
"Rindu" , sebuah kata yang sangat menyiksa, penyakit yang tak ada obatnya kecuali pertemuan, namun adakalanya pertemuan tersebut malah meninggalkan pilu yang tak ada habisnya.
Kata orang rindu itu menyiksa, dan benar saja.
tak ada rindu yang membahagiakan.
*
aku lepaskan pelukanku, ku tatap matanya yang sedikit terkaget-kaget dengan apa yang baru saja terjadi.
ia masih saja terdiam, aku melontarkan senyumanku kepadanya.
matanya berbinar, yaaa kali ini terlihat guratan senyum yang manis, khas wanita Sunda.
pipinya memerah, lalu ia memalingkan wajahnya dari pandanganku.
"Dokter Melody Kinanti, jika berkenan. sudikah Dokter untuk memulai kisah hidup bersama ku?" aku menggenggam tangannya.
ia hanya tertegun tak berkata.
hujan mulai mereda, rintiknya kian menipis, motor dan mobil mulai kembali berseliweran di antara kami.
__ADS_1
dan Dokter Kinan masih saja mematung di hadapanku.
aku tepuk pundaknya, lalu berkata.
"tak apa, jika Dokter masih belum bisa menjawab sekarang.. karena semuanya butuh proses dan waktu, silahkan pertimbangkan apa yang baru saja aku katakan, namun jika.." belum sempat aku meneruskannya tiba-tiba Dokter Kinan berbicara.
"Iyaaaa... dengan tangan terbuka aku siap untuk memulai kisah baru dalam hidup ku bersama Dokter Jho"
ku lihat air matanya menetes, aku seka air mata yang mulai menetes melewati pipi merahnya.
aku terenyuh, tak ku sangka akan selancar ini prosesnya.
"sudah sejak lama aku mengagumi sosok Dokter Kinan, meskipun masih muda tapi semangatnya untuk membantu sesama sangatlah tinggi, jiwa ke ibuan pun sudah sangat terlihat, aku berandai-andai jikalau suatu saat nanti aku bisa memiliki sosok pasangan hidup seperti Dokter Kinan, setiap malam aku berdoa kepada Tuhan , agar segera cepat di pertemukan dengan sosok pengganti dari wanita yang sekarang sudah menjadi milii orang lain,
Dokter Kinan tak bersuara, ia hanya tersenyum sambil sesekali menyeka air matanya.
kami saling berpandangan, kala itu angin sore hari berhembus dengan sangat tenang, tetesan sisa air hujan mulai turun bergelayutan di tiap ujung daun dan ranting.
"terimakasih sudah menyebut Nama ku dalam tiap Doa mu, semoga aku benar-benar jawaban yang Tuhan kirimkan untukmu."
aku kembali memeluknya, tak terasa air mata inipun menetes dengan deras, rasa pahit yang telah ku lewati selama ini telah berbuah manis.
__ADS_1
penantian dan pencarianku selama ini mulai menemukan titik terang.
perahuku mulai melihat mercusuarnya.
"Lusa aku akan ke rumahmu, menemui keluargamu, sekaligus meminta restu kepada Bapak untuk meminangmu"
"Keluarga?? Bapak??" tanyanya sedikit terheran-heran
"iyaaa, Lusa aku akan berangkat ke Bandung untuk menemui mereka, aku sudah meminta cuti kepada pihak rumah sakit, dan mereka mengizinkan, katanya mereka juga akan mengizinkan Dokter Kinan untuk pergi ke Bandung menemani aku"
"apa tidak terlalu cepat??" tanyanya
"tekad ku sudah bulat, aku serius ketika pertama kali mengajakmu untuk memulai kehidupan baru, jika kamu masih sedikit ada keraguan, tak apa biar aku saja yang berangkat, tugas kamu tinggal memberi Alamat dan mengabari keluargamu bahwasannya aku akan datang"
"aku bukan ragu, tapi aku masih bingung, aku dan Dokter Jhonathan memiliki kepercayaan yang berbeda, seandainya lanjut akan memakai prosesi yang mana, menurut kepercayaanmu atau kepercayaanku?" tanya Dokter Kinan.
*Dokter Kinan lahir dan besar di Manado, keluarga besarnya hampir semua pemeluk agama Katolik, ia dan keluarganya Pindah ke Bandung karena satu dan lain hal, tidak ada sejarah dalam keluarganya yang menikah dengan orang yang berbeda keyakinan.
sedangkan aku terlahir sebagai seorang Muslim.
"kita kembalikan kepada Tuhan kita masing-masing, aku yakin apapun pilihannya kelak, itulah yang sudah di rencanakan.
__ADS_1
sekarang tugas kita hanyalah berdoa, aku berdoa kepada Tuhan ku, dan Dokter Kinan berdoa kepada Tuhan Dokter Kinan. Bismillah kita sama-sama meminta jalan terbaik"
ia mengangguk tak berkata apapun, ku raih pundaknya dan ku dekap erat-erat.