
Proses adalah perjalanan yang harus dilewati untuk mencapai akhir. Iya, proses itu perjalanannya, bukan akhirannya. Jadi, kalau capek, bikin sakit, sabar, dan kuat-kuat ya, ini bukan akhir, jangan mudah menyerah dan mengasihani diri sendiri. Ada miliaran manusia di bumi yang mungkin merasakan hal yang sama dengan kamu, semua orang pasti melewati proses se gak enak itu, secapek itu. Kamu gak sendirian.
Hal yang harus diingat, situasi dan kondisi yang terjadi tidak bisa kamu kendalikan, tapi respon apa yang kamu berikan pada situasi dan kondisi tersebut bisa kamu kendalikan.
Mau bagaimanapun, akhir dari proses yang sedang kita jalani masih rencana Tuhan, gak ada yang tau. Tapi dua hal baik yang pasti kami dapat dari proses adalah kamu yang lebih dewasa dan kamu lebih kuat dari sebelumnya.
Dari mana kamu akan belajar untuk jadi lebih kuat?
Tak apa jika kamu tidak mendapatkan sesuatu yang kamu inginkan, kehilangan, dikecewakan atau mungkin perasaan sakit lainnya.
Kekuatan hadir di saat kamu memilih untuk bangkit dari rasa sakit, bukan saat kamu sedang tenggelam dalam rasa sakitnya ataupun saat kamu belum percaya bahwa suatu saat ada penawarnya.
Percaya saja, apapun yang terjadi sekarang ataupun di masa lalu tidak ada yang sia-sia. Mungkin belum sekarang kamu akan memahaminya, tapi waktu yang akan menemanimu sampai ini muncul di benakmu:
"Oh iya juga ya" "haha lucu juga dulu" "ada hikmahnya juga" "ternyata aku bisa ya melewati semua itu", di saat itulah kamu berhasil mendewasakan diri menjadi kamu yang lebih kuat lagi.
*
aku kembali beranjak dan berjalan menuju ruanganku, dengan perut kosong aku merasa sedikit agak sempoyongan.
ku buka pintu ruangan, disana gelap, hanya lampu meja yang temaram merambat ke tiap sudut ruangan.
Kinan masih tertidur dengan pulas, aku hendak membangunkannya, namun aku tak kuasa, raut wajahnya sangat lelah.
__ADS_1
tak lama ia terbangun dan menatapku yang masih terduduk di sampingnya, ia tersenyum lantas mencoba untuk bangun, ia sibakkan jas Doktet yang aku dekapkan ke tubuhnya.
"Kamu belum makan ya?" tanyanya, suaranya sedikit terdengar serak, matanya masih sayu.
aku hanya menyunggingkan senyumanku.
"ayo pulang" jawabku sembari berdiri dari hadapannya.
"sudah terlalu malam, Ibu kost ku gak akan mengijinkan aku untuk masuk" ucapnya masih saja terduduk.
"mau ikut ke rumahku?"
ia terdiam untuk beberapa saat, lantas mengangguk dan memberikan Jas Dokter ku.
beberapa kali aku menoleh ke arah Kinan, namun ia hanya terdiam.
"pake mobilku atau mobilmu?" tanya Kinan sembari menyodorkan Kunci mobilnya.
"aku saja, ayo masuk" jawabku sembari membukakan pintu depan.
Kinan masuk dan duduk, lalu aku berjalan menuju kursi setir.
sepanjang perjalanan kami hanya terdiam bak dua orang canggung yang baru saja berkenalan.
__ADS_1
"maaf ya" suara Kinan memecah keheningan.
"untuk apa?" tanyaku yang masih saja melihat ke arah jalanan.
"maaf belum bisa meyakinkan keluargaku atas kamu" jawabnya
"tidak apa-apa, anggap saja kita diberi waktu lebih untuk mengenal satu sama lain"
aku mengelus kepalanya, dan ku belai rambutnya.
"kamu mau ikut aku?" lanjutku
"kemana?"
"Jogja"
jalanan sepi khas kondisi malam hari, Jakarta tengah tertidur lelap, beberapa gelandangan tertidur di pinggir jalan, memeluk lutut dengan lengan sebagai bantalnya.
warung-warung kopi juga sudah tutup.
jalanan yang hanya diterangi temaram lampu orange, beberapa di antaranya berkelap-kelip saling bergantian.
aku pacu mobilku dengan kecepatan standar memecah dinginnya malam.
__ADS_1