
hanya karena kita menyembah Tuhan dengan satu huruf vokal yang berbeda, Cinta tak mewujud bahagia untuk kita, biar Tuhan yang menjawab sampai kita akan bersama. terkadang perbedaan agama menjadi hal klise dalam satu hubungan cinta. biarpun aku mengadahkan tangan dan ia melipat tangannya, kita masih mengucap doa yang sama. orang bilang tak akan mungkin untuk bersama, tapi ku yakin kisah kita akan menjadi sangat indah jika benar-benar bisa bersama.
dan aku harap Tuhan akan mengizinkan kita untuk bersama.
berbeda bukan jadi tembok pembatas antara kita, tapi jadikan sebagai penghias dalam perjalanan panjang yang kita torehkan dalam buku cerita hidup ini.
kami duduk bersebelahan di atas pagar pembatas jalan, tanpa sadar mentari senja membuat bayangan kami semakin meredup, lampu jalanan mulai benderang, temaramnya khas suasana kota, riuh ribut para pengendara saling salip antar satu sama lainnya.
para pekerja mulai memenuhi sudut jalan, menunggu angkutan umum untuk selanjutnya mengantar ke rumah masing-masing tuk berkumpul kembali bersama sanak family.
tak ada obrolan yang terlontar antara kami berdua, kami sama-sama terdiam, memperhatikan tiap tingkah laku orang-orang di hadapan kita.
"🎶aku untuk kamu, kamu untuk aku, namun semua apa mungkin iman kita yang berbeda, Tuhan memang satu kita yang tak sama, haruskah aku lantas pergi meski cinta tak akan bisa pergi"
suara pengamen jalanan memecah keheningan, senja dengan langit orange di hias mega ke merah-merahan mulai berangsur gelap.
"sudah petang ayo pulang" ucapku
Kinan menoleh, matanya sayu seperti habis menangis.
"matamu kenapa?? menangis??" tanyaku seraya meraih bahu mungilnya.
"enggak, ayo pulang" jawabnya
"tak perlu ada yang harus di tangisi, Tuhan memang satu, kita yang tak sama, meski kita berbeda, meski orang tuamu mengharapkan aku untuk pergi, tapi cinta tak akan pernah bisa pergi, ia akan ingat kemana arah jalan pulangnya, ke hati mana ia harus pulang"
aku mendekap bahunya, ku peluk dengan lembut.
matanya mulai berair dan menetes.
__ADS_1
"Kin, sudah sejauh ini, sudah sampai sini, kamu mau menyerah begitu saja??" tanyaku.
aku masih mendekapnya ketika melontarakan pertanyaan tersebut.
"Maafkan aku yang belum bisa sekuat kamu" jawabnya dalam pelukku.
"ayo, hari ini mungkin orangtuamu masih belum bisa menerima kedatanganku, tapi ku yakin esok, lusa atau sampai kapanpun waktunya tiba, mereka akan mengerti, kita saja yang terlalu cepat untuk mengambil langkah, nikmati prosesnya ya, berdoa, kamu berdoa kepada Tuhan mu dan aku juga akan berdoa kepada Tuhan ku, biar doa kita bertemu di langit sana, dan meyakinkan Tuhan kita masing-masing untuk segera mengabulkannya"
aku melepaskan dekapanku, lalu menggenggam erat tangannya seraya meyakinkan kembali hatinya.
Kinan mengangguk, lalu kami berjalan menyusuri trotoar jalanan kota Bandung.
langit sudah menggelap, sang surya benar-benar sudah kembali ke peraduannya, binatang-binatang malam sudah mulai keluar dari persembunyiannya, saling bersahutan.
"Allahu Akbar, Allahu Akbar....."
suara adzan maghrib berkumandang, aku menepi terlebih dahulu, menuju mesjid di pojokan taman kota.
"enggak di rumah aja???" tanya Kinan
"disini saja, lagian lebih afdol untuk seorang laki-laki sholat berjamaan di masjid, kamu kalau mau pulang, duluan aja gak apa-apa kok, aku masih ingat jalannya"
"hmmm, aku nunggu kamu aja boleh??" pintanya
aku tersenyum, lalu mengangguk.
ku lihat Kinan duduk di bangku yang ada di parkiran taman, sementara itu aku berjalan masuk menuju Mesjid yang mulai ramai dengan para jamaah.
setelah selesai aku sempatkan berdoa kepada Allah, aku hanya minta untuk sekali lagi di kuatkan.
__ADS_1
"Ya Allah, maaf jika hamba selalu meminta dan meminta, tapi jika bukan kepada engkau, maka harus kepada siapa lagi aku meminta. hamba mohon untuk kembali di kuatkan, jangan biarkan hati ini hancur untuk kesekian kalinya, izinkan kami bersatu dalam bahteramu, izinkan kami membangun pelayaran kami sendiri, hanya kepada engkau aku memohon dan berserah diri. maka kabulkanlah pinta hambamu ini.."
setelah selesai, aku kembali ke tempat Kinan menunggu.
"maaf agak lama" ucapku
"gak apa-apa"
"ayo" ajakku sembari meraih tangannya.
sepanjang perjalanan menuju rumah, lagi dan lagi kami hanya terdiam, sampai akhirnya Kinan membuka pembicaraan.
"Tadi kamu doa apa??" tanyanya
pertanyaan itu mebuatku terbingung.
"hmmm, kenapa tiba-tiba bertanya begitu?" jawabku
"enggak, aku hanya bertanya, kalo kamu gak mau jawab juga gak apa-apa"
"yang pasti aku berdoa yang baik-baik, untuk aku dan kamu"
"Jo..."
"iya"
"terimakasih sudah selalu menyebut namaku dalam Sholatmu"
tangannya tak pernah lepas dari genggamanku, sangat erat dan kuat.
__ADS_1
meski raut wajahnya masih saja sayu, tapi sudah ada sedikit guratan senyum di pipi merahnya.
"Kin, terimkasih sudah seyakin ini dengan aku yang baru kamu kenal kurang dari satu tahun ini, aku yakin tak mudah jadi kamu, aku harap perbedaan kita yang akan menuatukan kita kelak, saat waktunya itu tiba, aku harap kamu akan tersenyum lebar, dan menikmati hasil jerih payahmu selama ini, disaat itu pula, aku akan jadi orang pertama yang memelukmu" gumamku dalam hati.