
walaupun terkadang hujan turun dan air mata juga mengalir, pada saat semangatmu hilang, carilah orang lain dan bicara.
Manusia tidaklah pernah ditinggal sendirian saja, terkadang kita tak menyadari hal baik di sekitar kita.
hidup bagaikan pesawat kertas, terbang dan pergi membawa impian, sekuat tenaga dengan hembusan angin, terus melaju terbang, walau tak tahu cara melipatnya, suatu saat nanti akan berhasil lalu terbang, kekuatan harapan yang menerbangkannya, ya mari nikmatilah.
Mobil melintas menembus riuhnya Kota Bandung, sepanjang perjalanan, terlihat bangunan-bangunan tua khas peninggalan Belanda.
"Saya Muslim Paman" jawabku
ia mengangguk lalu mengalihkan pembicaraannya.
"jadi orangtua kamu di Jakarta? atau di Jawa?" tanya paman kepadaku
"Ibu dan Ayah saya bercerai ketika saya kecil, Ibu menikah lagi dan sekarang di Jakarta, sementara Ayah yang ku dengar menikah juga dan sekarang tinggal di Solo" jawabku panjang lebar
"hmmm begitu, nah itu Gedung sate, sudah pernah kesini belum??" tanya paman Martin
"sudah dong paman, dulu waktu kecil" jawabku sembari melirik ke luar jendela mobil.
Mobil terus saja melaju dengan kecepatan konstan.
"Kamu tau gak?? dulu waktu kecil Kinan jarang banget mandi, kalo di suruh mandi sukanya ngumpet di bawah kasur, terus pake acara harus di jegal kaya tawanan, kok kamu mau sih sama dia??" Paman melontarkan candaan itu.
Kinan memukul bahu Paman Martin yang tengah menyetir sembari berkata
"apa sih Paman" Ucap Kinan sedikit menaikan Volume suaranya.
"aduh" teriak Paman lalu melanjutkan perkataannya
"tapi benar kan??" tuturnya
"Itukan dulu, sekarang udah enggak" jawab Kinan
ku lihat wajahnya mulai memerah, ia menundukan pandangannya.
ketika aku melirik ke arahnya lewat Kaca mobil, ia pun menatapku lalu tersipu malu.
"Nahh bentar lagi kita sampe, Bapak Kinan itu Guru, dan Ibunya suka bikin Kue, pokonya nanti kamu musti nyobain Kue buatan Ibunya Kinan, pasti bakal ketagihan, Iya kan Kin??"
"hmmmm" Kinan hanya beraksi demikian.
di persimpangan jalan, Mobil kami masuk ke gang komplek perumahan, Suasana khas perumahan kota, sepi, sunyi hanya ada Satpam penjaga di depan gerbang.
kami melaju dan tiba di rumah no. 21 blok X4 arsitektur minimalis yang hampir seragam dengan rumah-rumah di kanan dan kirinya.
mobil terparkir di pinggir jalan.
"Ayo, ini rumah keluarganya Kinan, semuanya sudah menunggu" Paman keluar dan kami mengikutinya dari belakang, ku lihat Kinan hanya terdiam taak berkata apapun.
"barang bawaanya biar paman saja yang bawa, kalian masuk dulu aja ya, Kinan sok ajakin masuk" ucap Paman sembari membuka Bagasi mobil.
"Ayo..." Kinan berkata singkat sembari mengangguk
"hmmm" aku menjawabnya seraya menggenggam tangan Kinan.
Kami menaiki beberapa anak tangga, batuan alam yang kami pijak sedikit agak licin, sepertinya baru saja di siram, atau terguyur hujan, entahlah.
Kinan langsung membuka Pintu, tanpa salam, tanpa permisi.
__ADS_1
ketika hendak meraih pegangan pintu, tiba-tiba pintu terbuka, terlihat dua orang tua yang mungkin itu adalah orang tua dari kinan, tengab berdiri membukakan pintu untuk kami berdua.
mereka tersenyum, tanpa aba-aba mereka memeluk Kinan dengan erat, raut wajahnya tergurat rindu yang telah pecah.
mereka saling melepaskan rindu seperti layaknya seorang Ibu dan Anak yang sudah lama tak bersua.
"apa kabar sayang, kenapa gak pernah pulang??" tanya orang tua tersebut.
"Kinan baik Bu, Ibu apa kabar??" jawab Kinan dengan nada rendah
"ayo masuk, ibu sudah masak makanan kesukaan kamu"
kami berjalan masuk, lalu duduk di kursi kayu ruang tamu.
terlihat potret keluarga besar Kinan terpampang di dinding rumah.
"Bagaimana perjalanan ?" tanya Ibu Kinan
"Puji Tuhan lancar mah" jawab Kinan
lalu meraih tanganku dan melanjutkan perkataannya.
"Mah ini Jhonathan" ucap Kinan
namun sebelum Kinan menyelesaikan pembicaraannya, tiba-tiba ibu Kinan memotongnya dan berkata.
"ayo makan dulu, bicaranya nanti saja"
Kinan menoleh ke arahku, lalu menganggukan kepalanya, lagi-lagi aku merasa di kuatkan olehnya.
kami berjalan di belakang Ibu dan Ayah Kinan.
"ayooo silahkan" ucap Ayah Kinan
"makan enak nih kita" ucapnya lalu duduk disampingku.
"ayo Jo makan yang banyak, kamu pasti bakalan nambah kalo udah makan masakan Kaka ku ini" lanjut paman Martin.
aku hanya mengangguk.
Kala itu kami makan layaknya seorang TNI, tak ada pembicaraan, hening sunyi, hanya suara Sendok dan Garpu yang bertemu dengan piring.
*trak tring tring* suara itu yang terdengar riuh ditengah ruangan tersebut.
setelah selesai kami beranjak kembali ke ruang tamu untuk berbicara.
aku membicarakan tujuanku datang kesini.
"Om, Tante, Paman. jadi kedatangan saya kesini untuk meminta restu kepada Om dan Tante, saya akan menikahi putri Om dan Tante, Melody Kinanti Lontoh"
"Kamu tahu Agama Kinan apa??" tanya Ayah dari Kinan
"saya tahu om, dan saya akan menerima segala resiko yang akan datang kedepannya, saya percaya bahwa agama bukan jadi penghalang untuk saya tidak mencintai Kinan" jawabku
"terus kalau kamu Nikah dan punya keturunan, anak kamu mau ikut siapa?? prosesi nikahnya mau pake cara yang mana?? apakah negara akan membolehkan?" Ayah Kinan memberimu pertanyaan yang sebenarnya juga aku tanya-tanyakan dalam hati. namun keputusanku sudah sangat bulat, bagaimanapun kedepannya aku akan menghadapinya, sudah sejauh ini, dan aku tidak akan menyerah dengan begitu mudah.
"saya akan membebaskan anak saya kelak Om, saya juga tidak akan memaksa kinan untuk mengikuti kepercayaan yang saya anut, begitu pula sebaliknya."
Ayah Kinan menepuk pundakku, lalu berkata.
__ADS_1
"sebaiknya kamu pikirkan terlebih dahulu, yakinkan dulu diri kamu, pernikahan itu bukan prosesi yang sepele, bukan untuk main-main, bukan hanya menyatukan antara kamu dan Kinan saja, lebih dari itu, ada dua keluarga besar yang akan menjadi satu karena kalian bedua.
Om bukan menolak kamu, om sangat menghargai ke jentannan kamu untuk datang kemari, bertemu dengan Om dan Tante, Om hanya memberi kamu waktu untuk berfikir lebih lama lagi, jangan tergesa-gesa." ucapnya, sorot matanya tajam, sampai-sampai aku tak kuat untuk menatapnya lebih lama lagi.
"tapi Om, niat saya sudah sangat bulat ketika pertama kali saya berbicara dengan Om beberapa hari lalu lewat telvon, saya sangat yakin atas keputusan yang sudah saya ambil, tak ada keraguan yang tersisa dalam benak saya, Saya benar-benar mencintai Kinan, Putri Om dan Tante" Jawabku meyakinkan.
sebenarnya tubuh ini mulai gemetar, Ku lihat Kinan juga sama, raut wajahnya cemas, pucat pasi, tangannya tetap saja menggenggam tanganku.
"Kinan..." ucap Ayah Kinan.
Kinan yang mendengarnya lantas menjawab.
"iya Ayah"
"bagimana dengan kamu??" tanya nya.
"Kinan juga sudah yakin atas niat yang sudah Jojo bicarakan ke Ayah dan Ibu, dan Kinan juga berharap untuk Ibu dan Ayah bisa memahami posisi kami saat ini"
sebelum Kinan selesai berbicara, Ibu Kinan memotongnya dan berkata.
"Tak akan mudah jalan kamu ke depannya, bagaimana rumah tangga akan harmonis jika ada dua kepercayaan di dalamnya, jika ada dua Tuhan dalam satu atap?? apa kamu memikirkan sampai ke arah situ?? " ucap Ibu Kinan sambil mencondongkan Badannya ke arah kami berdua.
"Seperti yang sudah Jojo bicarakan dari awal, bahwasannya kita akan menghadapi apa dan bagaimanapun keadaannya nanti" kata Kinan meyakinkan Ibu dan Ayahnya yang masih saja berdebat.
Kinan melanjutkan perkataannya.
"kemanapun kita berdoa, kepada Tuhan yang manapun kita berdoa, dengan cara apapun kita berdoa, Kinan percaya akan ada waktunya Doa kita sampai dan di kabulkan, jadi Kinan mohon kepada Ayah dan Ibu, restui kami atas nama Tuhan, percayakan Kinan untuk Jojo"
perkataan Kinan membuat kami terhening, seisi ruangan tiba-tiba hampa bak ruang kosong.
"Tak ada salahnya untuk percaya kepada mereka Kak" Ucap Paman martin memcah keheningan
Ayah Kinan berdiri dan beranjak dari tempat duduknya, Kinan ingin mengejarnya, tapi Ibu menahan Kinan dan berkata.
"biar Ibu saja" lalu beranjak.
"Tak apa, bagaimanapun hasilnya aku akan tetap bersamamu" Kinan menenangkan aku yang sudah mulai turun percaya diri.
"ya sudah, Kin ajakin Jojo jalan-jalan gih, sekitaran sini aja, biar Paman yang akan berbicara dengan Ibu dan Ayahmu" tutur Paman Martin
Kinan mengangguk dan mengajakku untuk keluar rumah.
kami berjalan menyusuri komplek.
"maaf ya, aku gak berfikir akan jadi begini akhirnya" ucap Kinan lalu memeluk lenganku.
"tidak apa-apa, ini belum akhir, aku yakin mereka hanya butuh sedikit waktu untuk menerimaku"
"aku harap kamu akan tetap seperti ini Jo, jangan pernah berubah, tetap jadi Jhonathan yang kuat dan selalu yakin dengan apa yang akan di jalani"
**Terimakasih untuk kalian yang setia membaca novel ISTIKHARAH CINTA, Saya harap kalian dapat berkontribusi dengan cara memVote novel ini agar makin banyak pembaca-pembaca baru yang jadi saksi kisah perjalanan hidup seorang Jhonathan.
Ohhh iya, saya juga menunggu saran dan kritik dari kalian semua.
apa kamu pernah memiliki pengalaman menjalin hubungan dengan orang yang berbeda keyakinan???
yuk ceritakan pengalamanmu.
akan ada give away di episode ke 50 nanti.
__ADS_1
so... stay tune yaaa.
aku sayang kalian semua 😘🌻🤗💛**