ISTIKHARAH CINTA

ISTIKHARAH CINTA
Langit yang Sama


__ADS_3

Sejak kejadian itu aku hampir tak pernah melihat Ihrom datang kembali ke Pondok, sampai sebelum beberapa hari kami menyelesaikan tugas kami disini, Ihrom datang beserta beberapa orang yang usia nya mungkin lebih tua dari Kyai Arif.


Pagi itu Ihrom datang, dan langsung menuju Kediaman Kyai Arif, aku tak sempat bertegur sapa, dikarenakan masih bersiap-siap untuk pergi ke Klinik.


sepanjang perjalanan menuju klinik akupun tak melihat keberadaan Zahra, sesampainya di Klinik pun Zahra tak jua menunjukan batang hidungnya, sampai tak terasa Waktu sangat cepat berlalu, siang itu Zahra juga tak mengantarkan Makan siang untuk kami, melainkan digantikan oleh santriwati lainnya.


"dek, Ukhti Zahra kemana??" tanyaku ke salahsatu Santriwati


"Ukhti Zahra sedang ada keperluan Ka, ada yang mau disampaikan??" jawabnya


"ohhh gak usah"


ia mengangguk sembari mempersilahkanku untuk makan.


"monggo kak dimakan" ucap santriwati tersebut


ketika kami makan seorang santri yang barusan aku ajak bicara menghampiriku sembari menyodorkan sebuah kertas yang terlipat dengan rapih.


"apa ini?" tanyaku


"dibukanya nanti saja ya kak" jawabnya lalu pergi meninggalkanku


setelah santri itu pergi Ricky menghampiriku sembari berkata


"cieeeee fans baru nih ye.."


aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku, lalu melanjutkan makan.

__ADS_1


siang itu Klinik sangat sepi, matahari mulai berangsur turun, rotasinya seakan sangat cepat, tak terasa kami sudah bertemu sore, beberapa Perawat mulai membereskan peralatan, sedangkan aku duduk di bangku tunggu.


"Mas saya pulang duluan ya, Assalamualaikum" ucap bu Siti


"iya bu monggo, Waalaikumsalam" jawabku


aku baru teringat dengan kertas yang tadi siang baru saja aku dapatkan, ku rogoh saku celanaku dan ku ambil kertas itu, ku buka dan sepucuk surat tertulis di secarik kertas persegi, Tulisannya rapih seakan di ukir dengan sangat niat, warna kertasnya biru langit dengan background guratan-guratan awan putih yang tipis, ku baca dari awal sampai akhir, begini isinya kurang lebih.


"Assalamualaikum Kak Jhonathan, perkenalkan saya Ayu, saat pertamakali Kak Jhonathan datang dan memperkenalkan diri di Desa ini, saya sangat tertarik dengan pembawaan kak Jhonathan yang sangat Dewasa, hanya Kak Jhonathan yang bisa mengalihkan segala perhatian saya, saya sangat mengagumi Kak Jhonathan, jika tidak keberatan, bolehkah saya berteman dengan Kak Jhonathan?


Hanya itu yang mau saya sampaikan, Terimakasih Wassalamualaikum"


aku hanya tersenyum membaca tulisannya yang sangat Formal, setelah kubaca, kulipat kembali dan ku masukan ke dalam saku kemejaku.


ku pandang langit biru yang mulai berubah keoren-orenan, arakan awan putih yang menggelap, ku pejamkan mata berharap waktu berhenti untum sekejap saja, aku ingin lebih lama menikmati waktuku disini, di desa ini, disini aku banyak belajar tentang banyak hal.


ucap seseorang, ku buka mataku dan terlihat Zahra tengah duduk di sampingku, matanya sembab, pipinya terlihat lembab.


"Zahra..." ucapku dengan mimik sedikit terkejut


"Langitnya bagus ya mas" ia mengulang ucapannya


"iya, selama di Jakarta kayaknya mas jarang bisa liat langit indah kaya gini, bahkan gak pernah"


"ahhhh masa, bukannya langit disini sama disana sama aja ya" ucapnya


"bukan gak pernah sih, lebih tepatnya saking sibuk di dalam ruangan jadi gak merhatiin langit dan semua yang ada di langit, padahal benar juga sih yang kamu katakan, Meski dimanapun kita berada Langit yang kita lihat tetap saja sama, hanya rasa dan suasananya aja yang beda"

__ADS_1


"Makannya jangan terlalu sibuk sama kerjaan mas, inget masih banyak yang butuh perhatian dari kita"


"maksudnya?" tanyaku


"iya, masa Gusti Allah udah nyiptai langit se indah ini, warna se ajaib ini, tapi gak pernah di nikmatin, gak pernah di apresiasi, yaaaa se enggaknya kita pandangin lah satu atah dua detik, terus bilang, SubhanAlloh.. gitu mas, kata Ibu dulu"


"hmmmm baiklah, mulai sekarang mas bakalan sering-sering mandangin semua Ciptaan Tuhan.."


"nahhh gitu"


"termasuk mandangin kamu kan?? hahah"


"lahhh ko jadi aku"


kulihat wajahnya yang memerah, lalu menundukan kepalanya.


lalu kami saling diam, tiba-tiba Ricky dan Citra menghampiri kami


"Jo ayo Balik" ucap Ricky


ehhh ada Zahra juga, kalo gitu ayo pulang bareng kita-kita"


"nggih mas, barusan abis dari Kampung sebelah terus kebetulan lewat Klinik, ya sekalian Mampir aja" ucap Zahra


"kalo gitu ayo, tar keburu Maghrib" Citra berkata sembari menutup Pintu Klinik


kami mengangguk lalu berjalan beriringan, sepanjang jalan Zahra bercerita banyak sekali tentang Desa ini, kamipun sedikit flashback saat pertamakali menginjakan kaki di tempat ini, saat itupun aku beru memberitahu Citra dan Ricky, bahwasannya aku dulu pernah tinggal disini, dan Sudah mengenal Zahra sejak lama, awalnya mereka gak percaya sama sekali, namun lama kelamaan merek akhirnya percaya dengan yang aku ceritakan.

__ADS_1


__ADS_2