ISTIKHARAH CINTA

ISTIKHARAH CINTA
Skenario Tuhan #23


__ADS_3

berkutat dengan rutinitas yang sudah tertebak alurnya sangatlah membosankan, namun terkadang ada saja kejutan-kejutan kecil yang terjadi ditengah kebosanan ini.


pagi itu kami sarapan bersama, Ibu, Kinan dan Aku sama-sama makan di meja yang sama.


terasa hangat dan tenang, bagaimanapun inilah yang aku rindukan dan aku idamkan.


Ibu dan Kinan memasak Sayur Sop dan Perkedel jagung kesukaanku.


pagi itu, di ruang makan yang hangat, dengan aroma rempah, di luar embun pagi masih bergelayutan di ujung daun, udara pagi masih terasa segar menyelinap dari balik celah jendela.


suara Sendok dan piring bersahutan di keheningan.


"Jadi sudah sampai mana??" Ibu memecah keheningan saat itu.


aku terkaget, begitu pula Kinan. sontak kami langsung bertatap satu sama lain.


"Doa kan saja Bu" Jawab Kinan dengan tenang.


"Ibu tahu, hubungan yang kalian jalin ini bukanlah hubungan yang mudah, Ibu tahu betapa sulitnya untuk kalian bertahan sejauh ini. Ibu hanya berpesan, bagaimanapun akhirnya nanti. Itu sudah yang paling baik untuk kalian berdua"


Obrolan meja makan yang membuka mataku, betapa sulitnya apa yang kami jalin selama ini.


Cinta dengan Dua keyakinan yang berbeda.


"Bu... Aku izin buat ke Jogja ya selama beberapa hari kedepan, Kinan juga akan ikut." ucapku


"Pergilah, hati-hati. Titip Kinan" Jawab Ibu

__ADS_1


Keesokan harinya kami berangkat menuju Jogja, barang bawaan kami tak banyak. kami menggunakan penerbangan pagi.


perjalanan Jakarta - Jogja yang singkat, sepertinya sekejap mata saja kami sudah sampai di Bandara.


Jogja dengan segala adat dan budaya yang kuat, kata pepatah "kamu tidak perlu terlahir di jogja untuk jadi orang jogja".


mungkin seperti inilah buktinya, kita tidak perlu menjadi orang Jogja untuk bisa merasakan keramahannya.


senyum ramah penghuni kota Istimewa ini, setiap penjuru kota sepertinya Indah.


Becak dan Andong berjejer rapi, para pedagang kain, makanan, sampai pernak pernik khas Jogja terbentang sepanjang Jalan.


"kamu mau langsung ke tempat tujuan atau kelilingi disini dulu??" tanyaku kepada Kinan.


kulihat matanya sedikit sayu, aku tahu perjalanan ini sangatlah singkat, tapi cukup menguras tenaganya.


"beneran?? tempat yang mau kita tuju lumayan jauh loh dari kota, disana juga gak ada tempat jalan-jalan kaya disini."


"gapapa, jalan-jalnnya bisa kapan-kapan aja"


akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju tempat yang aku janjikan.


sepanjang perjalanan menggunakan angkutan umum, kulihat Kinan tak sekalipun mengalihkan pandangannya dari jendela samping mobil.


"Jo...." tiba-tiba Kinan membuka pembicaraan


"kenapa??" jawabku

__ADS_1


"kamu tau gak?? aku selalu senang ketika berpergian seperti ini, semua kejadian impulsif yang tidak bisa di utarakan dengan kata-kata, bertemu orang-orang yang mungkin hanya kita temui sekali dalam seumur hidup, tempat-tempat asing, dan.." ia berhenti berkata-kata.


lalu menoleh ke arahku.


"dan bersama kamu, aku selalu senang berada di sampingmu, aku merasa aman dan terlindungi"


Kala itu Bus mini yang kami tumpangi sangat sepi, hanya ada beberapa penumpang.


kami duduk di barisan paling belakang, persis dekat pintu belakang.


"aku gak pernah merasa sehidup ini, kamu yang membuatku berani untuk membuka kembali lembaran-lembaran baru dalam buku ku yang telah usang ini, Kin.... aku tahu ini sangatlah berat buat kita, gak mudah menjalin sebuah hubungan dengan dua Tuhan yang ikut berperan."


"entah kenapa aku berfikiran untuk terus bersamamu, aku akan ikut denganmu, memeluk apa yang kamu peluk" pungkas Kinan memotong pembicaraanku.


aku terkejut mendengar apa yang baru saja ia katakan.


"Kin... gak segampang itu, Kamu belum mengenal Tuhanku. Agama bukan soal main-main, aku gak mau menjadi alasan untuk kamu berpindah keyakinan. aku mau kamu berpindah karena memang keinginan kamu, bukan supaya kita bisa bersama... aku gak mau kamu menjual Tuhan hanya untuk Ciptaannya" jelasku.


Kinan bersandar ke Bahuku, ia memejamkan mata seraya berbisik.


"sejatinya Tuhan itu satu, hanya kita yang tak sama"


Mobil terus berjalan melintasi Desa-desa, hamparan sawah hijau yang masih asri, burung-burung berterbangan di atas permadani hijau, pohon jati berjejer rapi di sepanjang jalan.


cuaca jogja di bulan ini terasa sejuk, langit biru bersama gerombolan awan putih nan bersih terlukis indah. sesekali matahari bersembunyi di baliknya.


kulihat Kinan sudah tertidur di bahuku, tangannya masih menggenggam erat lenganku.

__ADS_1


"kamu adalah satu Doa yang aku pinta di setiap sujudku kepada Allah" bisiku


__ADS_2