hanya terdiam.
"Kalau Zahra belum siap buat menguatarakannya, enggak apa-apa jangan dipaksakan, tapi Mas cuma mau bilang, zahra tahu? luka teriris pisau kalu di diamkan akan jadi seperti apa??? Akan melebar dan membekas, jika tak segera di obati maka akan fatal. Begitu juga perasaan.... jika tengah tersakiti dan di diamkan akhirnya akan berakibat buruk.. sebaiknya zahra....”
“zahra di jodohkan” ucap zahra memotong pembicaraanku
Seketika hati ini merasa hancur berkeping-keping, namun aku tak ingin zahra mengetahuinya,
“di Jodohkan!!! “ tanyaku sedikit terbata-bata
Zahra menengadahkan kepalanya ke atas langit seraya menghapus air matanya, aku memberi kesempatan zahra untuk berceita.
“ceritalah....”
“bapak menjodohkan zahra ”
untuk beberapa detik Zahra menghentikan perkataannya, beralih menatap mataku, lalu menunduk dan melanjutkannya
"dengan Mas Ihrom"
kulihat air matanya mulai menetes dengan deras.
“lalu mengapa kamu meneteskan air mata?? “
“zahra tak mencintai mas ihrom... zahra hanya menganggap mas ihrom sebagai abang zahra, tak lebih.... tapi....”
“setiap orang tua menginginkan yang terbaik untuk anaknya, dan mungkin menurut Bapak, ihrom adalah lelaki yang di anggap pantas untuk menjaga zahra... dan ingatlah satu hal bahwasannya Cinta akan datang dengan sendirinya tanpa di undang, Cinta datang bersama dengan seringnya seseorang bertemu dengan orang lainnya”
“tidak semudah itu mas.... memaksakan Cinta tak akan berakhir dengan indah. Zahra tak ingin kelak jika mas Ihrom mengetahui bahwa zahra menikah dengannya hanya karena keterpaksaan” tuturnya sembari menatap mataku
aku tak kuasa melihat Zahra menangis, ku seka air matanya, ku pegang pipinya lalu berkata.
“keterpaksan tak akan benar-benar menjadi hal yang buruk jika memang itu sudah di rencanakan sang pencipta, kebetulan itu adalah sebuah skenario yang sudah disiapkan Tuhan"
“zahra tak yakin mas...”
Zahra mengalihkan pandangannya dari arahku sambil melanjutkan perkataannya.
“zahra ingin hidup berdampingan dengan seseorang yang benar-benar zahra cintai karena Allah bukan karena keterpaksaan seseorang meskipun itu Bapak Zahra sendiri, Zahra udah gede, udah bukan anak kecil lagi, Zahra sudah bisa memilih, Zahra sudah tahu mana yang baik dan mana yang buruk untuk hidup Zahra."
“Kodrat wanita itu untuk dipilih, bukan memilih" ucapku
"tapi tidak selalu dengan cara Perjodohan kan Mas??" tanyanya
aku menganggukan kepalaku lalu berkata
"jikalau begitu apa boleh buat, cobalah untuk berbincang dengan Bapak, ceritakan apa keinginan Zahra, kalau belum bisa juga, ya jalan satu-satunya, Tuhan... ceritakan bagaimana dan apa yang harus kamu lakukan, tak ada gunanya kamu menangis.. yang ada hanya akan membuat batinmu merasa tertekan” jawabku
“iyaaa mas itu memang pilihan terbaik, zahra akan mencobanya”
“mas doakan semoga zahra bisa bersama lelaki yang memang benar-benar zahra cintai, dengan siapapun semoga itu memang yang terbaik"
“zahra juga berharap demikian, terimakasih mas ”
“anything for you, kalau begitu Mas pamit ke Kobong dulu, silahkan tenangkan dulu fikiranmu lalu cobalah renungkan kembali”
Aku beranjak dan mengucapkan salam.
“Assalamualaikum”
Zahra kembali tersenyum dan menjawab salamku.
__ADS_1
“Waalaikumsalam”
Aku segera berlari untuk bercerita kepada Ricky..
“Ky.....” teriakku
“Astagfirulloh... kenape lu tong???” tanya Ricky
“zahra dijodohkan bapaknya sama si Ihrom Ky...” jawabku aku terengah-engah menyampaikannya dan mencoba melanjutkan.
“gw mesti gimana Ky???”
“tenaaaang.... tenang, tenangin diri lu dulu “
“argghhhhhhhh” aku mengerang rasanya ingin melempar menendang meninju apapun yang aku lihat, aku tak bisa mengendalikan diri, entah setan apa yang merasuk kedalam tubuhku.... namun ini terasa sangat berat untuk menerima kenyataan.
Ricky terus mencoba menenangkanku.
“joooo tenang jo... ini masih awal belum akhir”
Namun aku tetap berontak.
“jooooooooo” bentakkan Ricky sedikit menyadarkanku
“lu tuh cemen, mereka baru mau di jodohin belum menikah jo...” jelas Ricky
“tapi Ky....” aku tetap tak dapat menenangkan diri.
“Jo..... jo...” sambil mendorongku untuk duduk Ricky melanjutkan perkataannya.
“Gw jadi ragu sama Lo, lo itu Cowo apa cewe sih Jo!! Kalo lo bener-bener sayang dan cinta sama si Zahra itu... kejar, perjuangin, buktiin kalo lo lebih berhak dan pantas bersanding dengan zahra dibanding siapapun laki-laki di dunia ini..”
Aku hanya tertunduk sambil fokusku kemana-mana.
Lalu lantunan Adzan isya menyadaranku seutuhnya.
“sekarang lu tenangin diri lu dulu, sementara gw mau ke mesjid dulu... jangan kemana-mana lu Jo.”
“iyaaa ky.... sorry banget ya Ky...”
Ricky tak berkata apapun dan meninggalkanku.
Sementara itu aku terus berfikir bagaimana aku kedepannya, bagaimana seharusnya aku menempatkan diriku... aku mulai merasa pusing akhirnya aku memutuskan keluar untuk berjalan menyusuri Pondok Pesantren.
Ketika aku melalui masjid terlihat semua jemaah telah berjajar rapih di shafnya masing-masing.
Aku tertegun dan memandangnya.
Pemandangan itu.....
Aktiviitas itu....
Lantunan Sholawat yang menggema.
Gemericik air menghantarkanku untuk kembali hidup.
Aku mencoba menelaah..
ku perhatikan sampai Sholat isya pun selesai, Para santri mulai meninggalkan Mesjid untuk segera pergi ke ruang hafalan.
Namun entah kenapa air mata ini menetes, aku membayangkan aku bisa menjadi salah satu bagian dari mereka, aku bergumam...
“andai aku...... sayangnya ini sudah terlambat, aku sudah terlalu kotor, aku sudah terlalu munafik, aku sudah terlalu hina, aku sudah tak pantas untuk kembali. Jikalau aku kembali apakah aku akan diterima” air mata ini terus menetes.
__ADS_1
“ini belum terlambat.” suara itu menyadarkanku
Aku menoleh dan....
“Pa’De....” aku memeluk beliau dan meluapkan semua tangisanku. Lalu bertanya
“Apakah Tuhan akan memaafkanku?? Apakah tuhan masih mau menerima saya Pade?”
Lalu pade membisikanku.
“kembalilah maka kamu akan tahu jawabannya”
Aku menatap mata beliau dan kembali bertanya.
“aku sudah terlalu buruk untuk di maafkan, aku sudah terlalu Hina”
Pade menepuk pundakku dan berkata.
“kembalilah...”
“tapi saya harus mulai darimana Pade..”
“aku yang akan membimbingmu”
Pade membimbingku untuk berjalan menuju Mesjid yg mulai sepi.
Malam itu aku kembali.... meski aku tahu tak semudah itu namun aku yakin Allah akan mengertiku.
Aku kembali bersyahadat...
Aku kembali berWudhu..
sujud ku, takbir ku bahkan air mataku aku pasrahkan kepadanya.
Perasaan dan atmosfer ini sangat luar biasa... aku tak pernah merasa seperti ini, sepanjang Sholatku aku tak henti-hentinya meneteskan air mata. Setelah aku jauh berjalan dalam lorong hitam Ahirnya aku kembali menemukan cahaya terang untuk tempat mengadu, tempat untuk bercurah diri.. biarlah hanya sejadah yang menampung air mataku, dan biarlah hanya aku dan Allah SWT yang mengetahui apa sebab dari itu semua.
Aku berharap akan terus begini sampai esok, lusa dan selama-lamanya.
Di malam itu aku berdoa, aku bertaubat, dan untuk kesekian kalinya aku meneteskan air mata, mungkin ini yang orang sebut ISLAM itu INDAH.
Air mata ini menjadi saksi Hijrahku.
Pade menghampiriku dan berkata.
“Alloh sangat sayang pada nak Jhonatan...”
“terimakasih Pade telah membimbing saya kembali...”
Pade menepuk pundakku.
“Kamu sangat beruntung, banyak diluaran sana orang yang terlanjur masuk ke jalur kelam dan tak pernah mendapat setitik cahaya sedikitpun, karena mereka sudah telalu menikmati dengan keKelaman itu. tapi kamu.... “
Terlihat Pade suryo menyeka air mata nya dan terlihat tak kuasa untuk melanjutkan perkataannya.
“tapi saya masih takut Pade, saya takut jikalau saya akan kembali terjerumus ke jalur kelam, saya takut tak bisa menjaga amanah yang diberikan Alloh kepada saya..”
“ingatlah... Alloh tak pernah meninggalkan hambanya tertinggal sendirian tinggal bagaimana kita bisa percaya dan yakin bahwa Alloh memang benar-benar bersama kita. InsyaAlloh nak Jhonatan bisa menjaga amanah ini. Bismillah”
Aku mengangguk mendengarkannya.
Tak terasa tinggal tersisa dua hari untuk kami tinggal disini.
Waktu berjalan seakan sedang marathon, tiap detik nya tak dapat aku duga, tiap menitnya sangatlah membuat penasaran.
__ADS_1
Hampir selesai disini aku masih belum mendapatkan titik terang tentang perjalanan cintaku, mungkin akan berakhir bahagia atau malah sebaliknya??
Entahlah...